NovelToon NovelToon
Si Cantik Milik Ketos Sadis

Si Cantik Milik Ketos Sadis

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Filanina

Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.

​Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.

​Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.

​Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.

​Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.

​Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Pertemuan Pertama

Matahari siang itu memang terik, namun di area belakang sekolah, udara terasa lebih lembap dan berat. Seorang siswa berseragam rapi dengan langkah tenang mendekati sebuah bangunan tua yang nyaris terlupakan: gudang sekolah. Di jemarinya, terselip sebuah kunci kecil yang berkilat tertimpa cahaya.

​Ia masuk ke dalam, disambut oleh aroma debu yang menari-nari di bawah celah ventilasi. Tangannya mendekap sebuah guci keramik putih. Guci itu tidak simetris—miring dan tampak seperti produk gagal—tapi ada keindahan ganjil di sana. Di permukaannya, goresan tangan membentuk gambar burung yang seolah hendak mengejar bunga di baliknya.

​Cowok itu, Vyan, mendekati sebuah lemari tua dengan engsel yang sudah berderit karat. Ia mengusap permukaan guci itu dengan ibu jarinya, tepat di bagian bawah di mana nama ‘ZiVy’ terukir kasar. Ia menatap benda itu dengan tatapan yang sulit diartikan, penuh kerinduan sekaligus luka. Saat ia hendak mendekatkan guci itu ke wajahnya, sebuah suara memecah keheningan.

​Suara tangisan. Lirih, namun sangat pedih.

​Vyan tersentak. Ia segera meletakkan guci itu di dalam lemari, menutup pintunya dengan hati-hati, lalu melangkah menuju pintu gudang yang sedikit terbuka.

​Dari balik celah kayu, ia melihat seorang gadis duduk di atas rumput liar. Gadis itu menangis sesenggukan, bahunya naik turun, namun anehnya, ia menangis dengan cara yang sangat murni—seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya. Itulah Yasmin. Dalam cahaya matahari yang menyilaukan, kecantikannya tetap tampak nyata meski air mata membasahi pipinya.

​Tiba-tiba, sebuah benda kecil jatuh tepat di atas kepala Yasmin.

​"Aduh!" Yasmin terkesiap. Tangisnya berhenti seketika. Ia meraba kepalanya dan menemukan seekor burung kecil yang tampak kebingungan di sana.

​"Kenapa kamu jatuh?" tanya Yasmin dengan suara serak pasca-tangis. Ia mengangkat burung itu ke depan wajahnya. "Jangan-jangan kamu lupa caranya terbang? Hihi... kamu lebih bodoh dari aku ya."

​Vyan yang memperhatikan dari balik pintu tertegun. Perubahan ekspresi itu begitu cepat. Kesedihan yang baru saja meluap seolah sirna begitu saja, digantikan oleh senyum tulus yang kekanak-kanakan.

​"Belajar ya! Belajar! Belajar! Biar orang nggak ngetawain kamu..." Yasmin berdiri, lalu dengan hati-hati ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, membiarkan burung itu mengambil ancang-ancang untuk mengepakkan sayap. Burung itu berkicau sekali sebelum akhirnya terbang menuju dahan pohon yang lebih tinggi.

​"Ya! Kamu bisa. Bagus. Kamu pintar...!" Yasmin bertepuk tangan kecil.

​Tawa Vyan pecah begitu saja dari dalam gudang. Ia tidak bisa menahannya lagi. Suasana yang tadinya melankolis mendadak terasa jenaka karena tingkah gadis itu.

​Yasmin tersentak, matanya yang bulat menatap ke arah gudang yang gelap. "Si... siapa itu?"

​"Kamu lucu. Kelihatannya kamu anak baik ya?" Suara Vyan terdengar berat namun ramah dari balik bayangan.

​Wajah Yasmin memucat. Ia mundur selangkah. "Ja... jangan-jangan kamu hantu...?"

​Vyan tertawa lagi, kali ini mencoba meredam suaranya. "Bagaimana kalau aku memang hantu? Apa kamu takut?"

​Yasmin tampak berpikir keras. Alisnya bertaut, bibirnya mengerucut sejenak. "Seperti manusia, hantu juga ada yang baik dan jahat. Kelihatannya kamu hantu baik, jadi aku tidak takut."

​"Kamu tidak takut? Bukannya hantu selalu seram?"

​"Iya sih seram... tapi kamu kan nggak bisa keluar dari sana. Soalnya ini siang hari. Hantu nggak berkeliaran di siang hari," sahut Yasmin dengan nada yakin seolah sedang menjelaskan teori ilmiah. "Kalau kamu kesepian di dalam sana, aku bisa jadi teman ngobrol kamu kalau lagi jam istirahat."

