Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.
Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: JALAN YANG DIPENUHI RINTANGAN
Matahari belum lagi menampakkan batang hidungnya di ufuk timur ketika Raga dan Mbah Joyo sudah bersiap meninggalkan rumah. Langit masih berwarna kelabu gelap, diselimuti kabut tipis yang membuat udara pagi terasa menusuk tulang. Suasana desa masih sangat sunyi, hanya terdengar suara janGkrik yang mulai enggan bersahut-sahutan dan suara ayam berkokok yang masih jarang-jarang.
Raga menggendong sebuah keranjang anyaman bambu berisi bekal makanan, air minum, dan beberapa perlengkapan ritual seperti dupa, kemenyan, serta bunga-bunga tujuh macam. Di pinggangnya terselip keris pusaka yang kini terasa lebih berat dari biasanya, seakan ikut merasakan ketegangan yang melanda hati pemiliknya.
Mbah Joyo tampak lebih segar dibandingkan kemarin sore. Wajahnya yang tadi pucat kini sudah sedikit merona, meski langkah kakinya masih tertatih-tatih dan harus sangat bergantung pada tongkat kayu jati kesayangannya.
"Sudah siap semua, Rag?" tanya Mbah Joyo sambil memeriksa sekeliling rumah dengan pandangan waspada.
"Sudah, Kek. Pintu dan jendela sudah dikunci rapat. Bekal juga sudah siap," jawab Raga sambil mengangkat keranjang di punggungnya.
"Bagus. Ingat, perjalanan ini tidak akan mudah. Bukan hanya karena jalannya yang terjal dan berbahaya, tapi karena... mereka pasti tidak akan membiarkan kita pergi begitu saja."
Raga mengangguk paham. "Mereka akan menghalangi kita, Kek?"
"Pasti," Mbah Joyo menatap tajam ke arah hutan jati yang gelap di ujung jalan. "Nyi Blorong itu pintar dan berkuasa. Dia pasti sudah tahu niat kita untuk mencari bantuan. Dia tidak akan membiarkan kita sampai ke tempat Eyang Sastro. Selama perjalanan nanti, kau harus ingat satu hal penting."
"Apa itu, Kek?"
"Jangan pernah percaya apa yang kau lihat atau dengar, kecuali jika itu datang dariku. Mereka ahli membuat ilusi. Bisa jadi jalan yang kelihatan lurus dan rata, sebenarnya adalah jurang yang dalam. Bisa jadi suara yang memanggilmu itu suara Kakek, tapi aslinya itu mahluk yang menyamar. Dan yang paling penting..."
Mbah Joyo berhenti sejenak, menatap cucunya dengan sangat serius.
"Jika kau melihat seorang wanita cantik, atau bahkan melihat sosok ibumu, atau siapapun yang kau kenal di tengah hutan... jangan sekali-kali menyapa, jangan menoleh, dan jangan berhenti. Terus berjalan mengikuti jejak kakiku. Mengerti?"
"Mengerti, Kek," jawab Raga tegas. Jantungnya sudah berdegup lebih kencang membayangkan apa yang akan mereka hadapi.
Mereka pun mulai melangkah. Langkah awal terasa berat, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang menarik-narik kaki mereka agar mau berbalik arah kembali ke rumah.
Perjalanan menuju wilayah Gunung Lawu memakan waktu berjam-jam. Awalnya mereka berjalan melewati jalan setapak di desa, lalu masuk ke jalan tanah merah yang semakin lama semakin sempit dan berbatu. Saat matahari mulai naik tinggi, mereka sudah memasuki kawasan hutan yang lebat dan rimbun.
Suasana di dalam hutan terasa berbeda. Cahaya matahari susah payah menembus dedaunan yang saling bertautan, membuat suasana di bawah sana terasa reMang-remang seperti senja hari meski sebenarnya masih pukul sembilan pagi.
Suara burung dan serangga yang biasanya ramai, di sini terdengar aneh. Suaranya seolah tertahan, tidak nyaring, dan ada nada melankolis yang aneh.
"Kek, rasanya aneh ya di sini," bisik Raga yang berjalan tepat di belakang kakeknya. "Dinginnya beda."
"Itu karena kita sudah masuk wilayah kekuasaan mereka, Rag. Ini adalah perbatasan. Di sini aturan alam kita dan dengan alam mereka mulai bercampur aduk," jawab Mbah Joyo tidak menoleh, matanya fokus menatap jalanan di depan.
Tiba-tiba, di tengah keheningan itu, terdengar suara wanita sedang menyanyi.
"Gunung gampiiing gunung keliiir...
Gunung gampiiing gunung keliiir...
Sing golek waras... sing golek waras...
Aja mrene mrene... 🎶
Suaranya merdu sekali, lembut, dan terdengar sangat dekat. Seolah penyanyinya sedang duduk di salah satu dahan pohon di atas kepala mereka.
Raga spontan mendongak ke atas, mencari sumber suara.
