Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.
Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.
Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Satu darah
Mobil hitam besar itu melaju membelah jalanan kota yang mulai sepi, lampu-lampu jalan yang remang-remang menciptakan bayangan panjang di dalam kabin. Keheningan yang hangat menyelimuti mereka, berbeda jauh dengan suasana mencekam yang baru saja mereka tinggalkan di gedung arsip tua itu. Di kursi pengemudi, Dewa menyetir dengan tenang, namun matanya sesekali melirik ke arah Naura yang duduk di sebelahnya. Wanita itu menyandarkan kepalanya di jendela, menatap langit malam yang bertabur bintang, napasnya teratur dan damai.
Di kursi belakang, Rian, Raga, Pak Wahyu, Ibu Maya, dan Sera duduk berdampingan. Tidak ada lagi rasa curiga atau permusuhan di antara mereka. Semua rasa benci, semua kesalahpahaman, dan dosa masa lalu seolah telah terhapus oleh pertempuran hebat yang baru saja mereka lalui bersama. Namun di balik kedamaian itu, ada satu kebenaran besar yang selama ini tersembunyi di balik lapisan sejarah dan kebohongan, kebenaran yang menjadi akar dari segala dendam yang memisahkan mereka bertahun-tahun lamanya.
Dewa memecah keheningan, suaranya rendah namun cukup jelas terdengar oleh semua orang di dalam mobil.
"Naura," panggilnya pelan, tangannya kiri meninggalkan setir sejenak untuk mencari tangan istrinya, menggenggamnya erat. "Aku rasa sudah saatnya kita bicara hal yang paling mendasar, hal yang selama ini dijadikan senjata oleh orang-orang seperti Arga untuk memisahkan kita, hal yang membuat kita berdua hidup dalam rasa benci yang salah selama bertahun-tahun."
Naura menoleh, menatap manik mata suaminya yang tajam namun penuh kelembutan itu. Ia merasakan getaran serius dalam genggaman tangan itu. "Apa maksudmu, Dewa?"
Dewa menghela napas panjang, lalu melanjutkan, "Banyak hal yang dulu diajarkan padaku sejak aku masih kecil. Aku diajari bahwa keluarga Zafira adalah musuh bebuyutan keluarga Buwana. Aku diajari bahwa nama Zafira adalah nama pengkhianat yang telah merenggut kebahagiaan dan nyawa orang tuaku. Dan saat aku dipaksa menikahimu, aku berpikir kau adalah bagian dari musuh itu, kau adalah buah dari dosa orang tuamu, dan kau dikirimkan ke sisiku agar aku bisa melampiaskan semua amarahku."
Ia berhenti sejenak, menelan ludah, lalu menatap Naura lebih dalam. "Aku bahkan pernah berpikir, mungkin ada ikatan lain, mungkin kita terhubung oleh darah dalam arti yang salah, sehingga takdir mempertemukan kita dengan cara yang menyakitkan ini. Tapi sekarang... setelah semua kebohongan mulai terbongkar, setelah Sera membuka sedikit demi sedikit rahasia yang ia simpan, aku ingin kau dengar ini dengan jelas, Naura."
Dewa mengeratkan genggamannya, suaranya tegas dan penuh penekanan. "Kita tidak bersaudara. Tidak ada setetes pun darah yang mengalir di tubuhmu yang sama dengan darahku. Kita bukan saudara kandung, bukan saudara jauh, dan tidak ada hubungan kekerabatan sedarah apa pun di antara kita."
Kalimat itu menggantung sejenak di udara, namun tidak ada rasa kaget atau terkejut di wajah Naura. Wanita itu justru tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca namun bersinar lega. Ia menoleh ke arah belakang, di mana Ibu Maya dan Sera mengangguk pelan membenarkan ucapan Dewa.
