NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang Idola Kampus

Istri Rahasia Sang Idola Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Perjodohan
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: MochiFlora

"Kamu hanya aib dalam hidupku!"

Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.

Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.

Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal dari Segalanya.

Akad nikah itu berlangsung singkat. Terlalu singkat untuk sebuah ikatan yang seharusnya sakral.

Penghulu yang didatangkan dari KUA membacakan ijab kabul dengan suara lantang. Meysa duduk di samping Rangga dengan tubuh kaku. Jari-jarinya terasa dingin, wajahnya pucat. Setiap kali penghulu berhenti sejenak, ia bisa mendengar isakan tipis dari arah kursi pojok.

Neneknya. Mbah Tini menangis.

Air mata itu jatuh dan membasahi kerutan di pipinya. Tangannya memegang ujung kain jarik yang melilit pinggang. Beliau tak kuasa menahan haru. Bukan karena bahagia, melainkan karena campuran antara syukur, sedih, dan rasa bersalah yang menggunung.

Di samping Mbah Tini, ayah Rangga tak kalah terharu. Raden Soerya, pria tegas yang jarang menunjukkan sisi lembutnya, berusaha menahan air mata. Istrinya, almarhumah ibu Rangga, sudah lama tiada. Namun hari ini,, Soerya kembali merasakan hadirnya sosok ibu dalam rumahnya, meski hanya lewat menantu yang baru dinikahkan secara paksa.

Ibu Ratna, bibinya Rangga, ikut hadir. Beliau menangis paling keras. "Kasihan anak-anak ini," bisiknya sambil menyeka air mata dengan sapu tangan.

Rangga mendengar semua tangisan itu, tapi ia memilih mati rasa.

Baginya, semua ini hanya drama. Sandiwara yang dipaksakan oleh ayahnya. Tidak ada cinta di antara keduanya.

Setelah ijab diucapkan dan buku nikah diterima, Rangga segera berdiri. Tak ada pelukan, tak ada juga senyuman bahagia darinya..

Meysa terdiam di tempat duduknya. Ia tak tahu harus mengikuti Rangga atau tidak. Jarinya masih memegang erat buku nikah yang terasa berat di genggaman.

"Meysa… mulai sekarang kamu sudah jadi istri sahnya Rangga," ucap Raden Soerya dengan suara bergetar. "Jagalah suamimu."

*

Sore harinya, sebuah mobil hitam mengantar mereka ke apartemen.

Raden Soerya sudah membeli unit dua kamar di kawasan elite dekat kampus. Sengaja dipilih agar Rangga dan Meysa bisa mandiri dalam menjalani rumah tangga. Tanpa asisten rumah tangga, tanpa pengawas. Benar-benar hanya berdua saja.

"Kalian harus belajar hidup bersama," pesan Soerya di depan pintu apartemen. "Ayah tidak ingin pernikahan ini hanya formalitas. Ayah ingin kalian benar-benar menjadi keluarga."

Rangga tersenyum kecut, tapi ia tidak membantah.

Begitu masuk, Rangga melepas jaketnya dan melemparkannya ke sofa. Matanya tak pernah menatap Meysa, bahkan sejak pertama melangkah masuk.

"Kamar tidur yang di ujung sana buat aku," ucap Rangga. "Kamu tidur di ruang tamu. Jangan pernah masuk ke kamarku tanpa izin."

"Baik."

Rangga melangkah ke kamarnya. Pintu ditutup dengan bunyi yang tak terlalu keras, tapi terasa sangat menghantam dada Meysa.

Ia berdiri di tengah ruang tamu yang luas. Sofanya empuk, AC-nya dingin. Jauh berbeda dengan kos lamanya yang sempit dan pengap.

Malam itu Meysa tidur di sofa. Bantal dari tangannya sendiri, selimut dari jaket tipis yang ia bawa dari kos dulu. Ia tak berani mengambil selimut di lemari, takut dianggap mengambil yang bukan haknya.

*

Tiga hari berlalu. Semakin hari, Rangga berubah.

Hari pertama, Meysa masih sempat masak. Ia menemukan beras di dapur, sedikit telur, dan sayur di kulkas. Lalu ia membuat nasi goreng sederhana dan menaruh sepiring di meja untuk Rangga.

Rangga keluar kamar, melihat makanan itu, lalu berkata, "Apa ini? Makanan babi?"

Meysa terdiam. "Nasi goreng, Mas. Saya masak dari bahan yang ada—"

"Aku tidak minta kamu masak," potong Rangga sambil mengambil kunci mobil. "Jangan pernah masak, percuma saja tidak akan dimakan. Aku biasa beli makanan di restoran mahal"

Hari-hari berikutnya, Meysa tidak diberi uang belanja. Rangga sengaja tidak mengisi kulkas. Ketika Meysa berani bertanya soal kebutuhan dapur, Rangga hanya menjawab ketus.

"Urusanku apa sama kamu? Cari uang sendiri."

Meysa tidak membantah. Lusa harinya, ia mengambil tabungan kecil dari sisa uang KIP-nya. Ia membeli mi instan. Itulah yang ia makan tiap hari. Pagi, siang, malam.