"Jangan menoleh!" desis Mbah Joyo keras sambil mencengkeram lengan Raga kuat-kuat. "Pura-pura tidak dengar!"
Raga segera menunduk lagi, mencoba mengabaikan suara itu. Namun suara nyanyian itu semakin jelas, semakin merdu, dan mulai berubah menjadi suara yang sangat dikenalnya. Suara ibunya.
"Ragaaa... anakkuuu... sini nak... kemariiii..."
"Ibu..." Raga terhenti langkahnya. Matanya berkaca-kaca. "Itu suara Ibu, Kek. Ibu memanggil aku."
"Itu bukan Ibumu! Itu godaaan!" Mbah Joyo menarik tangan Raga kasar. "Jalan terus! Jangan berhenti!"
Mereka kembali berjalan cepat. Namun suara itu tidak berhenti, justru kini terdengar dari arah depan, dari arah belakang, dan dari samping secara bersamaan.
"Jahat ya kamu Nak... lupa sama Ibu... Ibu kesepian lho... ayo ikut Ibu Ragaaa..."
Tiba-tiba, jalan setapak di depan mereka berubah. Yang tadinya jalan tanah kering dan padat, seketika berubah menjadi genangan air hitam dan berlumpur tebal. Lumpur itu bergerak-gerak seperti makhluk hidup, siap menelan siapapun yang melangkah.
"Waduh! Jalanan jadi begini!" Raga terkejut.
"Itu ilusi, Rag! Jangan percaya mata sendiri!" Mbah Joyo segera mengambil sejumput garam dari saku lalu melemparkannya ke arah genangan air itu sambil membaca mantra.
SERRRRRR!!
Saat garam menyentuh permukaan air, asap putih mengepul dan pemandangan itu berubah kembali menjadi jalan tanah yang kering dan aman. Ternyata tadi itu hanya fatamorgana yang dibuat sehalus mungkin.
"Mereka mencoba menipu indra kita," kata Mbah Joyo napasnya mulai memburu. "Kalau kau percaya itu air, kakimu akan benar-benar tenggelam dan terseret arus."
Mereka melanjutkan perjalanan lagi. Namun rintangan datang silih berganti.
Di sebuah tikungan tajam, tiba-tiba muncul kabut putih yang sangat tebal. Kabut itu datang begitu cepat dalam hitungan detik, menyelimuti seluruh area hingga jarak pandang tinggal satu meter saja.
"Kek! Aku tidak bisa melihat apa-apa!" teriak Raga panik.
"Pegang ujung sarung Kakek! Jangan dilepas! Apapun yang terjadi!" balas Mbah Joyo.
Raga segera memegang ujung kain sarung yang dikenakan kakeknya erat-erat. Di dalam kabut tebal itu, suasana menjadi mencekam. Mereka bisa mendengar suara langkah kaki banyak orang berlarian di sekeliling mereka. Suara teriakan, suara tawa, dan suara tangisan bercampur menjadi satu.
"Hei anak muda! Ikut kami main dong!"
"Mau ke mana kalian? Pulang saja! Di sini asik lho!"
Tiba-tiba, tangan Raga yang memegang sarung itu ditarik dengan sangat kuat dari arah berlawanan!
"YUHUUUU!!!"
Raga hampir terjatuh. "KEK!!!"
"JANGAN LEPAS!!!" teriak Mbah Joyo. "ITU BUKAN AKU YANG MENARIK! ITU MEREKA YANG COBA MELEPASKAN TANGAN MU!"
Raga mengerahkan seluruh tenaganya mencengkeram ujung kain itu. Ia memejamkan mata, melantunkan doa apa saja yang ia hafal dalam hati. Kabut itu terasa dingin dan basah, menempel di kulit seperti selimut es.
Tiba-tiba, ia merasa ada yang memeluk kakinya dari bawah. Terasa dingin, licin, dan lengket seperti belut raksasa atau ular.
"Lepas! Lepas!" Raga menendang-nendang udara.
"Tabik! Projo! Woles! Gesang!" Mbah Joyo mengucapkan mantra penolak bala dengan suara lantang.
BLUUUUUSH!!!
Angin kencang tiba-tiba berhembus menerjang kabut tebal itu hingga menyibakkannya ke samping. Kabut itu perlahan menghilang, menampakkan kembali jalan setapak yang jelas.
Raga terengah-engah, keringat bercucuran bercampur dengan butiran air kabut di wajahnya. Ia melihat ke bawah, tidak ada apa-apa di kakinya, tapi ia bisa melihat bekas cakaran atau goresan aneh di sepatu yang ia pakai.
"Mereka... sangat kuat, Kek," kata Raga lemas.
"Mereka ingin memisahkan kita. Kalau kau terpisah dariku di tempat seperti ini, kau bisa tersesat ke dimensi lain dan tidak akan pernah bisa kembali," jelas Mbah Joyo. Ia menyeka keringat di keningnya. "Kita harus cepat. Lihat langit di atas sana."
Raga mendongak. Langit di atas hutan itu tampak aneh. Awan-awan bergerak sangat cepat, berputar-putar membentuk pusaran, dan warnanya berubah menjadi kehijauan kehitaman.
