Adik kandungnya, Chantika tiba-tiba saja berubah sifat. Merebut pria yang dicintainya, memonopoli cinta kedua orang tua mereka, setiap usaha yang dipegang adiknya selalu berhasil.
Hingga, pada suatu saat Chantika entah kenapa berusaha membunuh Violetta.
Dalam kematian yang hampir menjemputnya, banyak tanda tanya dalam diri Violetta.
Bagaimana pun dia berusaha tidak akan dapat menyaingi Chantika? Mengapa kekasihnya lebih mencintai Chantika? Mengapa dunia ini begitu tidak adil?
Namun.
Tiba-tiba saja layar berisikan tulisan terlihat di hadapannya. Dilengkapi seorang pemuda dengan pakaian aneh.
"Protagonis telah ditemukan dalam keadaan hidup, siap melayani."
"Ka...kamu siapa?"
"Mulai hari ini anda adalah host yang saya layani. Saya adalah sistem perbaikan dimensi."
Dunia yang ditempati Violetta adalah dunia novel. Dengan Violetta yang merupakan protagonis. Sedangkan Chantika memasuki dunia novel dan merubah cerita seenaknya.
Pertarungan antara penjelajah dan protagonis dimulai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Mertua?
"Aku tidak bermaksud menghalangimu. Aku hanya ingin memperingatkanmu tentang Violetta. Dia tidak sebaik yang kamu duga." Ucapnya berusaha meyakinkan sang pemuda. Bagaimana pun caranya semua milik protagonis wanita harus menjadi miliknya.
"Nona Chantika menghalangi jalan saya. Manusia yang beradab seharusnya memiliki etika." Pemuda yang masih setia tersenyum, merapikan sedikit sarung tangannya. Sedikit kebiasaan jika tengah emosional, mengingat lima menit lagi waktu terbaik untuk sarapan. Lebih baik banting wanita ini ke lantai satu saja bukan?
"Kakak dia---" kalimat Chantika terhenti, sayangnya pembela kebenaran dan keadilan tiba-tiba saja muncul. Sebelum Galan berbuat lebih jauh.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu menggoda pacarku?" Tanya Violetta berjalan mendekat, bergelayut manja pada sang pemuda.
Pemuda yang kembali terlihat tenang kemudian berucap."Nona Chantika menghalangi jalan saya, nona..."
Plak!
Benar-benar tidak menyia-nyiakan kesempatan. Violetta mendapatkan alasan untuk menamparnya.
Layar transparan terlihat, menunjukkan notifikasi.
'Selamat, Host melukai penjelajah dimensi, mendapatkan tambahan 3 poin. Total poin host saat ini 24 poin.'
Memiliki tujuan melakukan ini, Chantika sendiri yang mendekat, maka jangan salahkan jika Violetta tidak menyia-nyiakan kesempatan.
"Kakak!" Bentak Chantika memegangi pipinya sendiri. Melirik ke arah sekitar, tidak ada satu orang pun, mengingat hari masih pagi. Dirinya tidak dapat mencari perlindungan.
"Apa!? Kamu boleh mengambil cumi-cumi kering itu. Tapi tidak boleh mengambil pacar baruku." Violetta melangkah penuh senyuman, berjalan melewati Chantika, merangkul sang pemuda yang tengah mendorong troli.
Sejenak Chantika berfikir apa yang salah? Bagaimana caranya merebut pria yang entah apa perannya. Benar-benar seorang pemuda aneh, apa benar hanya pria penghibur? Peran tidak penting yang muncul karena dirinya merubah isi dalam novel.
"Menyebalkan..." Gumamnya kesal. Kemudian melangkah pergi, berpegang pada isi cerita, hanya dengan mendekati protagonis pria maka hidup bahagia akan didapatkan olehnya.
Tapi.
Bukankah Violetta berada di dalam kamar bersama pria penghibur itu? Perlahan wajah Chantika tersenyum. Akan ada cara membuat Violetta malu bukan? Mengambil handphonenya, dirinya mulai menghubungi seseorang.
"Chantika, ada apa?" Tanya seseorang di seberang sana to the point.
"Tante, ini aku... kak Violetta dia..." Chantika terbata-bata, bagaikan menangis terisak. Walaupun air mata buaya itu sejatinya tidak keluar.
"Kenapa dengan Violetta?" Tanya seseorang di seberang sana.
"Kakak membawa seorang gi*golo ke dalam kamarnya. Ayah dan ibu sudah menasehati tapi kakak sama sekali tidak mendengarkan." Jawaban dari Chantika pelan, menyiratkan jika dirinya tidak ingin melapor tapi harus tetap melapor, demi kebenaran dan keadilan.
"Tidak mungkin Violetta begitu. Tante sudah mengenalnya dari kecil." Ucap seorang wanita di seberang sana.
"Jika Tante tidak percaya, Tante bisa datang kesini sekarang juga. Aku hanya tidak tega melihat Sebastian disakiti oleh kakak." Masih nada suara bergetar, entah dimana ada gempa bumi. Yang jelas Cantika berhasil membuat seolah-olah dirinya menangis. Itulah kelebihan ulat sutra yang terlalu halus ini.
"Tante akan ke rumahmu, sekarang juga." Nada suara bagaikan belum percaya, mematikan panggilannya sepihak.
Sedangkan Chantika perlahan tersenyum. Akan mendapatkan drama yang menarik kali ini.
