NovelToon NovelToon
Queen Of Bataviarch

Queen Of Bataviarch

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mafia / Dark Romance
Popularitas:514
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

“Lepas gaunmu sekarang juga! Tunjukkan ke mereka, apa saja yang akan mereka bawa pulang nanti!”

“Aku gak bakal ngelakuin hal itu, paham!” seru Rosella dari atas meja.

“Aku gak minta persetujuan kamu, Rosella.” Nada bicara dan pandangan Ayahnya pun berubah menjadi sangat dingin.

“Baimm,” suara Dio memotong niat buruknya. “Aku rasa kamu gak perlu menyuruh anakmu melakukan hal menjijikkan itu.”


Anak perempuan tertua dari pemimpin Bataviarch akan dilelang malam ini. Rosella Rachmandi telah lama bersiap menghadapi hari itu. Sebenarnya, rencananya sederhana, ia ingin mendapatkan suami yang bodoh dan lemah, sehingga dapat dikendalikannya, lalu merebut seluruh kekuasaan ayahnya yang kejam demi menyelamatkan nasib ketiga adiknya.

Ia yakin segala sesuatunya akan berjalan lancar, hingga Dio Walisang, pria yang tiba-tiba hadir di acara pelelangan itu, mengubah dan meruntuhkan seluruh rencananya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta Pertama Rosella

Dio harus mengakui bahwa ia menyukai jawaban itu. Ia juga setuju dengan kenyataan bahwa Rosella tidak merendahkan dirinya atau menjanjikan apa pun hanya demi keinginannya. Bagi Rosella, persoalan ini memang sangat penting.

“Oke, kita beli rumah di sini dan sesekali menginap di Jakarta,” ujar Dio akhirnya mengalah. “Tapi tempat tinggal utama kita tetap di Surabaya.”

Rosella langsung memeluk tubuh Dio dengan sangat erat. “Makasih banyak ya.”

Dio menarik tubuh wanita itu makin dekat lalu menghirup aroma tubuhnya. Kulit di leher Rosella langsung merinding, dan Dio harus menahan diri agar tidak menyentuh bagian itu dengan bibirnya.

Saat Rosella mencoba mundur, Dio malah menahan tangannya dan menariknya kembali ke dadanya. Jarak bibir mereka hanya tersisa beberapa sentimeter saja. Dio bisa merasakan hembusan napas hangat Rosella mengenai wajahnya.

“Sebenarnya kita bisa punya hubungan pernikahan yang asik, kok,” katanya pelan.

Rosella menarik napas panjang, namun matanya tetap menatap Dio tanpa berkedip saat menjawab, “Nggak. Kita nggak bakal bisa. Ingatanku terlalu tajam buat ngelupain fakta kalau kamu membeliku.”

Setelah mengucapkan hal itu, Rosella melepaskan pelukannya lalu berjalan kembali ke arah pesta tanpa menoleh sedikit pun. Dio diam saja di tempatnya, menatap lorong tempat wanita itu hilang dari pandangannya.

Untuk pertama kalinya malam ini, ia merasa tidak nyaman dan bersalah. Karena apa yang dikatakan Rosella itu benar. Jika ada orang yang melakukan hal sama kepadanya, Dio pun tidak akan pernah bisa memaafkan atau melupakan perbuatan itu.

“Ternyata kalian berdua punya waktu luang yang banyak ya?” suara Hans terdengar saat pria itu masuk kembali ke ruangan.

“Kamu beruntung nggak mengganggu urusan penting,” geram Dio dengan nada rendah.

Hans hanya tertawa santai. “Aduh, pahlawan hatiku lagi marah nih,” ejeknya.

Dio mengangkat sebelah alis lalu memukul bahu sepupunya itu cukup keras. “Nanti aku laporin ke mamamu biar dia yang ngasih pelajaran ke kamu,” ancam Dio, sementara Hans makin terbahak-bahak.

Hans beruntung posisi mereka saat ini tidak memungkinkan, jika tidak, Dio pasti sudah mengejar dan menyumpal mulut anak itu dengan kaus kaki kotor.

...***...

Dalam perjalanan pulang, Dio menelepon ke rumah untuk memastikan keadaan ibunya baik-baik saja. Ibunya kambuh lagi malam ini, dan dokter sudah memberinya obat penenang. Dio tahu ibunya pasti akan langsung mencarinya begitu bangun nanti.

