Pernah gak sih kamu lagi enak enaknya tidur, eh bangun bangun malah pindah dunia. Ini adalah kisah seorang pemuda yang baru saja lulus dari masa SMAnya, dia berusia 18 tahun, namanya Ethan Lucifer.
Dia anak yang hidup sederhana bersama orang tuanya, Ayahnya bekerja di bengkel, Ibunya bekerja di warung kecil depan rumah mereka. Alias warung mereka sendiri, warungnya berupa warung makanan.
Ethan kadang akan membantu orang tuanya berjualan, dia juga memiliki adik perempuan yang saat ini baru duduk di kelas satu SMP, dan adik laki laki yang baru masuk SD tahun ini. Keluarga mereka beranggotakan 5 orang, dan selalu harmonis.
Pesan Author: Mungkin sebagian akan berbeda dari awal alur, tapi semoga tetap bisa menikmatinya, karena di karya ini terdapat bantuan dari Ai, mohon dimaklumi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ILikeAll9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C015: Pertemuan Dengan Brand Luxeria Wear & Gadget Hub
...Selamat Baca...
Pagi, pukul 09.00 WAZ
Tanggal: 08 April
Lokasi: Ruang Rapat Utama, Lucifer Entertainment
Suasana pagi ini terasa sangat berbeda. Berbeda dengan kemarin yang masih berantakan, hari ini ruangan terlihat bersih, rapi, dan penuh dengan semangat baru.
Semua berkat tangan dingin Leonard yang sudah mengatur segalanya sejak matahari terbit.
Di ruang rapat, Ethan dan Arthur sudah duduk bersiap. Di hadapan mereka kini duduk perwakilan dari dua perusahaan besar, yaitu Luxuria Wear dan Gadget Hub.
"Seperti yang sudah kita bahas, kami membutuhkan wajah baru yang mampu mewakili citra mewah dan modern dari brand kami," ucap perwakilan dari Luxuria Wear dengan sopan.
Ethan mengangguk, lalu menekan tombol pada remote, menampilkan foto dan video profil Felix Nalendra di layar besar.
"Kenalkan, Felix Nalendra. Visualnya tajam, elegan, dan memiliki proporsi tubuh yang sempurna untuk menjadi model pakaian kelas atas. Dia cocok sekali dengan konsep yang kalian cari," jelas Ethan tegas.
Diskusi berjalan lancar. Tak lama kemudian, giliran giliran Gadget Hub yang mendapatkan perhatian.
"Dan untuk produk elektronik kalian, saya merekomendasikan Leo Whitmore," sambung Arthur.
"Dia memiliki aura misterius dan futuristik yang sangat kuat. Wajahnya yang unik dan tatapannya yang dalam akan membuat produk kalian terlihat lebih canggih dan berkelas."
Pihak Gadget Hub tampak sangat terkesan. "Sempurna. Karakternya sangat sesuai dengan vibe produk terbaru kami."
Kesepakatan pun terjalin. Kontrak kerja sama ditandatangani. Felix dan Leo resmi menjadi wajah baru dari brand-brand ternama tersebut.
"Terima kasih atas kepercayaannya. Kami pastikan hasilnya akan memuaskan," ucap Ethan mengakhiri pertemuan itu dengan senyum puas.
Baru saja tamu undangan pergi, ponsel Ethan berdering. Nama yang tertera adalah Tuan Gerald.
"Halo, Tuan Gerald. Ada kabar apa pagi ini?" tanya Ethan.
"Selamat pagi, Tuan Ethan. Saya hanya ingin mengonfirmasi detail penayangan untuk Shine The Star," suara Tuan Gerald terdengar ramah dari seberang.
"Acara ini akan kami tayangkan secara eksklusif. Selain di saluran TV Nasional, penonton juga bisa menontonnya melalui platform streaming khusus milik kami bernama StarLive+."
"StarLive+?" ulang Ethan.
"Benar. Platform ini dibuat khusus untuk menampung berbagai konten hiburan, mulai dari siaran langsung, behind the scene, hingga voting daring."
"Jadi interaksi fans akan lebih mudah dan luas. Sistemnya aman dan terpusat, sangat cocok untuk membangun basis penggemar yang kuat," jelas Tuan Gerald.
Ethan mengangguk-angguk paham. "Ide yang bagus. Jadi Alfian nanti tidak hanya tampil di TV, tapi juga akan dikenal luas di dunia digital melalui StarLive+."
"Tepat sekali. Nanti akan ada fitur live streaming harian untuk melihat kegiatan para trainee di asrama. Jadi pastikan mental anak asuhmu sudah siap," canda Tuan Gerald sebelum menutup telepon.
Ethan menaruh ponselnya, lalu menatap Leonard yang sedang mencatat segala sesuatu.
"Kau dengar itu, Leonard? Catat nama platformnya. Kita akan memantau perkembangannya dari sana."
"Siap, Bos. Sudah tercatat," jawab Leonard sigap.
***
Siang, pukul 13.15 WAZ
Belum sempat mereka beristirahat, pintu utama kantor terbuka. Masuklah sosok Pak Leo Martinez, kontraktor yang sedang menangani renovasi gedung mereka.
