NovelToon NovelToon
ISTRI BERCADAR MAFIA

ISTRI BERCADAR MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

ISTRI BERCADAR MAFIA

​Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
​Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.

​Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.

​Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.

Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ISTRI BERCADAR MAFIA

​Bab 11: Bayangan Pengganti dan Ujian Ketenangan.

​Pelepasan Tino meninggalkan lubang yang signifikan dalam struktur Black Vipers, terutama bagi Alaska. Bukan sekadar kehilangan pengawal, tetapi kehilangan seseorang yang memahami ritme hidupnya, yang menemaninya dari nol. Kepergian itu adalah pengkhianatan ganda pada bisnisnya dan pada egonya. Alaska merasa seperti seorang raja yang bentengnya mulai direbut sehelai demi sehelai oleh kelembutan yang ia nikahi.

​Kehampaan di Kursi Depan.

​Dua hari pertama tanpa Tino terasa asing. Alaska mengemudi sendiri, atau sesekali menyuruh salah satu pengawal inti untuk mengemudi, tetapi tidak ada yang bisa menggantikan ketenangan Tino. Kekosongan kursi pengemudi itu seolah memajang kegagalannya.

​Pagi itu, Alaska sedang bersiap untuk perjalanan bisnis penting. Sania menghampirinya di ruang tamu sebelum Alaska pergi. Sania menyodorkan sebuah termos berisi teh hangat.

​"Minumlah ini, Tuan," ujar Sania tenang. "Ini teh jahe dengan madu. Untuk menjaga stamina Anda di perjalanan. Setelah Tino pergi, Anda terlihat kurang tidur."

​Alaska mengambil termos itu tanpa melihat Sania. "Aku tidak butuh belas kasihanmu, Sania. Aku butuh ketenangan. Dan kau telah merenggutnya."

​"Tuan," Sania merespons dengan suara lembut yang menusuk. "Ketenangan tidak dapat dirampas. Ketenangan adalah hadiah dari Al-Haqq (Yang Maha Benar) bagi hati yang mendekat pada-Nya. Anda tidak kehilangan Tino, Anda kehilangan ilusi bahwa uang bisa membeli kesetiaan yang sejati. Tino hanya menemukan harga dirinya di tempat yang lebih tinggi."

​Alaska mendengus. "Omong kosong. Dia menemukan jalan karena kau meracuninya dengan kitab-kitabmu."

​Sania tersenyum di balik cadarnya. "Saya tidak meracuni siapa pun, Tuan. Saya hanya menaburkan benih. Benih itu hanya akan tumbuh di tanah hati yang subur. Hati Tino sudah subur karena kerinduannya pada ridho istrinya. Itu adalah fitrah seorang suami, Tuan. Suami yang baik adalah yang tangannya tidak diisi oleh harta yang membuat istrinya jauh dari surga."

​Alaska terdiam, menatap termos di tangannya. Ia ingin membentak, tetapi kata-kata Sania selalu memojokkannya pada dalil yang tak terbantahkan.

​Kedatangan 'Si Pisau Dingin'.

​Sore harinya, pengganti Tino tiba. Namanya Kaito.

​Kaito jauh berbeda dari Tino yang ramah dan bersahaja. Kaito adalah seorang mantan tentara bayaran dari tim elite, dengan perawakan tinggi, mata tajam yang dingin, dan bekas luka melintang di rahangnya. Ia bergerak dengan presisi mematikan dan nyaris tanpa ekspresi. Tangan kirinya selalu menggenggam erat roda kemudi, sementara mata kanannya tak pernah lepas dari kaca spion, memindai setiap bayangan. Alaska menyebutnya 'Si Pisau Dingin'.

​"Mulai sekarang, dia yang akan mengawal dan mengantarmu, Sania," kata Alaska kepada Sania, saat mereka bertiga berdiri di ruang tamu.

​Sania mengangguk patuh, tetapi pandangannya tertuju pada Kaito. Kaito hanya mengangguk singkat, tanpa menyapa. Kehadirannya memancarkan aura bahaya yang nyata, bukan sekadar ancaman, melainkan mesin penghancur yang terlatih.

​"Kaito," Alaska menekankan, "Kau bertugas menjaga Nyonya Sania. Tugasmu adalah memastikan dia aman dan sampai di tujuan. Jangan pernah ikut campur dalam urusan pribadinya, apalagi mendengarkan nasihat agamanya. Kau mengerti?"

​"Mengerti, Tuan," jawab Kaito dengan suara serak dan datar.

​Sania menatap Alaska. "Tuan Alaska, bukankah Anda hanya menyiksa diri sendiri? Anda bisa mengganti pengawal, tapi Anda tidak bisa memblokir hidayah. Jika Anda berbuat demikian, Anda sama saja seperti orang yang menimbun matahari dengan sekop."

​"Aku tidak menimbun matahari, Sania. Aku hanya memasang pagar kawat berduri di sekitar hartaku!" balas Alaska tajam. "Aku sudah muak dengan rencanamu untuk membersihkan semua orang di sekitarku!"

​"Tidak ada rencanaku, Tuan." Sania membalas dengan nada yang sama-sama tegas. "Yang ada hanyalah rencana Allah. Dan bagi orang yang bertaqwa, 'Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.' (QS. At-Talaq: 2-3). Saya yakin, Tino akan mendapatkan rezekinya yang halal, dan Kaito... Kaito pun punya pintu yang bisa diketuk."

​Kaito, yang selama ini diam seperti patung, mengangkat alisnya sekilas. Ekspresi kecil itu tidak luput dari pandangan Sania.

​Ujian Ketenangan.

​Sesi bimbingan agama Sania tidak berhenti. Setiap kali Kaito mengantarnya ke majelis, suasana di mobil terasa seperti ruang penyiksaan sunyi. Kaito fokus pada jalanan, mengabaikan Sania sepenuhnya.

