Rumah tangga Puann hancur seketika saat wanita dari masa lalu suaminya datang membawa kabar kehamilan, ditambah lagi fitnah bertubi-tubi yang membuatnya dikucilkan bahkan oleh keluarganya sendiri.
Di saat kepercayaannya sudah habis dan ia mulai bersandar pada laki-laki lain yang jauh lebih tulus, Bahlil, suaminya berjuang membuktikan bahwa semua itu hanyalah jebakan. Namun, kebenaran tentang masa lalu dan trauma besar yang disembunyikan Bahlil justru membuka luka yang jauh lebih dalam.
Di ambang perceraian dan di tengah pengakuan yang hampir menyatukan mereka kembali, sebuah skandal video pun muncul dan mematikan segala harapan.
Apakah cinta yang penuh kebohongan dan rasa sakit ini layak diperjuangkan, atau lebih baik diakhiri selamanya sebelum hati mereka benar-benar hancur lebur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Tangga Kami Diadu Domba
Arifatul mengangkat tangannya perlahan seperti ingin menyentuh dada Bahlil, namun ia menahan gerakan itu dan hanya tersenyum.
“Denger baik-baik ya. Hubungan kita belum selesai. Aku belum selesai sama kamu. Aku nggak bakal biarin kamu tenang sama perempuan lain selagi janji kita masih ada,” bisik Arifatul dengan suara berat dan penuh penekanan.
Kalimat itu membuat seluruh tubuh Puann bergetar hebat. Wanita itu datang bukan sekadar untuk menyapa, melainkan untuk merebut kembali apa yang dianggapnya miliknya. Dukungan dari keluarganya sendiri membuat posisi Puann makin terjepit dan rapuh.
Bahlil tampak ingin membantah, namun Arifatul sudah berbalik masuk kembali ke dalam mobil mewahnya. Ia pergi melaju dengan senyum kemenangan, meninggalkan Puann yang berdiri kaku, penuh keraguan, dan diliputi ketakutan yang kembali muncul.
Sejak kepergian Arifatul, suasana hidup Puann terasa berat dan penuh kecurigaan. Ucapan Arifatul yang menyatakan urusan belum selesai serta komentar pedas keluarganya terus terngiang di kepalanya tanpa henti.
Berbagai kabar buruk mulai tersebar dari mana saja. Orang-orang di sekitar Puann berbisik-bisik, menyebarkan anggapan bahwa Puann hanyalah perempuan biasa yang beruntung mendapatkan suami kaya, dan dianggap tidak pantas.
“Katanya sih, Puann nikah sama Mas Bahlil cuma mau ngincer harta ya? Jelas banget bedanya sama mantan tunangannya yang selevel dan sederajat,” bisik tetangga dengan suara sengaja dikeraskan agar terdengar.
“Iya bener. Dulu mereka pasangan paling dikagumi. Tiba-tiba putus terus nikah sama Enceng gondok kayak dia, banyak yang bilang Puann penyebabnya, perempuan matre yang rebut laki-laki orang,” sahut yang lain.
Hati Puann terasa sangat perih setiap kali mendengar pembicaraan demikian. Ia tidak pernah mengincar harta Bahlil, bahkan baru mengetahui kekayaan suaminya setelah menikah. Namun, pembicaraan itu makin lama makin keras dan perlahan merusak citranya di mata banyak orang, termasuk anggota keluarganya sendiri.
Sikap keluarga Puann makin terasa dingin dan sinis. Mereka menganggap penilaian awal mereka terbukti benar.
“Udah aku bilang kan? Hidup beda kelas itu nggak bakal bahagia. Denger sendiri kan omongan orang? Bilang kamu matre, cuma mau hartanya. Coba kayak Arifatul, pintar, kaya, berkelas, pasti nggak ada yang ngomong gitu,” ucap ibunya dengan nada kecewa seolah membenarkan fitnah tersebut.
“Bu, aku nggak gitu lho! Aku nikah pas dia ngaku nggak punya apa-apa. Mana aku tahu dia kaya? Kenapa Ibu malah percaya orang asing dibanding anak sendiri, sih?” bantah Puann dengan suara parau.
“Ya terserah kamu lah mau ngomong apa. Tapi kenyataannya orang percaya begitu, dan Arifatul udah balik lagi. Siap-siap aja, rumah tanggamu kayaknya nggak bakal awet,” jawab ibunya ketus lalu pergi meninggalkannya.
