Alih-alih menikmati fasilitas orang tuanya Sheeva memilih menepi dan hidup di panti asuhan sejak duduk di bangku kelas 8 menengah atas. Banyak hal membuatnya memutuskan demikian
lantas apa yang mendorong gadis sekecil itu menjauh dari dekapan hangat keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayra Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan ganggu kenyamanan Sheeva
Sheeva masih menikmati batagor yang tinggal beberapa potong di piringnya, sembari di temani dengan obrolan bareng Kay dan dua temannya. bersama Rama Kay bisa tertawa lepas, ternyata pa yang di ucap Nindy benar, Rama memang sekocak itu.
" Sheev itu teman kamu ?" Sheeva menoleh kearah tunjuk Faris.
Rupanya sejak tadi ada anggota osis yang roman-romannya ingin memanggil Sheeva tapi, takut mau maju.
" Ada Fit ?" Sheeva mengambil inisiatif.
" Itu Sheev, kamu di cari Bisma katanya ada yang mau di rapatin "
" Ya sudah tunggu sebentar " Sheeva segera mengemas barang bawaannya.
Pesona dan aura seorang Kay memang luar biasa. Lihatlah dua Anggota osis yang menjemput Sheeva langsung kicep saat melihat kay melotot karena mereka menyebut nama Bisma. Pantas saja sih, muka kay jutek begitu 🤭🤭🤭.
" Kak sorry ya aku duluan ?" Ucap Sheeva.
" Hemm " Cuma itu jawaban Kay.
Sepertinya Kay merasa jika kehadiran dua bocah bertitel anggota pengurus osis itu sebagai penganggu. Mukanya langsung masam, terlebih setelah nama Bisma di sebut.
" Slow Kay, masih ada hari esok kawan " Kay Melotot ke arah Rama.
Sementara itu Sheeva berjalan kearah ruang osis. Karena biasanya jika ada rapat pasti di ruang osis.
" Sheev kamu deket ya sama Kay ?" Sheeva menghela nafas. Dia menghentikan langkahnya lalu, menoleh kearah belakang.
" Itu kamu kok bisa akrab gitu sama mereka ?" Sepertinya dua orang itu belum menyadari juga ketidak nyamanan Sheeva.
" Memang ada aturanya gitu, harus deket dulu baru bisa ngobrol akrab ? "
" Biasanya ? " siswa yang bernama Fitri nampak hati-hati menyampaikan pertanyaannya.
" Biasanya gue cuek gitu ?"
" Perlu kalian tau. Gue cuma membatasi diri dari hubungan yang tidak bermanfaat. Untuk kak Kay dan The king, kebetulan aku ada proyek bareng mereka "
" Ha ..!"
" Ini yang membuat gue malas bergaul. Jiwa kepo kalian lebih condong pada kehidupan orang lain ketimbang ke hal-hal yang lebih bermanfaat, pelajaran contohnya."
Sheeva melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan dua anggota osis yang tadi menjemputnya. Kekesalan Sheeva semakin bertambah kala memasuki ruang Osis namun tidak ada siapapun di sana.
" Mana Bisma ?"
" Nungguin kamu di venue Sheev " Sheeva menghela nafas panjang. Mencoba merendam amarahnya.
" Kenapa nggak bilang ?" Keduanya terdiam.
" Sebenarnya maunya Bisma apa sih, ngajak rapat kok di venue ? " Ucap Sheeva sembari memutar langkahnya ke rah gor sekolah.
Benar saja Bisma ada di venue, kelihatan sekali kalau anak itu sedang kebingungan.
" Bis .." Seru Sheeva.
" Akhirnya kamu datang Sheev "
" Ada apa memangnya ?"
" Jadi begini Sheev, team aku yang mendampingi juri memeriksa setiap rekaman kamera dan CCTV di arean pertandingan tiba-tiba sakit baru aja di bawa ke UKS. Tolong bantuin ya ?" Sheeva terlihat ,menghela nafas.
