Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.
Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”
Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
BAB 11: Runtuhnya Istana Kertas dan Keputusan Sang Mentari
Atmosfer di lobi utama gedung apartemen mewah itu terasa begitu mencekam. Ketegangan pekat merayap, seolah membekukan udara sore yang mulai diguyur gerimis. Melalui kaca transparan mobil sport hitam milik Zayn, Elva Ileana bisa melihat dengan jelas bagaimana kedua orang tuanya, Narendra dan Larasati, serta adiknya, Dion, sedang berdiri dengan raut wajah frustrasi yang amat sangat.
Mereka tidak lagi terlihat seperti keluarga konglomerat yang angkuh. Pakaian mereka tampak sedikit kusut, dan binar kesombongan di mata mereka telah padam, berganti dengan keputusasaan yang telanjang.
Zayn Dominic melangkah keluar dari mobil dengan gerakan yang sangat tenang namun mematikan. Kedua tangannya terkubur di dalam saku jaket kulit hitamnya. Aura penguasa muda yang melekat pada tubuh tegapnya langsung membuat Narendra dan Larasati menoleh dengan binar harapan yang palsu.
"Zayn! Akhirnya kamu pulang, Nak," seru Larasati dengan suara yang dibuat selembut mungkin, melangkah maju mendekati Zayn.
"Kami ke sini ingin menjenguk Elva. Om dan Tante sangat mencemaskannya sejak seminggu lalu."
Zayn menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di depan mereka. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah Narendra dan Larasati dengan pandangan yang begitu dingin dan meremehkan.
"Jangan sebut nama Elva dari mulut busuk lo berdua," ucap Zayn, suaranya rendah namun bergetar oleh amarah yang tertahan.
"Gue udah bilang kemarin, lo semua nggak punya hak sedikit pun atas dia." Narendra maju, mencoba memasang wajah memelas di hadapan calon pewaris Dominic Group itu.
"Zayn, Om mohon dengarkan dulu. Ini semua hanya kesalahpahaman keluarga. Elva itu putri Om, kami hanya sedang mendidiknya kemarin. Tolong... tolong sampaikan pada ayahmu untuk menghentikan penarikan investor di proyek Jakarta Barat. Perusahaan Om bisa hancur, Zayn!"
Di dalam mobil, Elva mencengkeram erat sweater krem yang dipakainya. Setiap kalimat yang keluar dari mulut ayahnya terdengar begitu jelas melalui kaca mobil yang sedikit terbuka. Dadanya terasa sangat sesak. Kilatan memori tentang kegelapan gudang bawah tanah, rasa lapar yang mencekat, dan rasa sakit saat tamparan ibunya mendarat di pipinya kembali berputar hebat di kepalanya. Tubuhnya bergetar, dan air mata mulai mengalir membasahi pipinya yang polos.
“Elva, lo aman di sini... Mulai hari ini, jalan dengan kepala tegak. Lo nggak perlu takut lagi sama siapa pun.”
Kata-kata Zayn yang diucapkan di parkiran sekolah tadi pagi mendadak menggema kuat di indra pendengarannya. Elva menatap punggung tegap Zayn yang berdiri kokoh di depan sana, menjadi tameng yang siap melindunginya dari badai apa pun. Zayn selalu pasang badan untuknya, mengorbankan waktu dan menggunakan kekuasaannya demi menjaganya.
Sampai kapan aku harus terus bersembunyi di balik punggung Zayn? tanya Elva pada hatinya sendiri. Sampai kapan aku harus menjadi gadis lemah yang terus-menerus melarikan diri dari ketakutanku?
Sebuah kekuatan baru yang asing mendadak berdesir di dalam aliran darah Elva. Kepolosan dan keluguannya selama ini bukan berarti dia tidak bisa tegas. Rasa sakit yang bertumpuk selama belasan tahun di rumah itu mendadak menjelma menjadi sebuah keberanian yang mutlak. Dia tidak mau lagi menjadi pion catur yang ditindas. Dia tidak mau lagi menjadi beban bagi Zayn. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Elva meraih tuas pintu mobil.
CEKLEK.
Zayn, yang sedang bersiap untuk melayangkan pukulan pada Dion karena remaja itu mencoba mendesaknya, seketika menoleh ke belakang saat mendengar suara pintu mobil terbuka. Mata elang Zayn terbelalak kecil saat melihat Elva melangkah turun dari mobil.
"Elva! Ngapain lo keluar? Masuk!" perintah Zayn panik, nadanya naik satu oktaf karena cemas akan kondisi mental gadisnya.
Namun, Elva tidak mundur. Dia melangkah maju dengan pasti di atas lantai marmer lobi. Rambut hitam panjangnya bergoyang lembut ditiup angin sore, membingkai wajah polosnya yang kini memancarkan ketegasan yang belum pernah dilihat oleh siapa pun sebelumnya. Elva berjalan melewati Zayn, lalu berdiri tegak tepat di hadapan Narendra, Larasati, dan Dion.
"Elva! Sayang, akhirnya kamu keluar!" Larasati langsung mencoba meraih tangan Elva dengan senyum palsunya yang melebar.
