NovelToon NovelToon
ARCHEON : THE LAST SIGIL

ARCHEON : THE LAST SIGIL

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:254
Nilai: 5
Nama Author: Kenken77

Di dunia bernama Archeon, sihir bukan sekadar kekuatan.
Sihir adalah hukum.
Langit dipenuhi lingkaran rune raksasa yang terus berputar di atas awan. Laut bercahaya biru di malam hari karena mana mengalir seperti darah di bumi. Dan setiap manusia lahir dengan “Sigil” — tanda sihir yang menentukan takdir mereka.
Ada yang lahir sebagai penyihir api.
Ada yang mengendalikan badai.
Ada yang mampu berbicara dengan roh.
Namun…
Ada satu Sigil yang dianggap kutukan.
Sigil tanpa elemen.
Sigil kosong.
Dan pemiliknya…
Biasanya mati muda

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenken77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

​Hujan belum benar-benar berhenti, ia hanya berubah menjadi gerimis tipis yang tajam seperti sembilu. Di dalam Hutan Terlarang, pepohonan raksasa dengan batang berwarna kelabu tua berdiri seperti barisan raksasa yang membeku. Daun-daunnya yang lebar tidak memberikan perlindungan, melainkan meneteskan air yang berbau belerang.

​Kael Ravenhart berlari hingga paru-parunya terasa seperti terbakar.

​Lumpur hitam menciprati jubah coklatnya yang sudah robek-robek. Berkali-kali ia tersandung akar pohon yang melilit di tanah seperti ular, namun ia tidak berhenti. Di belakangnya, jauh di kejauhan, ia masih bisa mendengar gonggongan anjing pemburu dan teriakan para penjaga desa.

​"Di sana! Ke arah utara!"

"Jangan biarkan monster itu lolos!"

​Kael bersembunyi di balik batang pohon Aethelwood yang berlumut. Ia menyandarkan punggungnya, mencoba mengatur napasnya yang tersengal. Tangannya gemetar hebat. Ia mengangkat telapak tangan kirinya.

​Di sana, dalam kegelapan hutan yang pekat, Sigil Void itu justru berpendar redup dengan warna hitam yang "lebih gelap" dari malam. Garis-garis merah yang melingkarinya berdenyut pelan, seolah-olah sedang memompa darah dari jantung Kael.

​"Apa yang terjadi padaku...?" bisiknya lirih. Suaranya pecah.

​Tiba-tiba, rasa dingin yang ekstrem merambat dari tangannya menuju bahu. Dunia di sekitar Kael mendadak menjadi sunyi. Suara anjing pemburu menghilang. Suara tetesan air berhenti.

​"Kenapa kau lari, Kecil?"

​Kael tersentak. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, namun tidak ada siapa-siapa. Lalu, ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Bayangannya sendiri di tanah tidak mengikuti arah cahaya bulan yang samar. Bayangan itu berdiri tegak, meski Kael sedang duduk meringkuk.

​"Mereka ingin membunuhmu. Mereka ingin menghapus keberadaanmu seolah kau adalah noda di atas kain putih," suara itu bergema lagi. Kali ini lebih jelas, lebih berwibawa, dan penuh dengan racun manipulasi.

​"Siapa kau? Keluar!" teriak Kael frustrasi.

​"Aku adalah kau. Aku adalah bagian yang mereka buang saat dunia ini diciptakan. Namaku adalah Umbra, sang Penjaga Gerbang Ketiadaan. Dan kau, Kael, adalah wadah dan pewarisku."

​Bayangan itu perlahan merayap naik ke batang pohon, membentuk siluet pria tinggi dengan mata merah menyala—sosok yang sama dengan yang dilihat Kael di ruang hitam tadi.

​"Gunakan kekuatanmu. Balikkan tubuh mereka menjadi debu. Bukankah kau membenci mereka? Bukankah kau ingat saat mereka melemparimu dengan batu dan membiarkanmu kelaparan di musim dingin?"

​Kael memejamkan mata erat-erat. Ingatan itu muncul seperti kilatan petir. Wajah-wajah penduduk desa yang tertawa saat ia terjatuh. Rasa lapar yang melilit perutnya sementara mereka berpesta di Hari Panen. Rasa sakit di hatinya saat melihat makam ibunya yang tidak terawat karena tidak ada yang sudi membantunya.