Begitu masuk ke dalam pesawat, Dio langsung menuang wiski ke gelas lalu duduk santai. Hans dengan seenaknya mengambil gelas itu dan menyesap isinya. Ia lagi-lagi beruntung, karena pramugari yang bertugas langsung sigap memberikan gelas baru untuk Dio.

“Kamu pasti punya pelindung gaib deh,” kata Dio sambil menikmati minumannya. “Soalnya aku bingung banget, sampai sekarang kok aku belum bunuh kamu ya?”

“Karena kamu bakal sepi banget kalau nggak ada aku,” jawab Hans santai.

“Itu sih bener juga.”

“Dan kamu juga bakal ketinggalan info penting lho.”

Dio mengangkat alis sambil menyesap minumannya lagi. “Emang Ada hal penting apa yang harus aku tahu?”

“Pas aku lagi kenalalan sama sepupu istrimu tadi,” Hans menyeringai lebar. “Aku nggak sengaja denger obrolan saudara-saudari Rachmandi.”

Dio hanya memutar mata malas.

“Tapi suaranya agak pelan sih,” lanjut Hans. “Terus calon mertuamu langsung bikin bersulang soal pernikahan kalian, jadi nggak kedengeran jelas.”

“Mereka ngomongin soal apa?”

“Tentang pesta yang bakal diadain akhir pekan depan.”

“Terus kenapa aku harus peduli kalau mereka mau pergi ke pesta?”

“Soalnya cewek-cewek itu jelas-jelas lagi nyusun rencana,” Hans bersandar santai di kursinya. “Mereka ngomong pakai kode-kode gitu, kayak orang yang lagi nyembunyiin sesuatu.”

“Serius deh, kamu mau bikin aku pusing pakai gosip nggak jelas begini?”

“Sabar dikit, aku belum selesai ngomong,” Hans terkekeh. “Awalnya aku juga mikir gitu sih pas denger itu, tapi ternyata nggak.”

Dio mengusap pelipisnya yang mulai terasa pening. “Kamu emang dasarnya bodoh.”

“Nah, akhirnya sadar juga ya?” jawab Hans santai. “Tapi ternyata sepupu istrimu itu bukan cuma jago gombal ke cowok. Dia juga tau banyak soal rahasia keluarga.”

“Bisa nggak langsung ke intinya?”

“Gumm Bahtiar,” Hans menatap Dio dengan serius. “Katanya sih, cowok yang dulu disukai tunanganmu itu bakal dateng ke pesta itu.”

Dio langsung berdiri dan melepas sabuk pengamannya pas lampu tanda aman menyala.

“Maksud kamu apa?”

“Kata si sepupu tadi, saudara-saudari Rachmandi mau bantuin Rosella ketemu lagi sama cinta pertamanya terus mereka bakal kabur,” Hans mengangkat bahu biasa saja. “Atau mungkin mereka cuma mau bantuin ketemu terus pacaran diam-diam. Siapa yang tau?”

Nada bicara Hans yang santai membuat emosi Dio makin memuncak. “Kalau cowok itu berani nyentuh dia, aku pastiin dia mati.”

Hans tampak bingung. “Lho, emangnya kamu nggak ngizinin dia punya hubungan lain diem-diem?”

Mereka sudah sering sekali membahas hal semacam ini. Jika salah satu dari mereka menikah hanya demi bisnis, mereka sepakat istri boleh mencari kebahagiaan sendiri asalkan dilakukan diam-diam dan rapi.

Namun saat Dio membayangkan Rosella bersama pria lain, Ia langsung merasa sangat benci. Padahal ia belum benar-benar mengenal wanita itu. Dan sudah sangat jelas bahwa Rosella pun membenci dirinya.

Tetap saja, hanya dengan membayangkan ada orang lain yang menyentuh Rosella rasanya darah Dio langsung mendidih hebat.

“Nggak,” jawabnya dingin. “Dia nggak bakal boleh punya cowok lain selain aku.”

Dio menatap Hans dengan tajam.

“Dan sekarang batalin pertemuan sama orang Yakuza minggu depan,” senyum tipis muncul di bibirnya. “Kayaknya akhir pekan ini kita harus ikut datang ke pesta itu.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!