Dunia baru, aturan baru: yang kuat makan, yang lemah dimakan.
Yudha terbangun di dunia asing dengan membawa Apocalypse Hunger System—kekuatan yang bisa melahap apa saja untuk menjadi lebih kuat, tapi dengan harga: ia harus selalu lapar, atau dunia ini yang akan menanggung akibatnya.
Dingin, pragmatis, dan tidak percaya pada siapa pun, ia hanya punya satu tujuan: bertahan hidup, menjadi yang terkuat, dan tidak akan pernah lagi merasakan kelaparan atau diinjak-injak seperti masa lalunya.
Segalanya berubah saat ia bertemu Carmelia—anak kecil polos yang ia anggap hanya sebagai petunjuk jalan dan alat bantu. Di balik senyum dan sikap lembutnya, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berbahaya daripada sistem yang ada di dalam tubuh Yudha sendiri.
Dari pemangsa, ia perlahan sadar: ia mungkin bukan yang berburu... tapi justru yang sedang diburu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xian Nying, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 : Pecah Kulitnya Lalu Buang Dan Ambil Kacangnya
(Ini adalah detail visual lengkap bergambar ilustrasi dari karakter penting side heroine Carmelia)
Fanart By : Xian Nying
Sret.
Si bangsat berzirah pengintai itu baru aja mau balik badan buat kabur. Kakinya udah gemeteran parah setelah ngeliat tumpukan bangkai tikus raksasa yang habis dibantai sama Carmelia. Tapi sayang banget, dia telat. Gerakan dia lambat banget di mata gw. Berkat sisa buff frekuensi suara dari si rusak Lyra yang masih mengalir di saraf gw, kecepatan gw mendadak naik dua kali lipat.
Sebelum dia sempat ngambil langkah kedua, gw udah melesat di antara remang-remang lorong busuk ini.
BRAK!
Cengkeraman tangan gw mendarat pas di tenggorokan besi zirahnya. Gw angkat tubuhnya yang lumayan berat itu pake satu tangan, lalu gw banting keras-keras ke dinding batu saluran yang basah dan berlumut. Suara zirah pengintai khususnya retak, bunyinya renyah banget di kuping gw. Orang di balik topeng itu langsung terbatuk darah, megap-megap kayak ikan kekurangan air.
"Lu... lu siapa, bangsat?! Lepasin gw! Gw ini pengintai resmi dari—"
Gw gak butuh denger bacotannya. Gw gak peduli dia anjing suruhan siapa atau mau ngancem bawa nama faksi militer mana di kota busuk ini. Di dunia ini, hukum cuma berlaku buat kroco-kroco lemah yang takut mati. Bagi gw, dia cuma seonggok daging yang bawa informasi berharga.
Gw gak mau buang waktu buat interogasi pakai tanya jawab bodoh yang ujung-ujungnya pasti diisi sama kebohongan. Gw langsung nancepin jari-jari tangan kiri gw ke pelipis kepalanya, nembus sela-sela helm besinya yang udah retak.
Sistem, aktifkan Plunder. Peras otaknya.
[Perintah diterima. Mengaktifkan Fungsi Plunder: Ekstraksi Memori Target Manusia.]
Seketika, tubuh si mata-mata itu kejang-kejang hebat. Kedua matanya mendadak putih semua, melotot kayak mau lepas dari kelopak matanya. Dari ujung jari gw, gw bisa ngerasain ada aliran energi hangat yang ditarik paksa masuk ke dalam kepala gw. Dan di saat yang sama, kepala gw rasanya kayak dihantam palu godam. Sakit banget, tapi gw tahan sambil mendengus keras.
WUSH!
Kilasan-kilasan ingatan milik si bangsat ini mendadak berputar acak di dalam otak gw. Gw melihat sebuah ruangan mewah di dalam gereja besar kota Aethelgard. Cahaya obor sihir yang terang, aroma dupa yang menyengat, dan sesosok pria paruh baya bertubuh tambun yang memakai baju zirah putih mengkilap dengan lambang salib suci di dadanya. Komandan Ksatria Suci.
"Ledakkan gerbang pembatas bawah tanah di Sektor Selatan malam ini," suara pria tambun itu bergema di memori si mata-mata. "Biar tikus-tikus bawah tanah itu keluar dan memakan habis para sampah miskin di sana. Dengan begitu, besok pagi kita bisa datang membawa pasukan suci sebagai penyelamat. Rakyat akan makin tunduk dan dana anggaran militer dari kerajaan akan langsung cair ke dompet kita. Ingat, jangan tinggalkan jejak."
Brengsek.Sejak kapan Anjing 'menggonggong gw suci!!!'. ?💢
Gw melempar tubuh si mata-mata itu ke lantai parit yang becek. Gw gak menghisap energinya sampai habis jadi abu kayak monster tadi, gw sengaja menyisakan sekitar sepuluh persen energi kehidupannya. Gw mau dia tetep hidup, lumpuh, lemes gak bisa gerak, tapi jantungnya masih berdetak.
