NovelToon NovelToon
Aku Tidak Mandul, Mas!

Aku Tidak Mandul, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:82.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.

Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.

Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Mobil hitam itu melaju perlahan meninggalkan Rumah Sakit Kasih Ibu. Di dalam mobil, suasana terasa jauh lebih tenang dibanding beberapa jam sebelumnya.

Annisa duduk diam sambil menatap jalanan dari balik jendela. Namun, pikirannya masih dipenuhi banyak hal. Tentang hasil pemeriksaan dan tentang kebohongan Emeli. Dan tentang bagaimana Emran Richard berdiri di sisinya tanpa ragu sedikit pun. Sesekali Annisa melirik pria di sampingnya itu diam-diam.

 Emran terlihat tenang seperti biasa. Tangannya sibuk membuka beberapa pesan di ponsel. Seolah apa yang terjadi tadi hanyalah urusan kecil baginya.

Beberapa menit kemudian, Emran akhirnya mengangkat pandangan.

“Mau ikut saya sebentar?”

Annisa menoleh pelan.

“Ke mana?”

“Kita beli hadiah ulang tahun untuk Ayahmu.”

Mata Annisa sedikit membesar. Wanita itu hampir lupa kalau malam ini adalah ulang tahun Darto Erlangga.

“Ah ... benar juga...” Annisa menunduk kecil.

“Aku bahkan belum menyiapkan apapun.” Nada suaranya terdengar sedih.

Emran justru menatapnya sekilas lalu berkata tenang, “Tidak perlu terlalu dipikirkan.”

“Hm?”

Pria itu menyandarkan tubuhnya santai. Tatapannya lurus ke depan.

“Hadiah terindah untuk Tuan Darto...” Suara Emran terdengar jauh lebih lembut dibanding biasanya.

“adalah kepulangan putrinya.”

Jantung Annisa langsung berdegup cepat. Wanita itu spontan menoleh, dan saat itulah tatapan Emran bertemu dengannya. Tatapan itu justru membuat wajah Annisa perlahan memanas. Wanita itu buru-buru menunduk kecil sambil menggigit bibirnya malu.

Sementara di depan, Han yang mendengar ucapan tuannya diam-diam tersenyum tipis sambil fokus menyetir. Suasana di dalam mobil terasa seperti rumah bagi seseorang yang selama ini kehilangan tempat pulang.

Sore mulai turun di Erlangga Group.

Area gudang yang panas dan melelahkan membuat tubuh Haikal terasa remuk. Bajunya kusut, tangannya pegal dan wajahnya penuh kekesalan sejak tadi siang. Baru saja pria itu duduk sebentar untuk istirahat sambil mengelap keringat di lehernya, seseorang datang menghampiri.

“Pak Haikal.”

Haikal mendongak malas. Ternyata Satrio berdiri di sana dengan wajah datar seperti biasa.

Haikal langsung buru-buru berdiri.

“Ada apa, Pak?”

Satrio melirik sekilas pada keadaan gudang lalu berkata singkat, “Tuan Darto meminta Anda ke lantai lima.”

Mata Haikal langsung sedikit membesar. Jantungnya berdegup cepat, dan dalam sekejap, semua rasa kesal tadi perlahan berubah menjadi harapan.

"Tuan Darto?” tanyanya memastikan.

Satrio mengangguk pendek.

“Sekarang,”

Haikal buru-buru merapikan bajunya, dalam hati pria itu langsung berpikir, 'mungkin semua ini hanya ujian sementara. Mungkin Tuan Darto Erlangga akhirnya sadar kalau aku diperlakukan terlalu berlebihan.'

Bahkan, Haikal mulai yakin pemindahannya ke gudang mungkin hanya kesalahpahaman. Dan sekarang semuanya akan kembali normal. Sepanjang perjalanan menuju lift, senyum tipis mulai muncul di wajahnya.

Sementara, beberapa pekerja gudang hanya melirik sinis saat melihat Haikal pergi dengan wajah penuh percaya diri lagi.

Lift terbuka di lantai lima. Area kantor utama terlihat jauh lebih mewah dan tenang dibanding gudang. Haikal langsung berjalan mengikuti Satrio dengan dada sedikit membusung.

Namun, sesampainya di salah satu ruangan penyimpanan, langkahnya perlahan berhenti. Di sana sudah tersusun rapi puluhan bingkisan besar dengan pita emas.

Haikal mengernyit bingung. Satrio lalu berkata tenang, “bagikan semua bingkisan ini ke setiap divisi.”

Senyum di wajah Haikal langsung memudar.

“Apa?”

“Karena nanti malam ulang tahun Tuan Darto.”

Satrio berbicara sambil membuka daftar nama karyawan.

“Tidak semua karyawan diundang. Jadi sebagai gantinya, beliau memberikan bingkisan.”

Haikal langsung menatap tumpukan bingkisan itu tidak percaya.

