NovelToon NovelToon
Sekretaris Kaku VS CEO Random

Sekretaris Kaku VS CEO Random

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rara_R

Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.

​Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Hari Selasa pagi di kantor Baskara Group tidak pernah terasa seberat ini bagi Kirana Larasati. Biasanya, dia melangkah masuk ke lobi dengan kepala tegak, fokus pada daftar tugas harian yang sudah tersusun rapi di benaknya. Namun hari ini, sejak dia turun dari taksi di lobi depan, atmosfer di sekitarnya terasa sangat berbeda.

Semua mata tertuju padanya. Bukan lagi dengan tatapan penuh selidik seperti saat foto jas hujan plastik mereka bocor, melainkan dengan tatapan penuh rasa hormat, kagum, dan... sedikit takut. Di jari manis tangan kirinya, sebuah cincin emas putih dengan berlian kecil yang simpel namun elegan melingkar dengan pas disana. Cincin dari Sofia Baskara yang terpaksa tetap dia kenakan demi menjaga validitas pengumuman malam itu.

Begitu pintu lift eksekutif terbuka di lantai paling atas, Tika, staf administrasi yang biasanya paling hobi bergosip, langsung berdiri tegap dan membungkuk sopan.

"S-selamat pagi, Ibu Kirana" sapa Tika dengan nada suara yang bergetar.

Kirana menghentikan langkahnya, menatap Tika dengan kening berkerut.

"Tika, kenapa panggil saya 'Ibu'? Panggil Mbak seperti biasa saja. Saya belum berubah jadi hantu atau dewan komisaris, kan?"

"A-ah, iya, Mbak Kirana. Maaf," Tika menelan ludah, matanya melirik sekilas ke arah cincin di jari Kirana. "Selamat pagi. Itu... berkas untuk rapat koordinasi jam sepuluh sudah saya letakkan di meja Mbak. Dan... Pak Radit sudah menunggu di dalam sejak tiga puluh menit yang lalu."

"Sejak setengah jam yang lalu?" Kirana melirik jam tangannya yang baru menunjukkan pukul 07.45. "Tumben sekali."

Kirana mengambil napas dalam-dalam, mempersiapkan mentalnya. Kejadian di balkon hotel tiga hari lalu, di mana Radit mengakui perasaannya secara implisit dan membongkar rahasia bahwa Ibu Sofia sebenarnya sudah tahu tentang kontrak mereka, masih membuat jantung Kirana berdesir aneh setiap kali mengingatnya. Mereka belum sempat bicara lagi secara mendalam sejak malam itu karena Radit mendadak sibuk dengan kunjungan lapangan ke luar kota.

Brak.

Kirana membuka pintu ruangan CEO dengan gerakan profesional seperti biasa. Namun, pemandangan di dalam ruangan langsung membuatnya urung melangkah.

Radit tidak sedang duduk di kursi kebesarannya. Pria itu sedang tiarap di atas lantai marmer, mencoba menjangkau sesuatu di bawah sofa tamu menggunakan sebuah tongkat golf. Jas hitamnya disampirkan di sandaran kursi, menyisakan kemeja putih yang lengannya sudah digulung sembarangan.

"Radit? Apa yang sedang Anda lakukan?" tanya Kirana, menutup pintu di belakangnya.

"Kirana! Bagus kamu sudah datang" Radit mendongak, wajahnya agak memerah karena posisi tiarap yang tidak nyaman. "Bisa tolong ambilkan sapu atau sesuatu yang panjang? Si 'Kuning' menggelinding ke bawah sofa waktu aku mainkan tadi, dan tanganku tidak sampai."

Si Kuning yang dimaksud Radit adalah boneka ayam plastik karetnya.

Kirana menghela napas panjang. Segala ketegangan, kecemasan, dan debaran romantis yang dia rasakan sejak tiga hari lalu seketika menguap kelaut. Pria ini tidak berubah. Dia tetaplah Raditya Baskara, CEO random yang menguras energi warasnya.

