NovelToon NovelToon
Jiwa Modern Sang Agen Rahasia : Pembalasan Permaisuri Lin

Jiwa Modern Sang Agen Rahasia : Pembalasan Permaisuri Lin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Agen Wanita / Time Travel
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Amber Mist

Lin Meilin adalah agen intelijen modern papan atas yang ditakuti karena keahliannya dalam taktik pertempuran dan racun mematikan. Namun, sebuah misi rahasia untuk merebut kembali Giok Dinasti Long yang hilang di luar negeri justru berakhir tragis. Meilin dikhianati oleh rekan seperjuangannya sendiri hingga sekarat.Saat tetesan darah Meilin menyentuh permukaan giok kuno tersebut, keajaiban mistis terjadi. Jiwanya terlempar melintasi waktu dan terbangun di dalam tubuh Permaisuri Lin—seorang wanita berkedudukan tinggi namun memiliki kepribadian yang sangat lemah dan penakut. Di dunia kuno ini, Permaisuri Lin baru saja diracun oleh selir kesayangan kaisar dan dibuang hingga terabaikan di Istana Dingin yang sunyi.Kini, tidak ada lagi permaisuri lemah yang bisa ditindas! Dengan jiwa agen rahasia yang haus akan keadilan, Meilin bangkit untuk mengacak-acak seisi istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amber Mist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Pembersihan Pertama di Istana Dingin

Pagi hari di Istana Dingin tidak pernah diawali dengan kehangatan. Sinar matahari yang menembus celah-celah jendela kayu yang lapuk hanya membawa siluet debu yang beterbangan. Lin Meilin duduk di tepi ranjang, perlahan menggerakkan lengan dan kakinya. Tubuh ini masih terasa lemas, tetapi berkat totokan titik saraf dan detoksifikasi mandiri yang ia lakukan semalam, sisa-sisa Racun Pengikis Jiwa sudah tidak lagi menyumbat aliran darahnya.

Tubuh ini terlalu rapuh, batin Meilin sambil mengepalkan tangan. Kulitnya terlalu tipis, otot-ototnya tidak terlatih, dan kapasitas parunya sangat kecil. Sebagai mantan agen elit, memiliki tubuh selemah ini adalah sebuah kerugian besar. Ia harus segera menyusun rencana latihan fisik terstruktur sembari mengumpulkan bahan-bahan herbal untuk memulihkan stamina dasarnya.

"Permaisuri... Anda sudah bangun?"

Xiao Cui masuk ke dalam kamar sambil membawa seember kecil air bersih. Wajah pelayan muda itu tampak lebih bengkak dibanding semalam. Ada bekas kemerahan baru di lengan kanannya, seolah ia baru saja ditarik paksa oleh seseorang.

Meilin menyipitkan mata. Insting intelijennya langsung menangkap ada yang tidak beres. "Xiao Cui, apa yang terjadi dengan lenganmu?"

Xiao Cui tersentak, refleks menarik lengan bajunya ke bawah untuk menyembunyikan bekas luka tersebut. Ia menunduk dalam-dalam, menolak menatap mata Meilin. "T-tidak apa-apa, Permaisuri. Hamba hanya tidak sengaja tersandung saat mengambil air di sumur belakang."

"Kau berbohong," potong Meilin cepat. Suaranya datar, tanpa emosi, namun memiliki tekanan yang membuat bulu kuduk Xiao Cui berdiri. "Seorang agen—maksudku, aku tahu mana luka akibat jatuh dan mana luka akibat cengkeraman tangan manusia. Siapa yang melakukannya?"

Xiao Cui gemetar. Permaisuri di depannya ini terasa sangat berbeda. Permaisuri Lin yang dulu akan ikut menangis bersamanya dan meratapi nasib buruk mereka. Namun, wanita yang duduk di ranjang saat ini memancarkan aura penguasa yang mutlak, seolah ia bisa melihat menembus isi kepala Xiao Cui.

Sebelum Xiao Cui sempat menjawab, suara tawa yang nyaring dan penuh nada meremehkan terdengar dari halaman luar Istana Dingin. Langkah kaki yang serampangan terdengar mendekat ke arah kamar tidur.

"Aduh, Xiao Cui, kenapa kau lama sekali mengambil air? Apakah Permaisuri kita yang malang ini sudah mampus?"

Pintu kamar ditendang terbuka dengan kasar. Dua orang wanita paruh baya dengan pakaian pelayan bermutu tinggi melangkah masuk tanpa membungkuk memberi hormat sama sekali. Mereka adalah Kai Mun dan Pelayan Liu, dua pelayan senior yang dikirim oleh pengurus istana belakang untuk "melayani" Permaisuri di tempat pembuangan ini. Kenyataannya, mereka adalah mata-mata bayaran Selir Hua yang bertugas memastikan Permaisuri Lin menderita setiap hari.

Pelayan Liu memegang sebuah nampan kayu berisi mangkuk kosong yang kotor. Ketika matanya menangkap sosok Meilin yang duduk tegak di atas ranjang dengan wajah bersih, ekspresi wajahnya berubah kaget. Ia bertukar pandang dengan Kai Mun. Bagaimana mungkin wanita ini masih hidup? Bukankah racun semalam seharusnya sudah merenggut nyawanya sebelum fajar?