"Selamat siang, Tuan Ethan. Maaf mengganggu waktu," sapa Pak Martinez.
"Selamat siang, Pak Martinez. Silakan duduk," jawab Ethan ramah.
"Begini Tuan, pembayaran 50% untuk pelunasan renovasi gedung utama sudah kami terima kemarin tanggal 7 April. Pekerjaan di sana sudah berjalan sangat lancar dan hampir selesai."
Pak Martinez membuka blueprint atau gambar rencana yang ia bawa.
"Nah, tentang gedung tua di sebelah sini yang empat lantai... Saya sudah cek kondisinya. Strukturnya masih sangat kokoh, hanya butuh sentuhan modernisasi saja."
"Dan kabar baiknya, Tuan, saya sudah berhasil menghubungi pemilik asli gedung tersebut. Dia bersedia menjualnya dengan harga yang cukup masuk akal karena sudah lama tidak terpakai."
Mata Ethan berbinar. "Benar? Itu kabar sangat bagus."
"Benar Tuan. Jadi jika Tuan setuju, kita bisa langsung urus surat-surat pembelian hari ini juga."
"Setelah itu, tim saya bisa langsung mulai membongkar dan merenovasi bagian dalamnya agar bisa segera dipakai untuk asrama atau ruang latihan tambahan," jelas Pak Martinez antusias.
Ethan menatap Arthur dan Leonard. "Bagaimana menurut kalian?"
"Ambil saja! Uang ada, kesempatan ada. Gedung itu akan sangat berguna untuk ekspansi nanti," sahut Arthur cepat.
Leonard pun mengangguk. "Secara perhitungan keuangan, ini sangat menguntungkan. Lokasinya bersebelahan, jadi sangat mudah untuk pengawasan."
"Baik," Ethan menatap Pak Martinez.
"Lanjutkan proses pembeliannya. Urus semua legalitasnya, dan mulai rencanakan desain interiornya. Saya ingin gedung itu berubah total menjadi tempat yang modern dan nyaman."
"Siap, Tuan Ethan! Saya akan kerjakan secepat mungkin!"
***
Pukul: 18.44
Tanggal: 08 April
Lokasi: Gedung Lucifer Entertainment, ruang kantor CEO
Malam harinya, atau tepatnya setelah semua urusan bisnis selesai, Leonard menghampiri Ethan dengan setumpuk berkas naskah drama.
"Bos, ini naskah yang kau minta kemarin. Aku sudah mencari-cari peran yang cocok untuk trainee yang memiliki bakat akting," kata Leonard sambil meletakkan satu naskah tebal di meja.
"Nama dramanya 'Fake Love'. Ini adalah drama televisi yang sedang naik daun dengan alur cerita yang cukup gelap dan emosional."
Ethan mengambil naskah itu dan membaca ringkasannya. "Dan perannya?"
"Peran Cameo atau tamu spesial. Karakternya adalah adik kandung yang selama ini disembunyikan dari tokoh utama pria. Namanya di cerita ini cukup menyedihkan," jelas Leonard.
Ethan terus membaca deskripsi karakternya.
•Nama Karakter: Elvin
•Usia: 14 tahun
•Peran: Adik tersembunyi yang memiliki penyakit lemah jantung. Dia hanya muncul dalam satu atau dua adegan flashback.
•Dialog: Hanya satu kalimat pendek namun sangat menyentuh.
•Ending: Karakternya meninggal dunia, dan kematian inilah yang menjadi pemicu utama rasa dendam dan kebencian sang kakak untuk membalas semua orang yang telah menyakiti mereka.
Ethan tersenyum tipis. "Sempurna."
"Siapa yang kau pilih?" tanya Leonard.
"Daniel Hart," jawab Ethan tanpa ragu.
"Usianya tepat, 14 tahun. Dia memiliki wajah yang lembut dan ekspresif, sangat cocok memerankan karakter yang rapuh dan menyedihkan seperti ini."
"Meskipun hanya muncul sebentar dan hanya punya satu dialog, peran ini sangat krusial untuk jalan cerita drama tersebut. Penonton pasti akan ingat wajahnya."
Leonard mencatat cepat di buku catatannya. "Baik. Aku akan siapkan kontraknya dan beritahu Daniel Hart segera. Dia pasti akan sangat senang mendapat kesempatan debut sebagai aktor."
Ethan menatap keluar jendela, membayangkan bagaimana masa depan anak buahnya.
Alfian ke acara pencarian bakat, Felix dan Leo ke dunia model/endors sementara waktu, dan sekarang Daniel melangkah ke dunia akting.
Langkah Lucifer Entertainment untuk menguasai seluruh industri hiburan di Negara Aurelia mulai terlihat semakin nyata.
***
Besok paginya, tanggal 09 April, pukul 07.25 WAZ.
Lokasi: Lokasi syuting drama Fake Love.
Ethan mengantar Daniel dan menemaninya sebagai Manajer Aktor Rookie.
Suasana di lokasi syuting terasa sangat sibuk dan profesional. Kru berlalu-lalang mempersiapkan kamera, pencahayaan, dan properti set.