Gw meludah ke samping, menatap tubuh ringsek di bawah kaki gw dengan pandangan paling muak.
"Ksatria Suci? Pahlawan agama? Tcihhh.... Ternyata cuma sekumpulan babi gemuk yang pengen kelihatan bersih setelah main lumpur. Dan lu... cuma anjing pesuruh yang nasibnya gak ada harganya sama sekali."
"K-kak..."
Carmelia berjalan mendekat, belati birunya masih meneteskan darah hitam monster. Matanya natap gw, lalu beralih ke si mata-mata yang lagi megap-megap di lantai.
"Orang ini... diapain?"
Gw gak langsung jawab. Lewat kemampuan Gluttony's Sight, gw bisa melihat ada sesuatu yang aneh di dada zirah si mata-mata. Ada sebuah batu sihir kecil yang berkedip pelan secara konstan. Itu artefak pengirim sinyal detak jantung. Kalau orang ini mati sekarang atau jantungnya berhenti, markas pusat Ksatria Suci di atas sana bakal langsung tahu koordinat tepat di mana anjing mereka mampus. Dan gw gak mau memicu alarm kota terlalu cepat. Gw butuh waktu buat bersiap-siap.
Di saat bersamaan, mata gw ngeliat jauh ke dalam lubang vertikal di ujung lorong saluran ini. Di dasar kegelapan yang paling dalam, Gluttony's Sight gw menangkap ada gumpalan aura energi merah pekat yang sangat besar. Gila... ukurannya berkali-kali lipat dari tikus raksasa tadi. Itu pasti Boss Monster tempat ini, Plague Rat King, yang lagi tidur nyenyak nunggu pasukannya selesai ngacak-ngacak kota.
Gw senyum tipis. Otak gw langsung muter nyusun rencana yang jauh lebih menyenangkan.
Gw ngelirik Carmelia, lalu ngasih kode pakai dagu gw ke arah kaki si mata-mata.
"Carmelia, pakai belati baru lu. Sayat sendi pergelangan kakinya, tapi jangan sampai dia mati."
Carmelia gak nanya kenapa. Dia gak punya rasa kasihan lagi. Bocah berambut biru itu langsung berlutut di samping si mata-mata yang matanya langsung melebar ketakutan setengah mati.
SRETTTTT!
Dengan satu gerakan presisi yang mengikuti garis fatal tipis di matanya, Carmelia mengiris pergelangan kaki orang itu.
Bau darah segar manusia yang sekarat... adalah parfum paling memikat buat monster lapar yang ada di bawah sana.
Gw berjalan ke arah tubuh lemas si mata-mata, lalu gw cengkeram kerah bajunya lagi. Gw seret tubuhnya yang terus meninggalkan jejak darah panjang di lantai batu, menuju ke pinggir lubang vertikal yang gelap gulita itu. Orang itu mencoba berteriak, tapi pita suaranya udah hancur karena cengkeraman gw yang pertama tadi. Cuma ada suara erangan tertahan yang kedengaran menyedihkan.
"Lu harusnya berterima kasih sama gw," bisik gw tepat di depan wajah pucatnya yang penuh air mata dan darah. "Seenggaknya, di sisa hidup lu yang gak guna ini, lu akhirnya bisa bermanfaat buat jadi umpan makan malam gw."
Tanpa perasaan, gw lepas cengkeraman tangan gw dan gw tendang tubuhnya masuk ke dalam lubang vertikal itu.
WUUUSH... BRAK!
Tubuh si mata-mata jatuh bebas ke dasar lubang yang gelap. Gak butuh waktu lama, dari arah kegelapan terdalam di bawah sana, terdengar suara geraman raksasa yang sangat berat dan bergetar hebat hingga meretakkan dinding-dinding batu saluran pembuangan. Bau darah segar berhasil membangunkan sang raja monster dari tidurnya. Suara decakan cakar-cakar besar yang tajam mulai terdengar merayap naik ke atas dengan kecepatan tinggi.
Gw mundur beberapa langkah, berdiri di samping Lyra yang baru selesai meminum ramuan pemulih yang gw kasih tadi. Di sebelah kanan gw, Carmelia udah dalam posisi siap tempur, kedua belati birunya bersilang di depan dada, matanya menyala kemerahan di dalam kegelapan.
Gw memegang erat hulu pedang panjang besi padat baru gw. Gw bisa ngerasain sistem di kepala gw mulai bergetar gembira, ikut ngerasain adrenalin gw yang lagi memuncak. Malam ini, kita bakal habisin semua daging dan inti energi monster yang ada di tempat busuk ini sampai level kita naik pesat. Gw bakal bikin tim Abyssal Chord jadi jauh lebih kuat dari apa yang bisa dibayangin sama keparat-keparat di atas sana.
Biar besok pagi, pas rombongan babi korup berbaju zirah suci itu datang dengan senyum palsunya, mereka gak bakal nemuin panggung pahlawan... melainkan kuburan massal yang udah gw siapin khusus buat menyambut zirah-zirah mengkilap mereka.