NovelToon NovelToon
RED FLAG

RED FLAG

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: ujang Bonang@_@

​"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
​Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
​Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
​Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
​Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
​Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Hadangan di Ujung Komplek

****

Suara bel panjang tanda berakhirnya jam pelajaran terakhir berdering nyaring, memicu gemuruh langkah kaki ratusan murid yang berhamburan keluar dari ruang kelas. Koridor SMA Tunas Bangsa mendadak penuh sesak oleh lautan manusia yang berdesakan menuju gerbang. Namun, sesuai dengan instruksi ketat yang diberikan Saka siang tadi, aku tidak melangkah menuju lobi utama ataupun area parkiran depan. Aku sengaja memisahkan diri dari kerumunan kelas XII MIPA 2, berjalan memutar melewati lorong sempit di samping laboratorium biologi yang mengarah langsung ke pintu belakang dekat area kantin bawah.

Langkah kakiku terasa sedikit terburu-buru. Di pergelangan tangan kananku, gelang perak dengan bandul bintang kecil pemberian Saka berdenting halus setiap kali lenganku bergerak, memantulkan sisa-sisa cahaya sore yang mulai meredup. Rasa cemas kembali merayapi dinding lambungku ketika teringat ucapan Saka tentang mobil hitam asing milik keluarga Devan yang sejak pagi tadi mengintai di sekitar gang rumahku.

Begitu aku melangkah keluar dari pintu belakang kantin yang sepi, sebuah mobil minibus perak dengan kaca film gelap sudah terparkir rapi di bawah pohon mangga. Dua orang anak jurusan IPS yang sangat kukenal sebagai anggota pangkalan belakang pasar lama—Reno dan jajaran setianya—langsung turun dari mobil begitu melihat kedatanganku.

"Neng Mika, aman? Langsung masuk aja, Sak udah perintahin kita buat sterilin jalur pulang lo sore ini," ucap Reno sambil membukakan pintu tengah mobil dengan gerakan yang sigap namun sopan.

"Saka sendiri di mana, Ren?" tanyaku cemas sebelum mengayunkan kaki masuk ke dalam kabit mobil yang dingin.

Reno mengembuskan napas pendek, wajahnya yang biasa dipenuhi tawa kini tampak sedikit serius. "Saka udah melesat duluan pake motor sport-nya lima belas menit yang lalu sebelum bel bunyi, Mik. Dia gak mau mobil hitam itu menyadari kalau lo pulang lewat jalur belakang. Dia sengaja pasang badan di ujung jalan komplek lo buat memotong pergerakan mereka. Udah, lo tenang aja, di dalam mobil ini lo aman mutlak."

Aku akhirnya pasrah dan duduk di kursi tengah, memeluk tas ranselku erat-erat sementara mobil perlahan bergerak maju, keluar melewati gerbang belakang sekolah dan mengambil rute jalan tikus yang memutar jauh demi menghindari deteksi radar mata-mata Devan. Pikiranku sama sekali tidak tenang. Bayangan tentang konfrontasi fisik atau perang psikologis yang akan terjadi di ujung jalan komplek perumahanku membuat dadaku terasa begitu sesak.

Sementara itu, di sudut lain kota, atmosfer di ujung jalan utama yang membatasi kompleks perumahanku sudah terasa sangat mencekam. Langit sore kian menggelap, digantikan oleh sapuan warna jingga keunguan yang pekat. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam dengan kaca film yang sangat gelap tampak terparkir diam di bahu jalan, tepat di bawah bayangan tiang lampu jalanan yang belum menyala. Di dalam mobil itu, dua orang pria berbadan tegap dengan pakaian sipil tampak waspada mengamati setiap kendaraan yang keluar masuk gerbang komplek.

*NGEEENNGGG!*

Raungan mesin silinder besar mendadak memecah kesunyian sore di area tersebut. Motor sport hitam milik Saka melesat cepat dari arah berlawanan, lalu dengan satu manuver tajam yang sangat ugal-ugalan dan nekat, Saka sengaja menghentikan motornya melintang tepat di depan moncong mobil sedan mewah tersebut, memblokir jalur jalan mobil itu sepenuhnya.

Saka mematikan mesin motornya dengan santai. Dia menurunkan standar samping, lalu bangkit berdiri dari atas jok motornya. Penampilannya sore itu masih terlihat sangat bersih dan rapi—almamater biru tuanya terkancing sempurna, kemeja putihnya dimasukkan dengan rapi ke dalam celana abu-abu, mematuhi seluruh hukum tertulis sekolah. Namun, potongan rambut pendek barunya yang hitam bersih tidak mampu menyembunyikan aura berandal yang sangat agresif yang memancar kuat dari dalam dirinya. Mata elangnya berkilat tajam penuh amarah yang letup-letup di balik ketenangannya yang dingin.

Pintu kemudi mobil sedan hitam itu terbuka dengan cepat. Seorang pria bertubuh kekar turun dengan wajah masam yang dipenuhi kilat amarah. "Woy, bocah! Punya mata gak lo?! Ngapain lo markir motor sampah lo melintang di depan mobil kita, hah?!" bentak pria itu keras.

