Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 : Awal bencana sesungguhnya
Aris dan Liora merangkak mengikuti jalur pipa misterius itu hingga ujung lorong. Melalui celah sempit di penutup saluran pembuangan, mereka melihat sebuah ruang luas dengan kaki-kaki toren air raksasa yang berdiri kokoh. Cahayanya remang-remang, namun Aris bisa memastikan pipa ilegal itu tersambung ke sana. Tanpa tahu siapa yang mengelolanya, mereka memutuskan untuk mundur agar tidak menjadi kecurigaan petugas yang memonitor mereka.
Namun, saat hendak berbalik, senter Liora menyorot sebuah pondasi beton penyangga lorong yang tampak retak. "Aris, lihat," bisik Liora sambil menyentuh serpihan semen yang lapuk. Beton itu terkikis habis, rontok hanya dengan sentuhan jari karena getaran konstan dari tekanan air di dalam pipa.
"Ini bahaya, Liora. Kita lapor saja?" kata Aris cemas.
"Tapi kalau kita lapor sekarang, mereka akan tanya kenapa kita bisa sampai sejauh ini," sela Liora. Setelah berdebat singkat, mereka sepakat untuk memantau sekali lagi esok hari. Jika pengikisannya memburuk, barulah mereka akan melapor secara resmi.
...----------------...
Keesokan paginya, suasana di gudang milik Cahyadi tidak seramai hari-hari sebelumnya, meski antrean masih terlihat.
Warga mulai kehabisan uang, sementara Cahyadi dan Dodi tetap tidak mau menurunkan harga sepeser pun. Mereka tidak menyadari bahwa di bawah kaki mereka, tanah sedang meregang.
Di bawah tanah, Aris dan Liora kembali ke titik pondasi kemarin. Wajah Aris pucat saat melihat beton itu kini sudah mengelupas parah. Pipa tua yang seharusnya kosong itu tiba-tiba bergetar hebat seolah dipompa secara paksa.
Krak! Bukk!
"Aris! Pipanya lepas!" Suara Maman terdengar panik dari radio. Aris segera menekan tombol bicara. "Maman! Jauhi pipa itu, jangan di pegang atau di tahan!"
Namun terlambat. Pipa besi besar itu menghantam kepala Maman hingga ia pingsan seketika dengan darah mengucur dari balik helm nya. Jaka, Agus, dan Ridwan segera berlari menolong. Suara gemuruh kecil mulai terdengar dari langit-langit lorong.
"Aris, Maman pingsan! Ada suara gemuruh di—" Laporan Jaka terputus. Suara radio berubah menjadi statis yang patah-patah sebelum akhirnya mati total.
Detik berikutnya, bencana terjadi. Pondasi lorong tempat keempat rekan mereka berada ambruk seketika. Tanah dan beton amblas, menciptakan lubang sedalam 15 meter yang menelan Jaka, Maman, Ridwan, dan Agus dalam sekejap.
"JAKA! AGUS!" teriak Liora histeris. Namun, pipa di dekatnya mulai meliuk-liuk tidak beraturan, menyemprotkan cipratan air. Pondasi di depan Aris roboh beruntun.
"Liora, lari!" teriak Aris sambil menarik lengan Liora. Mereka melihat sebuah pintu besi berkarat di dinding lorong. Aris menariknya sekuat tenaga. Pintu itu hanya terbuka setengah, macet. Di tengah kepanikan, Aris mendorong Liora masuk lebih dulu. Saat gilirannya masuk, sebuah besi tajam yang bengkok menyayat lengan Aris hingga robek. Ia meringis kesakitan, namun terus menarik pintu itu hingga tertutup rapat tepat saat lorong di luar mereka runtuh dengan suara dentuman yang memekakkan telinga.
...----------------...
Pada saat yang sama di permukaan, Surya sedang bersiap mengangkat galon-galon air. Ia sempat terhenti ketika mendengar gesekan besi dari penyangga toren di atasnya. Ia tidak menyadari gesekan itu akibat getaran yang berasal dari rongga besar yang tercipta di bawah bangunan.
Cahyadi dan Dodi juga merasakan gemuruh itu, tapi mereka hanya saling pandang dengan bingung. Tiba-tiba, suara retakan besar terdengar dari arah bak penampungan air. Tanah di bawah penampungan itu amblas, menelan bak raksasa tersebut ke dalam perut bumi.
