NovelToon NovelToon
The Farmer'S Muse

The Farmer'S Muse

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Cintapertama
Popularitas:693
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】

Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpang​Kehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.​Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Tina terduduk lesu di bangku panjang teras depan rumahnya. Tatapannya kosong, memandangi daun-daun kering yang berguguran ditiup angin sore. Waktu serasa merayap begitu lambat, sementara dadanya masih terasa sesak oleh sisa-sisa badai pertengkaran antara Rika dan Fandi yang baru saja mereda di dalam rumah. Ia bertahan dalam posisi itu, membiarkan angin sore yang perlahan mendingin menerpa wajahnya, sampai akhirnya sosok yang ditunggunya muncul dari belokan jalan.

Bu Aminah berjalan perlahan memasuki pekarangan rumah, menjinjing sebuah kantong plastik merah yang tampak berat. Wajah tua itu terlihat lelah, namun seulas senyum tulus langsung terbit begitu melihat anak gadisnya duduk di teras.

"Assalamu’alaikum," sapa Bu Aminah lembut.

"Wa’alaikumussalam, Ma," sahut Tina. Ia segera bangkit, menyambut ibunya, dan mencium punggung tangan wanita yang paling dihormatinya itu.

Bu Aminah menyodorkan kantong plastik di tangannya kepada Tina. "Tina, ini bawa ke dalam. Simpan di *mangkuk*," ujarnya.

Tina menerima bungkusan itu, merasakan kehangatan yang masih menjalar dari dalamnya. "Ini apa, Bu?"

"Itu lauk ayam pemberian Ibu Adam. Berkah dari acara tadi. Lumayan untuk lauk makan malam kita sekeluarga nanti," jawab Bu Aminah sembari menyeka keringat di dahinya dengan ujung selendang.

Tina pun melangkah masuk ke dalam rumah menuju dapur. Saat berjalan melewati lorong tengah, langkah kaki Tina sempat melambat. Ia berbalik sekilas, menatap pintu kamar Rika dan pintu kamar Fandi yang sama-sama tertutup rapat. Keheningan yang ada di balik pintu-pintu papan itu terasa semu dan menegangkan, seolah menyimpan bom waktu yang siap meledak kapan saja. Bu Aminah berjalan mengekor di belakangnya, ikut merasakan atmosfer berat yang menggelayuti rumah mereka.

Sesampainya di dapur, Tina memindahkan potongan ayam bumbu pekat itu ke dalam sebuah mangkuk keramik besar. Sembari menata makanan, ia memberanikan diri untuk bersuara.

"Ma... Tina minta maaf ya, tadi Tina tidak sempat menyusul Mama ke rumah Ibu Adam," ucap Tina dengan nada penuh penyesalan. Kepalanya tertunduk, merasa bersalah karena membiarkan ibunya berada di tempat hajatan sendirian tanpa bantuannya.

Bu Aminah tersenyum tipis, lalu mengusap kepala Tina dengan penuh kasih sayang. "Tidak apa-apa, Nak. Kan itu bukan kewajibanmu. Lagipula, para ibu-ibu di sana juga tahu kalau kamu pasti capek setelah seharian mengajar anak-anak di sekolah PAUD. Jangan terlalu dipikirkan."

Mendengar respons bijaksana ibunya, Tina hanya bisa mengangguk pelan. Ia memilih untuk menyimpan rapat-rapat kejadian memilukan antara Rika dan Fandi tadi siang. Biarlah ibunya beristirahat sejenak dari beban pikiran yang tiada habisnya.

Malam pun tiba, menyelimuti Desa Sukamaju dengan kegelapan dan suara jangkrik yang bersahut-sahutan. Anggota keluarga berkumpul di ruang tengah untuk makan malam bersama. Hidangan ayam pemberian Ibu Adam tersaji di tengah tikar, dikelilingi oleh piring-piring nasi yang mengepul hangat.

Mereka sekeluarga makan dengan tenang. Pak Rahman sesekali melempar senyum, menikmati masakan yang mereka santap. Namun, ketenangan itu terusik ketika pintu kamar Fandi berderit terbuka. Fandi keluar dengan langkah gontai, mengenakan kaos oblong bersih, lalu mengambil posisi duduk di sudut tikar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Seketika, Tina merasa seluruh otot tubuhnya menjadi tegang. Tangannya yang memegang sendok mendadak kaku. Ada rasa takut yang menjalar di dalam benaknya; ia sangat khawatir jika pertengkaran hebat tadi siang akan berlanjut di atas meja makan ini. Jika Rika kembali berteriak, maka nafsu makan semua orang pasti akan hilang seketika, dan kesehatan Abah yang mulai menurun bisa terganggu.

