Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
BAB 11: TATAPAN MIRA
"Di balik tatapan yang tampak biasa saja, sering kali tersimpan rahasia yang paling berat, rasa kasihan yang terpendam, atau bahkan harapan yang dilarang."
Pintu depan baru saja tertutup rapat, menyisakan gema yang samar di ruang tamu yang mendadak terasa begitu sunyi dan dingin. Arka masih berdiri terpaku di tempatnya, tangan kanannya meremas kartu nama Adrian Mahesa hingga kertas itu tertekuk berantakan. Di dadanya, rasa sesak perlahan bergeser digantikan oleh amarah dingin yang mulai merayap ke setiap urat nadi. Elena tahu. Elena tahu dia sudah tahu segalanya, dan Elena memilih untuk tetap pergi. Memilih untuk lari lagi, seperti yang selalu dilakukannya.
Belum sempat Arka bergerak, belum sempat ia menyusun rencana selanjutnya, bel pintu apartemennya berbunyi nyaring. Triing!
Suara itu memecah keheningan tajam, membuat Arka tersentak kaget. Siapa yang datang pagi-pagi begini? Elena baru saja turun, apakah ia lupa sesuatu? Arka berjalan pelan menuju panel interkom di dekat pintu, menekan tombol pemantau.
Di layar kecil itu, wajah wanita berambut pendek sebahu dengan senyum yang sulit diartikan terlihat jelas. Kulitnya sawo matang, matanya tajam, dan tatapannya... tatapannya selalu punya bobot tersendiri saat menatap Arka.
Mira Anindya. Sahabat karibnya sejak kuliah. Wanita Minang yang selalu bicara apa adanya, atau setidaknya itulah yang selama ini Arka percayai.
Arka menghela napas panjang, membuka kunci pintu otomatis. Beberapa saat kemudian, langkah kaki cepat terdengar mendekat, dan Mira muncul di ambang pintu membawa kantong kertas cokelat berisi bungkusan makanan. Ia mengenakan kemeja flanel dan celana jeans, penampilan santai yang biasa, tapi hari ini aura wanita itu terasa berbeda. Lebar, lebih waspada.
"Pagi, Mas Arka," sapa Mira lembut, melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan, seolah apartemen ini rumahnya sendiri. Ia meletakkan bungkusan itu di meja makan, lalu berdiri tegak, menatap Arka lekat-lekat dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Pagi, Mira. Ada apa?" tanya Arka singkat. Ia tidak lagi punya energi untuk basa-basi panjang lebar. Apalagi setelah apa yang ia lihat dan alami semalam dan pagi ini.
Mira tidak langsung menjawab. Ia menutup pintu di belakangnya perlahan, menguncinya. Bunyi kunci diputar itu terdengar menekan di telinga Arka. Wanita itu kembali menatapnya, dan kali ini Arka menangkapnya jelas—tatapan itu.
Tatapan Mira yang dulu sering ia abaikan, tatapan yang dulu ia kira hanya kekhawatiran seorang sahabat, kini terlihat berbeda sama sekali. Di sana ada rasa kasihan yang sangat dalam, campur aduk dengan rasa bersalah, dan di kedalaman manik mata itu... ada kemarahan yang tertahan. Kemarahan bukan pada Arka, tapi pada sosok lain yang baru saja pergi dari sini.
"Elena baru berangkat ya?" tanya Mira, suaranya rendah namun tajam. Ia berjalan mendekat selangkah.
Arka mengangguk pelan, berjalan menuju kursi dan duduk lemas. "Iya. Ke Bandung. Urusan kerja katanya."
Mira mendengus pelan, seolah mendengar lelucon paling konyol sekaligus paling menyedihkan. Ia duduk di seberang Arka, menyandarkan punggungnya, namun matanya tak pernah lepas dari wajah sahabatnya itu.
"Urusan kerja..." ulangnya pelan, nada bicaranya penuh sindiran. "Mas Arka masih percaya omongan dia ya? Setelah semua yang Mas lihat, yang Mas denger, yang Mas rasain bulan-bulan ini?"
Jantung Arka berdegup kencang. Ia mendongak, menatap Mira tak percaya. "Maksud awak apa? Awak tahu?"
Mira tertawa kecil, tapi tawanya tidak ada nada gembiranya. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menatap Arka kembali dengan tatapan yang jauh lebih serius, lebih berat dari sebelumnya.
"Beta... eh, awak tahu semuanya, Mas. Sudah lama. Sejak sebelum awak dan dia nikah," jawab Mira pelan.
