Neysa seorang gadis cantik, terperangkap menjadi pelayan karena suatu alasan. Siapa sangka Anak Majikannya, Darren akan jatuh hati padanya. Seribu cara ia lakukan, agar Neysa jatuh ke tangannya. Namun siapa yang tahu, Neysa yang biasa saja, wanita yang selalu terpojok oleh keadaan itu menyimpan sesuatu hal yang besar. Ternyata ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
...[Antara Tuan dan Pelayan]...
...----...
Pintu rumah keluarga Barnes terbuka perlahan, memperlihatkan Darren yang baru saja memasuki rumah dengan pakaian kusut dan wajah yang tampak lelah. Neysa yang sedang duduk di ruang tamu langsung bangkit dan menghampirinya, bergegas membantu membawa tas Darren.
“Kenapa kamu pulang terlambat?” tanya Neysa, nada suaranya campur aduk antara cemas dan penasaran.
Darren yang merasa perhatian Neysa sedikit berbeda dari biasanya, tersenyum nakal. “Kamu khawatir padaku, ya?” godanya, matanya berbinar penuh tantangan.
Neysa menggelengkan kepala dan menjawab datar, “Itu pertanyaan wajar, kan? Pelayan seperti ku seharusnya tahu kapan majikannya pulang.”
Darren tertawa kecil, seolah menikmati percakapan mereka. Lalu, dengan gerakan cepat, ia menarik pinggang Neysa mendekat. “Kalau berciuman, itu masih wajar, kan?” bisiknya, lalu tanpa peringatan, ia mencium bibir Neysa dengan penuh gairah.
Neysa terkejut, namun tak sempat mengelak. Tanpa memberi kesempatan untuk protes, Darren mengangkat tubuhnya dengan lembut, memangkunya dan membawanya ke kamar. Ia dengan lembut membaringkan Neysa di kasur, matanya penuh hasrat.
Namun, sebelum Darren sempat bertindak lebih jauh. Neysa, wanita itu menahannya, wajahnya mulai merah, dan suaranya terdengar sedikit marah.
“Darren! Bukankah ini terlalu blak-blakan! Kalau Jessica tahu, ini akan jadi masalah besar untuk keluarga Barnes.”
Darren hanya tersenyum, tak terburu-buru. Ia membaringkan dirinya di samping Neysa, lalu menatapnya dengan tatapan penuh arti.
“Aku dapat tawaran, Neysa. Tanpa syarat apa pun. Aku bisa putuskan hubungan pernikahan ini jika aku mau bergabung dengan mereka. Semua ini bisa berubah jika aku mau,” ujar Darren pelan, namun matanya menyiratkan tekad yang kuat.
Neysa terdiam, bingung, seolah tak tahu harus merespons apa. “Tawaran apa? Dengan siapa kamu akan bekerja sama?” tanyanya, berusaha mengalihkan perhatian.
Namun, Darren tak langsung menjawab. Ia hanya menatap Neysa dengan tatapan yang penuh makna, tubuhnya kini tumpang tindih dengan sebelah tangan di kasur, dekat dengan wajah Neysa.
“Apakah kau mau jadi istri satu-satunya?” tanyanya, nada suaranya serius, namun ada sedikit nada penuh harapan.
Neysa terdiam, mulutnya terasa kering. Ia merasa bingung, hatinya bergejolak. Minggu depan, ia harus kembali ke keluarga Lawrence. Ia tahu, hubungan mereka bisa berubah menjadi semakin asing jika ia kembali ke rumahnya . Tapi, apakah ini yang benar-benar ia inginkan? Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya.
Melihat ketidakpastian di wajah Neysa, Darren mendekat lebih dekat dan berbicara lebih tegas. “Kau ingin mendukungku, kan? Kalau begitu, aku akan menjadikanmu satu-satunya. Walaupun jika kau tidak setuju, aku akan memaksa agar kau tetap di sisiku.”