“Lalu ... saya?” Tatapannya mulai penuh harap lagi.

“Kenapa saya tidak dapat?”

Satrio tersenyum tipis.

“Karena Anda diundang.”

Wajah Haikal langsung berubah senang.

'Benar saja!' Dalam hati pria itu langsung tertawa puas. Ternyata dirinya masih dianggap penting oleh Tuan Darto. Bahkan, undangan ulang tahunnya tidak dibatalkan meski dirinya dipindahkan ke gudang.

Sementara Satrio kembali berkata santai,

“Jangan lupa datang malam ini.” Tatapannya tajam samar.

“Bawa semua keluarga Anda juga.”

Haikal sama sekali tidak menangkap nada aneh dalam ucapan itu. Pria itu justru semakin percaya diri.

“Baik, Pak!” jawabnya cepat.

Saat Satrio pergi meninggalkan ruangan, Haikal langsung tersenyum puas seorang diri. Dalam pikirannya sekarang, pemindahan ke gudang bukanlah akhir. Karena bos besar perusahaan ternyata masih menganggap dirinya orang penting.

Suasana di Rumah Sakit Kasih Ibu terasa berbeda dari biasanya. Koridor yang biasanya ramai kini dipenuhi bisik-bisik pelan. Beberapa perawat dan staf rumah sakit diam-diam memperhatikan satu sosok wanita yang berjalan keluar dari ruang dokter dengan wajah pucat.

Emeli memeluk sebuah kotak kardus berisi barang-barang pribadinya. Dan name tag dokter yang kini terasa seperti hinaan untuk dirinya sendiri.

Sepatu heels yang biasanya terdengar penuh percaya diri kini justru terdengar menyedihkan di sepanjang koridor.

Sementara beberapa pasang mata mulai menatapnya berbeda.

“Itu Dokter Emeli, kan?”

“Katanya dimutasi?”

“Bukan mutasi...” bisik salah satu perawat pelan, “dipecat.”

Wajah Emeli langsung memanas mendengar bisikan itu. Namun, ia terus berjalan sambil menahan air mata.

Di sisi lain koridor, dua dokter junior bahkan saling melirik sinis.

“Pantas saja selama ini arogan sekali.”

“Sering bentak perawat juga.”

“Kirain hebat ... ternyata malah manipulasi data pasien.”

Bisikan-bisikan itu semakin membuat dada Emeli terasa sesak. Dirinya memang dikenal terlalu semena-mena di rumah sakit. Paling berkuasa karena dekat dengan beberapa petinggi rumah sakit. Bahkan, beberapa perawat yang dulu sering dimarahinya kini terang-terangan memandangnya rendah.

Saat lift terbuka, Emeli masuk dengan napas gemetar. Tangannya mencengkeram kotak kardus erat sampai buku-buku jarinya memutih.

Tiba di parkiran.

Emeli berdiri diam sambil memeluk kotak kardus di tangannya erat-erat. Matanya masih sembab karena menangis. Wanita itu merasa benar-benar kehilangan segalanya.

Pikirannya kacau.

“Aku tidak boleh sampai kehilangan Haikal juga...” lirihnya pelan. Tangannya semakin mencengkeram kotak itu. Satu-satunya hal yang masih bisa menyelamatkan hidupnya sekarang hanyalah pernikahannya dengan Haikal.

Kalau Haikal sampai tahu dirinya dipecat, kalau pria itu tahu izin praktiknya terancam dicabut, maka semuanya selesai.

Haikal yang sekarang menjadi manajer di perusahaan besar jelas tidak akan mau menikahi wanita pengangguran seperti dirinya. Dan Emeli tidak mau dipandang rendah seperti Annisa dulu.

Tepat saat pikirannya mulai kacau, onselnya tiba-tiba berdering.

Mata Emeli langsung membesar. Wanita itu buru-buru mengusap air matanya sebelum mengangkat panggilan.

[Halo, Sayang...] Suara Haikal terdengar cukup santai dari seberang sana.

[Nanti malam aku jemput kamu.]

Emeli langsung terdiam.

[Kita datang ke acara ulang tahun bosku.]

Jantung Emeli langsung berdegup cepat.

Sementara Haikal melanjutkan dengan nada penuh percaya diri,

[Aku bakal kenalin kamu ke semua orang. Sebagai calon istriku.]

Wajah Emeli seketika berubah cerah. Air mata yang tadi jatuh kini tergantikan oleh senyum lega.

“B-benarkah?”

[Iya.] Haikal terdengar bangga. [Bahkan aku disuruh datang bawa keluarga.]

Emeli langsung menggigit bibirnya menahan rasa senang yang tiba-tiba memenuhi dada.