​"Aku... aku membenci mereka," aku Kael, giginya bergeletuk. "Tapi aku bukan monster."

​"Monster adalah gelar yang diberikan oleh mereka yang lemah untuk menutupi ketakutan mereka," Umbra berbisik tepat di telinga Kael, meski fisiknya tidak ada di sana. "Sekarang, bersiaplah. Tamu-tamumu sudah tiba."

​SRAAAKK!

​Semak-semak di depan Kael tersibak. Tiga orang penjaga desa muncul dengan obor dan pedang terhunus. Di tengah mereka berdiri Garrick Thorn. Wajah pemuda besar itu masih pucat, namun matanya memancarkan dendam yang luar biasa. Sigil Thunder Lord di lehernya berkilat, meski tidak sekuat sebelumnya.

​"Ketemu kau, kutukan sialan!" teriak Garrick.

​Kael berdiri perlahan. "Garrick, pergi. Aku tidak ingin menyakiti siapa pun."

​"Tidak ingin menyakiti?!" Garrick tertawa histeris. "Kau menghancurkan Altar suci! Kau menghisap manaku! Ayahku bilang, orang dengan Sigil Void harus dimusnahkan sebelum mereka memanggil The Great Collapse. Kau adalah hama, Kael!"

​Garrick mengangkat tangannya. Sisa-sisa mana petirnya berkumpul, membentuk tombak listrik kecil. Dua penjaga di sampingnya juga mulai merapal mantra dasar elemen tanah, menciptakan peluru-peluru batu yang melayang di udara.

​"Serang!"

​Tombak petir dan peluru batu melesat secara bersamaan menuju Kael.

​Dalam keadaan normal, Kael akan mati seketika. Namun, saat serangan itu mendekat, Sigil di tangannya beraksi secara otomatis. Seolah memiliki kehendaknya sendiri, tangan kiri Kael terangkat.

​"VOID RIFT."

​Bukan Kael yang mengucapkannya, melainkan suara ganda—suaranya dan suara Umbra yang tumpang tindih.

​Sebuah lubang hitam kecil, tidak lebih besar dari bola pingpong, muncul di depan telapak tangan Kael. Namun, daya tariknya luar biasa. Tombak petir Garrick tersedot ke dalamnya seperti air yang masuk ke lubang drainase. Peluru-peluru batu hancur menjadi atom sebelum sempat menyentuh pakaian Kael.

​"Apa?!" penjaga desa itu mundur selangkah, wajah mereka dipenuhi horor.

​Kael menatap tangannya sendiri dengan tidak percaya. Ia merasakan energi petir Garrick mengalir ke dalam Inti Mananya, memberinya lonjakan kekuatan yang menyakitkan namun memabukkan.

​"Lagi..." bisik Kael tanpa sadar. Matanya mulai kehilangan cahaya kemanusiaannya, digantikan oleh warna merah menyala.

​"Jangan takut! Dia hanya satu orang!" Garrick berteriak, mencoba mengumpulkan keberanian. "Gunakan serangan fisik! Sigil Void hanya bisa memakan mana, bukan baja!"

​Kedua penjaga itu menghunus pedang mereka dan menerjang. Pedang baja dingin berkilat di bawah cahaya obor, mengarah langsung ke leher dan dada Kael.

​Kael tidak bergerak. Ia merasa seolah dunia bergerak dalam slow motion. Ia bisa melihat setiap tetes keringat di dahi penjaga itu, setiap getaran pada pedang mereka.

​"Gunakan Umbral Step, Kael," bisik Umbra.

​Kael menggeser kakinya. Dalam sekejap, tubuhnya berubah menjadi kabut hitam dan muncul di belakang kedua penjaga itu. Ia bergerak lebih cepat dari yang bisa ditangkap oleh mata manusia.

​BUM!

​Kael menghantamkan tangannya ke punggung salah satu penjaga. Energi hitam meledak, bukan menghancurkan baju zirah penjaga itu, melainkan langsung menyerang syaraf dan inti mananya. Penjaga itu jatuh pingsan seketika, kulitnya berubah menjadi abu-abu pucat.

​"Monster! KAU BENAR-BENAR MONSTER!" Garrick berteriak ketakutan. Ia berbalik dan mencoba lari, namun kakinya terasa berat.