"Itu tanda mereka mulai marah dan mengerahkan kekuatan penuh. MAHLUK Itu tidak main-main lagi."
Setelah berjalan sekitar tiga jam penuh dengan berbagai rintangan yang melelahkan, akhirnya mereka tiba di sebuah tebing curam yang ditumbuhi tanaman rambat dan pohon-pohon besar yang akarnya menjalar ke mana-mana.
Di sana, di dinding tebing yang hampir vertikal, terlihat sebuah mulut gua yang tertutup oleh akar pohon besar yang saling melilit seperti gerbang alami.
"Itu dia..." Mbah Joyo tersenyum tipis meski wajahnya kelelahan. "Gua Penggung. Tempat Eyang Sastro bertapa."
Namun, saat mereka baru saja akan melangkah mendekati mulut gua, tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat.
DhuuUM! DhuuUM! DhuuUM!
Dari balik celah-celah batu dan akar pohon, keluar asap hitam tebal. Asap itu memadat dan membentuk sosok-sosok penjaga.
Bukan manusia. Bukan juga hantu biasa. Mereka adalah Dayang atau penjaga alam, berwujud raksasa dengan tubuh terbuat dari batu dan akar pohon, bermata merah menyala, memegang gada besar yang terbuat dari batang kayu mati.
Ada tiga sosok raksasa yang berdiri menghalangi jalan menuju gua.
"SIAPA YANG BERANI MENGGANGGU KETENANGAN TUAN KAMI?!?" suara salah satu penjaga itu bergema seperti gemuruh gunung.
Mbah Joyo tidak mundur sedikitpun. Ia berdiri tegak, membetulkan letak sarungnya, lalu memberikan penghormatan khas orang Jawa dengan menyatukan kedua tangan di depan dada.
"Hamba Joyo, membawa cucu hamba Raga, datang untuk memohon audiensi dengan Eyang Sastro. Kami membawa hajat besar yang menyangkut nyawa dan nasib banyak orang."
Penjaga raksasa itu menunduk menatap mereka dengan tatapan mengintimidasi. Bau belerang dan tanah basah tercium sangat menyengat dari tubuh mereka.
"Eyang Sastro tidak menerima tamu! Pergi sebelum kami menghancurkan kalian menjadi debu!" seru penjaga yang satunya lagi sambil menghentakkan gada ke tanah, membuat bebatuan berterbangan.
Raga gemetar melihat ukuran tubuh mereka yang setinggi pohon kelapa. Tapi ia mencoba mengingat pesan kakeknya untuk tetap tenang.
Tiba-tiba, Mbah Joyo mengeluarkan sebuah benda kecil dari balik bajunya. Itu adalah sebuah cincin batu akik berwarna hitam legam dengan ukiran yang sangat halus.
Saat cincin itu ditunjukkan, ketiga penjaga raksasa itu seketika menegang. Mata merah mereka menyipit, lalu mereka saling berpandangan.
"Batu itu... tanda pengenal dari masa lalu..." gumam salah satu penjaga itu. Suaranya kini tidak sekeras tadi.
"Benar," kata Mbah Joyo. "Hamba adalah kerabat dekat dari masa ketika perjanjian dibuat. Izinkan kami lewat. Atau hamba terpaksa memanggil nama Eyang Sastro dengan cara yang tidak pantas didengar oleh telinga kalian."
Ketiga penjaga itu tampak ragu. Mereka bergumam satu sama lain dengan suara gemuruh yang tidak dimengerti Raga. Akhirnya, penjaga yang paling besar di tengah menghela napas panjang yang berangin kencang.
"Baiklah... Karena kau membawa tanda itu, kau boleh lewat. Tapi ingat... ujian belum selesai. Di dalam sana, kalian tidak akan ditemani oleh apa pun kecuali hati nurani kalian sendiri. Jika niatmu buruk, kalian akan terkunci selamanya di dalam dinding gua."
Sosok-sosok raksasa itu perlahan menghilang menjadi asap dan masuk kembali ke dalam tanah dan bebatuan, membuka jalan yang lebar menuju mulut gua.
"Ayo Rag, masuk," ajak Mbah Joyo.
Mereka berjalan mendekati mulut gua yang gelap gulita. Di sana, terasa hawa yang sangat berbeda. Dingin, hening, dan sangat sakral.
"Eyang Sastro..." bisik Raga. "Apakah beliau benar-benar manusia biasa, Kek?"
Mbah Joyo tersenyum misterius. "Eyang Sastro... sudah melampaui batas kemanusiaan, Nak. Dia sudah menjadi satu dengan alam. Hati-hati, apa yang kita lihat nanti... mungkin akan sangat mengejutkan."
Mereka melangkah masuk ke dalam kegelapan gua, meninggalkan dunia luar di belakang mereka, tidak menyadari bahwa dari kejauhan, sepasang mata merah menyala memperhatikan kepergian mereka dengan tatapan penuh dendam.