Saka tidak mundur selangkah pun. Dia justru melangkah maju dua langkah, memotong jarak di antara mereka dengan sepasang tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya. Sebuah seringai sinis nan sangat tajam terukir jelas di sudut bibirnya yang tampan.

"Gue gak punya urusan sama lo, anjing penjaga," tutur Saka dengan nada suara bariton yang berat, serak, dan penuh dengan penekanan yang mengintimidasi. Dia mengalihkan pandangan matanya langsung ke arah kaca belakang mobil sedan yang gelap gulita. "Kasih tahu bos muda lo yang ada di dalam... kalau dia mau mengawasi cewek gue, turun sendiri dari mobil. Jangan jadi pengecut yang cuma bisa sembunyi di balik punggung orang tuanya setelah takhtanya dihancurkan di ruang kepala sekolah."

Suasana mendadak membeku seutuhnya selama beberapa detik. Tak lama kemudian, suara klik mekanis terdengar dari arah pintu penumpang bagian belakang. Pintu mobil mewah itu perlahan terbuka, menampilkan sosok cowok yang selama dua minggu ini menjadi diktator yang mengurung kebebasanku.

Devan Dirgantara keluar dari dalam mobil.

Penampilannya sore ini sudah tidak lagi mengenakan seragam sekolah. Dia memakai kemeja kasual hitam lengan panjang yang digulung hingga sikut, menampilkan pergelangan tangan kirinya yang kini melingkar jam tangan mewah baru yang berbeda. Wajah tampan sang mantan Ketua OSIS yang biasanya selalu dihiasi oleh senyuman ramah dan teduh, kini tampak sangat dingin, kaku, dan menyimpan gurat kebencian yang mendalam akibat harga dirinya yang ditekuk habis kemarin pagi.

"Saka Aditya," Devan membuka suara dengan intonasi yang sangat tenang, terlalu tenang hingga terasa seperti hembusan angin malam yang menusuk tulang. Dia melangkah maju, berdiri sejajar dengan pria berbadan kekar di hadapan Saka. "Kamu benar-benar tidak tahu sopan santun dan aturan ya, bahkan di luar lingkungan sekolah sekali pun."

"Sopan santun gue udah habis pas lo nekat mengejar Mikaela pake mobil ini di jalan raya dua hari lalu, Devan," balas Saka dingin, matanya menyipit tajam mengunci pergerakan musuhnya. "Gue ke sini cuma mau mengembalikan sesuatu yang bukan hak milik gue."

Saka merogoh saku bagian luar almamater rapinya, mengeluarkan sebuah jam tangan mewah pria bertali kulit hitam dengan inisial *D.D.* yang terpatri perak di pengaitnya—jam tangan milik Devan yang dia ambil dari ruang OSIS minggu lalu. Saka melemparkan jam tangan itu begitu saja ke atas kap mesin mobil sedan mewah Devan hingga menimbulkan suara benturan besi yang cukup nyaring.

*Klentang!*

"Jam tangan lo udah gue balikin, rahasia alat perekam suara lo udah didengar sama Pak Malik, dan sanksi skorsing lo udah berjalan," ucap Saka dengan nada suara yang merendah, sarat akan keagresifan taktis yang sangat berbahaya. Dia memajukan tubuhnya selangkah lagi, menatap lurus ke dalam manik mata Devan dari jarak dekat. "Gue tahu Yudha dan anak-anak buah lo di MIPA 1 udah menarik draf laporan palsu mereka tadi pagi karena mereka takut gue membongkar berkas anggaran dana pensiun lo ke dinas. Jadi, sekarang amunisi lo di dalam sekolah udah habis total, Dev."

Devan melirik sekilas ke arah jam tangannya di atas kap mobil, lalu kembali menatap Saka dengan seringai tipis nan manipulatif yang perlahan-lahan kembali terukir di wajah tampannya. "Kamu pikir dengan mengunci pergerakan organisasi saya di dalam sekolah, kamu sudah memenangkan permainan ini, Saka?"

Devan terkekeh pelan, sebuah kekehan pendek yang terdengar begitu licik dan penuh teka-teki berbahaya. "Sekolah Tunas Bangsa itu cuma area kecil yang dikontrol oleh hukum dinas pendidikan. Tapi di luar sana... di dunia nyata tempat keluarga saya bergerak, hukum yang berlaku adalah hukum modal dan relasi. Kamu pikir dari mana Mikaela bisa mendapatkan beasiswa penuh untuk kuliahnya tahun depan kalau bukan dari yayasan yang disubsidi oleh perusahaan ayah saya?"

Darah Saka rasanya mendadak mendidih mendengar penuturan beracun dari mulut Devan. Kepalan tangannya di dalam saku celana tampak mengeras hebat hingga urat-urat di lengannya menonjol memerah. Devan... dia benar-benar mengunci masa depan dan kebebasanku tidak hanya lewat draf pemecatan Saka, melainkan lewat jalur ekonomi keluarga yang tak tersentuh oleh sistem OSIS.

