Cinta romantis, dua kata yang tidak semua orang mendapatkannya dengan mudah.
Hari itu Alena Mahira menolak Alex dan menegaskan akan tetap memilih suaminya, Mahendra. Tak ingin terus meratapi kesedihan, hari itu Alex Melangkah pergi meninggalkan kota yang punya sejuta kenangan, berharap takdir baik menjumpai.
8 tahun berlalu...
"Mama, tadi pagi Ziya jatuh, terus ada Om ganteng yang bantu Ziya. Dia bilang, wajah Ziya nggak asing." ujar Ziya, anak semata wayang Alena dengan Ahen.
"Apa Ziya sempat kenalan?" tanya Alena yang ikut penasaran, Ziya menggeleng pelan sembari menunjukkan mata indahnya.
"Tapi dia bilang, Mama Ziya pasti cantik."
*******
Dibawah rintik air hujan, sepasang mata tak sengaja bertemu, tak ada tegur sapa melalui suara, hanya tatapan mata yang saling menyapa.
Dukung aku supaya lebih semangat update!! Happy Reading🥰🌹
No Boom like🩴
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KTML012~ Ide Permintaan Maaf
"Ziya bukannya nggak cukup sama Mama, tapi Ziya nggak pernah digandeng Papa." ungkap Ziya, sebuah rasa yang lama ia pendam selama ini, melihat teman sebayanya memiliki sosok ayah, namun tidak dengan dirinya.
Setelah ia memahami mengapa ia tidak memiliki sosok Ayah disampingnya, ia sempat stress, namun perlahan ia mulai menerima sebab melihat Alena yang sudah berusaha banyak untuknya selama ini.
Namun rasa gusar bercampur sedih dalam hatinya makin hari makin tidak terbendung, bohong jika ia mengatakan tidak menginginkan genggaman hangat tangan seorang Ayah. Setelah mengalami penghinaan kala itu, rasa ingin memiliki seorang Ayah tiba-tiba kembali membara dalam hatinya.
Ziya memejamkan mata seolah ia sudah terlelap, ia dapat merasakan pergerakan pada tempat tidurnya yang menjadi tanda Ibunya meninggalkan tempat tidurnya, Ziya membuka matanya perlahan dan benar saja Alena sudah keluar dari kamarnya.
"Maafin Ziya, Ma." gumam Ziya, dengan sangat hati-hati ia membuka pintu dan keluar dari kamarnya.
Ziya berjalan dengar kaki berjinjit agar tidak menimbulkan suara langkah kaki, ia berjalan menaiki anak tangga menuju rooftop.
Rooftop di rumah ini baru dibangun sejak Ziya lahir, saat mendiang Ibu Alena masih hidup, atap rumahnya masih tidak dibangun Rooftop, Alena memiliki tujuan khusus untuk hal ini yang berkaitan dengan hasil kebunnya yang dalam prosesnya memerlukan sinar matahari dan aman dari gangguan ayam tetangga.
Tebakan Ziya benar, pintu menuju Rooftop setengah terbuka.
"Mama ada disana," gumamnya pelan.
Alena mengintip dibalik pintu, terlihat Alena duduk seorang diri dengan posisi membelakangi Ziya. Rasa bersalah langsung menyerang hati Ziya, ia menebak Ibunya sedih gara-gara dirinya lagi.
Sungguh Ziya menyesal atas apa yang ia ucapkan tadi, tidak seharusnya ia berbicara sembarangan terkait keinginannya yang ingin memiliki seorang Ayah.
Ziya menahan air matanya, ia langsung berbalik dan meninggalkan tempat itu karena tidak ingin diketahui Ibunya.
Keesokan paginya, saat Alena bangun dan akan menyiapkan sarapan, dirinya dibuat terkejut saat melihat Ziya sedang mengaduk segelas susu di dapur.
"Ziya? Udah bangun?" tanya Alena sembari berjalan mendekat.
"Iya, Ma." jawab Ziya, tidak berselang lama susu telah jadi, Ziya menyodorkannya pada Alena.
"Buat Mama?" tanya Alena, senyum haru tidak dapat ia sembunyikan saat Ziya mengangguk atas pertanyaannya.
"Ziya cuma bisa bikinin Mama ini, nanti kalau Ziya udah bisa masak pasti bakal masakin Mama."
"Makasih ya anak cantiknya Mama." ucap Alena sembari mengelus lembut kepala Ziya.
"Mama, Ziya minta maaf." ucap Ziya sembari memeluk kaki Alena.
"Eh ada apa nih? Ziya habis numpahin susu ya?" tebak Alena.
Ziya menggeleng, ia mendongakkan kepalanya dan menatap manik mata Alena.