Rangga pergi pagi buta dan pulang larut malam. Kadang ia tidak pulang sama sekali. Meysa tidak pernah bertanya, karena ia sudah berjanji tidak akan ikut campur urusan Rangga.

Pada malam kelima, Rangga pulang lebih awal. Meysa sedang melipat jaketnya di sofa.

"Dengar," ucap Rangga sambil berdiri di depannya. "Aku tidak pernah mau menikah dengan orang seperti kamu."

Meysa diam.

"Kampungan. Miskin. Jelek." Setiap kata keluar dari mulut Rangga seperti pukulan. "Kamu aib dalam hidupku. Apa kamu sadar?"

Meysa menggenggam jaketnya lebih erat. Wajahnya tidak berubah, tapi dalam benaknya ada suara yang menjerit. Sakit. Sakit sekali.

"Iya, Mas. Saya sadar."

Jawaban itu membuat Rangga terdiam sejenak. Ia tidak menyangka Meysa tidak membantah. Ia malah berbalik badan dan masuk ke kamar. Pintu ditutup. Tidak ada permintaan maaf, tidak ada penjelasan.

Malam itu Meysa tidak tidur.

Ia hanya duduk di sudut sofa, memeluk lututnya, dan membiarkan air mata jatuh dalam hening.

*

Pagi itu, apartemen terasa dingin. Meysa sudah siap sejak pukul enam. Seragam kampusnya berupa kemeja putih lusuh dan rok hitam panjang yang disetrika habis-habisan semalam. Tidak ada kerut sedikit pun. Rambutnya diikat rapi, wajahnya dibasuh dengan air dingin agar tidak kelihatan sembab.

Ia tidak punya sarapan. Mi instan terakhir sudah habis semalam.

Dari jendela ruang tamu, ia melihat Rangga keluar dari kamar dengan jas rapi. Kemejanya putih bersih, rambutnya ditata rapi. Wajahnya… Rangga memang tampan. Tidak bisa dipungkiri. Itulah sebabnya seluruh mahasiswi di kampus itu menggandrunginya.

Rangga tidak menatap Meysa. Ia langsung mengambil kunci mobil di meja, lalu keluar.

Meysa menarik napas panjang. Ia mengambil tas lusuhnya, memastikan buku dan alat tulisnya lengkap, lalu keluar apartemen.

Ia memilih berjalan kaki.

Untunglah kampus itu hanya sekitar lima belas menit jalan kaki dari apartemen. Meysa sudah menghitung rute ini berkali-kali. Selama liburan panjang kemarin, ia sudah hafal jalan pintasnya.

Langkahnya kecil, tapi pasti. Sambil berjalan, Meysa mengatur napas dan mencoba menyusun senyum.

"Tidak ada yang perlu tahu soal pernikahan ini, aku saja harus berpura-pura tidak mengenalnya, dan memang pada dasarnya aku tidak mau kenal sama pria itu!." ucap Meysa dalam hatinya..

Tiba-tiba, di pertigaan dekat gerbang kampus, sebuah mobil mewah berwarna hitam melintas di depannya. Meysa kenal mobil itu. Itu milik Rangga.

Rangga melaju tanpa melihat ke kanan atau kiri. Seperti Meysa tidak ada.

"Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa."

Di dalam mobil, Rangga melirik spion samping.

Ia melihat sosok mungil dengan seragam lusuh itu terus berjalan di bawah terik matahari pagi.

Rangga mengerjap. Lalu ia membuang pandangannya ke depan lagi.

"Terserah dia. Bukan urusanku," umpatnya.

1
Emi Sudiarni
kok sedikit bangat up ny
partini
lah Ternyata ada yg tidak suka sama mereka berdua,,jangan menyerah be strong maysa kalau kamu pergi tanda nya kamu kalah sama tuh curut
Humaira
Ya ampun Thor sedikit banget bacanya
Emi Sudiarni
makanya jdi suami jgn jhat..
partini
jahat banget sih di tendang,biar tuh sia Rangga hidup dalam penyesalan
MochiFlora: Terkutuklah kamu Rangga 🤣
total 1 replies
Emi Sudiarni
lanjutkan seru bngat
MochiFlora: Terima kasih kaka 🙏🥰
total 1 replies
Humaira
Bagus pak Soerya buat anakmu menyesal
Humaira
Lagi lagi dibikin keguguran
semoga setelah ini Meysa sadar dan mau meninggalkan si Rangga
jangan lemah mey
Emi Sudiarni
ksihan meysa
Ranita Rani
mumet q liat cwe kya gini,,,,
Ranita Rani
karakter meysa terlalu lemah,,,
partini
WTF gila kamu. ga
Emi Sudiarni
emang kelewatan rangga ini
Emi Sudiarni
ksihan meysa
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍
MochiFlora: Terima kasih sudah mampir kakak 🙏🥰
total 1 replies
Humaira
Sumpah gereget banget sama si Meysa
partini
giman mau di kasih tau orang nya aja najis lihat dia
Emi Sudiarni
lanjut kak seru ceritany
Emi Sudiarni
hadir kan kak author cwok yg naksir meysa biar rangga cmburu
Humaira
APASIH NGESELIN BANGET SI ULAT BULU EMILY 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!