NovelToon NovelToon
Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Neng tiya

Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.

Aku nggak sengaja di sini.

Klik.

"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"

Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.

Jantungku berhenti.

Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.

Kraaak.

"Menangkap."

Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu

Malam harinya gerimis kembali, menyisakan suara ketukan air yang konstan di kaca jendela kamarku. Sesuai instruksi Axel, aku telah bersiap sejak pukul setengah delapan.

Kali ini, aku memilih gaun krem lembut berlengan panjang dengan kerah tinggi. Warna ini cukup netral, tidak mencolok seperti gaun merah marun kemarin, namun tetap memberikan kesan rapi dan formal di depan perwakilan legal yayasan yang akan datang.

Pukul 19.55 Pak Bara mengetuk pintuku, memintaku untuk segera turun ke ruang pertemuan lantai satu.

Ketika aku melangkah menuruni tangga, aku bisa melihat beberapa pria paruh baya berpakaian jas formal hitam dengan tas koper kulit berjejer di area meja oval ruang tengah. Mereka tampak sibuk memeriksa beberapa lembar dokumen tebal di bawah penerangan lampu gantung kristal yang terang benderang.

Di kepala meja, Axel duduk dengan keangkuhan mutlaknya. Dia mengenakan kemeja hitam polos yang dipadukan dengan celana bahan senada. Rambutnya disisir rapi, dan ekspresi wajahnya begitu datar, memancarkan aura dingin yang membuat para perwakilan hukum di sekitarnya bergerak dengan sangat hati-hati dan penuh segan.

"Ah, ini Nona Aira Pramesti?" salah satu pria paruh baya berkacamata tebal berdiri begitu melihatku mendekat.

"Iya, benar, Pak," jawabku pelan sembari melirik Axel sekilas. Axel hanya memberikan anggukan kecil, sebuah isyarat tidak tertulis yang menyuruhku untuk segera mengambil tempat duduk di kursi kosong yang berada tepat di sebelah kirinya.

Pria berkacamata yang kemudian kuketahui bernama Pak tulus, kepala divisi legalitas administrasi Distrik Pusat, segera menggeser beberapa berkas ke hadapanku.

"Nona Aira, kami di sini untuk memastikan bahwa komitmen kerja sama Anda dengan Yayasan Reynard tercatat secara permanen di sistem administrasi distrik. Ini adalah formalitas wajib agar seluruh jaminan biaya, asuransi, serta dukungan penuh untuk institusi panti asuhan Anda bisa dicairkan secara legal oleh pihak perbankan," jelas Pak Tulus dengan nada profesional yang bersih.

Aku mengangguk, mencoba membaca baris demi baris dokumen tersebut. Bahasanya sangat rapi, dikemas sebagai kontrak kemitraan visual dan asisten riset media untuk yayasan. Tidak ada satu pun diksi yang mengarah pada situasi penahananku di mansion ini. Semuanya terlihat sangat sah di mata hukum permukaan.

Namun, saat jemariku hendak membalik ke halaman lembar persetujuan akhir, Axel mendadak mengulurkan tangannya.

Jari-jarinya yang panjang bergerak lambat, menahan ujung kertas dokumenku. Aku refleks menghentikan gerakanku, menahan napas karena jarak tangan kami yang sangat dekat.

"Pastikan poin mengenai klausul eksklusivitas sudah dicantumkan dengan jelas, Tulus," suara berat Axel memecah keheningan, nadanya rendah namun sarat akan penekanan mutlak.

"Sudah, Tuan Muda Axel. Pada poin pasal empat, tertera jelas bahwa selama enam bulan masa komitmen berjalan, Pihak Kedua tidak diperkenankan mengambil proyek luar atau terlibat dalam asosiasi institusi lain tanpa persetujuan tertulis dari Anda," jawab Pak Tulus sigap.

Axel menarik kembali tangannya, lalu beralih menatapku lurus. "Tanda tangani, Aira. Dengan begitu, posisi dan keamanan pantimu di distrik ini akan sepenuhnya berada di bawah jaminanku."

Kata jaminanku terdengar seperti dua sisi mata uang di telingaku sebuah perlindungan nyata bagi tempat tinggalku dulu, sekaligus rantai pengikat yang semakin kokoh mengunci kebebasanku di rumah ini.

