NovelToon NovelToon
Pria Manis Yang Ku Benci

Pria Manis Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:214
Nilai: 5
Nama Author: ScarletWrittes

Alia merupakan wanita yang cantik dan lugu dulunya dirinya, hanya wanita polos yang mungkin bisa di bilang hanya wanita biasa dengan paras yang biasa dan tidak tertarik sama sekalia, karena alia hanya tertuju kepada keinginanya yaitu belajar, sampai dirinya bertemu dengan arnold pria yang kakak kelas tingkat 3 di banding dirinya, kakak itu sma 3 dan alia smp 3, alia menganggumi arnold layaknya pasangan sayangnya cinta alia tidak di balas melainkan hanya di permalukan di depan umum, sampai akhirnya 4 tahun sudah mereka bertemu kembali, di tempat perjodohan arnold awalnya tidak tahu siapa wanita cantik itu, sampai akhirnya dia tahu dan kaget.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ScarletWrittes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Papa menghampiri mereka dengan senyum. Tidak lama, Alia menatap ke arah papanya juga. Lalu papanya mendekap mereka bersamaan, seperti keluarga Cemara.

Alia tidak menyangka kalau papanya bisa melunak hatinya seperti itu, sampai akhirnya Alia menatap ke arah papanya sambil tersenyum.

> “Papa, makasih ya. Alia sayang Papa.”

“Ya, sayang. Papa juga. Jangan bandel lagi, ya. Kalau bandel lagi, Papa nggak tahu lagi deh sama kamu. Jangan panggil Papa, Papa kamu, oke?”

Alia hanya tersenyum kepada papanya. Tidak lama, mereka kembali seperti keluarga Cemara. Setelah itu, Alia hanya diam. Akhirnya mereka memilih untuk pulang ke rumah.

Sampai di rumah, Alia menatap ke arah mama dan mendekap mamanya. Mamanya melihat ke arah Alia. Tidak lama, Alia juga menatap ke arah mamanya.

> “Ada apa sih, Nak? Seperti ada yang mau kamu bicarakan ke Mama?”

“Ma…”

“Apa, sayang?”

“Alia sayang Mama.”

Mama yang mendengar itu tersentuh dan tidak menyangka kalau anak cantiknya ini bisa berkata demikian. Tidak lama, mama juga melihat ke arah Alia.

> “Ya, Mama juga sayang Alia.”

“Ma, Alia minta maaf ya sudah buat Mama kecewa sama Alia. Jujur, Alia nggak bermaksud untuk menyakiti hati Mama, tapi Alia mau Mama tahu kalau Alia selalu sayang Mama.”

“Ya, Mama tahu kok kalau Alia sayang Mama. Apalagi kalau Alia nggak pernah ngelawan Mama, benar nggak?”

Alia hanya tersenyum mendengar perkataan mamanya, sedangkan waktu sudah menunjukkan malam hari.

> “Ya sudah, sayang. Saatnya tidur, ya. Jangan mikirin yang aneh-aneh lagi. Mama dan Papa nggak akan pernah nggak sayang kamu kok. Lagian, kita cuma mau ‘mandiin’ kamu aja. Lebih baik maafin cara kita, ya. Mungkin memang salah.”

“Iya… Mama dan Papa nyebelin banget tadi. Aku nggak nyangka kalau Mama dan Papa bisa seperti itu sama aku, padahal aku anak kalian satu-satunya. Tapi kok kalian bisa begitu sih sama aku?”

“Kalau misalnya Mama dan Papa nggak begitu, pasti kamu nggak bakal berubah kan? Dan kamu tetap mengulangi hal yang sama.”

“Iya sih, benar… Tapi kan tetap aja, harusnya Mama dan Papa juga dengerin dong apa yang aku mau. Masa maunya didengerin doang?”

Alia tetap merasa kesal kalau mengingat kejadian tadi, tetapi mama hanya tersenyum kepada Alia, mencoba untuk mengerti perasaan anaknya juga.

> “Iya, Mama dan Papa janji nggak bakal begitu lagi. Dan minta maaf ya sama kamu. Makanya kamu jangan jadi anak yang bandel kalau misalkan nggak mau dikerjain kayak tadi.”

“Jahat banget. Padahal aku udah berusaha nggak nangis, tapi malah Papa berusaha bikin aku nangis. Benar-benar jahat!”

Mama hanya tertawa mendengar perkataan Alia. Akhirnya mama mencium kening Alia, lalu pergi dari kamar.

Alia merasa senang karena sudah berbaikan dengan kedua orang tuanya. Sekarang ia memikirkan lagi tentang Arnold.

> “Arnold lagi apa ya? Apa dia lagi mikirin aku juga? Astaga, Alia… ngarep banget sih. Ngapain juga Arnold mikirin kamu? Nggak jelas, dasar…”

Alia mencoba untuk mengerjakan PR, namun tidak lama kemudian ia kembali kepikiran Arnold. Alia mencoba untuk mengirim chat ke Arnold, tapi entah kenapa jarinya tidak mau sinkron dengan apa yang mau ia lakukan.

Padahal sudah tinggal tekan enter saja, tapi sulit sekali untuk Alia mengirim pesan tersebut. Akhirnya, penantian panjang itu berakhir dengan Alia tidak jadi mengirim pesan karena sudah malam hari dan takut mengganggu Arnold.