Meilin membaca perubahan ekspresi kedua pelayan itu dengan sangat mudah. Benar saja. Dua tikus ini adalah kaki tangan yang membantu menyelinupkan racun semalam, pikir Meilin. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis yang sangat dingin.

"Permaisuri Lin, Anda ternyata berumur panjang," ujar Kai Mun dengan nada bicara yang sangat tidak sopan. Ia bahkan tidak menekuk lututnya. "Karena Anda masih hidup, cepat suruh pelayan kecilmu ini untuk mencuci pakaian kami di halaman belakang. Tadi dia menolak dan bertingkah tidak tahu diri, jadi aku harus memberinya sedikit pelajaran."

Xiao Cui merapatkan tubuhnya di belakang Meilin, tubuhnya gemetar ketakutan.

Meilin tidak langsung marah. Ia justru bangkit berdiri perlahan, membiarkan jubah tidurnya yang longgar menjuntai ke lantai. Ia melangkah mendekati kedua pelayan itu dengan ritme yang sangat teratur. Setiap langkahnya tidak bersuara, sebuah kebiasaan dari masa lalunya sebagai pembunuh bayaran yang bergerak dalam kegelapan.

"Kau yang memukul Xiao Cui?" tanya Meilin, suaranya sangat lembut, hampir seperti bisikan.

Pelayan Liu mendengus sombong, mengira Permaisuri masih sekaku biasanya. "Lalu kenapa kalau kami memukulnya? Di Istana Dingin ini, Anda bukan lagi Permaisuri yang berkuasa. Tanpa tunjangan dari luar, Anda bahkan harus mengemis pada kami untuk mendapatkan sepiring nasi basi!"

"Begitu?" Meilin berhenti tepat satu langkah di depan Pelayan Liu.

Plak!

Sebuah tamparan keras menggema di dalam kamar yang sunyi. Kekuatan tamparan itu begitu besar hingga tubuh Pelayan Liu terputar dan jatuh tersungkur ke lantai. Nampan kayu yang dipegangnya terlempar, hancur berkeping-keping. Pipi Pelayan Liu langsung membengkak merah keunguan, dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.

"K-Kau... Anda berani memukulku?!" Pelayan Liu berteriak tidak percaya, memegangi pipinya yang terasa terbakar.

Kai Mun juga terkejut setengah mati. "Permaisuri Lin! Apakah Anda sudah gila?! Kami adalah pelayan yang ditunjuk oleh Istana Urusan Dalam! Anda tidak punya hak—"

Sebelum Kai Mun menyelesaikan kalimatnya, tangan Meilin bergerak secepat kilat. Ia mencengkeram tenggorokan Kai Mun dengan satu tangan, memanfaatkan berat tubuhnya sendiri untuk mendorong wanita paruh baya itu hingga punggungnya menghantam pilar kayu kamar dengan keras.

Bruk!

"Ugh!" Kai Mun tercekik. Matanya membelalak ngeri saat melihat sepasang mata Meilin yang sedingin es, menatapnya seperti seorang jagal yang siap menyembelih ternak. Udara di tenggorokannya mendadak habis, dan semua keberanian yang ia miliki menguap dalam sekejap.

"Dengarkan aku baik-baik, budak," kata Meilin, nadanya sangat rendah namun menusuk hingga ke tulang sumsum. "Meskipun aku dibuang ke Istana Dingin, darah yang mengalir di tubuhku adalah darah keluarga Jenderal Lin, dan gelar yang melekat padaku adalah Permaisuri sah Dinasti Long. Membunuh kalian berdua di tempat kotor ini tidak akan membuat Kaisar repot-repot menghukumku."

Meilin mempererat cengkeramannya, membuat wajah Kai Mun mulai membiru karena kekurangan oksigen.

"S-Ampun... Permaisuri... ampun..." Kai Mun mencakar-cakar tangan Meilin, namun tangan ramping itu terasa seperti jepitan besi yang tidak bisa digoyahkan sama sekali.

Pelayan Liu yang berada di lantai mencoba merangkak mundur, benar-benar ketakutan oleh monster yang tiba-tiba bangkit dari dalam diri Permaisuri yang biasanya penakut.

Meilin melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Kai Mun jatuh terduduk sambil terbatuk-batuk rakus menghirup udara. Meilin kemudian berbalik, berjalan ke arah meja kayu kuno. Di sana, terdapat sisa muntahan hitam semalam yang belum sempat dibersihkan oleh Xiao Cui.

Menggunakan sapu tangan kain, Meilin mengusap sedikit cairan hitam pekat berbau busuk tersebut, lalu berjalan kembali ke arah kedua pelayan yang masih ketakutan di lantai.

"Semalam, kalian mengirimkan sup sarang burung untukku, bukan?" Meilin berlutut di depan Pelayan Liu, menyodorkan sapu tangan berlumuran racun itu tepat di depan hidungnya. "Racun Pengikis Jiwa. Efeknya sangat rapi, membuat korbannya mati seolah-olah karena gagal jantung dalam tidur. Katakan padaku, berapa banyak perak yang diberikan Selir Hua kepada kalian untuk melakukan ini?"