Di sisi lain, Bahlil mulai terlihat sangat sibuk. Ia jarang berada di rumah, sering pulang larut malam, dan teleponnya selalu sibuk atau tidak dapat dihubungi. Bahlil beralasan ada masalah besar di perusahaan yang harus diselesaikannya sendiri, namun bagi Puann keadaan itu sangat mencurigakan.
“Kamu ke mana aja dari siang? Aku telepon berkali-kali nggak diangkat, pesan pun nggak dibalas! Kamu tahu nggak, aku diomongin jelek banget di luar sana?!” seru Puann saat Bahlil pulang tengah malam dengan wajah penuh amarah dan air mata.
“Maaf ya, Puann. Aku beneran sibuk. Masalah bisnis lagi runyam banget, harus urus sendiri semua. Nggak sempat pegang HP,” jawab Bahlil dengan wajah kusut, mata merah, dan tampak sangat lelah.
“Masalah bisnis apa? Jangan-jangan masalah sama Arifatul? Jangan bilang dia yang bikin kamu sibuk dan lupa sama aku!” tuduh Puann, pikirannya sudah dikuasai rasa curiga dan ketakutan.
“Kamu kok mikirnya ke situ terus sih? Arifatul itu udah masa lalu, urusan kita udah beres. Masalahku sekarang murni kerjaan, tolong percaya sama aku ya,” pinta Bahlil berusaha berbicara lembut, namun terdengar lelah dan agak tidak sabar.
Puann merasa makin tidak dipedulikan. Keadaan terasa kembali seperti dulu, saat ia harus berjuang sendiri menjaga perasaan dan nama baik sementara suaminya sibuk dengan dunianya. Ia mulai berpikir mungkin benar kata orang, Bahlil mulai ragu kembali karena kehadiran Arifatul.
Keadaan makin buruk saat Puann mendengar kabar bahwa Arifatul sering datang ke kantor pusat perusahaan Bahlil. Konon Arifatul memiliki saham dan hak suara di tempat itu, sehingga kehadirannya sangat berpengaruh dan sering berhubungan langsung dengan Bahlil.
Puann berusaha menahan diri, namun rasa cemas dan takut kehilangan makin membesar di hatinya. Ia merasa terancam oleh sosok wanita yang jauh lebih hebat, lebih pantas, dan memiliki sejarah panjang bersama suaminya.
Suatu sore, Puann memutuskan pergi ke kantor pusat untuk menjemput Bahlil. Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ketakutannya hanyalah rasa berlebihan. Ia berjalan masuk melewati bagian resepsionis, lalu menuju ruangan kerja Bahlil di lantai atas.
Pintu ruangan itu sedikit terbuka. Dari celah itu, Puann dapat melihat keadaan di dalam dengan jelas. Jantungnya berhenti berdetak seketika.
Di sana tampak Bahlil sedang duduk di meja kerjanya. Tepat di hadapannya, duduk Arifatul. Meja kerja itu penuh berkas, namun keduanya tidak sedang membaca dokumen tersebut.
Mereka duduk berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Di atas meja terdapat piring makan dan dua gelas minuman. Mereka sedang makan malam berdua. Arifatul tersenyum manis sambil berbicara, sedangkan Bahlil mendengarkan dengan saksama, wajahnya tampak tenang dan sama sekali tidak terganggu. Pemandangan itu terlihat begitu akrab, serasi, dan intim, seolah dunia milik mereka berdua dan Puann tidak ada artinya.
Tangan Puann gemetar hebat. Matanya memanas dan pandangannya kabur oleh air mata. Jadi benar semua dugaan yang beredar. Kesibukan, ketidaksediaan, dan alasan pekerjaan itu semuanya hanyalah dalih belaka. Kenyataan pahit ada di depan matanya sendiri, suaminya sedang menghabiskan waktu bersenang senang berdua dengan mantan tunangannya, wanita yang sebelumnya mengaku belum selesai urusan dengannya.
Puann tidak sanggup melihatnya lebih lama lagi. Ia berbalik badan dan berlari menjauh dengan hati yang hancur berkeping-keping. Keyakinannya yang baru saja tumbuh kini lenyap seketika, digantikan rasa sakit yang jauh lebih dalam dari sebelumnya.