Terlahir dengan kutukan yang memakan usia, Boqin Tianzun terpaksa menempuh jalan berdarah demi melawan waktu yang kian menipis. Di tengah pengkhianatan keluarga dan dunia yang memuja kekuatan, ia merajut rencana keji untuk merangkak ke puncak tertinggi.
Bagi sang iblis berbakat, nyawa hanyalah pion catur dan cinta hanyalah teknik manipulasi, kecuali untuk satu jiwa yang tersisa. Di ambang batas kematian, ia bersumpah akan menaklukkan takdir dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Sang Pemain Catur yang Sebenarnya
Suasana di Paviliun Pelayan masih mencekam, aroma darah mengudara dengan pekat. Boqin Ming menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kemarahan yang tertahan dan rasa lapar akan kekuasaan. Sebagai pemimpin sekte, ia selalu memandang orang lain sebagai alat. Dan hari ini, ia melihat sebuah alat yang tiba-tiba berubah menjadi sangat tajam.
Boqin Tianzun menyarungkan pedangnya dengan gerakan elegan, tidak terpengaruh sedikit pun oleh tatapan mematikan ayahnya.
"Kau berani menawarkan kesepakatan kepadaku, anak kecil?" Boqin Ming mendekat, suaranya berat dan menekan. "Kau pikir bakat saja cukup untuk membuatku melupakan pembangkanganmu?"
"Bakat memang tidak cukup, Ayah. Tapi bakat digabung dengan hasil nyata adalah sesuatu yang tidak bisa kau tolak." sahut Boqin Tianzun dengan nada suara yang tenang, hampir menyerupai bisikan iblis yang menggoda.
Boqin Ming menyipitkan mata. Di dalam pikirannya, ia mulai menyusun strategi. Jika bocah ini benar-benar bisa tumbuh secepat itu, aku bisa menggunakannya untuk menekan pengaruh para tetua dan menghancurkan sekte-sekte rival. Dia akan menjadi pion terbaikku, lalu setelah dia memenangkan semua kejayaan untukku, aku bisa melenyapkannya sebelum usianya mencapai dua puluh enam tahun.
Boqin Tianzun, yang memiliki kemampuan membaca emosi dari gerak tubuh setelah bertahun-tahun diasingkan, tersenyum tipis di dalam hati. Ia tahu persis apa yang dipikirkan pria haus kuasa di depannya ini.
"Ayah, aku tahu kau tidak percaya pada sampah yang tiba-tiba mengaku menjadi emas," lanjut Boqin "Maka dari itu, mari bertaruh. Beri aku waktu hanya satu bulan."
"Satu bulan? Untuk apa?"
"Dalam satu bulan, aku akan masuk ke dalam jajaran seratus teratas Murid Dalam di Sekte Giok ini." ucap Boqin Tianzun dengan sorot mata yang berkilat penuh keyakinan.
Boqin Ming tertegun sejenak, lalu tawa menggelegar keluar dari mulutnya. "Hahahaha! Seratus teratas?! Kau tahu siapa mereka? Mereka adalah jenius yang sudah berkultivasi belasan tahun di bawah bimbingan guru-guru terbaik! Sedangkan kau baru saja menembus Inti Qi!"
"Jika aku gagal, kau boleh memenggal kepalaku sendiri dan menjadikannya peringatan bagi siapa pun yang membangkang," sahut Boqin tanpa ragu "Tapi jika aku berhasil, kau harus memberiku akses penuh ke Paviliun Obat dan membiarkanku berlatih tanpa gangguan dari siapa pun, termasuk dari dua putra kesayanganmu itu."
Boqin Ming berhenti tertawa. Keheningan yang berat menyelimuti mereka. Di mata Boqin Ming, putranya ini tampak seperti pion yang sangat berambisi dan bisa dikendalikan dengan imbalan kekuasaan.
"Baik," ucap Boqin Ming akhirnya, seringai serakah muncul di wajahnya. "Satu bulan. Aku akan memberimu sumber daya dasar sebagai Murid Dalam. Tapi ingat, Boqin Tianzun... jangan coba-coba mempermainkanku. Di mataku, kau tetaplah alat yang bisa kupatahkan kapan saja."
Boqin Tianzun menunduk hormat, sebuah gerakan yang tampak seperti pengabdian, namun sebenarnya adalah cara untuk menyembunyikan tatapan matanya yang penuh penghinaan.
"Tentu, Ayah. Aku adalah alatmu." ucapnya pelan.
Setelah Boqin Ming pergi dengan perasaan puas karena merasa telah mendapatkan "pion" baru yang menjanjikan, Boqin Tianzun berdiri tegak kembali. Ia menoleh ke arah barisan pelayan yang masih ketakutan.
"Berikan Sua Mei tempat tidur terbaik di paviliun ini. Gunakan jatah sumber dayaku untuknya." perintahnya singkat sebelum berjalan pergi.
Sambil melangkah menuju asrama Murid Dalam, Boqin Tianzun mengusap gagang pedangnya. Di matanya, Boqin Ming bukanlah seorang ayah, apalagi seorang tuan.
"Kau mengira aku adalah pionmu, Ayah?" gumamnya lirih, nyaris tak terdengar. "Kau pikir kau sedang memegang kendali papan catur ini? Kau tidak sadar bahwa sejak aku menginjakkan kaki di lapangan luar kemarin, kau sudah masuk ke dalam perangkapku."
Ia tahu bahwa dengan memberikan harapan besar kepada ayahnya, Boqin Ming akan melindunginya dari gangguan-gangguan kecil dan memberinya akses yang ia butuhkan. Boqin Ming merasa sedang membesarkan seekor harimau untuk menjaganya, tanpa menyadari bahwa harimau itu sedang menunggu saat yang tepat untuk mencabik tenggorokannya.
"Satu bulan untuk seratus teratas... itu terlalu lama. Tapi biarlah, aku butuh waktu untuk memastikan pondasi kultivasiku cukup kuat untuk menelan seluruh sekte ini." Boqin Tianzun menatap langit yang mulai jingga.
Permainan sesungguhnya baru saja dimulai, dan sang "pemain catur" yang asli baru saja memindahkan pion pertamanya.