DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
**BAB 11: PEMBUKTIAN**
Subuh itu, langit Jakarta masih gelap pekat, cuma ada suara azan jauh-jauh dari masjid komplek sebelah yang terdengar samar lewat jendela kamar yang kedap suara. David bangun lebih cepat dari biasanya, badannya otomatis bergerak ke kamar mandi, dan kali ini, dengan bangga, dia berhasil membedakan mana botol sabun mandi, mana yang kondisioner.
"Nah, ini baru benar," gumamnya sambil nuang cairan ke telapak tangan, "udah gak ketuker lagi kayak kemarin-kemarin."
Tapi yang dia pegang sekarang, sebenarnya bukan sabun mandi. Wanginya memang segar, ada aroma apel yang manis, cuma sayangnya itu sabun cuci piring yang sengaja diletakkan asisten rumah tangga di rak kamar mandi karena lupa belum dipindah ke dapur.
David membaluri seluruh badannya, dan beberapa detik kemudian, kulitnya mulai berbusa aneh, licin banget, sampai dia harus pegangan ke dinding biar gak kepeleset lagi.
"Lah, ini kok berasa kayak nyuci piring beneran ya badan gue."
Untungnya, kali ini dia sudah bisa menyalakan keran air dengan benar, jadi setidaknya dia bisa membersihkan diri sampai bersih, walau tetap saja badannya terasa wangi seperti baru selesai mencuci serundeng panci.
Setelah mandi, dia melangkah ke sajadah kecil yang ada di pojok kamar, sajadah yang sebenarnya jarang dipakai si David yang asli, lalu mengambil air wudhu dan mendirikan shalat subuh dengan tenang, gerakannya khusyuk, seperti sudah dibiasakan sejak kecil di kampung halaman yang jauh.
Kemal, yang kebetulan terbangun karena haus dan lewat di depan kamar David yang pintunya sedikit terbuka, berhenti melongok, matanya mengerjap-ngerjap melihat kakaknya sedang sujud dengan khidmat.
"Aa David rajin shalat sekarang," gumamnya pelan, lalu mendekat diam-diam, ikut duduk di belakang menunggu kakaknya selesai, sesekali ikut menengadahkan tangan walaupun dia sendiri belum hafal doanya, hanya meniru gerakan David yang terasa lebih tenang dari biasanya.
***
Jam sembilan kurang sedikit, David sudah siap, memakai kaos polos dan celana jeans, rambut barunya disisir rapi hasil dari salon kemarin, dan dia berjalan menuju pintu depan dengan langkah yang sudah jauh lebih percaya diri dibanding hari-hari pertamanya di rumah ini.
Rumah pagi itu terasa sepi, entah ke mana Bunda Melati dan Kemal, mungkin sedang sarapan di ruang lain, dan David tidak terlalu peduli, niatnya cuma satu, segera berangkat ke rumah Anto.
Tapi belum sampai pintu gerbang, tiga sosok yang sudah dia kenal betul muncul dari arah ruang keluarga, berdiri menghalangi jalan dengan ekspresi yang masih menyimpan dendam dari kejadian beberapa hari lalu.
"Minggir, Kak. Gue buru-buru," David berkata datar, tidak ada nada gentar sedikit pun.
Albert, yang lengannya masih dibebat perban dari insiden keseleo, maju selangkah, "Berani amat lo ngomong gitu sama gue. Anak culun kayak lo, perlu disalamin olahraga lagi kayaknya."
David hanya menghela napas, menatap mereka dengan tatapan datar, seperti melihat anak kecil yang merengek minta mainan. Dalam pikirannya, ketiga orang ini bukan ancaman, mereka cuma anak-anak manja yang seumur hidup dimanjakan kemewahan, tidak pernah benar-benar belajar bertarung.
Dia mencoba lewat dari sisi belakang mereka, tapi begitu badannya hampir melewati, ketiganya bergerak serempak, melayangkan pukulan dari tiga arah sekaligus, Reza dari kiri, Albert dari kanan, dan Surya mencoba menendang dari belakang.
