NovelToon NovelToon
WHISPERS OF THE HEART

WHISPERS OF THE HEART

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Duda / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Oviamarashiin

Davika Ovwua Mwohan adalah siswi kelas 3 SMA yang tidak hanya berpenampilan memikat layaknya boneka hidup dengan tubuh *gitar spanyol* yang seksi, tetapi juga memiliki kepribadian paling random dan kocak di antara teman-temannya. Di balik tingkah ajaibnya, Clara adalah koki andalan rumah yang jago menyulap segala jenis masakan mulai dari jajanan pasar hingga kuliner barat menjadi hidangan favorit keluarga, teman, hingga tetangga.

Keseharian Clara dipenuhi dinamika hubungan persaudaraan yang seru dan penuh warna. Ia terlibat hubungan ala "Tom and Jerry" dengan kakak pertamanya, Mas Gara, pria cuek dan berotot yang selalu bersedia menjadi ATM berjalan demi menuruti hobi makan dan tingkah acak Clara. Sementara itu, Mbak Nara, kakak keduanya yang cantik dan manis, turut melengkapi kehangatan dan keseruan lika-liku kehidupan masa muda Clara di dalam keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi Domestik Kediaman Mwohan

Sementara Davika sedang berpetualang menghadapi ketatnya disiplin Gus Xavier di sekolah, suasana di kediaman Mwohan Jakarta Selatan berjalan dengan ritme yang jauh lebih tenang namun sarat akan kehangatan baru.

Nara berdiri di dekat jendela besar ruang tengah yang menghadap ke taman belakang. Langkah kakinya kini sudah kembali normal, tidak lagi sekaku subuh kemarin, walau rasa hangat di pinggangnya masih sesekali terasa jika ia bergerak terlalu cepat sisa dari "satu ronde yang terukur" bersama sang suami. Wajah polosnya tampak segar setelah mandi pagi, dengan rambut hitam panjang yang hari ini disembunyikan rapi di balik khimar instan berwarna abu-abu lembut.

Tangan halusnya bergerak telaten merapikan vas bunga di atas meja makan monokrom. Di samping vas tersebut, botol madu hitam premium dan kotak ramuan herbal dari Beijing kiriman Mas Gara masih berdiri tegak, seolah menjadi pengingat tak kasat mata akan agenda malam nanti.

*Sret.*

Sebuah lengan kekar tiba-tiba melingkar posesif dari arah belakang, memeluk pinggang ramping Nara dengan erat namun lembut. Aroma maskulin yang pekat berbaur wangi sabun mandi seketika menyeruak, membuat Nara refleks menahan napas. Gus Zayyad, yang sudah rapi dengan kemeja koko kasualnya pasca-kembali dari kantor hulu, menyandarkan dagu tegasnya di bahu sang istri.

"Gus... kaget," bisik Nara parau, rona merah langsung matang sempurna di kedua pipinya.

"Kamu sedang memikirkan apa, Nara? Serius sekali," suara bariton Zayyad mengalun rendah tepat di samping telinga Nara, menciptakan getaran intim yang membuat jantung istrinya berpacu liar.

"Tidak ada, Gus... Hanya memikirkan Davika di sekolah, dan... Mas Gara yang mungkin saat ini sudah terbang lagi," sahut Nara jujur, mencoba mengalihkan fokus dari deru napas Zayyad yang mulai terasa hangat di lehernya.

Zayyad terkekeh pendek—sebuah suara rendah yang sangat langka. Tangan besarnya meraba jemari Nara, menggenggamnya erat. "Davika pasti aman. Dan untuk kakakmu... radar intelijen logistik saya menangkap kabar bahwa singa langit itu sedang tidak hanya memikirkan jalur kargo udara internasionalnya."

...----------------...