Darah Arka serasa berhenti mengalir. Dunia di sekelilingnya berputar pelan. "Sebelum... kita nikah?"
"Iya," Mira mengangguk tegas. "Waktu pertama kali awak kenalin Elena ke awak, di pameran seni itu. Hari itu juga, mata awak langsung tahu. Wanita itu berbahaya, Mas. Bukan karena dia jahat... tapi karena dia bukan dirinya sendiri."
Arka menundukkan wajah ke kedua telapak tangannya. Segala kepingan teka-teki mulai berjatuhan satu per satu. Sikap Mira yang selalu dingin pada Elena, tatapan yang selalu mengawasi, peringatan-peringatan samar yang dulu tak ia mengerti.
"Kenapa nggak awak bilang dari dulu, Mira? Kenapa awak diam aja? Kenapa awak biarin aku nikah sama bom waktu kayak dia?" suaranya bergetar, campuran antara marah dan kecewa yang mendalam.
Mira bangkit berdiri, berjalan memutari meja makan, berhenti tepat di samping Arka. Ia menatap wajah sahabatnya itu dengan pandangan sendu, pandangan yang penuh kepedihan.
"Mas pikir awak nggak mau ngomong? Mas pikir awak seneng lihat awak terjebak begini?" suaranya sedikit meninggi, namun tetap ditahan agar tidak terdengar ke luar. "Awak udah coba, Mas. Dengan cara halus, dengan kode-kode, dengan sikap awak yang selalu nggak suka sama dia. Tapi awak... awak jatuh cinta buta. Awak lihat dia sebagai malaikat, padahal semua orang di sekitar awak bisa lihat sayap malaikat itu mulai berdarah-darah."
Mira meremas ujung meja dengan tangannya yang kuat. "Dan ada lagi... awak takut. Awak takut kalau awak ngomong jujur, awak bakal kehilangan awak. Awak tahu Elena punya kuasa, punya orang di belakang dia. Awak pernah lihat apa yang dia bisa lakuin sama orang yang menghalangi jalan dia. Awak nggak mau awak jadi korban, makanya awak pilih diam dan jagain awak dari bayang-bayang."
Arka mengangkat wajah, menatap mata Mira. "Jadi semua peringatan awak... semua tatapan aneh awak ke Elena... itu karena awak tahu siapa dia?"
"Awak tahu separuhnya," akui Mira. Ia duduk kembali, kali ini lebih dekat. "Awak tahu nama aslinya bukan Elena. Awak tahu dia punya hubungan sama orang besar di Bandung. Awak tahu ada keluarga di Surabaya yang menunggangi hidup dia. Tapi yang awak nggak tahu... seberapa dalam peran awak di semua ini, Mas."
Mira mendekatkan wajahnya, suaranya berbisik berat.
"Seminggu yang lalu, pas awak bilang awak lihat bekas cengkeraman di tangan Elena... dan pas awak bilang awak curiga dia online jam dua pagi... awak sempat mau cerita semuanya. Tapi terus awak lihat tatapan Elena ke awak waktu dia jemput awak di kantor."
Mira menggigil pelan mengingat momen itu.
"Tatapan itu, Mas... tatapan Elena ke awak itu bener-bener bikin nyawa awak mau lepas. Dingin. Kosong. Tajam kayak pisau. Dia bilang ke awak, bisik aja pas lewat di belakang awak: 'Kalau Mira sayang sama Arka, Mira diam saja. Atau Mira bakal lihat apa yang bisa aku lakuin sama satu-satunya orang yang Mira cintai.'"
Arka ternganga. "Dia... dia ngancem awak?"
"Dengan cara paling halus dan paling mengerikan," Mira mengangguk pahit. "Dia tahu, Mas. Dia tahu perasaan awak ke awak. Dia tahu awak diam-diam mencintai awak sejak kuliah dulu, tapi nggak pernah berani ngomong. Dia pakai itu buat ngendalikan awak. Dia bikin awak bungkam, karena dia tahu kalau awak ngomong, awak bisa kena apa, atau lebih parah... awak yang jadi sasaran."
Arka terdiam. Segala pandangannya tentang Mira berubah total. Selama ini ia mengira Mira membenci Elena karena cemburu, karena iri, atau karena sifat Mira yang memang keras kepala. Ternyata wanita ini memendam segalanya demi melindunginya. Memendam rasa, memendam ketakutan, memendam kebencian... hanya agar Arka tetap aman, atau setidaknya tetap hidup.