Neysa tersenyum tipis, menahan rasa perasaan campur aduk yang menghantuinya. “Aku senang kau mendapat tawaran yang baik. Tapi...” kata Neysa perlahan, “Aku berasal dari keluarga Kanneth. Orang tuaku mungkin tidak setuju kalau mereka tahu aku sudah menikah.”
Darren tertawa kecil, lalu menatapnya dengan penuh keyakinan. “Keluarga Barnes akan melampaui keluarga Kanneth dan Cadmael, jika aku setuju. Aku tak perlu lagi dikekang. Kita bisa bebas bersama.”
Darren mendekat, ingin mencium Neysa lagi, namun kali ini Neysa mendorongnya dengan lembut, mengingatkan dengan suara sedikit tegas. “Kamu harus mandi dulu. Aku tidak bisa seperti ini terus,” katanya dengan wajah yang masih sedikit merah.
Darren tampak enggan, namun akhirnya mengalah juga. “Baiklah, tapi Minggu depan, aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Persiapkan dirimu,” ujarnya, dan meninggalkan kamar dengan langkah berat, meski di wajahnya terlukis sebuah senyum misterius.
***
Ruang makan keluarga Barnes terasa hening, kecuali suara sendok dan garpu yang sesekali terdengar menyentuh piring. Setiap orang terlihat tenang, tetapi Jessica tidak bisa menahan diri untuk memecah keheningan. Matanya melirik ke Darren yang tampak dingin dan Nyonya Barnes yang menyantap makanannya dengan penuh ketenangan.
“Darren,” ujar Jessica akhirnya, suara tegasnya memecah keheningan. “Kapan pernikahan kita akan dilaksanakan? Sepertinya sudah waktunya, bukan?”
Dia menyandarkan punggung di kursinya, menatap Darren dengan ekspresi yang penuh harapan, meskipun ada kesan kesal yang tersembunyi di baliknya.
Nyonya Barnes terkejut mendengar pertanyaan itu, meskipun dia berusaha untuk tetap tenang. "Menurutku ... pernikahan harus diatur dengan hati-hati, Jessica," jawabnya, berusaha mengalihkan topik agar tidak semakin memanas.
Jessica tersenyum tipis, tetapi senyum itu lebih terkesan sebagai sindiran. “Tentu, Nyonya Barnes. Aku paham. Tapi, kelihatannya kalian sedang mengulur waktu. Semakin lama, aku merasa semakin aneh melihatnya.”
Matanya beralih ke arah Neysa, yang duduk diam di pojok meja makan, terlihat seperti tidak bersalah.
Jessica, dengan nada mengejek, melanjutkan, “Saya melihat semalam ada pelayan yang sangat tidak tahu diri. Berani menggoda majikannya di depan pintu rumah. Tentu, aku berharap hal seperti itu tidak terjadi lagi, bukan?”
Nyonya Barnes menatap Neysa yang tampak sedikit gelisah. “Siapa yang kamu maksud, Jessica?” tanyanya dengan hati-hati.
Jessica menatapnya dengan tatapan tajam. “Jika aku dianggap menantu di sini, biar aku yang urus pelayannya. Jangan sampai ada masalah lagi.” Lalu, dia melirik Nyonya Barnes, seolah menantang.
Darren yang sebelumnya diam, mendengus kasar, meletakkan sendok dan piringnya dengan sedikit kekuatan, lalu menoleh ke Jessica dengan ekspresi tajam.
“Neysa!” panggil Darren, suaranya terputus, membuat semua orang terdiam. “Kemarilah.”
Neysa, sedikit terkejut, langsung berdiri dan mendekat dengan canggung. "Ada apa, Tu-an Darren?" tanyanya dengan suara ragu.
Darren mengarahkan pandangannya ke Jessica, suaranya tegas dan jelas. “Semalam yang kamu lihat adalah aku bersama Neysa. Jadi, jika ada masalah, jangan salahkan dia. Semua yang terjadi itu karena aku yang pertama menggodanya. Neysa tidak tahu apa-apa.” Suaranya penuh tantangan, seolah siap untuk menghadapi konsekuensinya.