​Tanah di bawah kaki Garrick mendadak melunak, berubah menjadi lumpur hitam yang pekat yang menariknya masuk.

​"Kael, tolong! Maafkan aku! Kita teman, kan?!" tangis Garrick pecah saat tubuhnya mulai tenggelam ke dalam "Rawa Void" yang diciptakan Kael tanpa sadar.

​Kael berjalan mendekati Garrick. Tangannya yang bersigil Void mengeluarkan asap hitam. Wajahnya datar, tanpa emosi. "Teman? Kau yang memimpin anak-anak lain untuk membakar gubukku musim dingin lalu. Kau yang bilang aku tidak pantas bernapas di Eldravale."

​Kael mengangkat tangannya, bersiap untuk mengakhiri segalanya.

​"Kael, hentikan!"

​Sebuah suara wanita yang jernih memecah ketegangan. Sebuah anak panah yang diselimuti api biru meluncur tepat di antara Kael dan Garrick, meledak menjadi dinding api celestial yang memisahkan mereka.

​Liora Ashveil muncul dari balik pepohonan. Busur sihirnya masih berpendar biru. Wajahnya menunjukkan campuran antara kemarahan dan kesedihan.

​"Liora... kau juga datang untuk membunuhku?" tanya Kael, suaranya terdengar sangat jauh.

​"Aku datang untuk membawamu kembali ke tetua. Mereka akan menyegel energimu, Kael. Kau bisa hidup sebagai orang biasa lagi. Jangan biarkan Sigil itu mengendalikanmu!"

​Kael tertawa pendek. Tawa yang kering dan menyakitkan. "Menyegelku? Mereka akan mengurungku di bawah tanah, membiarkanku membusuk dalam gelap agar mereka merasa aman. Itu bukan hidup, Liora. Itu hukuman mati yang diperlambat."

​"Tapi ini salah!" Liora melangkah maju melewati api birunya. "Lihat dirimu! Matamu... kau bukan Kael yang aku kenal."

​"Kael yang kau kenal sudah mati di altar itu, Liora. Dibunuh oleh ketakutan kalian semua."

​Kael mengangkat tangannya ke arah Liora. Kegelapan di sekitarnya mulai berputar, membentuk pusaran yang menghisap oksigen di area tersebut. Pohon-pohon di sekitar mereka mulai mengering, daun-daunnya layu dalam hitungan detik.

​Liora menyiapkan panah keduanya. "Kalau begitu, aku tidak punya pilihan."

​Namun, sebelum pertarungan pecah, sebuah tekanan mana yang luar biasa besar turun dari langit. Begitu berat hingga Liora jatuh berlutut dan Kael terpaksa menancapkan tangannya ke tanah agar tidak tersungkur.

​Dari balik bayangan pohon yang paling gelap, muncul seorang pria paruh baya. Ia mengenakan baju zirah hitam legam dengan jubah merah darah. Di pinggangnya tergantung sebuah pedang besar yang mengeluarkan aura haus darah. Di dahi pria itu, sebuah Sigil berbentuk mata yang tertutup bercahaya ungu tua.

​"Sigil... Abyssal Eye?" bisik Liora ketakutan. "Salah satu dari Tujuh Jenderal Kegelapan?"

​Pria itu mengabaikan Liora. Matanya tertuju pada Kael. Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya yang penuh bekas luka.

​"Menarik. Sangat menarik," suara pria itu berat seperti guntur di kejauhan. "Eldravale hanyalah desa kecil yang membosankan, tapi siapa sangka di sini tersimpan harta karun yang bisa menghancurkan dunia."

​Ia berjalan mendekati Kael. Setiap langkahnya membuat tanah retak.

​"Namaku Vorgas," kata pria itu. "Aku telah mencari keberadaan Sigil Void selama dua puluh tahun. Dan sekarang, aku menemukannya pada seorang bocah kurus yang bahkan tidak bisa mengendalikan haus mananya sendiri."

​Vorgas menghunus pedangnya. Ujung pedang itu diletakkan di bawah dagu Kael.

​"Pilih, Bocah. Ikut denganku dan pelajari cara menjadi Dewa di atas reruntuhan dunia ini, atau mati di sini dan biarkan aku mengambil Sigil itu dari mayatmu."

​Kael menatap mata Vorgas. Di sana, ia tidak melihat kebencian seperti penduduk desa. Ia melihat ambisi. Ia melihat kegelapan yang sama dengan yang ada di dalam dirinya.