Tapi tubuh David, yang sebenarnya menyimpan naluri seorang jawara Cimande, bergerak lebih cepat dari pikirannya sendiri. Kakinya menggeser posisi rendah, tangan kirinya menangkis pukulan Reza sambil memutar pergelangan tangan itu ke arah yang salah, tangan kanannya menahan pukulan Albert sambil mendorong sikunya ke titik yang membuat sendi itu terkunci sempurna, dan kaki kanannya menyapu balik tendangan Surya hingga keseimbangan lawan goyah.
Orang yang melihat dari jauh hanya akan melihat David menangkis tiga serangan dengan gerakan sederhana, seperti sekadar mengelak. Tapi yang sebenarnya terjadi, setiap tangkisan itu membawa tekanan terukur, tepat di titik sendi, di urat, di bagian tubuh yang membuat lawan merasa nyeri luar biasa tanpa David perlu memukul balik sama sekali.
"KREK."
"AAAAKH!" Reza menjerit, pergelangan tangannya terkilir parah.
"AWWW!" Albert menyusul, sikunya berdenyut nyeri.
Surya jatuh terjengkang, kakinya kram seketika karena tendangannya membentur tulang kering David yang seperti besi.
Ketiganya tergeletak, memegangi bagian tubuh masing-masing, wajah memerah menahan sakit dan amarah yang campur aduk.
"Awas lo, anjing! Gue aduin Papa!" Reza berteriak, suaranya bergetar antara marah dan kesakitan.
David hanya menatap mereka dingin, "Dasar anak Papa."
Dia tidak takut sedikit pun. Pikirannya jernih, dia tahu di sudut langit-langit ruang itu ada CCTV yang merekam semuanya, dan dia tahu rekaman itu akan jelas menunjukkan siapa yang menyerang lebih dulu, sementara dia sendiri hanya bertahan.
"Kalau Papa lo nanya, suruh aja dia cek CCTV. Biar jelas siapa yang mulai," David berkata sambil berjalan melewati mereka, meninggalkan ketiganya yang masih meringis di lantai marmer yang dingin.
***
Sampai di rumah Anto, yang ternyata lebih sederhana dibanding rumah David, tapi penuh dengan barang-barang elektronik berserakan di setiap sudut, David disambut oleh Anto dan Camelia yang sudah menunggu di ruang tamu dengan ekspresi serius.
"Oke, Vid, sekarang jelasin," Anto berkata, melipat tangan di dada, "kenapa lo tiba-tiba berubah total kayak gini."
David duduk, menarik napas panjang, mencoba menyusun kata-kata sebaik mungkin.
"Sebelum gue jelasin, lo harus janji dulu, gak akan ketawa, gak akan nganggep gue gila."
"Janji," Camelia menyahut cepat, matanya penuh rasa ingin tahu.
"Gue bukan David. Gue Dadang. Dadang Hermawan, dari Lembang. Gue jawara silat. Gue meninggal ketabrak kereta nyelametin pacar gue, terus tau-tau gue bangun di tubuh ini."
Anto terdiam sebentar, lalu meledak tawa, "VID. VID. Ini dunia nyata, woy. Bukan novel-novel yang lo baca pas SMA. Lo ngada-ngada banget."
"Gue bilang juga apa, lo gak akan percaya," David menjawab datar, sudah menduga reaksi ini.
Tapi dia tidak menyerah, melanjutkan dengan detail, menceritakan rel kereta, menceritakan mimpi bertemu David yang asli, menceritakan ayahnya, Asep, yang berpesan untuk berbuat baik, menceritakan setiap detail kecil yang tidak mungkin diketahui orang lain selain dirinya sendiri.
Camelia, yang awalnya skeptis, mulai terdiam, matanya menatap David lekat-lekat, mencoba mencari kebohongan di sana, tapi yang dia temukan justru ketulusan yang aneh, sesuatu yang terlalu detail dan terlalu emosional untuk sekadar dibuat-buat.
"Anto," Camelia berkata pelan, "coba pikir, ingatan David yang lo kenal, gimana dia bicara, gimana caranya makan, semuanya berubah total. Mungkin, mungkin ini gak masuk akal, tapi mungkin juga ini beneran."