​Sania mencoba membuka percakapan, menawarkan air, atau bertanya tentang kesehatannya. Kaito selalu menjawab dengan satu atau dua kata, dingin dan defensif.

​"Kaito," Sania berkata lembut saat mereka menunggu di lampu merah, "Anda terlihat selalu tegang. Bolehkah saya bertanya, apa yang paling Anda rindukan?"

​"Tidak ada, Nyonya," jawab Kaito, matanya terpaku pada kaca spion.

"Rasa rindu hanyalah kelemahan."

​"Itu tidak benar, Kaito," Sania membantah perlahan. "Nabi kita, Muhammad SAW, sangat merindukan umatnya. Rindu kepada kebaikan dan kebenaran bukanlah kelemahan. Justru sebaliknya. Bukankah Anda merindukan saat-saat di mana Anda tidak perlu khawatir ada musuh yang mengintai Anda di setiap sudut?"

​Kaito menekan pedal gas saat lampu hijau menyala, mempercepat laju mobil, seolah ingin melarikan diri dari pertanyaan Sania.

​"Tuan Alaska membayar saya untuk tidak khawatir, Nyonya. Saya dibayar untuk mengurus kekhawatiran orang lain," katanya sinis.

​Sania menggeleng. "Anda tidak bisa membohongi diri sendiri, Kaito. Hati Anda, hati setiap manusia, merindukan kedamaian. Dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah berfirman: 'Barangsiapa yang menghadap kepada-Ku sejengkal, Aku akan menghadap kepadanya sehasta. Barangsiapa yang menghadap kepada-Ku sehasta, Aku akan menghadap kepadanya sedepa.' (HR. Muslim). Pintu kedamaian itu selalu terbuka. Anda hanya perlu membalikkan badan dan berjalan ke arahnya, bukan lari darinya."

​Kaito tidak menjawab. Ia hanya mengencangkan rahangnya. Namun, Sania tahu, kata-kata itu telah mendarat. Ia melihat bagaimana tangan Kaito, yang biasanya dingin, kini sedikit bergetar di kemudi.

​Ekspresi Kecemburuan Alaska.

​Beberapa hari kemudian, Alaska menyadari sesuatu yang lebih menjengkelkan. Kaito adalah pengawal yang terlalu patuh. Ia tidak berinteraksi, tidak bicara, dan tidak pernah menunjukkan tanda-tanda 'keracunan' yang dialami Tino. Ironisnya, ketaatan total Kaito justru membuat Alaska gelisah.

​Alaska memanggil Sania ke ruang kerjanya.

​"Kau tidak berhasil pada Kaito," sindir Alaska. "Si Pisau Dingin tidak semudah anak itik seperti Tino."

​"Tuan," Sania berdiri tegak. "Saya tidak sedang mencoba 'berhasil'. Saya hanya melaksanakan tugas saya sebagai istri yang baik. Saya memenuhi nafkah batin Tuan. Bukankah nafkah batin seorang istri yang sholehah juga adalah berdakwah, menyeru kebaikan, dan mencegah kemungkaran? Dan bukankah Anda yang berjanji akan memberikan saya kebebasan beribadah?"

​Alaska mengepalkan tangannya. "Aku mengizinkanmu beribadah, Sania, bukan mengubah anak buahku menjadi Ustadz!"

​"Anda salah, Tuan," Sania membalas, matanya yang teduh menatap lurus ke arah Alaska. "Saya tidak mengubah siapa pun. Saya hanya memantulkan cahaya. Dan jika hati mereka bersih, cahaya itu akan menyala. Anda seharusnya cemburu pada Tino, bukan karena ia meninggalkan Anda, tetapi karena ia berani memilih jalan yang benar. Anda cemburu melihat orang lain mendapatkan kedamaian yang tidak bisa dibeli oleh seluruh harta Black Vipers!"

​Kata-kata 'cemburu' itu lagi-lagi menghantam titik lemah Alaska. Ia memang cemburu. Ia cemburu pada kemudahan Tino melepaskan, cemburu pada ketenangan Sania, dan cemburu pada kedamaian yang ia rasakan sesaat setelah membebaskan Tino.

​Alaska meraih cerutunya, tetapi sebelum menyalakannya, ia merenung. 'Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar...'.

​"Aku akan memberimu pengawal baru lagi minggu depan," kata Alaska, suaranya lebih pelan. "Aku akan membiarkan Kaito kembali ke tugasnya yang lain. Dia terlalu berbahaya untuk pekerjaan sehari-hari."

​Sania hanya mengangguk. "Tuan, Anda tidak akan pernah bisa melarikan diri dari kebenaran. Anda bisa mengganti orang, tetapi Anda tidak bisa mengganti takdir. Dan takdir Anda, Tuan, adalah petunjuk yang terus menerus datang kepada Anda, melalui tangan istri Anda."

​Alaska mengusap wajahnya, kekalahan dan kelelahan bercampur menjadi satu. Sania hanya meninggalkan ruangan itu dengan salam, meninggalkan Alaska tenggelam dalam pusaran batinnya sendiri. Sang Mafia mulai menyadari, perang terbesar yang sedang ia hadapi bukanlah melawan musuh bisnisnya, melainkan melawan cermin di hadapannya sendiri.

​__Perdamaian sejati dimulai ketika seseorang berhenti mencoba mengendalikan takdir orang lain, dan mulai memperbaiki takdirnya sendiri. Kekuatan terbesar seorang manusia bukan terletak pada kekuasaan atas harta, melainkan pada kerelaan melepaskan segala hal yang membebani jiwanya dari mendekat kepada Pencipta__

Bersambung ....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!