Mendengar kata 'Racun Pengikis Jiwa' dan 'Selir Hua', wajah Pelayan Liu dan Kai Mun langsung pucat pasi seperti mayat. Rahasia terbesar mereka telah terbongkar.

"K-Kami tidak tahu apa-apa! Permaisuri, Anda salah paham! Kami hanya mengantarkan makanan dari dapur istana!" Pelayan Liu mencoba mengelak dengan suara gemetar.

"Salah paham?" Meilin tersenyum sinis. "Sebagai agen yang bermain dengan ratusan jenis toksin modern, aku bisa mencium bau racun ini dari jarak tiga meter. Jika kalian tidak ingin bicara, tidak apa-apa. Xiao Cui!"

"Y-Ya, Permaisuri?" Xiao Cui menjawab, masih dalam kondisi setengah tidak percaya melihat kehebatan junjungannya.

"Ambil mangkuk bersih, isi dengan air sumur, dan larutkan sisa cairan hitam di lantai itu ke dalamnya."

"Baik!" Xiao Cui tidak lagi bertanya. Ia segera melaksanakan perintah dengan cepat.

Melihat mangkuk berisi air keruh kemerahan itu dibawa mendekat, Kai Mun dan Pelayan Liu mulai menangis histeris. Mereka tahu betul seberapa mengerikan efek racun tersebut jika masuk ke dalam tubuh manusia dalam keadaan sadar.

"Permaisuri! Ampun! Kami terpaksa! Jika kami tidak menuruti perintah pelayan pribadi Selir Hua, keluarga kami di luar istana akan dibunuh!" Kai Mun bersujud berkali-kali hingga dahinya berdarah menghantam lantai kayu.

"Siapa nama pelayan pribadi Selir Hua yang menghubungi kalian?" Meilin menginterogasi, matanya tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun. Di dunia intelijen, belas kasihan pada musuh adalah tiket gratis menuju kuburan.

"Pelayan Cui Er! Dia yang memberikan bungkusan racun itu dan menjanjikan kami masing-masing lima puluh keping perak jika Anda dipastikan tewas pagi ini!" Pelayan Liu membongkar semuanya tanpa sisa demi menyelamatkan nyawanya sendiri.

Meilin berdiri, melipat tangannya di dada. Cui Er. Bagus, satu nama sudah didapatkan.

"Permaisuri, tolong ampuni nyawa anjing kami... kami berjanji akan setia kepada Anda! Kami akan melakukan apa saja!" ratap kedua pelayan itu sambil terus bersujud.

1
sasa adzka
cerita makin keren ey 😍😍
semangat up nya kak, Terima kasih sdh up beberapa bab kak😍😍.. utk jam berapa nya kau up terserah aja ya.. aku selalu menantikan kelanjutan cerita mu ini.. semoga sampai tamat 😍😍😍
Amber Mist: 😍 baik lah terima kasih
total 1 replies
Lina Hibanika
jangan kasih ampun pelayan calutak seperti itu mah
Amber Mist: uda baca ampe bab brp kakak?
total 1 replies
sasa adzka
wahhh sebentar lagi bucin neh si kaisar long sama meilin🤭🤭🤭
Amber Mist: Siap2, ya Yang Mulia. Lebih suka upload jam brp kak?
total 1 replies
Lina Hibanika
hadiah perkenalan,, segelas kopi buat author ☕
Amber Mist: 😍 terima kasih Yang Mulia
total 1 replies
sasa adzka
I like it permaisuri meilin😍😍😍 aku suka karakter nya... pertahan kan kak.. pokok nya harus kuat mah MC cewek nya😍😍😍😍
semangat ya
Amber Mist: wahhh, makasi Yang Mulia, dukung aku terusnya "follow" dan jangan lupa "bintang5nya"
total 1 replies
sasa adzka
hallo baru mampir kak othor...
semoga sampai tamat ya😍😍
semangat up nya💪💪
Amber Mist
Yang Mulia Datu Zahra, bagian mana ya yg fisiknya brubah? coba dibaca ulang, karena Meilin ahli racun kak, itu bukan fisik yg brubah tapi jiwanya uda ganti kak
Datu Zahra
Dibab sebelumnya disebutin udah lewat seminggu, tambah dua hari seudha kaisar pergi sampe fisik berubah, ya kali nyebut racun semalam. ngaco
Amber Mist: Yang Mulia, sepertinya harus baca ulang ya
total 1 replies
Amber Mist
Halo Yang Mulia Ratu pembaca setia Permaisuri Lin, Salam Kenal.

Yuk, voting, kalian lebih suka aku upload di jam brp?

Yang setia ikutin, pencet " ikuti" + kasih 💫 bintangmu ya.

Hamba butuh dukungan kalian
Alia Chans
suka.... like + bunga😉
semangat thor nulisnya nya🤭




kalo berkenan mampir thor😉
Amber Mist: 😍👍 siap kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!