Anto menatap mereka berdua bergantian, lalu menghela napas panjang, masih setengah tidak percaya, tapi mulai goyah.
"Oke, oke, anggap aja gue percaya. Tapi lo harus jaga tubuh ini baik-baik. Itu tubuh sahabat gue. Jangan disalahgunakan."
David mengangkat bahu santai, "Yaelah, sekarang ini kan punya gue. Suka-suka gue lah, mau gue jadiin apa juga, mau jadi bencong sekalipun."
"WOY!" Anto langsung berdiri, wajahnya merah menahan amarah, "Jangan asal ngomong gitu, ini tubuh sahabat gue yang udah koma tujuh hari, lo hargain dikit kenapa!"
David tertawa kecil, mengangkat tangan minta damai, "Santai, gue cuma bercanda. Gue tau ini amanah. Gue gak akan main-main."
Untuk membuktikan keseriusannya, dia meminta Anto mengecek media sosial Dadang Hermawan, dan setelah beberapa menit pencarian, muncul berbagai artikel dan unggahan tentang sosok jawara muda dari Lembang itu.
Anto membaca satu per satu, alisnya naik perlahan, "Anjir, ini, ini orangnya beneran gak punya catatan kriminal. Malah ada yang bilang dia sering bantu polisi tangkep penjahat. Sosoknya disegani tapi gak pernah disalahgunakan buat hal jahat."
"Tuh kan," David tersenyum, mencoba membuat senyum paling imut yang dia bisa, mengarahkannya langsung ke wajah Anto, berharap bisa meyakinkan lebih jauh.
"Jijik, bet," Anto langsung memalingkan wajah, merinding sendiri, "udah, udah, jangan senyum-senyum kayak gitu, serem."
Camelia tertawa kecil melihat interaksi itu, suasana yang tadinya tegang perlahan mencair.
"Oke," Anto akhirnya berkata dengan nada lebih serius, "kalau emang lo, siapapun lo sekarang, ada di tubuh David, berarti lo sekarang pewaris perusahaan keluarga ini. Lo harus belajar, dan gue akan ajarin lo sekarang. Tapi ingat, saudara tiri lo gak akan terima ini begitu saja. Mereka pasti cari cara buat hancurin lo."
Dia menambahkan, suaranya melembut, "Mungkin ini emang udah jalan dari Allah buat nyelametin lo, dengan cara yang gak masuk akal sekalipun."
Sepanjang hari itu, Anto dan Camelia bergiliran mengajarkan David tentang seluk-beluk perusahaan, mulai dari struktur organisasi, laporan keuangan dasar, sampai cara membaca kontrak bisnis. David, yang awalnya bingung dengan istilah-istilah asing, perlahan mulai memahami, otaknya yang sebenarnya cerdas mulai terbiasa dengan dunia baru yang jauh berbeda dari padepokan silat tempat dia dibesarkan.
***
Sementara itu, di rumah besar Wijayakusuma, suasana jauh dari damai. Reza, Albert, dan Surya berdiri di hadapan Junaedi, menunjukkan tangan dan kaki mereka yang masih bengkak, mengadu dengan suara penuh dramatisasi.
"Pa, David nyerang kami bertiga. Tanpa alasan. Lihat ini, Pa, tangan kami sampai bengkak begini," Reza berkata, sengaja tidak menyebutkan bahwa mereka yang lebih dulu menyerang.
Junaedi, yang baru pulang dari kantor dengan mood sudah buruk sejak siang, mendengar laporan itu, wajahnya memerah seketika.
"ANAK SETAN!" dia berteriak, tangannya menggebrak meja kerja di ruang tengah hingga retak, "dikasih hati malah makin ngejadi! Telepon dia sekarang, suruh dia pulang!"
Suara itu menggelegar ke seluruh penjuru rumah, sementara di seberang kota, David masih duduk tenang belajar membaca laporan keuangan, belum menyadari badai yang sedang menunggunya di rumah.
*(bersambung)*