Tina melirik ke arah Rika. Kakaknya itu tampak sedang melototi Fandi dengan tatapan mata yang tajam dan menusuk. Aura kemarahan yang pekat begitu kentara memancar dari tubuh Rika. Jemari Rika meremas sendoknya dengan erat, menahan gejolak amarah yang mendidih di dalam dada. Namun, Rika memilih untuk tidak melepaskan makiannya sekarang. Ia tahu batas; ia menghormati Abah dan Mama yang masih mengunyah makanan di atas tikar.

Suasana makan malam itu pun berjalan dalam keheningan yang mencekam, di mana hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring.

Setelah makan malam selesai dan piring-piring kotor telah disingkirkan ke dapur, rona kedamaian semu itu akhirnya pecah. Begitu Pak Rahman selesai meminum teh hangatnya, Rika langsung menggeser duduknya mendekat ke arah sang ayah. Dengan suara yang gemetar dan air mata yang mulai berlinang, Rika mengadukan semua perbuatan Fandi tadi siang—tentang uang modal usahanya yang hilang dari dalam dompet.

Pak Rahman terdiam mendengar penuturan anak sulungnya. Wajah tuanya tampak berkerut dalam, memancarkan kekecewaan yang teramat sangat. Beliau menoleh ke arah Fandi yang duduk bersandar di dekat pintu.

"Fandi... benar apa yang dikatakan kakakmu?" tanya Pak Rahman dengan suara yang berat, rendah, namun sarat akan ketegasan yang mengintimidasi.

Suasana menjadi sangat sunyi. Kali ini, Fandi tidak berteriak seperti tadi siang. Ia hanya tertunduk dalam-dalam, menatap anyaman tikar di bawah kakinya. Fandi hanya terdiam seribu bahasa, tak berani membantah sepatah kata pun karena ia tahu persis dirinya bersalah dan tidak bisa lagi mengelak di depan wibawa ayahnya.

Pak Rahman menghela napas panjang, lalu mulai menasihati anak laki-lakinya itu dengan kalimat-kalimat yang menyentuh hati, mengingatkannya tentang kerja keras, kejujuran, dan tanggung jawab sebagai seorang lelaki.

Namun bagi Tina, suara nasihat ayahnya malam itu terdengar seperti dengung latar belakang yang kabur. Jiwanya terlalu lelah untuk menyerap konflik yang terus berulang di rumah ini.

Setelah melewati hari dan malam yang begitu menguras emosi dan melelahkan batin, Tina akhirnya bisa kembali ke kamarnya sendiri. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur kapuk yang tipis namun selalu terasa nyaman baginya. Ia menatap langit-langit kamar, mencoba mencari sisa-sisa ketenangan yang hilang.

"Kak..." sebuah sahutan lembut memecah keheningan kamar.

Tina menoleh. Lisa, adik bungsunya, sedang duduk di lantai dekat meja kecil, merapikan dan menyusun buku-buku pelajarannya ke dalam tas untuk sekolah esok hari.

"Hmm? Ada apa, Lis?" sahut Tina lirih.

Lisa menghentikan gerakan tangannya, lalu menatap Tina dengan pandangan ragu-ragu. "Memangnya... berapa banyak uang Kak Rika yang diambil sama Kak Fandi tadi?"

Tina menghela napas pendek, kembali menatap langit-langit. "Kakak juga tidak tahu pasti, Lis. Memangnya kenapa?"

Lisa menggigit bibir bawahnya, tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya. "Anu, Kak... sebenarnya, akhir-akhir ini uang Lisa juga sering hilang di kotak pensil. Tapi... Lisa tidak berani melapor atau mengadu ke Abah. Lisa takut bikin rumah jadi ribut lagi."

Mendengar pengakuan polos adiknya, Tina seketika tersentak. Rasa kantuk yang mulai menyerangnya menguap begitu saja. Ia langsung terbangun dari tidurnya dan duduk tegak di atas kasur, menatap Lisa dengan mata membelalak.

"Uang tabungan kamu juga hilang, Lis?" tanya Tina, memastikan pendengarannya.

