Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.
Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa
Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.
Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inara 8
Kini, ruangan itu hanya menyisakan mereka berdua. Mahesa duduk di tepi ranjang. Keangkuhannya sebagai Direktur Utama Dirgantara Group runtuh total. Pria tegap itu menunduk, menatap wajah Inara yang sangat tirus.
Dia meraih jemari Inara yang terbebas dari jarum infus, mengecup pergelangan tangan yang dingin itu berkali-kali. Entah apa dia sadar atau tidak melakukan hal itu. Karena dari wajahnya terlihat masih panik.
Drrrrrtttttt
Drrrrrtttttt
Ponsel Mahesa di saku celananya bergetar. Dia merogohnya dengan kesal. Nama Clarissa kembali berkedip di layar. Mahesa menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya dengan nada suara yang teramat sangat dingin. Bukan lagi nada lembut yang biasa dia berikan pada mantan istrinya itu.
"Ada apa, Clarissa?"
"Mas! Kamu di mana sih? Kok tiba-tiba pulang? Tim strategi dan vendor sudah nungguin di restoran dari tadi?" suara Clarissa terdengar merengek manja sekaligus menuntut.
Mahesa menatap wajah pingsan Inara, lalu memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa muak yang tiba-tiba muncul terhadap Clarissa membuat dadanya bergemuruh.
"Rapat hari ini batal. Cari jadwal lain," jawab Mahesa pendek.
"Lho, gak bisa gitu dong, Mas! Ini kan proyek miliaran! Lagian kamu kenapa sih? Apa karena wanita pembawa sial itu? Mana dia? Awas saja biar aku yang memberi dia pelajaran. Apa dia mencoba berakting di depan kamu lagi?" kesal Clarissa saat tahu jika Inara juga tak ada di kantor.
"Diam, Clarissa!" bentak Mahesa, suaranya menggelegar di dalam kamar yang sunyi, namun dia langsung menurunkan volumenya karena takut mengganggu Inara.
"Lakukan pekerjaanmu. Dan bilang kepada Ana, untuk mencarikan jadwal lain dengan klien dan Vendor! Aku sedang ingin sendiri dan butuh istirahat!!"
Kliiik
Mahesa mematikan sambungan telepon secara sepihak. Dia melempar ponselnya ke sofa setelah mematikan saya ponselnya.
Pria itu kembali menatap Inara. Dia mendekatkan wajahnya, menempelkan keningnya pada kening Inara yang dingin. Air mata yang selama bertahun-tahun tidak pernah keluar dari mata seorang Mahesa Dirgantara, hari itu jatuh menetes, mengenai pipi pucat istrinya.
"Inara... Bangun dan jangan terlalu lama tidur! Jangan buat aku merasa bersalah karena yang terjadi padamu!" bisik Mahesa parau, suaranya pecah di tengah sunyi.
Perlahan, setelah igauan menyakitkan itu mereda, kelopak mata Inara terbuka dengan sangat lambat. Manik matanya yang biasanya bersinar cerah kini tampak begitu redup, kosong, dan tidak fokus. Dia menatap langit-langit kamar yang asing, sebelum akhirnya pandangannya bergulir jatuh pada sosok Mahesa yang berada di sampingnya.
Keheningan kembali merayap. Inara menatap Mahesa tanpa ekspresi. Mahesa menatap kedua manik Inara dalam. dia hanya menemukan luka di dalam sana.
"Mas..." panggil Inara, suaranya sangat datar, sedatar garis kematian.
"Iya, Inara? Ada yang sakit? Bagian mana yang sakit? Biar saya panggilkan Dokter Tirta," tanya Mahesa bertubi-tubi dengan raut wajah yang luar biasa cemas.
Inara menarik napasnya perlahan, merasakan dadanya yang masih terasa nyeri luar biasa. Dia melirik selang infus yang menancap di tangannya, lalu kembali menatap Mahesa. Sudut bibirnya yang terluka terangkat sedikit, membentuk sebuah senyuman. Bukan senyum manis sandiwara, melainkan senyum kepasrahan yang teramat menyedihkan.
"Kenapa Mas menyelamatkan aku?" tanya Inara lirih.
"Bukankah kalau aku ma-ti itu jauh lebih bagus untukmu, Mas! Bukankah kalau aku tidak ada, Mas bisa langsung kembali pada Mbak Clarissa tanpa harus menunggu kamu mendapatkan semua aset milik keluarga Dirgantara? Aku lelah, Mas. Lagi pula aku sudah tak punya siapa-siapa!"
Degh
Mahesa mematung. Kata-kata yang keluar dari mulut Inara yang baru saja sadar.