"Itu kebenaran yang paling sederhana namun paling besar yang selama ini ditutup-tutupi, Nak," ucap Sera lemah namun jelas dari kursi belakang, suaranya sedikit serak namun penuh ketulusan. Ia bersandar di bahu Ibu Maya. "Keluarga Buwana dan keluarga Zafira adalah dua keluarga besar, dua kekuatan bisnis, dan dua nama yang berdiri sejajar namun terpisah jauh. Kakek Dewa dan kakek Naura adalah dua sahabat sekaligus pesaing besar. Mereka saling menghormati, tapi juga saling bersaing keras. Namun ambisi orang-orang di sekitar mereka mengubah persaingan itu menjadi permusuhan berdarah."
Sera menatap ke arah depan, menatap punggung Dewa dan wajah Naura bergantian.
"Orang-orang jahat seperti Arga dan kelompok yang berada di belakangnya, mereka memutarbalikkan fakta. Mereka menyebarkan isu bahwa ada hubungan darah yang tercemar, bahwa pernikahan kalian adalah perbuatan terlarang, atau bahwa kalian adalah saudara yang dipisahkan untuk menanamkan rasa jijik dan benci di hati kalian berdua. Mereka ingin kalian saling menyakiti sendiri, tanpa perlu mereka angkat senjata. Mereka ingin nama Buwana dan Zafira hancur dari dalam, karena perselisihan darah dan dendam yang mereka ciptakan sendiri."
Naura mengangguk perlahan, potongan-potongan teka-teki masa lalunya mulai tersusun rapi di kepalanya. Ia ingat betul bagaimana ayahnya Almarhum Bapak Zafira selalu menatapnya dengan tatapan sedih namun penuh tekad saat menyuruhnya menikah dengan Dewa. Ia ingat bagaimana ibunya selalu berpesan agar ia bertahan, meski harus hidup dalam rasa benci. Semua itu bukan karena mereka ingin menyakiti anak kandungnya sendiri, melainkan karena mereka tahu kebenaran: bahwa penyatuan Buwana dan Zafira adalah satu-satunya cara untuk melawan kejahatan yang mengancam nyawa mereka semua.
"Aku dulu berpikir," ucap Naura pelan, suaranya bergetar namun jelas, "bahwa aku dikirim ke sini sebagai tumbal. Aku berpikir pernikahan ini adalah hukuman bagiku karena kesalahan leluhurku. Aku membenci Dewa, aku membenci keluargamu, Dewa, karena aku yakin bahwa kalian menganggapku kotor, menganggapku musuh, dan aku berpikir mungkin... mungkin ada benang merah yang salah di antara kita."
Ia menoleh menatap suaminya, air mata bahagia mulai menetes di pipinya yang masih kotor debu perang. "Tapi ternyata semua itu dusta. Aku adalah Naura Aulia Zafira, pewaris tunggal keluarga Zafira. Kau adalah Dewa Angkasa Buwana, pewaris tunggal keluarga Buwana. Kita adalah dua garis keturunan yang berbeda, dua kekuatan yang terpisah, yang sengaja dipertemukan oleh takdir... dan dipisahkan oleh kebohongan."
Dewa tersenyum, senyum yang tulus dan lega, lalu ia mengusap pipi istrinya dengan punggung tangannya yang kasar namun hangat. Rasa bersalah yang selama ini sempat mengganjal di hatinya rasa bersalah karena mencintai wanita yang dulu ia khawatirkan memiliki hubungan darah dengannya kini lenyap sepenuhnya.
"Aku adalah mafia yang kejam, Naura," ucap Dewa tiba-tiba, nadanya kembali serius namun penuh kasih. "Dunia bawah tanah tahu aku sebagai iblis yang tidak punya belas kasihan, pemimpin yang membangun kerajaannya di atas tumpukan mayat dan ketakutan. Tanganku penuh darah, masa laluku penuh dosa, dan namaku disegani sekaligus ditakuti oleh siapa pun yang mendengarnya. Dulu aku berpikir, setidaknya jika kita bersaudara, rasa ingin melindungimu itu wajar sebagai kewajiban keluarga. Tapi sekarang..."
Dewa menatap lurus ke manik mata cokelat istrinya, sorot matanya berubah menjadi penuh gairah dan kepemilikan mutlak.