"Jadi... mendingan kamu bawa motor sampah kamu menyingkir dari depan mobil saya sekarang, Saka," bisik Devan dengan intonasi yang dipenuhi kemenangan psikologis yang mutlak. "Mikaela mungkin bisa lepas dari genggaman saya di dalam kelas untuk dua minggu ini. Tapi begitu dia pulang ke rumah dan memikirkan masa depan kuliahnya... dia akan dengan sukarela berjalan kembali masuk ke dalam sangkar emas yang sudah saya siapkan di luar sekolah. Dan kamu... gak bakal bisa berbuat apa-apa buat menghentikan itu."

Saka terdiam sesaat, napasnya memburu naik turun menahan amarah yang luar biasa hebat yang meletup-letup di dalam dadaku. Namun, alih-alih meledak dalam pukulan otot ugal-ugalan yang biasa dia lakukan, Saka justru menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkan tawa lirih yang sangat dingin memecah keheningan ujung komplek.

Saka mendongak, menatap Devan dengan kilat mata elangnya yang memancarkan obsesi protektif yang teramat pekat dan tak terkalahkan. "Lo boleh punya uang dan yayasan buat membeli masa depan orang lain, Devan Dirgantara. Tapi lo lupa satu hal penting tentang seorang Saka Aditya."

Saka melangkah satu langkah terakhir, mencengkeram kerah kemeja kasual hitam milik Devan dengan satu sentakan cepat yang sangat agresif, menarik tubuh sang mantan Ketua OSIS hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter di bawah temaram lampu jalanan yang baru saja menyala otomatis.

"Sifat berandal gue gak bakal pernah bisa dibeli pake draf yayasan atau modal keluarga lo, Dev," geram Saka dengan nada suara yang sangat rendah namun sarat akan ancaman maut. "Kalau sampai gue melihat mobil hitam ini masih terparkir di sini besok pagi, atau kalau sampai lo nekat menyentuh jalur beasiswa kuliah Mikaela buat memeras emosinya lagi... gue bersumpah gak bakal ragu buat menggunakan cara ugal-ugalan gue di pangkalan IPS untuk menghancurkan apa pun yang lo miliki di luar sekolah, termasuk reputasi keluarga besar lo di media massa. Gue gak punya beban apa-apa buat kehilangan masa depan, tapi lo... lo punya segalanya buat hancur berkeping-keping di tangan gue. Paham?!"

Saka melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar, membuat Devan sedikit terhuyung mundur ke belakang menabrak badan mobil mewahnya. Devan mematikan senyumannya, wajah tampannya kini berubah menjadi sangat kaku dengan rahang yang mengatup rapat menahan rasa malu dan amarah yang luar biasa hebat karena gertakan mentalnya dipatahkan seutuhnya oleh keagresifan tulus Saka sore itu.

Saka tidak membuang waktu lagi. Dia kembali menaiki jok motor sport hitamnya, menyalakan mesin dengan raungan besar yang memekakkan telinga, lalu memutar arah motornya melesat kencang memasuki area dalam komplek perumahanku, meninggalkan Devan dan anjing penjaganya yang berdiri mematung di bawah pekatnya malam. Perang psikologis asmara berkarakter *red flag* ini telah resmi menaikkan levelnya ke tingkat yang paling liar di luar dinding sekolah, dan tidak akan ada satu pun pihak yang bersedia mundur sebelum salah satu dari mereka hancur seutuhnya di dunia nyata.

### **Komentar Penulis (Author's Corner)**

> Konflik luar sekolah antara Saka dan Devan bener-bener makin ekstrem dan sarat akan ketegangan taktis di Bab 26 ini! Devan yang terdesak ternyata masih punya kartu as ekonomi berupa jalur beasiswa kuliah Mikaela untuk memeras emosinya kembali di luar sekolah.

> Tapi untungnya, respons agresif dan perlindungan total dari Saka Aditya terbukti jauh lebih mematikan karena dia siap mempertaruhkan segalanya demi menjaga kebebasan Mikaela dari jeratan kurungan emas tersebut. Momen konfrontasi di ujung komplek tadi bener-bener nunjukin pesona *bad boy* versi rapi-posesif yang gak kenal rasa takut sedikit pun!

> Kira-kira apa langkah nekat selanjutnya yang bakal diambil oleh Devan setelah ancaman beasiswanya dipatahkan secara kasar oleh Saka malam ini? Apakah dia bakal langsung mendatangi rumah Mikaela? Yuk, dukung terus kelanjutan perjalanan cerita **RED FLAG** ini ya!

>

1
listia_putu
lanjut
Sri Dewi
terimakasih kaka jangan lupa promosikan ke teman nya soalnya ini novel pertamaku dengan genre ini jangan lupa di like ya kk
Indah Sari Nurwahyuningtyas
seru bngt panik dan rasa takutnya dapet dari ceritanya jadi yg baca ikut ngerasain jugaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!