Di ruang rias, para penata busana dan make-up artist sudah siap dengan perlengkapan mereka.
Ethan berjalan dengan tenang di samping Daniel Hart. Hari ini, ia tampil rapi namun tidak mencolok, berperan penuh sebagai manajer yang mendampingi artis barunya.
Daniel terlihat sedikit gugup. Tangannya memegang naskah dengan erat, jari-jarinya sedikit pucat karena menahan rasa cemas.
Ini adalah pengalaman pertamanya berada di lokasi syuting sesungguhnya. "Ikuti arahanku, Daniel. Tenang saja," bisik Ethan dengan suara rendah dan menenangkan.
"Kau sudah berlatih dengan baik. Ingat karaktermu, Elvin adalah sosok yang rapuh, lemah, namun tatapannya tulus. Lakukan seperti yang kamu latih."
"Tunjukkan pada mereka hasil latihan sempurnamu selama beberapa hari di Perusahaan dan pengalamanmu sebagai Pemain Teater jalanan."
Daniel mengangguk cepat, menarik napas panjang. "Baik, Kak Ethan. Aku akan melakukan yang terbaik."
Seorang koordinator acara segera menghampiri dan membawa mereka ke area persiapan.
"Silakan, ini tempat ganti dan rias untuk Daniel. Tim kami sudah menunggu," ucapnya sopan.
Ethan membiarkan Daniel ditangani oleh para profesional. Penata kostum segera membawakan setelan yang sudah disiapkan.
Pakaian yang disiapkan berupa: Baju tidur berwarna pucat dengan desain longgar, memberikan kesan tubuh yang kurus dan lemah.
Sementara itu, make-up artist bekerja dengan cepat memberikan sentuhan tipis agar wajah Daniel terlihat lebih pucat dan lemas, sesuai dengan karakter yang sakit-sakitan.
Ethan hanya berdiri di dekat pintu, mengawasi dengan seksama sambil sesekali memberikan instruksi singkat agar penampilan Daniel sesuai dengan visi yang mereka inginkan.
Tak lama kemudian, sutradara utama, Tuan Kim, datang menghampiri.
"Kalian pasti dari Lucifer Entertainment kan? Ini aktor cilik untuk peran Elvin?" tanyanya tegas.
"Benar. Saya Ethan Lucifer, manajer yang mendampingi Daniel Hart. Dia siap syuting kapan saja," jawab Ethan dengan sopan namun penuh percaya diri.
"Bagus. Waktu kita sempit. Segera bawa dia ke set," perintah Tuan Kim.
Ethan menepuk bahu Daniel pelan saat anak itu sudah siap dengan penampilannya. "Ayo masuk. Tunjukkan kemampuanmu."
Daniel berjalan masuk ke dalam set kamar rumah sakit yang remang-remang. Di sana, sudah menunggu aktor utama pria yang memerankan sosok kakaknya.
"Mohon kerja samanya, Senior." Kata Daniel membungkuk hormat, Aktor itu mengangguk dengan senyuman tipis.
"Mohon kerja samanya juga Junior," kata Aktor itu, menjawab perkataan Daniel.
Kemudian, suasana pun menjadi hening total. Hanya suara peralatan teknis yang terdengar.
"Siap... Kamera berputar... Mulai!" teriak asisten sutradara.
Ekspresi Daniel berubah seketika. Wajahnya yang tadinya ceria kini tampak lemas dan sayu. Saat menatap aktor utama, ada cahaya kasih sayang yang terpancar dari matanya.
Dengan suara berbisik pelan namun jelas terdengar, ia mengucapkan satu-satunya dialognya, "Kakak... jangan menangis..."
Setelah kalimat itu terlontar, tangan Daniel yang terulur perlahan jatuh ke tempat tidur, matanya perlahan terpejam, dan tubuhnya diam tak bergerak, menggambarkan sosok yang telah tiada.
Aktor utama pun mulai berakting dengan emosi yang meledak-ledak, namun sosok Daniel tetap diam sempurna dalam perannya.
"Cut!" teriak Sutradara Kim dengan nada puas.
"Sempurna! Sangat menyentuh! Pergantian ekspresinya luar biasa!"
Suasana langsung mencair. Daniel pun membuka matanya dan bangun dengan napas sedikit memburu, namun wajahnya berseri-seri mendapat pujian.
Ethan yang menyaksikan dari balik monitor tersenyum lega. Adegan itu singkat, namun impact-nya sangat kuat.
Daniel berhasil membuktikan bahwa ia layak disebut sebagai aktor muda berbakat. "Kita lanjut ke adegan pertemuan pertama Elvin dengan kakaknya." Kata sutradara, lalu syuting di mulai kembali, setelah syuting selesai.
"Kerja bagus, Daniel," puji Ethan saat mereka berjalan keluar meninggalkan lokasi syuting.
"Dua adegan itu sudah cukup untuk membekas di hati penonton."
Wajah Daniel bersinar penuh bangga. "Terima kasih banyak, Kak Ethan!"
"Sama-sama," kata Ethan, mengacak-acak rambut Daniel, hingga ia tersenyum lebar.