NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Dua hari setelah insiden memalukan di acara amal, Aurora kembali bekerja di kafe seperti biasa. Pagi itu suasana kafe cukup ramai. Pesanan datang bertubi-tubi hingga membuat Aurora hampir tidak punya waktu sekadar untuk meluruskan kakinya.

Namun, begitu lonceng di atas pintu berdenting, seluruh atmosfer di dalam ruangan mendadak berubah seratus delapan puluh derajat.

---

Seorang pria tua melangkah masuk dengan setelan jas mahal yang sangat berkelas. Rambut putihnya tertata rapi, memancarkan aura wibawa yang kuat namun memiliki sorot mata yang hangat. Aurora langsung mengenali sosok itu dalam sekali tatap.

Arthur Kingsley. Kakek kandung Alexander.

Aurora membelalakkan matanya terkejut. "T-Tuan Arthur?"

Pria tua itu terkekeh pelan melihat reaksi spontan sang gadis. "Apa aku terlihat semenakutkan itu, Aurora?"

"Eh? Tidak, Tuan. Sama sekali tidak," sangkal Aurora cepat sambil menggelengkan kepalanya.

"Bagus kalau begitu," Arthur tersenyum penuh arti, lalu menunjuk ke arah meja kosong di dekat jendela besar. "Duduklah denganku sebentar."

Tingkat kegugupan Aurora langsung melonjak drastis. Bagaimanapun, pria di depannya ini bukanlah pelanggan biasa, melainkan kepala keluarga besar dinasti Kingsley.

---

Beberapa menit kemudian, Aurora sudah duduk berhadapan dengan Arthur. Saking tegangnya, telapak tangan gadis itu sampai sedikit berkeringat. Arthur yang menyadari kegelisahan itu kembali mengulas senyum tipis.

"Tenang saja, Nak," hibur Arthur lembut.

Aurora tersenyum canggung, mencoba meredakan debar di dadanya. "Maaf, Tuan. Saya agak gugup."

"Jangan khawatir, aku bukan naga peliharaan Victoria yang akan memakanmu," kelakar Arthur, membuat suasana kaku itu seketika mencair. Aurora pun akhirnya ikut tertawa kecil.

---

Arthur menyesap kopi hitamnya perlahan, lalu membuka percakapan dengan nada santai. "Alexander sering sekali datang ke kafe ini, ya?"

"Iya, Tuan. Lumayan sering," jawab Aurora jujur.

Arthur tersenyum makin lebar. "Padahal, anak itu dulu sangat membenci kopi."

Aurora sedikit terkejut mendengarnya. "Serius, Tuan?"

Arthur mengangguk pasti. "Dia baru mulai membiasakan diri minum kopi sejak mengenalmu."

Aurora langsung terdiam seribu bahasa. Jantungnya kembali berdebar tak karuan. Ia tidak menyangka kalau Alexander sepeduli itu pada hal-hal kecil di sekitarnya hanya demi bisa berlama-lama di kafe ini.

---

Beberapa saat kemudian, guratan wajah Arthur berubah menjadi sedikit lebih serius. "Aku sudah mendengar tentang kejadian tidak menyenangkan di acara amal kemarin."

Aurora langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, merasa malu setiap kali mengingat momen penghinaan itu.

Arthur menghela napas panjang, tampak maklum. "Victoria memang wanita yang keras kepala dan kaku."

Aurora tetap memilih diam, tidak berani memberikan komentar apa pun mengenai ibu dari kekasihnya tersebut. Namun, kalimat berikutnya yang meluncur dari bibir Arthur sukses membuat Aurora tertegun.

"Tapi, aku pribadi sangat menyukaimu, Aurora," ucap Arthur tulus.

Deg.

Aurora langsung mengangkat kepalanya dengan tatapan tidak percaya. "Hah? Maksud Tuan?"

Arthur tersenyum hangat. "Aku serius dengan ucapanku."

---

Arthur memajukan sedikit posisi duduknya, menatap lekat sepasang mata Aurora. "Aku sudah bertemu dengan ribuan orang dari berbagai kalangan selama hidupku, dan aku bisa membaca karakter seseorang dengan baik."