---

Sisi Arnold

Arnold juga mau mengirim chat ke Alia, tapi entah kenapa jarinya tertahan dan ia takut mengganggu karena Alia mungkin sedang istirahat. Akhirnya Arnold mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk menyapa besok pagi di sekolah.

Arnold mencoba tidur. Saat ia tidur menghadap kiri, Alia juga tidur menghadap kanan, seperti sedang tidur berhadapan di rumah yang berbeda. Tidak lama, keesokan paginya…

---

Meja makan Alia

> “Pagi, Ma, Pa.”

“Pagi.”

Alia mengambil sarapan. Tidak lama kemudian, handphone Alia berbunyi. Ia bingung, siapa yang pagi-pagi mengirim pesan. Saat dicek, Alia langsung senang sekali.

Seketika Alia lupa kalau dirinya sedang bersama mama dan papanya. Setelah itu, ia menatap ke arah mereka.

> “Hehe… maaf, Ma, Pa. Aku terlalu senang.”

“Ya nggak apa-apa sih. Emang kamu senang kenapa, sayang?”

“Haha… biasa, nilai aku bagus, Ma, Pa.”

“Oh, nilai apa? Coba Papa lihat.”

Alia mulai panik saat papa mau melihat nilai apa yang bagus. Tidak lama kemudian, handphone papa berdering dari kliennya.

> “Bentar ya, Papa angkat telepon dulu. Soalnya ini penting.”

“Oke, Pa.”

Papa pergi dari hadapan mereka. Alia menghela napas, lalu mama menatap ke arahnya.

> “Kamu ini ya, Al… iseng banget. Heran Mama sama kamu.”

Alia hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa. Tidak lama kemudian, ia pergi ke sekolah. Saat papa kembali ke meja makan, ia kebingungan.

> “Alia mana, Ma?”

“Sudah pergi sekolah, Pa. Nanti kalau nggak pergi, Alia akan telat.”

Papa hanya diam dan mengangguk. Ada benarnya juga kata mama.

---

Sesampai di sekolah

Alia langsung pergi ke kelas dan tidak menoleh ke kiri atau kanan. Lalu tangannya ditarik. Alia kaget saat melihat siapa yang menariknya, lalu tersenyum.

> “Arnold, ada apa kok kamu tarik tangan aku?”

“Ada yang mau aku bicarakan sama kamu.”

“Soal apa? Kayaknya aku nggak ada salah sama kamu. Jadi, apa yang mau kamu bicarakan sama aku?”

“Hem… emang harus ada masalah dulu baru bisa bicara, ya?”

Arnold merasa bingung dengan ucapan Alia, lalu mencoba berkata lagi.

> “Ya nggak juga sih. Cuman aku mau tahu aja… Kamu mau bicara apa gitu.”

“Ya nggak ada, cuman mau lihat kamu. Terdengar klasik ya? Maaf, emang aku begitu anaknya. Mau gimana lagi.”

Alia merasa senang mendengar itu. Mungkin karena yang berkata adalah Arnold. Kalau pria lain yang bilang, Alia mungkin akan menganggapnya gombal biasa.

> “Nggak sih, nggak klasik kok. Itu normal menurut aku, dan aku suka dengarnya. Kalau menurut aku, itu hal yang indah keluar dari mulut kamu. Makasih ya udah mencoba sayang aku. Dan aku juga akan mencoba sayang kamu.”

“Jadi, kalau andai kamu dan orang tuaku nggak merestui hubungan kita, gimana?”

“Yah… habis mau gimana? Emang bisa dipaksa? Aku sendiri juga bingung harus gimana kalau memang nggak direstui.”

Alia mendengar itu merasa senang sekaligus sedih, bingung mau berbuat apa. Tidak lama, Arnold mendekap kedua pundaknya.

> “Sudah, nggak usah dipikirin. Nanti juga ketemu titik tengahnya. Doain aja yang terbaik, ya. Kalau memang bukan yang terbaik, mau gimana lagi? Nggak semua selalu berjalan dengan lancar dan aman.”

“Ya… makasih ya, Arnold. Ya sudah, kalau gitu sekarang kita ke kelas aja. Bentar lagi guru mau datang.”

“Oke.”

Saat mereka keluar dari lorong, mereka berpapasan dengan guru BK. Guru BK berdehem saat melihat ke arah mereka.

> “Kalian habis dari mana? Dan Arnold, kenapa kamu di sini?”

Alia dan Arnold kaget, lalu bingung harus berbuat apa. Tidak lama, Alia menatap ke arah Arnold. Mereka berdua pergi dari hadapan guru BK dengan napas ngos-ngosan. Setelah menjauh, tanpa sadar mereka saling berpelukan.

> “Kenapa ya kita baru ketemu sekarang? Padahal kita udah cocok banget loh.”

“Yah… terkadang ada jalannya sendiri. Tapi ya sudah, karena kita udah bersama sekarang, aku akan selalu ngejagain kamu. Kapanpun kamu bener-bener jenuh sama aku, mungkin aku nggak akan tetap di sebelahmu.”

“Kok kamu begitu sih bicaranya? Emang sejak kapan aku bisa bosan sama kamu?”

Arnold hanya tersenyum kepada Alia. Sebenarnya ia juga tidak tahu mengapa berkata demikian. Namun Alia tetap menanggapi hal itu dengan pikiran positif.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!