Neysa merasa kaku di belakang Darren. Tidak tahu harus bagaimana, dia hanya berdiri diam, bingung dengan perubahan sikap Darren yang sangat terbuka dan tiba-tiba membela hubungan mereka.
Rasanya semua jadi terlalu terbuka untuk sebuah keluarga yang seharusnya penuh dengan kerahasiaan.
Jessica tertawa dengan nada sinis, menatap Darren dengan tajam. “Oh, jadi kalian ingin bermain-main dengan keluarga Cadmael, ya? Kalau begitu, aku akan memutuskan hubungan pernikahan kita.” Kata-katanya tajam, penuh ancaman.
Namun, Darren tidak terkejut dengan ancaman itu. "Aku memang ingin memutuskan pernikahan ini," katanya tanpa ragu, menatap Jessica dengan penuh keyakinan. “Keluarga Barnes punya harga diri. Kamu hanya orang luar, Jessica. Jangan coba campuri urusan kita.”
Ketenangan di ruang makan berubah menjadi ketegangan yang tak terbendung. Darren jelas sudah membuat keputusannya, dan tak ada yang bisa menghentikannya.
Jessica tampak terkejut mendengar kata-kata Darren, matanya membulat seketika, lalu berubah menjadi sebaris tatapan kesal yang membara. Tubuhnya kaku, tetapi dengan usaha keras, ia mengatur napas dan berdiri dengan cepat.
“Jadi begini caramu, Darren?” katanya dengan suara yang hampir terdengar dingin. “Kamu memilih untuk membela pelayan bodoh itu daripada melanjutkan pernikahan kita? Baiklah, jika itu yang kamu inginkan.”
Jessica menyeringai sinis, seolah tak lagi peduli dengan apapun yang terjadi di meja makan. Tanpa menunggu respons lebih lanjut, ia menarik tas tangannya dengan kasar dan melangkah keluar dari ruang makan, langkah kakinya terdengar berat, mencerminkan rasa kesalnya yang mendalam.
“Selamat menikmati kebahagiaanmu, Darren. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi.” Suaranya terdengar menyakitkan, dan sebelum siapa pun sempat merespons, pintu ruang makan tertutup keras, menandakan kepergiannya.
Di meja makan, suasana hening sejenak. Nyonya Barnes hanya menghembuskan napas panjang, matanya tertutup sejenak, tampak lelah dan pasrah. Ia menatap piring makanannya, seolah mencari keberanian untuk melanjutkan percakapan.
“Apa yang baru saja terjadi, Darren?” tanya Nyonya Barnes pelan, suaranya penuh keletihan. “Kamu benar-benar yakin dengan keputusanmu ini? Kamu benar-benar tidak memikirkan keluarga kita."
Darren tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ke arah pintu yang baru saja ditutup Jessica, ekspresinya tetap datar, namun ada sesuatu yang terlihat lebih tajam di matanya.
Setelah beberapa saat, ia akhirnya berkata dengan nada yang lebih rendah, “Aku sudah lama merasa tidak ada yang benar di sini. Pernikahan ini hanyalah sebuah formalitas. Tidak lebih.”
Nyonya Barnes mengangkat wajahnya dan menatap putranya dengan ekspresi yang penuh keraguan. “Dan Neysa? Apa kamu pikir semuanya akan berjalan lancar hanya karena kamu memilih untuk memutuskan pernikahan itu begitu saja? Lebih memilih .... Neysa. Seorang pelayan?" sambung Nyonya Barnes.
"Dia bukan pelayan, Bu. Dia putri tunggal keluarga Kanneth!" Akhirnya Darren menjawab jujur. Seketika membuat kaki Neysa lemas.
B e r s a m b u n g .....
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan jejak, biar Mimin semangat (^^)