Aurora mendengarkan dengan saksama.

"Kamu memang tidak sempurna, Aurora," tutur Arthur jujur, membuat Aurora tersenyum kecil. "Itu sudah jelas, Tuan."

Arthur tertawa renyah. "Tapi kamu memiliki ketulusan yang murni di dalam hatimu. Dan bagi keluarga Kingsley saat ini, ketulusan jauh lebih berharga daripada tumpukan harta."

---

Mata Aurora mendadak mulai berkaca-kaca menahan haru. Sejak masuk ke dalam pusaran kehidupan keluarga Kingsley, ia selalu dilingkupi rasa tidak aman. Ia merasa tidak cukup kaya, tidak cukup anggun, dan tidak pantas bersanding dengan Alexander.

Namun hari ini, untuk pertama kalinya, ada anggota keluarga inti Kingsley yang bersedia melihat dan menerima dirinya apa adanya.

Arthur kemudian bersandar santai di kursinya. "Aurora."

"Iya, Tuan Arthur?"

"Jangan pernah berpikir untuk menyerah hanya karena tekanan dari Victoria," pesan Arthur tegas. "Sebab jika kamu mundur sekarang, Victoria akan merasa memenangkan permainan ini."

Aurora hampir saja menyemburkan tawa ringannya. Cara bicara kakek Alexander ini benar-benar unik dan tak terduga.

---

Namun tidak lama kemudian, sebuah suara bariton yang teramat familier menginterupsi obrolan mereka dari arah belakang.

"Kakek?"

Aurora dan Arthur kompak menoleh. Alexander sudah berdiri di sana dengan raut wajah bingung.

"Kok Kakek bisa ada di sini?" tanya Alexander sambil berjalan mendekat.

Arthur tersenyum santai tanpa beban. "Memangnya tidak boleh? Aku sedang mengunjungi calon cucu perempuanku."

Alexander mengernyitkan dahinya. "Cucu perempuan?"

Arthur tanpa ragu langsung mengarahkan telunjuknya ke arah Aurora. Aurora yang saat itu sedang minum refleks tersedak karena terkejut, memicu tawa renyah dari Alexander.

"Kakek serius?" tanya Alexander memastikan sambil mendudukkan diri di samping Aurora.

"Tentu saja aku serius," sahut Arthur puas.

Wajah Aurora seketika memerah padam sampai ke telinga. "T-Tuan..." cicitnya malu.

---

Setelah Arthur pamit pergi, Alexander dan Aurora melanjutkan duduk bersama, masih membicarakan tingkah menggemaskan dari pria tua tersebut.

"Kakek tidak pernah bersikap seramah itu kepada mantan-mantanku dulu," ungkap Alexander tiba-tiba.

Aurora mengangkat sebelah alisnya penasaran. "Oh, ya?"

Alexander mengangguk pasti, lalu menggenggam jemari tangan Aurora di atas meja. "Kakek benar-benar menyukaimu, Aurora."

Aurora mengulas senyum kecil yang teramat manis. Untuk pertama kalinya sejak melangkah masuk ke dunia gemerlap milik Alexander, ia akhirnya merasa benar-benar diterima.

---

Sementara itu, di sebuah sudut ruangan tersembunyi...

Sophia baru saja menerima sebuah amplop cokelat tebal dari orang suruhannya. Berkas itu berisi laporan lengkap tentang Aurora. Tentang silsilah keluarganya, masa lalunya, pekerjaannya, hingga semua titik lemah yang ia sembunyikan dari dunia.

Sophia membaca lembar demi lembar dokumen itu dengan perlahan. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman licik yang bisa membuat bulu kuduk siapa pun merinding seketika.

"Jadi, ini rahasia besar yang kamu sembunyikan selama ini, Aurora Quinn?" gumam Sophia sinis.

Malam itu, Sophia akhirnya berhasil menggenggam kartu as yang bisa ia gunakan kapan saja untuk menghancurkan hidup Aurora berkeping-keping.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!