​"Terima tawaran itu, Kael," bisik Umbra dengan nada sangat bersemangat. "Dia adalah jembatan menuju kekuatan yang sesungguhnya. Bersamanya, kita tidak akan lagi diburu. Kita yang akan memburu."

​Kael melirik ke arah Liora yang masih tertekan oleh aura Vorgas. Lalu ia melihat ke arah desa Eldravale di kejauhan, yang kini terlihat kecil dan tidak berarti.

​Dunia ini telah membuangnya. Maka, ia tidak lagi memiliki kewajiban untuk melindunginya.

​Kael memegang bilah pedang Vorgas dengan tangan kirinya. Sigil Void-nya bereaksi, mulai menghisap aura haus darah dari pedang tersebut, namun Vorgas hanya tertawa, membiarkan mananya dikonsumsi.

​"Aku akan ikut," kata Kael tegas. Matanya kini sepenuhnya merah menyala. "Tapi dengan satu syarat."

​Vorgas menaikkan alisnya. "Oh? Seorang pemula berani memberi syarat?"

​Kael menunjuk ke arah Liora. "Biarkan dia hidup. Biarkan dia kembali ke desa dan memberitahu mereka... bahwa Kael Ravenhart akan kembali suatu hari nanti. Dan saat itu tiba, matahari tidak akan pernah terbit lagi di Eldravale."

​Vorgas tertawa terbahak-bahak, suara tawanya menggetarkan seluruh hutan. "Sangat bagus! Kebencian adalah bahan bakar terbaik untuk Void! Baiklah, syarat diterima."

​Vorgas menjentikkan jarinya, dan tekanan mana yang menghimpit Liora menghilang. Gadis itu terengah-engah, menatap Kael dengan tatapan yang hancur.

​"Kael... jangan lakukan ini... jangan pergi bersama mereka!" teriak Liora.

​Kael tidak menoleh. Ia berbalik dan berjalan mengikuti Vorgas masuk ke dalam kegelapan yang lebih dalam dari Hutan Terlarang. Kabut hitam menyelimuti mereka, dan dalam sekejap, keberadaan mereka hilang dari jangkauan indra Liora.

​Di tanah yang becek, hanya tersisa busur Liora yang patah dan reruntuhan kristal yang menghitam.

​Liora bersimpuh di tengah hujan, menangis dalam diam. Ia tahu, mulai malam ini, sejarah Archeon telah berubah. Perang yang selama ini hanya menjadi dongeng kuno tentang cahaya dan kegelapan telah dimulai kembali.

​Dan pusat dari badai itu adalah teman masa kecilnya yang kini telah menjadi pewaris ketiadaan.

​Kael berjalan menembus dimensi bayangan bersama Vorgas. Di sekelilingnya, ia melihat aliran mana dunia yang berwarna-warni, namun semuanya menjauh darinya, takut akan kehadirannya.

​"Kau merasa lapar, bukan?" tanya Vorgas tanpa menoleh.

​"Selalu," jawab Kael singkat. Perutnya tidak lapar, tapi Inti Mananya terasa kosong, seperti lubang menganga yang minta diisi.

​"Void bukan sekadar Sigil, Kael. Itu adalah kutukan kelaparan abadi. Semakin banyak kau makan, semakin besar lubangnya. Tapi jangan khawatir," Vorgas berhenti dan berbalik, memperlihatkan sebuah kastil megah yang dibangun di atas gunung berapi hitam di ufuk cakrawala.

​"Di benteng Shadowspire, kita punya cukup banyak 'makanan' untuk membuatmu menjadi makhluk paling ditakuti di seluruh Archeon."

​Kael menatap kastil itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak merasa takut. Ia merasa pulang.

​Di telapak tangannya, Sigil Void berdenyut sekali lagi. Kali ini, sebuah garis merah baru muncul. Garis kedua dari tujuh retakan.

​Satu langkah menuju kehancuran.

Satu langkah menuju keabadian.

​Kael Ravenhart telah memilih jalannya. Dan dunia Archeon tidak akan pernah siap menghadapi apa yang akan datang dari balik kegelapan.

1
Prety Chiky
semangat terus tor
Ivah Maria ulpah
Mc yg jdi villain hhmmm boleh juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!