Aku mengambil pulpen logam mewah di atas meja dengan tangan kanan. Rasa perih di buku jariku semalam sudah jauh berkurang, membuatku bisa menggoreskan tanda tangan dengan garis yang tegas dan stabil di atas materai resmi distrik. Aira Pramesti.

Begitu prosesi selesai, para perwakilan hukum segera merapikan berkas-berkas mereka ke dalam koper kulit dengan rapi. Mereka berpamitan pada Axel dengan membungkuk khidmat sebelum akhirnya dibimbing keluar oleh Pak Bara menuju area teras depan.

Ruang tengah kembali sunyi, hanya menyisakan kehangatan dari perapian marmer dan aroma tembakau mahal milik Axel yang samar. Aku bergerak hendak berdiri untuk kembali ke kamar, namun suara Axel kembali menahan pergerakanku.

"Tetap di tempatmu," ucapnya datar tanpa menoleh, matanya menatap sisa lembar dokumen di atas meja kaca.

Aku kembali duduk dengan kaku, meremas jemariku sendiri di atas pangkuan gaun lavenderku. "Ada hal lain yang harus saya lakukan, Tuan Axel?"

Axel bersandar pada sofanya, menoleh perlahan ke arahku. Pandangannya bergerak lambat, menilai penampilanku malam ini sebelum akhirnya berhenti tepat di sepasang mataku. "Kau bersikap dengan cukup baik di depan tim legal tadi. Tidak ada ekspresi panik yang merusak fokus."

"Saya hanya mencoba mengikuti aturan Anda untuk tidak memicu perhatian, Tuan," jawabku jujur, mencoba mempertahankan nada suaraku agar tetap stabil.

Axel terkekeh pelan, sebuah tawa bariton yang tipis di sudut bibirnya yang dingin. "Kau belajar dengan sangat cepat untuk ukuran seseorang yang terbiasa hidup bebas di luar sana. Tapi ingat, komitmen resmi ini baru saja memperkuat posisiku atas dirimu di distrik ini. Jika kau mencoba membuat masalah di kampus atau bermain di belakangku dengan orang lain..." Axel menjeda kalimatnya, tubuhnya sedikit condong ke depan, membuat atmosfer mengintimidasi kembali menguar kuat dari tubuhnya. "pihak legal tidak akan kesulitan untuk membatalkan seluruh dukungan pada pantimu dalam waktu lima menit."

Ancaman itu begitu halus, namun dampaknya jauh lebih menakutkan daripada tindakan pendisiplinan fisik semalam. Axel tahu betul di mana letak kelemahanku, dan dia menggunakannya sebagai kendali psikologis yang sempurna untuk mengunci pergerakanku.

"Saya paham, Tuan Axel. Saya tidak akan mengecewakan komitmen ini," ucapku lirih, menundukkan kepala.

"Bagus. Naiklah ke kamarmu dan beristirahatlah," perintahnya kembali ke nada suaranya yang dingin dan penuh otoritas.

Aku berdiri, membawa sisa keteganganku menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Di bawah bayang-bayang lampu koridor yang temaram, aku menyadari bahwa tanda tangan malam ini telah mengubah statusku sepenuhnya. Aku bukan lagi sekadar saksi yang disembunyikan di dalam mansion, melainkan sebuah aset resmi yang berada di dalam sangkar hukum yang dibuat oleh sang naga. Dan jalan untuk keluar dari tempat ini terasa semakin jauh di balik kabut tebal.

Begitu pintu kamarku tertutup, aku menyandarkan punggung pada daun pintu, membiarkan helaan napas panjang meloloskan sisa sesak di dada.

Kamar ini terasa semakin sunyi, mengurungku dalam kemewahan yang palsu. Aku melangkah ke arah cermin meja rias, menatap pantulan gaun lavender yang membungkus tubuhku. Gaun ini indah, tetapi rasanya tak berbeda dengan jeruji besi yang tak kasatmata. Di luar, hujan deras mengguyur atap mansion, menyamarkan suara riuh pikiranku sendiri. Enam bulan adalah waktu yang sangat lama, namun aku harus memastikan jiwaku tetap utuh hingga lembar terakhir kontrak ini terpenuhi sepenuhnya di bawah bayang-bayang kendali Axel.

1
Alia Chans
lanjut, like + 🌹✍️😉🤭


kalo berkenan mmpir juga thor😉
Ti Ara: siap kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!