" Memang tidak ada cadangannya apa ?" Bisma mengeleng.
" Kebiasaan kamu mah Bis. Apa-apa itu harus ada cadangannya buat mengatisipasi hal-hal seperti ini. Kamu meng handle even besar begini bukan baru sekali ini lho Bis."
Jika baru sekali, Sheeva bisa maklum. Tapi sudah berkali-kali dan selalu saja ada misnya. Terlebih jika Sheeva tidak terlibat di dalamnya.
Mau tak mau Sheeva duduk di depan laptop. Lalu. Mengikuti setiap intruksi dari juri yang ingin melihat potongan gambar untuk memastikan pertandingan berjalan dengan adil. Untung saja ini sudah sekmen terakhir.
'' Lho loe kok disini. Loe bukan bagian dari panitia kan ?" Ini yang akan membuat Sheeva semakin muak.
" Hobby amat sih cari pangung " Mulut Jasmine benar-benar tak bisa dikondisikan. Benar sih jika ada yang bilang jika sekolah elit belum tentu akhlak muridnya elid juga.
" Sorry Bis, aku nggak bisa bantu. Kamu suruh team kamu aja yang kerja " Hampir saja Sheeva bangkit. Namun team juri memberikan intruksi kembali.
Jika tidak mengingat ini menyangkut reputasi sekolahnya, sudah pergi begitu saja Sheeva. Tapi, dia tidak mau sekolahnya ter citra buruk di luar sana.
" Loe jangan rese Jas. Team kita yang bagian ini sakit. Gue yang minta Sheeva buat bantu disini. Ini urgent jas, jangan mulai bikin keributan " Sheeva memilih fokus pada intruksi Juri. Dia tak peduli dengan Jasmine dan Bisma yang sedang adu mulut.
" Kan bisa kamu suruh yang lain " Bisma menatap jengah kearah Jasmine.
" Loe pikir part ini bisa dikerjakan sembarang orang. Kalau loe merasa diri loe kompeten silahkan gantikan posisi Sheeva."
" Ada apa ini ?" Untung pak Nanta salah satu guru SMA Harapan bangsa datang.
" Ini lho pak, Sheeva kan bukan panitia tapi, ada disini. Ini kan arean steril pak " Adu Jasmine.
" Mohon maaf pak, Revan yang seharusnya bertugas di sini mendadak sakit. Jadi saya minta tolong Sheeva buat membantu disini pak. Karena sesuai yang kita tau pak, part ini tidak bisa di kerjakan oleh sebarang orang begitukan pak ?"
" Yang di bilang Bisma benar jasmine. Disini butuh ketelitian dan keahlian. Di sini selain Kay dan kawan-kawan hanya Sheeva yang ahli dalam IT. Akan tidak relevan kalau kita minta Kay yang mengawasi, sementar Yongki yang tidak lain sahabat baiknya lah yang sedang bertanding. Jika ini di ketahui kubu lawan, bisa di anggap kita sabotase permainan. Sudah tepat jika Bisma minta tolong pada Sheeva. Atau kamu bisa, silahkan biar Sheeva mundur "
Jasmine nampak cemberut mendengar ucapan pak Nanta. Dia memilih meninggalkan tempat itu dengan diikuti dayang-dayangnya. Bisma menghela nafas lega.
" Lain kali siapkan cadangan seperti kata Sheeva Bis. Agar tidak terjadi lagi hal seperi ini. "
" Baik pak, akan saya ingat "
Sementara Sheeva memilih fokus pada jalannya pertandingan yang mungkin tinggal beberapa menit lagi.
" Bis sudah aku simpan Filenya. Buka aja link yang sudah aku buat kemaren jika nanti ada juri yang ingin melihat ulang pertandingan tadi. Aku balik Bis " Sheeva berlalu tanpa menunggu jawaban Bisma.