"Pak Radit, Anda adalah pemimpin dari perusahaan dengan aset triliunan rupiah. Bisakah Anda tidak tiarap di lantai sepagi ini hanya demi sebuah mainan karet?" Kirana berjalan mendekat, meletakkan tablet kerjanya di meja, lalu dengan anggun berlutut di dekat sofa, lalu mengambil payung lipat yang selalu dia bawa di dalam tasnya, Kirana menyodok boneka ayam itu hingga keluar dari bawah sofa dalam sekali percobaan.

Kwek.

Boneka itu mengeluarkan suara nyaring saat terinjak sepatu Kirana.

Radit langsung bangkit berdiri, membersihkan lutut celananya dengan tangan, lalu mengambil boneka itu dengan senyum lebar.

 "Terima kasih, Tunanganku. Kamu memang selalu bisa diandalkan dalam segala situasi darurat."

Mendengar kata 'Tunanganku' gerakan Kirana yang hendak mengambil kembali payungnya mendadak kaku. Dia berdiri, merapikan rok span hitamnya, lalu menatap Radit dengan pandangan serius.

"Kita perlu bicara, Pak Radit. Secara serius. Tentang status kita sekarang" ujar Kirana, menekankan kata 'Pak' untuk mengembalikan batasan profesional yang sempat mengabur.

Radit berjalan menuju mejanya, meletakkan si Kuning di samping laptop, lalu duduk di kursi kebesarannya. Ekspresi wajahnya berubah, binar usilnya mereda, digantikan oleh tatapan dalam yang membuat Kirana mendadak salah tingkah.

"Aku tahu," kata Radit pelan. "Duduklah, Kirana."

Kirana duduk di kursi di hadapan meja Radit, lalu melipat kedua tangannya di atas pangkuan. "Pertama, draf kontrak kita yang lama. Mengingat Ibu Sofia sudah mengetahui tentang kepura-puraan kita dari hari pertama, kontrak itu secara hukum atau setidaknya secara fungsional sudah batal. Benar?"

"Secara fungsional, iya," Radit mengangguk, bersandar pada kursinya. "Tapi efek domino dari pengumuman malam itu nyata. Seluruh keluarga besar Baskara, media bisnis, dan karyawan di gedung ini sekarang tahu kalau kita bertunangan. Kita tidak bisa langsung bilang 'oh maaf kami cuma bercanda' besok pagi, kecuali kita mau saham perusahaan anjlok lima persen dalam waktu dua puluh empat jam karena rumor ketidakstabilan personal CEO."

"Lalu apa rencana Anda?" tuntut Kirana. "Kita tidak bisa terus-menerus berakting di depan Ibu Sofia jika beliau sendiri tahu kita sedang berakting. Itu konyol, Radit. Kita seperti badut yang ditonton oleh sutradaranya sendiri."

Radit terdiam sejenak, menatap jemari Kirana yang saling bertautan, tepat di mana cincin dari ibunya melingkar.

"Ibuku bilang, dia sengaja membiarkan kita karena dia ingin memberi 'dorongan'. Dia ingin melihat sejauh mana kita bisa bertahan dengan kebohongan ini sebelum... yah, sebelum perasaan itu menjadi nyata."

Radit memajukan tubuhnya, menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap penuh Kirana.

"Dan malam itu di balkon... aku sudah mengatakan bagianku, Kirana. Aku tidak sedang berakting lagi. Perasaan yang kurasakan saat bersamamu, rasa tenang saat kamu ada di dekatku, bahkan rasa senang saat kamu memarahiku karena sambal bakso... itu semua nyata. Aku ingin menjalani ini secara nyata. Tanpa pasal kontrak."

Jantung Kirana berdegup kencang. Dia mengalihkan pandangannya ke jendela besar yang menampilkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta.

 "Radit... Anda tahu ini tidak mudah bagi saya. Dunia kita berbeda. Anda berada di puncak menara ini karena nama belakang Anda, sedangkan saya berada di sini karena kerja keras dan kedisiplinan. Jika kita menjalani ini secara nyata, risikonya jauh lebih besar bagi saya. Bagaimana jika ini gagal? Saya bukan cuma kehilangan kekasih, tapi saya akan kehilangan karier yang sudah saya bangun selama lima tahun."

