NovelToon NovelToon
The Duchess Of Silent Tears

The Duchess Of Silent Tears

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bekas Luka dan Balsem Dingin

Pagi itu datang dengan keheningan yang berbeda. Bukan keheningan damai seperti di perpustakaan ayahnya yang penuh debu buku dan sinar matahari hangat, melainkan keheningan pasca-badai. Keheningan yang hampa, seolah-olah dunia baru saja menahan napas panjang dan lupa untuk menghembuskannya kembali.

Elara membuka matanya perlahan. Cahaya matahari pagi yang pucat dan lemah menyusup masuk melalui celah-celah tirai beludru perpustakaan yang berat, menciptakan garis-garis debu yang menari di udara. Selama beberapa detik, ia lupa di mana ia berada.

Ia mengira dirinya masih berada di kamarnya di ibu kota, menunggu pelayan membukakan jendela dan membawakannya cokelat panas.

Namun, rasa kaku di lehernya dan aroma kertas tua yang menyengat segera menariknya kembali ke realitas yang dingin. Ia berada di Kastil Blackiron. Di sofa perpustakaan.

Elara duduk tegak, selimut bulu domba tebal meluncur turun dari bahunya. Matanya langsung tertuju ke seberang ruangan, ke arah meja kerja besar dari kayu eboni itu.

Kosong.

Kursi kulit tempat Kaelen tidur semalam—tempat pria itu berteriak dalam mimpi buruknya—kini kosong dan terdorong rapi ke bawah meja. Tumpukan kertas yang semalam berserakan kini tertata sempurna dalam tumpukan-tumpukan presisi. Pena bulu telah dibersihkan dan diletakkan kembali di tempatnya.

Tidak ada jejak kekacauan. Tidak ada jejak kepanikan. Seolah-olah adegan mencekam semalam hanyalah halusinasi Elara yang dipicu oleh kelelahan.

Tapi Elara tahu itu nyata. Buktinya ada di tangan kanannya.

Ia mengangkat pergelangan tangannya ke arah cahaya. Napasnya tercekat pelan.

Di kulitnya yang putih pucat, lima bekas jari kini terpatri jelas. Warnanya bukan lagi merah, melainkan mulai berubah menjadi ungu gelap bercampur biru lebam. Itu adalah cetakan sempurna dari tangan Kaelen. Bekas cengkeraman yang begitu kuat hingga pembuluh darah halus di bawah kulitnya pecah.

Elara menyentuhnya pelan dengan ujung jari tangan kirinya. Nyeri. Rasa sakit yang berdenyut, panas dan tajam, kontras dengan udara ruangan yang dingin. Ia mencoba memutar pergelangan tangannya. Sakitnya menjalar hingga ke siku. Tidak patah, syukurlah, tapi jelas memar parah.

Ia menatap tanda itu lama sekali. Ini adalah sentuhan fisik pertama suaminya. Bukan belaian, bukan genggaman tangan saat berjalan, melainkan cengkeraman defensif yang nyaris meremukkan tulangnya.

"Iblis Utara," bisik Elara pada ruangan kosong itu.

Orang-orang takut pada Kaelen karena apa yang bisa ia lakukan pada musuhnya. Tapi semalam, Elara melihat sesuatu yang lain. Kaelen tidak menyerangnya karena kebencian. Dia menyerang karena ketakutan. Dalam tidurnya, Iblis itu adalah mangsa yang sedang diburu.

Siapa pun 'Lyra' itu, dan apa pun yang terjadi di masa lalu, kenangan itu masih hidup di dalam kepala Kaelen, mencabik-cabiknya dari dalam setiap kali ia memejamkan mata.

Pintu perpustakaan terbuka pelan, memutus lamunan Elara.

Silas masuk, membawa nampan perak berisi sarapan. Wajah tua kepala pelayan itu tampak lelah, namun senyum sopan tetap terpasang di bibirnya.

"Selamat pagi, Nyonya Duchess," sapa Silas lembut. Matanya menyapu ruangan sekilas, memastikan tidak ada kerusakan, sebelum mendarat pada Elara. "Saya harap tidur Anda nyenyak, meskipun... kondisinya darurat."

Elara buru-buru menarik lengan gaun tidur wolnya ke bawah, menutupi pergelangan tangannya yang lebam. Ia menyembunyikan tangannya di balik lipatan selimut di pangkuannya. Ia tidak ingin Silas melihatnya. Ia tidak ingin pelayan tua yang baik ini berpikir bahwa Tuannya telah menyiksa istrinya.