"Kamu! Kemari!" Perintah Cantika pada salah seorang pelayan.
"Ada apa nona?" Tanyanya.
"Aku ingin kamu berjaga di depan kamar kakakku. Pastikan Violetta dan gi*golo itu keluar atau tidak dari kamarnya. Mengerti?" Cantika tersenyum menyodorkan dua lembar uang bergambar tokoh proklamator.
"Mengerti." Pelayan yang tersenyum menganggap ini mungkin hanya sekedar bonus.
Perlahan berpura-pura membersihkan vas bunga di depan kamar Violetta. Mengulur-ulur waktu agar terlihat bekerja, sembari mengawasi pergerakan Violetta.
Chantika menghela napas."Ini akan menyenangkan. Melihat wanita menyebalkan itu dipukuli." Ucapnya tertawa.
Hidup protagonis wanita terlalu sempurna menurutnya. Dulu dirinya adalah pembaca novel, selalu berimajinasi jika memiliki apa yang Violetta miliki. Keluarga yang memuji, kerajaan bisnis, ditambah dengan kepopuleran, serta suami yang bucin setengah mati. Tidak diduga setelah dirinya mati, malah menyebrang ke dunia novel. Merasuk ke dalam tubuh Chantika, adik Violetta yang seharusnya mati karena sakit.
Ini menyenangkan, protagonis wanita yang mengira segalanya hanya dapat dimiliki dengan berusaha. Dan dirinya yang mengetahui alur cerita, akan merebut masa depan bahagia. Violetta yang sungguh malang, tapi sayangnya kebahagiaan hanya milik seorang Chantika.
***
Melanie, itulah namanya ibu kandung dari Sebastian. Benar-benar wanita karier berkelas, begitu menyayangi putra tunggalnya Sebastian.
Melajukan mobilnya membelah jalanan perkotaan. Violetta telah dikenalnya dari kecil, gadis yang benar-benar berbakat. Memiliki pemikiran tajam dalam berbisnis.
Tekun, berprinsip dan ulet berusaha. Tentu saja akan menjadi pasangan yang cocok dengan Sebastian. Karena itu mereka dijodohkan dari kecil.
Mata Melani tidak dapat dibohongi. Chantika dari kecil hampir menghabiskan separuh hidupnya di tempat tidur, akibat penyakit yang dideritanya.
Tapi, tiba-tiba saja dapat mengalahkan kemapuan Violetta yang sudah dari kecil memegang biola? Lelucon macam apa itu?
Tidak percaya sama sekali dengan kemampuan Chantika. Tapi memang tebakan harga saham yang akan naik, bisnis yang dirintis Chantika berhasil, segalanya tidak dapat dipungkiri.
Menghela napas, wanita yang masih bimbang akan segalanya mengigit bagian bawah bibirnya sendiri.
Kala laju mobil terhenti, setelah memasuki gerbang. Dirinya melangkah turun, menggunakan kacamata hitam. Bentuk tubuh ideal, di tengah usianya yang tidak lagi muda.
Melangkah memasuki rumah, saat ini sudah pukul 10 pagi. Matanya menelisik, putranya belum pulang sejak semalam.
Apa sebenarnya yang terjadi? Apa Chantika salah paham mengira Sebastian adalah gi*golo?
Hingga Chantika berlari cepat mendekat ke arahnya sembari menangis."Tante, syukurlah Tante datang. Kakak belum keluar dari kamarnya sejak semalam. Aku merasa iba pada Sebastian."
Melani menoleh menatap ke arah putranya yang baru saja tiba."Sebastian! Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?"
Sebastian menghela napas, ibunya sudah terlibat. Lebih baik menyerahkan semua beban pada Violetta. Lagipula ini semua memang adalah kesalahan Violetta. Dia yang berselingkuh dengan membawa pria penghibur.
"Violetta membawa pria lain menginap di kamarnya. Sampai sekarang dia belum keluar." Sebastian menghela napas kasar, kemudian mendekati ibunya dan Chantika.
"Jangan menangis, ini bukan kesalahanmu. Ini kesalahan Violetta." Ucap Sebastian pelan, merangkul bahu Chantika.
Melanie mengernyitkan keningnya, mengapa dapat seperti ini? Hubungan kedua orang ini terlihat tidak wajar, terlalu melewati batas.
"Ibu ingin bertemu dengan Violetta secara langsung." Pada akhirnya Melanie melangkah ke lantai dua, bagaimana pun juga wanita tidak setia harus mendapatkan ganjaran.
Sebastian mengikuti langkahnya, masih merangkul Chantika yang tengah menangis.
Wanita yang hendak memegang hendel pintu. Tapi suara tangisan terdengar dari dalam sana. Suara yang dikenali olehnya. Suara Violetta, membulatkan matanya, tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Mata Chantika tertuju pada pelayan yang dibayarnya untuk berjaga.
Pelayan yang tersenyum pada Chantika."Violetta dan pacarnya tidak keluar..." Ucapnya dengan gerakan mulut tanpa mengeluarkan suara.
Wajah Chantika tersenyum, menyadari nasib Violetta akan benar-benar tamat.
Pintu didorong perlahan.
melewati lembah?
atau melewati bukit?
bongkar rahasia kalau sebenarnya Violetta pewaris sah harta itu
biar prana dan Diana jadi gembel juga gpp
ketawa jahat boleh ga sih