Radit mendengarkan dengan saksama, wajahnya menunjukkan rasa hormat yang mendalam atas kekhawatiran Kirana. Pria itu tahu, bagi wanita seindependen Kirana, pekerjaan dan harga diri adalah segalanya.

"Kalau begitu, mari kita buat aturan baru," ujar Radit lembut, membuat Kirana kembali menoleh. "Bukan kontrak palsu, tapi komitmen bersama. Aturan Baru Pasal 1. Di dalam kantor ini, dari jam delapan pagi sampai jam lima sore, kita adalah CEO dan Sekretaris Utama. Tidak ada perlakuan khusus, tidak ada panggilan sayang, dan semua keputusan bisnis diambil secara profesional. Aku tidak akan membiarkan perasaan pribadiku merusak reputasimu sebagai sekretaris terbaik di perusahaan ini."

Kirana menaikkan sebelah alisnya.

"Lalu, setelah jam lima sore?"

Radit kembali memasang senyum jahilnya yang khas, binar matanya berkilau usil.

 "Setelah jam lima sore, aturan korporat selesai. Aku adalah Radit, pria yang punya hak penuh untuk mengajak tunangannya makan malam di pinggir jalan, membelikan jas hujan plastik warna-warni, dan mencoba membuat wanita kaku di depanku ini tersenyum setiap hari. Bagaimana? Apakah Aturan Baru Pasal 1 ini bisa kamu terima, Pihak Kedua?"

Kirana menatap Radit lama, menimbang-nimbang setiap kata yang diucapkan pria itu. Logikanya berteriak bahwa ini masih berbahaya, namun hatinya... hatinya merasa aman karena Radit memikirkan perlindungan bagi kariernya terlebih dahulu daripada egonya sendiri.

Perlahan, sebuah senyuman tipis,senyuman tulus yang sangat disukai Radit muncul di wajah Kirana.

"Baik," kata Kirana, suaranya mantap. "Saya terima Aturan Baru Pasal 1. Dan sebagai Sekretaris Utama, saya ingatkan Anda, Pak Radit... lima belas menit lagi rapat koordinasi dengan Dewan Komisaris akan dimulai. Mohon pakai jas Anda, rapikan rambut Anda, dan simpan ayam plastik itu ke dalam laci sekarang juga."

Radit langsung tegak seolah menerima perintah dari jenderal tertinggi.

"Siap, Sekretaris Kirana! Perintah dilaksanakan!"

Saat Radit sibuk memakai jasnya dengan terburu-buru, Kirana berdiri dan berjalan menuju pintu. Tangannya menyentuh gagang pintu, namun dia sempat menoleh ke belakang sekilas, menatap Radit yang sedang berjuang merapikan dasinya yang miring.

1
paijo londo
q salut sama keterusterangan Kirana tentang masa lalunya yg kelam tnpa kebohongan untuk mengatakan yg sebenarnya pada Radit itu yg membuat mereka kompak dan kerjasama mereka jadi sukses💪💪💪
paijo londo
🤔🤔q yakin pasti itu paman Radit yg pengen depak Radit dari posisi ceo
paijo londo
ternyata oh ternyata sifat random Radit menurun dari nyonya Sofia y🤭🤭
paijo londo
tuh kan Radit bos yg benar2 ajaib sifatnya🤭🤭🤭paling2 yang setress sekertarisnya karena hidupnya yg teratur jadi jungkir balik kenak mental karna Radit 🤣🤣
paijo londo
mampir thor biasanya kalo q baca novel lainnya yg bersifat ksku kayak kanebo kering tuhosnya ya🤔🤔laaa ini kebalik yg sifatnya ajaib tuh malah bosnya yg kyak kanebo kering sekertarisnya unik banget moga ceritanya seunik sifat bosnya y yang penuh keajaiban🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!