"Inara!"
"Aku lelah sekali, Mas," potong Inara, air matanya mengalir tanpa ada isakan fisik.
Dia memalingkan wajahnya ke arah lain, enggan menatap pria yang teramat dia cintai namun juga menjadi sumber trauma terbesarnya.
"Tolong panggilkan pengacara Mas. Aku akan tanda tangani surat cerainya sekarang. Aku tidak akan meminta sepeser pun harta dari keluarga Dirgantara. Tapi aku mohon, biarkan aku menemani Ibu di sisa waktunya. Jangan siksa aku lagi di rumah ini. Masalah hutang Ayah, aku akan menyicilnya walau sampai sisa hidupku. Atau selamanya!"
Di bawah temaram lampu kamar utama yang mewah, Mahesa hanya bisa membisu dengan rongga dada yang terasa remuk redam. Dia tersadar, dia mungkin berhasil menahan raga Inara di rumahnya, namun jiwa wanita itu telah lama mati dan hancur berkeping-keping karena kekejamannya sendiri.
Dua hari berlalu dalam keheningan yang serba canggung. Kamar utama Mahesa diubah layaknya ruang perawatan VIP, lengkap dengan seorang perawat privat yang bersiaga di rumah itu. Selama dua hari itu pula, Mahesa tidak pernah absen menemaninya di dalam kamar.
Meski pria itu tidak banyak bicara, Inara merasakan ada perubahan yang tak biasa. Mahesa yang biasanya selalu menatapnya dengan pandangan merendahkan, kini kerap tertangkap basah sedang memandangnya dengan gurat kecemasan. Bahkan, sesekali pria itu sendiri yang menyuapkan bubur atau membantunya minum obat jika sang perawat sedang keluar.
Perlakuan hangat yang belum pernah Inara rasakan selama satu tahun pernikahan ini perlahan-lahan mulai mengikis bongkahan es di hatinya. Di sela-sela rasa sakit fisiknya, secercah harapan kecil kembali tumbuh subur di dalam dada Inara.
Apakah Mas Mahesa sudah mulai membuka hatinya untukku?
Apakah ketakutannya saat aku pingsan kemarin adalah bukti bahwa dia tidak sepenuhnya membenciku?
Pikiran-pikiran naif itu membuat Inara tersenyum tipis pagi ini. Tubuhnya sudah jauh lebih segar. Rona merah di pipinya mulai kembali, dan selang infus pun telah dilepaskan dari punggung tangannya oleh Dokter Tirta beberapa jam yang lalu.
Pukul tujuh malam, Mahesa masuk ke dalam kamar setelah seharian berada di kantor. Inara yang sedang bersandar di kepala ranjang langsung menegakkan tubuhnya, menyambut sang suami dengan senyuman tulus yang sudah lama tidak ia perlihatkan.
"Mas sudah pulang? Mau aku buatkan,"
"Tidak usah. Duduk saja," potong Mahesa datar.
Langkah kaki Mahesa terdengar tegas, mengetuk lantai dengan ritme yang sama seperti sebelum Inara jatuh sakit. Tidak ada lagi langkah ragu atau kepanikan yang Inara lihat beberapa hari lalu. Pria itu meletakkan tas kerjanya di meja, lalu berbalik menatap Inara dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.
Tatapan mata Mahesa telah kembali. Dingin, tajam, dan penuh jarak.
"Saya lihat kondisimu sudah jauh lebih baik," ucap Mahesa, suaranya terdengar seperti seorang atasan yang sedang mengevaluasi kinerja bawahannya.
Hati Inara mendadak berdesir ngilu. Rasa hangat yang sempat ia pupuk selama tiga hari ini mendadak menguap, digantikan oleh firasat buruk yang mulai merayap di tengkuknya.
"Iya, Mas. Aku sudah merasa jauh lebih sehat," jawab Inara, mencoba mempertahankan senyumnya walau kini terasa kaku.
"Bagus kalau begitu," sahut Mahesa dingin.
Pria itu berjalan mendekati ranjang, namun tidak untuk duduk di samping Inara atau menggenggam tangannya seperti kemarin. Dia berhenti dalam jarak dua meter.
"Besok pagi, kamu bisa kembali pindah ke kamarmu di bawah."
Degh
sana bawa tuh cewek benalu...
kak ayoo donk ,,
dtggu pake. bangeet kelanjutan ny ,,
pengen liat muka ungu mahesa krn kenyataan tak sesuai ekspetasii ny ,, Dan muka ijooo Clarissa krn semua tdk sesuai keinginan ny 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