Haikal serius dengannya, pria itu tidak akan membuangnya. Dirinya masih punya kesempatan mempertahankan status dan kehidupannya. Sementara di sisi lain telepon, Haikal sama sekali tidak tahu, bahwa wanita yang akan dibanggakannya malam ini, baru saja dihancurkan karier dan masa depannya beberapa jam lalu. Sama halnya seperti Emeli yang tidak tahu kondisi Haikal.

[Sampai bertemu nanti malam,]

"Sampai bertemu nanti malam,"

Panggilan terputus dan Emeli menghela napasnya serta menyeka air matanya yang sempat terjatuh tadi. Wajahnya kembali tersenyum setelah berbicara dengan Haikal.

"Akhirnya aku bisa menikah dan aku tidak akan seperti Annisa, wanita hina itu!" Emeli langsung masuk ke dalam mobilnya.

Sore menjelang malam di kawasan pasar tradisional terasa ramai seperti biasa.

Namun, tidak bagi Lasmi. Wanita paruh baya itu berjalan pulang dengan wajah kusut sambil membawa kantong belanja yang jauh lebih sedikit dari biasanya.

Sendalnya bahkan berbunyi keras karena langkahnya penuh emosi.

“Kurang ajar...” gerutunya kesal.

"Masak apa hari ini? Bahkan, tidak ada yang bisa di beli!" Lasmi langsung kesal mengingat kejadian tadi di pasar.

Flashback!

Sejak sore, Lasmi benar-benar terasa aneh Beberapa pedagang langganannya tiba-tiba menolak melayani dirinya. Padahal, selama ini mereka sangat ramah. Bahkan, sering memberi bonus sayur atau diskon kecil.

Namun, tadi begitu Lasmi datang sikap mereka berubah.

“Maaf, Bu ... stok habis.” Padahal sayur masih menumpuk di depan mata.

Ada juga yang pura-pura sibuk dan menyuruh pegawai lain melayani pembeli selain dirinya.

Hal itu membuat Lasmi mulai emosi.

“Ada apa sih kalian hari ini?!” bentaknya tadi di pasar.

Namun, tak ada yang berani menjawab jujur.

Karena mereka semua sudah mendapat pesan. Dan orang yang memberi pesan itu bukan orang sembarangan.

Bahkan, saat Lasmi pergi ke swalayan langganannya, dirinya justru dihentikan satpam di depan pintu.

“Maaf, Bu...”

“Ada apa lagi?!”

Satpam itu terlihat gugup.

“Mulai hari ini ... Ibu tidak diperbolehkan masuk.”

Lasmi langsung melotot tidak percaya.

“Kamu gila?! Aku pelanggan tetap di sini!”

Namun, satpam hanya menunduk.

“Ini perintah manajemen.”

Wajah Lasmi langsung merah padam menahan malu karena beberapa pengunjung mulai melihat ke arahnya.

“Kurang ajar!”

Wanita itu mengamuk di depan swalayan sampai akhirnya pergi sendiri sambil mengomel sepanjang jalan.

1
Ass Yfa
puas bngt....hhh aku...liat mereka hancur tak bersisa...yg paling berat sanksi sosial...bisa2 jadi gila
Ass Yfa
modar ra kowe...😒
Ass Yfa
heh..Haikal bidoh apa oon ..nempermalukan diri sendiri
Ratih Tupperware Denpasar
haikal ini juga aneh wkt ibunya menghina anisa dia malqh mendukung ibunya bahkan menerima dr gadungan itu.. skr baru nyalahin ibunya. kalo kamu cinta beneran sama anisa harusnya bela thu istrimu bukan malak mengikuti permainan ibumi dan menalak anisa....dasar kamunya aja yg plinplan
Sri Widiyarti
puas banget bacanya....
Sri Widiyarti
makasih banyak kak up-nya 🥰
Les Tary
lasmi gaya gayaan...kyk dia sendiri kaya sampai merendahkan annisa
iqha_24
penyesalan datang belakangan yaa kan Haikal wkwkwk
爾妮
lanjutkan tor🤣🤣
dyah EkaPratiwi
rasakan Haikal nyesel kan
Dew666
💄💄💄
mariammarife
yo ngga bisa lngsng nikah hrs menunggu masa Iddah nya Annisa beres dulu pak Darto
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kalo sudah tiada baru terasa
bahwa kehadirannya sungguh berharga
Mutaharotin Rotin
rasain kalian bertiga kena karma nya 😂😂
Mutaharotin Rotin
laaannjjuut thor 🥰🥰🥰
mariammarife
mas Emran jgn terburu² ngajak Annisa nikah harus nya nunggu masa Iddah nya selesai
Les Tary
emeli minta tolong annisa bilang jgn hancurkan hidupku...ga salah ngomong itu org
Teh Euis Tea
rasain kalian jd gembel, puaslah
Oma Gavin
akhirnya mereka bertiga jadi gembel kere gelandangan
Abisatya
lanjut kk🙏💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!