"Maafin Ziya udah ngomong sembarangan semalem. Ziya nggak akan minta Papa baru lagi,"
Alena meneguk susu hangat itu kemudian meletakkan gelasnya di meja.
"Mama yang harusnya minta maaf sama Ziya. Maaf ya, Ziya jadi nggak sama kayak temen lainnya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sekolah...
Dari pagi sampai jam istirahat tiba, Ziya terlihat tidak terlalu bersemangat seperti biasanya, ia lebih banyak diam di bangkunya, biasanya pagi-pagi mulutnya sudah aktif mengoceh menyapa semua temannya, namun tidak dengan hari ini.
Ziya sedang menyendiri dibawah pohon yang rindang, hari ini ia sama sekali tidak bersemangat saat diajak main oleh Laili, Arum dan Anin. Pergi ke kantin pun malas, hanya ingin diam sendirian.
Sebuah tangan menyodorkan susu dalam kemasan kotak, Ziya menoleh dan mendapati Axan yang memberinya.
"Ziya lagi nggak pengen," tolak Ziya.
Axan duduk disebelah Ziya, ia meletakkan susu itu di samping dirinya dan Ziya sebagai penengah.
"Apa Ibumu lupa memberimu uang saku lagi? Tidak usah sungkan, aku traktir susu ini buatmu."
Ziya menghela napas berat dan merogoh sakunya, ia menarik uang dalam sakunya dan memperlihatkan pada Axan selembar uang berwarna biru.
"Oh, Ku kira kamu tidak jajan karena tidak ada uang. Tenang saja, susu ini tidak perlu diganti uang." ucap Axan, ia membuka sebungkus roti dan membelahnya jadi dua bagian, satu bagian sudah menempel di mulutnya dan satu bagian lagi ia berikan pada Ziya.
"Tidak baik menolak rezeki," kata Axan lagi, Ziya pun akhirnya menerima pemberian Axan.
"Makasih," ucap Ziya yang langsung menggigit roti lembut itu.
"Apa Ibumu memarahimu?"
Ziya menggeleng.
"Lalu kenapa sedih dari tadi pagi?" tanya Axan lagi, Ziya menatap Axan dengan teliti, ternyata ada orang lain yang menyadari kondisinya.
"Ziya udah bikin Mama nangis," jawab Ziya, kini tenggorokannya terasa sakit saat menelan roti itu.
Axan tidak bertanya lagi, ia hanya memandang Ziya sekilas.
"Ziya sedih liat Mama sedih," lanjut Ziya.
Axan kembali menyodorkan susu itu pada Ziya, kali ini Ziya tidak lagi menolak.
"Memangnya kamu apakan Ibumu?"
"Ziya minta Papa baru," jawab Ziya setelah menelan rotinya lagi.
Ziya menceritakan semuanya dengan di iringi air mata, ia lebih suka melihat Ibunya mengomelinya daripada melihat Ibunya bersedih.
Xan menghela napas.
"Sepertinya nanti malam Papa dan Ibumu ada janji bertemu, karena kamu masih belum lega, mari kita lakukan sesuatu sebagai permintaan maaf." usul Axan.
"Eh? Ketemu? Xan tau dari mana?" tanya Ziya.
"Eeee- tidak sengaja lihat HP Papa tadi pagi."
"Aha!!!" muncul sebuah ide di kepala Ziya.
"Ziya ada ide, nanti malam kalau jadi ketemu, Ziya akan kasih sesuatu buat Mama disana."
Axan mengangguk menyetujui ide Ziya.
Ziya kembali memangku wajahnya saat menyadari sesuatu.
"Ada lagi?" tanya Axan.
"Uang Ziya kurang. Cuma punya lima puluh ribu untuk hari ini, takut harganya mahal, kalau minta ke Mama nanti nggak kejutan dong."
Tiba-tiba Axan menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan, ia tidak terlalu suka berbelanja dan lebih suka mengumpulkan uang jajannya.
"Pakai saja uangku," ucap Axan.
"Oke deh, besok Ziya ganti ya."
"Tidak usah,"
"Wah, Om ganteng ngasih Xan uang jajannya banyak ya?"
Axan hanya mengangguk pelan.
"Ya udah, aku ambil ya. Hihi."
"Iya, pakai saja."
Ziya tersenyum senang saat melihat dua lembar uang berwarna biru ditangannya. Suara bel berbunyi dan terdengar diseluruh penjuru sekolah, Ziya dan Axan langsung berdiri dan merapikan pakaiannya.
Kini senyum Ziya sudah kembali merekah, langkahnya tak lagi berat.
"Ayo, Xan. Bu Guru udah mau masuk kelas." ajak Ziya, Axan hanya mengangguk dan mengikuti langkah Ziya dari belakang.
aku baca dulu
lex kak
jadi pinisirin