"Tolong! Dodi.............!" teriak Surya saat ia terperosok masuk ke dalam lubang yang terbuka tepat di bawah kakinya.
Cahyadi dan Dodi panik, mencoba berlari menuju pintu keluar, namun bangunan pabrik mulai goyah dan miring. Warga yang mengantre di luar berteriak histeris, namun banyak dari mereka terjebak karena pagar terkunci.
BUMM!!
Sebuah lubang besar berdiameter belasan meter terbentuk seketika. Bangunan pabrik itu runtuh, membawa Cahyadi, Dodi, dan puluhan warga masuk ke dalam lubang sedalam 15 meter. Toren air di atas ikut roboh, pecah menghamburkan ribuan liter air ke dalam reruntuhan. Pipa-pipa yang patah kini menyemburkan air dengan deras, merendam segala sesuatu yang tertimbun di dasar lubang—tanah, batu, beton, dan tubuh-tubuh yang tak berdaya. Air hasil "penyulingan" mereka sendiri kini mengalir deras menuju reruntuhan yang gelap.
......................
Kekacauan pecah di permukaan. Petugas pengawas yang berada di atas area kerja Aris mendadak merasakan getaran hebat di bawah kaki mereka. Dalam hitungan detik, beberapa titik tanah di sekitar jalur pipa mulai amblas, menciptakan lubang-lubang menganga yang menelan material bangunan dan peralatan kerja.
Sirine darurat mulai meraung membelah udara, memicu kepanikan massal.
"Evakuasi! Semuanya menjauh dari jalur galian!" teriak petugas melalui pengeras suara. Relawan yang berada di posisi aman berlarian menyelamatkan diri, namun nasib nahas menimpa beberapa kelompok kerja, termasuk kelompok Aris yang berada di titik paling parah dan tertimbun reruntuhan beton serta tanah.
Suasana menjadi sangat sibuk. Petugas keamanan dibantu oleh relawan yang selamat mulai melakukan pencarian darurat untuk menemukan korban yang mungkin masih bisa diselamatkan dari bibir lubang. Di posko utama, petugas medis mulai melakukan pengecekan nama relawan untuk mendata siapa saja yang sudah berada di zona aman.
"Cek kelompok empat! Siapa saja yang sudah kembali?" teriak pimpinan petugas dengan wajah tegang.
Di pos tempat Aris terdaftar, suasana sedikit mencekam. Beberapa relawan dari kelompok lain terduduk lemas dengan luka ringan hingga luka berat. Darah dan debu menutupi pakaian safety mereka. Petugas segera menghubungi beberapa rumah sakit untuk meminta bantuan ambulans tambahan guna mengevakuasi para korban yang terus bertambah.
Ketika pimpinan petugas ditanyai oleh koordinator lapangan mengenai status kelompok Aris, ia hanya bisa menggeleng lemah. "Kelompok Aris... enam orang, termasuk satu perempuan. Radio mereka mati total. Terakhir mereka berada di sektor pipa tua yang sekarang amblas sepenuhnya. Tidak ada yang bisa dihubungi."
Berita tentang bencana amblasnya tanah di lokasi proyek darurat air ini segera menyebar luas. Kota yang tadinya hanya berharap mendapatkan solusi air bersih, kini justru dilanda duka mendalam.
Masyarakat mulai melayangkan protes dan kecaman; pemerintah yang mereka harapkan membawa keselamatan justru dianggap memberikan bencana baru melalui proyek yang terkesan dipaksakan.
Kabar ini pun sampai ke pemukiman tempat tinggal Aris. Pak RT, Pak Heru, dan warga lainnya berkumpul di depan toko Sumber Makmur yang masih tertutup rapat. Mereka menatap layar televisi di warung sebelah dengan raut wajah cemas.
"Aris... anak itu ada di sana," gumam Pak RT dengan suara bergetar.
"Semoga dia selamat," sambung Pak Heru sambil menatap ke arah jalanan, berharap melihat sosok Aris atau Liora pulang. Doa-doa mulai dipanjatkan oleh para tetangga, meskipun jauh di dalam hati, mereka tahu bahwa kemungkinan selamat dari reruntuhan sedalam itu sangatlah kecil.
Kota kini tidak hanya kering, tapi juga diselimuti rasa takut yang luar biasa.
...****************...