"Ayo pulang, Nak. Kamarmu sudah Mama rapikan. Kak Nadine juga sudah menunggumu di rumah. Ayo bilang pada Zayn kalau kamu mau pulang bersama kami."
Elva dengan cepat menarik tangannya mundur, menghindari sentuhan ibunya seolah-olah kulit wanita itu adalah racun yang mematikan. Tatapan mata bulat Elva yang biasanya redup dan penuh ketakutan, kini menatap lurus ke dalam manik mata Larasati.
"Aku tidak akan pernah kembali ke rumah itu, Ma," ucap Elva, suaranya terdengar begitu tenang, jernih, dan bergaung kuat di dalam keheningan lobi apartemen.
Narendra tertegun, lalu wajahnya berubah mengeras. "Elva! Jangan kurang ajar kamu ya! Berani kamu membangkang pada Papa setelah semua fasilitas mewah yang Papa berikan untuk hidupmu selama ini?! Ingat, tanpa uang Papa, kamu bukan siapa-siapa!"
"Uang Papa?" Elva terkekeh getir, sebuah tawa penuh luka yang membuat dada Zayn yang mendengarnya ikut terasa berdenyut sakit.
"Fasilitas mewah apa yang Papa maksud? Kamar paling belakang yang mirip gudang? Atau sisa makanan di dapur yang harus aku makan sendirian setelah Papa, Mama, Kak Nadine, dan Dion selesai menjamu tamu-tamu kaya kalian?"
Narendra bungkam seribu bahasa. Wajahnya pias seketika saat rahasia kelam rumah tangga mereka dibongkar secara terang-terangan di depan umum. Elva mengalihkan pandangannya pada Dion yang berdiri gemetar di belakang ibunya.
"Dan kamu, Dion... kamu adikku, tapi kamu tertawa saat melihat aku diseret ke gudang bawah tanah yang gelap semalam. Bagimu dan Kak Nadine, penderitaanku adalah tontonan yang menghibur, kan?"
"K-Kak... aku nggak bermaksud begitu..." cicit Dion, ketakutan setengah mati saat melihat Zayn di belakang Elva sudah mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih.
Elva kembali menatap kedua orang tua kandungnya. Air matanya kembali mengalir, namun kali ini bukan karena rasa takut, melainkan karena dia sedang membuang seluruh sisa rasa hormat dan kasih sayang yang pernah dia miliki untuk keluarga Ileana.
"Malam itu, saat Mama menampar aku dan Papa mengurung aku di tempat gelap tanpa air dan makanan... di detik itu juga, hubungan darah di antara kita sudah selesai," tegas Elva, suaranya bergetar namun penuh dengan penekanan yang mutlak.
"Kalian datang ke sini hari ini bukan karena mencemaskan kondisiku. Kalian datang karena bisnis Papa di ambang kehancuran, dan kalian ingin memanfaatkan ku lagi untuk mengemis pada Zayn."
Larasati mulai menangis histeris, mencoba berlutut di depan Elva. "Elva, tolong... demi masa depan adikmu Dion, demi keluarga kita... Maafkan Mama, Nak..."
"Cukup, Ma. Jangan berakting lagi, itu membuatku muak," potong Elva dingin. Dia membalikkan badannya, menatap Zayn yang sejak tadi berdiri diam mengawasinya dengan binar bangga yang luar biasa besar di matanya.
Elva meraih tangan kekar Zayn, lalu menggenggamnya erat-erat di depan keluarganya. Dia kemudian menoleh sedikit ke arah Narendra dan Larasati untuk terakhir kalinya.
"Kemewahan rumah Papa tidak ada artinya lagi buatku. Karena di sini, di sebelah Zayn... aku akhirnya tahu bagaimana rasanya dihargai sebagai manusia. Zayn adalah tempatku pulang. Zayn adalah rumahku yang sesungguhnya. Jadi, silakan pergi dari sini, dan jangan pernah temui aku lagi."
Narendra mundur satu langkah, tubuhnya lemas seketika mendengar keputusan mutlak dari putri yang selama ini selalu dia sepelekan. Istana kertas yang dia bangun dengan kesombongan kini telah runtuh sepenuhnya oleh ketegasan Elva.
Zayn menarik tubuh Elva ke dalam rangkulan posesifnya, menatap tajam ke arah Narendra yang sudah tidak punya daya lagi. "Lo berdua udah denger sendiri, kan? Sekarang, angkat kaki dari apartemen gue sebelum pengawal gue melempar lo semua ke jalanan."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Zayn menuntun Elva berjalan masuk ke dalam lobi apartemen, meninggalkan keluarga Ileana yang meratapi kehancuran mereka di bawah guyuran gerimis sore. Di dalam lift yang bergerak naik menuju lantai teratas, Zayn melepaskan rangkulannya, lalu menangkup kedua pipi Elva dengan kedua tangan hangatnya.
"Lo hebat banget hari ini, Elva," bisik Zayn rendah, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Elva dengan kelembutan yang tiada tara. "Gue bangga sama lo."
Elva tersenyum murni, membiarkan tubuhnya bersandar sepenuhnya pada dada bidang Zayn saat pintu lift terbuka. Badai dalam hidupnya telah berlalu, dan kini, dia benar-benar telah melangkah masuk ke dalam rumah yang penuh dengan kehangatan sejati.