"Mira..." panggil Arka lirih.
Mira tersenyum getir, matanya berembun. Ia menatap Arka dengan tatapan yang begitu dalam, tatapan yang mengandung ribuan kata yang tak pernah terucap. Tatapan yang bilang: Aku rela jadi penjahat di matamu, asal kamu selamat.
"Mas Arka," ucap Mira tegas, suaranya kembali mantap. Ia meraih bahu Arka, menatapnya tepat di manik mata. "Sekarang semuanya udah beda. Dia udah pergi ke Bandung. Dia udah berani ngancem awak, dan awak tahu awak udah bongkar sebagian rahasianya. Dia nggak lagi mau main halus, Mas. Di Bandung itu, dia bakal berubah total. Elena yang awak kenal... lembut, manis, penyayang... di sana dia mati. Di sana yang hidup itu Claire. Dan Claire itu nggak punya hati, nggak punya perasaan, nggak peduli siapa yang terluka."
Mira mengeluarkan selembar kartu nama dari saku bajunya, meletakkannya di atas meja, tepat di samping tangan Arka.
"Detektif Daniel Sihombing. Orang Medan, keras kepala, tapi dia satu-satunya orang yang berani ngelawan jaringan mereka. Awak udah hubungin dia. Dia tahu Elena, dia tahu Adrian, dia tahu kasus Surabaya lima tahun lalu."
Arka menatap nama itu. Daniel Sihombing. Nama yang sempat ia baca di pesan yang tidak terkirim semalam. Detektif yang mulai mengendus jejak mereka.
"Mira..." Arka menggenggam tangan wanita itu erat. "Aku mau ke Bandung. Aku mau nyusul dia."
Mira tidak kaget. Ia sudah menduga. Ia hanya menghela napas panjang, lalu menatap Arka dengan tatapan terakhir—tatapan campuran antara izin, kekhawatiran, dan doa.
"Awak tahu awak bakal lakuin itu. Makanya awak datang pagi-pagi. Bukan buat nahan awak, tapi buat bilang... hati-hati, Mas. Jangan percaya siapa pun di sana, kecuali Daniel. Dan ingat satu hal paling penting."
Mira berhenti sejenak, matanya menatap tajam ke arah pintu yang tertutup, seolah Elena masih berdiri di sana.
"Waktu awak ketemu dia di Bandung nanti... waktu awak lihat dia bergerak, ngomong, atau menatap awak... lihat matanya bener-bener. Kalau Elena masih ada di dalam sana, dia bakal minta tolong lewat tatapan matanya. Tapi kalau yang natap awak itu Claire... dia bakal kelihatan paling sempurna, paling tenang, dan paling menakutkan. Karena Claire itu aktor terbaik yang pernah ada."
Mira melepaskan tangannya, berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi, senyum kecil terbit di bibirnya. Senyum yang melegakan karena akhirnya ia bisa bicara jujur, dan senyum yang sedih karena menyadari betapa berbahayanya perjalanan yang akan ditempuh sahabatnya itu.
"Awak tunggu kabar di sini, Mas. Dan ingat... apa pun yang terjadi, apa pun kebenarannya... awak nggak pernah salah mencintai. Cuma sayang, wanita yang awak cintai itu terperangkap jauh di dalam diri wanita yang berniat menghancurkan awak."
Pintu tertutup.
Arka duduk sendirian di ruang makan yang kini terasa lebih terang namun lebih dingin dari sebelumnya. Di atas meja, ada dua kartu nama: satu milik Adrian Mahesa, musuh utama, dan satu lagi milik Daniel Sihombing, satu-satunya harapan.
Dan di ingatannya, masih terbayang jelas tatapan Mira itu. Tatapan yang membuka mata Arka bahwa selama ini ia tidak berjuang sendirian. Bahwa di balik semua kepura-puraan, ada orang yang rela memikul beban berat demi dirinya.
Arka bangkit berdiri, mengancingkan kemejanya rapi. Ia meremas kedua kartu itu di saku bajunya.
Bandung.
Tunggu aku.
Aku datang bukan lagi sebagai suami yang bingung. Aku datang sebagai orang yang akan menagih semua kebohongan, semua rahasia, dan semua luka yang kau tinggalkan di sini. Dan kali ini, aku akan tahu pasti... siapa wanita yang sebenarnya tidur di sampingku selama dua tahun ini.
— BERSAMBUNG.......