"Sekarang aku tahu, rasa ingin memilikimu, rasa ingin menjagamu lebih dari nyawaku sendiri, rasa cemburu yang membakar hatiku jika ada orang lain yang menatapmu, dan rasa cinta yang tumbuh dari sisa-sisa kebencian itu... itu semua murni karena kau adalah wanitaku. Bukan saudaraku. Bukan kewajiban. Tapi kau adalah separuh jiwaku yang hilang, yang akhirnya kutemukan meski harus melewati jalan yang penuh duri dan darah."
Di kursi belakang, Ibu Maya tersenyum haru sambil mengusap air matanya. "Benar sekali. Darah memang mengikat asal-usul kita, tapi darah tidak pernah memaksa hati untuk saling mencintai. Keluarga Buwana dan Zafira memang berbeda garis keturunan, namun sejarah kita terikat satu sama lain. Dulu aku dan mendiang istrimu, Dewa... kami berharap penyatuan ini akan memadamkan api permusuhan. Kami tidak menyangka jalan yang kalian tempuh begitu berat, penuh dengan kebohongan dan bahaya seperti ini."
Rian yang selama ini diam, akhirnya angkat bicara, suaranya berat namun penuh hormat. "Arga dan tuannya itu memainkan kartu paling kotor. Mereka memanfaatkan ketidaktahuan kita, memanfaatkan rasa takut akan hubungan darah, agar kita tidak pernah bersatu. Mereka ingin Dewa membenci Naura, ingin Naura takut pada Dewa, dan ingin kedua keluarga ini saling memusnahkan sendiri. Tapi mereka lupa satu hal: kebohongan tidak akan pernah bisa mengalahkan kebenaran, dan benci yang dipaksakan tidak akan pernah bisa membunuh cinta yang sudah ditakdirkan Tuhan."
Mobil itu kini memasuki gerbang besar kediaman utama keluarga Buwana, lampu-lampu taman yang terang benderang menyambut kedatangan mereka. Gedung megah yang dulu menjadi penjara bagi Naura, dan benteng kesepian bagi Dewa, kini tampak berbeda. Dinding-dinding tingginya tidak lagi terasa dingin, melainkan kokoh sebagai benteng pertahanan terakhir mereka.
Dewa mematikan mesin, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Naura. Ia memegang kedua bahu istrinya, menatapnya lekat-lekat seolah ingin menanamkan setiap kata ke dalam ingatan wanita itu selamanya.
"Dengar baik-baik, Naura. Sekarang semuanya sudah jelas. Kita tidak memiliki setetes darah yang sama. Kita tidak bersaudara, tidak pernah, dan tidak akan pernah. Kita adalah dua orang yang dipersatukan oleh perjodohan yang berbalut dendam, namun dipertahankan oleh cinta yang tumbuh di tengah bahaya."
Dewa mendekatkan wajahnya, suaranya berbisik lembut namun penuh wibawa seorang pemimpin mafia yang tidak kenal ampun pada musuh, namun menjadi lembut seperti anak kecil di hadapan wanitanya.
"Kau adalah istriku. Kau adalah Ratu di kerajaanku. Dan sebagai pemimpin keluarga Buwana, aku bersumpah akan menghancurkan siapa saja yang berani mengganggumu, siapa saja yang berani memutarbalikkan fakta, dan siapa saja yang berani mengatakan ada hubungan darah di antara kita untuk memisahkan kita. Kebohongan mereka sudah terbongkar. Kita adalah Buwana dan Zafira, satu kesatuan yang tak terpisahkan, dibangun di atas kebenaran, bukan darah."
Naura tersenyum lebar, air matanya jatuh membasahi pipi, namun kali ini air mata itu adalah air mata kebahagiaan yang paling murni. Ia mengangguk kuat, lalu memeluk leher suaminya erat-erat, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan dan keamanan yang hanya bisa diberikan oleh pria itu.
"Aku mengerti, Dewa. Aku sangat mengerti. Tidak ada darah yang mengikat kita, tapi ada janji, ada cinta, dan ada takdir yang membuat kita menjadi satu. Kita bukan saudara... kita adalah pasangan yang ditakdirkan untuk menaklukkan dunia bersama-sama."