Harga diri Kaelen adalah harga diri House Draxos, dan sebagai Duchess, Elara memiliki kewajiban aneh untuk melindunginya, bahkan dari penghuni kastil sendiri.

"Cukup nyenyak, terima kasih, Silas," bohong Elara. Suaranya sedikit serak. "Di mana... Tuan Duke?"

Silas meletakkan nampan itu di meja kecil di depan sofa. Aroma bubur gandum hangat dan teh herbal menguar, sedikit menghibur perut Elara yang kosong.

"Tuan Duke sudah berangkat ke barak militer sebelum fajar, Nyonya," jawab Silas sambil menuangkan teh. "Beliau berkata ada inspeksi mendadak yang harus dilakukan. Beliau mungkin tidak akan kembali sampai makan malam."

Berangkat sebelum fajar. Melarikan diri, pikir Elara. Kaelen menghindari pagi yang canggung. Ia menghindari tatapan mata Elara yang telah melihat kelemahannya.

"Saya mengerti," ucap Elara, mengambil cangkir teh dengan tangan kirinya—tangan kanannya terlalu sakit untuk memegang beban, bahkan beban seberat cangkir porselen.

Silas, yang memiliki mata setajam elang tua, memperhatikan gerakan canggung itu. Matanya melirik sekilas ke tangan kanan Elara yang tersembunyi di bawah selimut, lalu kembali ke wajah Elara. Ada kilatan pemahaman di sana, namun ia cukup bijak untuk tidak bertanya.

"Mengenai Menara Barat," lanjut Silas, mengubah topik dengan mulus. "Para tukang sudah mulai bekerja. Tapi seperti yang Tuan Duke perkirakan, butuh waktu tiga sampai empat hari untuk membersihkan cerobong dan memperbaiki isolasi dinding. Sampai saat itu..." Silas tampak ragu, "...Tuan Duke memerintahkan agar barang-barang Anda dipindahkan ke Kamar Biru di lantai dua sayap ini."

Elara mengangkat alisnya. "Kamar Biru?"

"Itu... kamar tamu utama, Nyonya. Bersebelahan dengan ruang kerja ini, dan tidak jauh dari kamar Tuan Duke."

Elara terdiam. Semalam Kaelen berkata kamar tamu penuh atau rusak. Sekarang tiba-tiba ada kamar yang tersedia? Ini bukan kebetulan. Ini adalah konsesi. Rasa bersalah Kaelen termanifestasi dalam bentuk peningkatan fasilitas. Pria itu tidak bisa meminta maaf, jadi dia memberikan kamar yang hangat.

"Baiklah," kata Elara pelan. "Terima kasih, Silas."

Setelah sarapan dan berganti pakaian—Silas memerintahkan pelayan wanita lain, bukan Martha, untuk membantunya—Elara mendapati dirinya kembali bingung. Ia memiliki kamar baru yang hangat dan nyaman, dengan perapian yang menyala terang. Tapi ia tidak ingin terkurung lagi.

Rasa sakit di pergelangan tangannya menjadi pengingat konstan akan bahaya yang mengintainya di kastil ini, tetapi juga memicu rasa ingin tahunya. Ia ingin melihat dunia Kaelen. Ia ingin melihat apa yang membentuk pria itu menjadi mesin perang yang dihantui mimpi buruk.

Elara mengenakan jubah tebalnya dan berjalan keluar dari sayap timur. Ia tidak menuju dapur atau taman, melainkan mengikuti suara.

Suara denting logam. Suara teriakan perintah.

Ia menaiki tangga menuju benteng bagian dalam yang menghadap ke halaman latihan di belakang kastil. Dari atas balkon batu yang terlindung atap, ia bisa melihat ke bawah.

Halaman latihan itu luas, tertutup salju yang telah dipadatkan menjadi es keras oleh ribuan pijakan kaki. Di sana, ratusan prajurit berbaju zirah hitam sedang berlatih. Udara dipenuhi uap putih dari napas mereka yang memburu.

Dan di tengah-tengah mereka, ada Kaelen.

1
Yuu Li
semoga bahagia lady
Roaffi Jj
mantap ceritanya
Lamia Dante
ceritanya menarik
kiu kiu
good...pasangan yg cocok.klu bisa saling bekerjasama mencairkan suasana di kastil yg sedingin salju itu.elara apa dia tk tertarik bermain pedang...dilihat dari sikapnya dia wanita yg tangguh.mampu menembus pertahanan duke draxos.semangat ya thor...lanjutkan...
Jake King
semangat lady
Irzad
go ladyyy
ikyar
mohon dukungannya terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!