Di belahan bumi yang lain, ribuan mil laut dari Jakarta, badai salju tipis sedang turun di atas landasan pacu *London Heathrow Airport*. Udara Eropa yang dingin menusuk tulang sama sekali tidak mampu menembus keteguhan Kapten Sagara yang baru saja mendaratkan pesawat kargo raksasanya setelah menembus rute lintas benua.

Gara melangkah keluar dari terminal kedatangan internasional dengan gaya gagah andalannya. Jaket kulit hitam penerbangan membungkus tubuh tegapnya yang tinggi, sementara pet kaptennya dijinjing santai di tangan kiri. Sorot mata elangnya menyapu area luar bandara yang dipenuhi kabut putih.

Namun, ada yang berbeda dari sang penguasa langit kali ini. Di saku dalam jaket kulitnya, ponsel satelitnya tidak memuat draf manifes kargo, melainkan sebuah pesan teks pendek dari sebuah nomor dengan kode negara +44 (Inggris).

Sagara berhenti di selasar luar yang sepi, bersandar pada pilar baja sembari membuka pesan tersebut. Garis wajahnya yang dingin dan angkuh perlahan melunak saat matanya membaca deretan kalimat santun yang tertulis di layar:

"Assalamualaikum, Kapten Sagara. Penerbangan Anda dari Beijing tadi terpantau aman di sistem udara. Saya sudah menyiapkan dokumen bea cukai kargo untuk rute kembali besok pagi. Tolong jangan lupa memakai syal Anda, udara London hari ini sedang kurang bersahabat."

Seringai tipis yang sarat akan getaran asmara misterius terukir di sudut bibir tegap Gara. Pikiran taktis sang kapten seketika melayang pada sosok gadis di balik pesan tersebut—seorang gadis muslimah asal London yang bekerja di divisi regulasi penerbangan internasional.

Gadis itu selalu mengenakan cadar hitam yang rapat, hanya menyisakan sepasang mata jernih seindah permata yang mampu membuat radar hati Sagara yang terkenal beku langsung terkunci mati sejak pertemuan pertama mereka di kantor otoritas udara London satu bulan lalu. Bagi Sagara, memenangkan hati gadis bercadar dari London itu adalah misi penerbangan paling sakral yang harus ia selesaikan tanpa boleh ada kegagalan taktis sedikit pun.

Sagara menempelkan ponselnya ke telinga, melakukan panggilan langsung internasional menuju Jakarta, mengabaikan perbedaan zona waktu yang masif.

Di Jakarta, ponsel Gus Zayyad bergetar di atas meja makan, tepat di samping Nara yang masih berada di dalam dekapannya. Zayyad melepas pelukannya sejenak untuk mengangkat telepon. "Assalamualaikum, Kak."

*"Waalaikumussalam, Zayyad,"* suara bariton Sagara terdengar berat, bergaung stabil melintasi frekuensi satelit Eropa-Asia, diselingi deru angin dingin London di latar belakang. *"Bagaimana kondisi perimeter darat di Jakarta? Apakah kiriman energi dari Beijing sudah kamu eksekusi?"*

Gus Zayyad seketika berdeham kaku, wajah tegasnya kembali memerah kencang di depan Nara. "Sudah, Kak. Semua logistik aman dan... terukur."

Sagara terkekeh dingin di ujung telepon. *"Bagus. Pastikan stamina daratmu tidak kalah dari singa langit. Aku menutup telepon, ada urusan regulasi yang harus aku selesaikan secara privat di London."*

*Klik.*

Panggilan terputus. Di bawah langit London yang berkabut, Kapten Sagara melangkah lebar menuju sebuah kafe kecil di sudut bandara, di mana sesosok gadis bercadar hitam sudah duduk menantinya dengan sebuah map dokumen dan sebuah debaran asmara yang mulai tumbuh subur di antara dinginnya dunia aviasi internasional.

1
Sriati Rahmawati
maaf Thor buku biologi bukan kitab
selalu bilangnya kitab😄😄😄
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Manman
it so good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!