Sheeva memilih langsung menuju Halte setelah mengambil barangnya yang dia tinggal di ruang osis tadi. Masih banyak siswa dari sekolah lain yang sebagian memilih duduk-duduk di bawah pohon rindang yang ada di halaman sekolah.
Sheeva tak memperdulikan saat banyak siswa dari sekolah lain memanggil namanya. Entah dari mana mereka tau nama Sheeva. membuat Sheeva makin malas berlama-lama berada dilingkungan sekolahnya.
Setelah sampai di halte yang ada di depan sekolahnya, belum juga ada angkutan yang nge tem di sana. Sheeva sudah berkali-kali order ojek atau taksi online namun belum ada yang merespon orderannya.
" Sheev..!" Makin malas saja Sheeva di buatnya.
" Kamu mau pulang, hayo gue anterin ?" Sheeva tak megubris ucapan Pamungkas.
" Ayo Sheev, panas banget lho di sini "
" Aku udah pesan taksi " Sheeva jengah juga rupanya.
" Ya udah gue temenin sampai taksimu datang " mungkin kalau tidak dilingkungan sekolah sudah lemparin sepatu saudara tirinya itu.
Baru saja Pamungkas akan turun dari motornya dan berniat menemani Sheeva. Sebuah mobil sport warna hitam mengkilat berhenti tetap di belakang motor Pamungkas.
" Sheev ayo naik !" Rupanya itu Kay.
" Katanya mau lihat motor kamu di bengkel ?" Sheeva nampak bingung karena tak merasa janjian mau melihat motornya di bengkel Rama.
" Jadi nggak ?" Kay mengedipkan matanya seolah memberi kode agar Sheeva ikut.
Sheeva yang menyadari itu segera saja masuk kedalam mobil Kay. Dia meninggalkan Pamungkas yang menatapnya kecewa. Sheeva tak lagi peduli saudara satu ayahnya itu mau beranggapan apa tentang dirinya.
Tanpa di duga Kay benar-benar membawa Sheeva ke bengkel miliknya.
" Beneran kesini kak ?"
" Lihat kebelakang Sheev ?" Sheeva mengikuti intruksi Kay.
Rupanya Kay menyadari jika sedari awal Pamungkas mengikuti mereka.
" Ya Salam kenapa kayak orang kurang kerjaan aja sih dia " Ucap Sheeva sembari keluar dari dalam mobil Sheeva.
" Loe nggak ada kerjaan ya, sampai ngikutin gue begini " Sheeva benar-benar meluapkan emosinya.
" Atau jangan-jangan .." Sheeva menatap Pamungkas penuh selidik.
" Loe di janjiin apa sama bang Jagad buat mata-matain gue ?"
" Apaan sih ?"
" Berhenti ngikutin gue. Sebelum loe benar-benar melihat sisi gilanya gue "
" Kita kan saudara Queen, apa salah kalau gue khawatir sama elo?"
" Sejak kapan kita saudara. Waras loe ngomong gitu ?"
" Sheev.." Kay mendekat setelah dia merasa emosi Sheeva mulai meledak-ledak.
" Are you oke ?"
" Oke kak "
" Ada perlu apa sama Sheeva ?" Kay mengemam tangan Sheeva dan membawa tubuh Sheeva ke sampingnya.
" Loe tau bukan, apa yang loe lakuin udah bikin Sheeva tak nyaman ?"
" Bisa tidak loe jaga jarak dari Sheeva ?"
" Siapa loe ngatur-ngatur ?" Pamungkas tak terima sepertinya.
" Loe sudah tau siapa gue kan tanpa perlu gue jelasin "
" Gue peringatin sekali lagi, jangan ganggu kenyamanan Sheeva. Atau loe mau kejadian dua bulan lalu terulang lagi "
Pamungkas memundurkan langkahnya. Entah kejadian apa yang terjadi dua bulan lalu, yang membuat seorang Pamungkas keder.
terlalu berat beban hidup sheeva..