Lisa mengangguk pelan dengan wajah muram. "Iya, Kak. Uang jajan yang sengaja Lisa sisihkan buat beli keperluan tugas sekolah."

Sebuah firasat buruk yang mengerikan tiba-tiba menyergap pikiran Tina. Jantungnya berdegup kencang dibakar rasa panik. Ia segera beranjak dari tempat tidur, melangkah cepat menuju lemari pakaian kayunya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Tina membongkar bagian paling dalam lemari, tempat ia menyembunyikan sebuah kaleng celengan kecil berisi uang hasil honor mengajar dan sisa uang belanja yang selalu ia tabung dengan susah payah.

Begitu kaleng itu berhasil ditarik keluar, rasanya begitu ringan. Tina membuka tutupnya, dan dadanya serasa runtuh. Kosong. Lembaran-lembaran uang yang ia kumpulkan semuanya telah lenyap tanpa sisa.

Tina terduduk lemas di lantai kamarnya. Tubuhnya merosot, kepalanya tertunduk pasrah di atas lututnya yang ditekuk. Air matanya tidak keluar lagi; rasa sedihnya telah mati rasa, digantikan oleh kepasrahan yang teramat sangat. Tanpa perlu bukti atau saksi, Tina sudah tahu pasti dengan sangat jelas siapa orang yang tega melakukan hal serendah itu di rumah ini. Adik laki-lakinya sendiri telah merampok adik dan kakaknya

Esok paginya, matahari terbit dengan sinar yang enggan menyengat. Tina berjalan bergegas menuju sekolah PAUD dengan langkah kaki yang diseret. Keadaan tubuh dan jiwanya saat ini benar-benar hancur, layaknya raga berjalan yang kehilangan gairah hidup. Sorot matanya redup, dan wajahnya tampak kuyu tanpa energi.

Ia merasa benar-benar berada di titik nadir, bingung dan tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menyelamatkan keluarganya dari keterpurukan ini. Beban mental yang bertubi-tubi menyiksanya sejak kemarin membuat pikiran Tina menjadi sangat kacau dan tumpang tindih.

Saking hancurnya fokus dan konsentrasi Tina pagi itu, ia bahkan sampai sepenuhnya lupa tentang satu hal yang sangat krusial: ia lupa membicarakan tentang kedatangan Andry ke sekolah kemarin dan draf kontrak kerja yang di berikan oleh Andry. Di dalam kepalanya yang bising, masalah finansial rumah dan kelakuan Fandi telah mengubur dalam-dalam memori tentang pemuda kota itu. Tina tidak pernah menyadari bahwa kelalaian kecil akibat rasa hancurnya ini, justru akan menjadi celah baru bagi takdir Andry untuk kembali merangsek masuk ke dalam kehidupannya.

1
Mamah Dini11
ya mendingan di ambil tin kan gajinya gede ,jdi bisa bantu ortumu. kalau masalah paud carikan dulu penggantimu, ya setidaknya kalau gajinya gede kan bisa mengurangi bebanmu
Mamah Dini11
kenapa gk ngontrak aja tin atau ngekos gitu biarkan kakamu yg malas dan benalu itu yg ngerjain di rumah itu , permisi thor mampir ni...moga ceritanya menarik 🙏
Imi Omi
yah ngayal 🤣
Imi Omi
aku suka ceritanya, lanjut terus Thor 👍
Imi Omi
😤
Imi Omi
katanya nunggu tapi kalau ngak di terima kayaknya dia bakalan buat rencana gila lagi🤣
Imi Omi
jadi bahan gosip sekampung🫠
Imi Omi
mungkin yang di maksud Lisa tu, aku atau kak Tina 🤣🤣🤣
Imi Omi
🤣
Imi Omi
waduh di lamar dong 🤭
Imi Omi
😭😭
Imi Omi
Akhirnya dia sadar juga😭
Imi Omi
baru juga dinasehati udah nasehatin orang 🤣
Imi Omi
Dimarahin Bu Yuna gak tuh🤣
Imi Omi
uwah ketahuan
Imi Omi
ngak tahu diri banget si jadi anak laki-laki 😤
falea sezi
buruk bgt cerita muter doank g jelas. MC. nya bodoh mood baca jd anjlok
falea sezi
MC oon semua😒
falea sezi
🤣🤣 tina goblok novel apaaan ini muter doank😒 MC nya bloon kok lulusan sarjana lulusan SD. kali. makanya oon ma adek g bs tegas. ma. ortu jg gt
Imi Omi
🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!