​Vyan terdiam. Ada sesuatu di dada kirinya yang berdesir. Gadis ini bukan hanya cantik, tapi dia benar-benar... berbeda.

​"Kamu memang baik. Sekarang ceritakan, kenapa tadi kamu menangis?"

​"Oh itu... nggak apa-apa. Aku menangis karena aku terlalu bodoh. Semua orang mengatakan aku bodoh."

​"Cantik, kalau merasa bodoh ya belajar. Jangan menangis."

​"Iya sih, tapi tidak ada yang mau mengajari aku. Malah Pak Andi, ternyata dia... dia hidung belang..."

​"Apa? Pak Andi guru Fisika?" Suara Vyan mendadak berubah tajam.

​"I..iya. Kok hantu tahu?"

"Apa yang dia lakukan padamu?"

"Pak Andi memaksaku les privat. Ibu tidak mengizinkan tapi... tapi... Pak Andi marah... dia pegang-pegang tanganku... "

Yasmin tampak bergidik membayangkan pengalaman buruknya. Pak Andi memegang dan mengelus tangannya. Mata itu membuatnya merinding.

​Pintu gudang itu terbuka perlahan, mengeluarkan suara derit panjang. Mengalihkan perhatian Yasmin dari pengalaman buruknya.

Yasmin menahan napas, jantungnya berdegup kencang. Ia setengah berharap melihat sosok transparan atau menyeramkan, tapi yang keluar justru seorang cowok dengan seragam rapi dan wajah yang sangat tampan.

​"Aku kenal semua guru di sekolah ini...," ucap Vyan sambil berjalan mendekat.

​Vyan berhenti tepat beberapa langkah di depan Yasmin. Dari jarak sedekat ini, Vyan menyadari bahwa kata 'cantik' sebenarnya tidak cukup untuk menggambarkan gadis di depannya. Matanya bening dengan bulu mata lebat yang masih basah, pipinya putih mulus dengan semburat merah karena panas matahari.

​Yasmin sendiri tampak gelagapan. Ia mendongak menatap langit, lalu menatap Vyan, lalu menatap bayangan Vyan di tanah.

"Ka...kamu tidak apa-apa kena sinar matahari...?"

​Vyan tertegun sejenak, lalu menyadari apa yang dipikirkan gadis itu. Ya ampun... Jadi dia benar-benar percaya aku hantu?

​"Aku Vyan, Cantik. Kelas XI IPA 3. Aku ketua OSIS. Kamu nggak tahu?"

​Yasmin menggeleng polos. Wajahnya penuh tanda tanya.

​Oh, ternyata aku tidak cukup terkenal di mata gadis ini, batin Vyan, ada sedikit rasa jengkel yang geli di hatinya.

​"Nggak apa-apa. Aku butuh laporanmu tentang Pak Andi nanti," ujar Vyan serius.

​"Aku pikir kamu hantu, makanya aku mau cerita, tapi sekarang..." Yasmin tampak bingung dan sedikit malu.

​"Ya sudahlah. Begini saja. Kamu kelas berapa?"

​"Kelas sepuluh tujuh."

​"Belajar privatnya sama aku saja, ya?"

​"Eh... kenapa?"

​"Jadi kamu merasa sudah cukup pintar?" Vyan menggoda. "Aku cuma mau bantu karena tadi kelihatannya kamu sedih sekali. Dan tenang saja, aku tidak seperti Pak Andi."

​"Memang... Kak Vyan pintar?" tanya Yasmin polos, matanya menatap jujur ke arah Vyan.

​Ya ampun! Dia menanyakannya? Dia apa nggak pernah dengar aku ini siswa teladan dan juara umum se-kotamadya? Vyan menarik napas panjang, berusaha mempertahankan senyumnya meskipun egonya sedikit tergores.

​"Setidaknya lebih pintar dari kamu. Aku kan kelas sebelas," jawab Vyan akhirnya.

​"Oh... iya juga ya. Tapi..."

​Masih ada tapi? Vyan semakin gemas.

​"Aku janji kamu tidak akan melihat Pak Andi lagi. Kita akan cari guru yang lebih baik. Setuju?" Vyan memotong pembicaraan sebelum Yasmin memberikan alasan lain. "Besok pulang sekolah, aku jemput ke kelas kamu. Siap-siap saja."

​"Vyan!" Sebuah teriakan memecah momen itu.

​Seorang cowok berambut cepak, Agil, muncul dari balik koridor dengan wajah gusar. "Ngapain di sini? Pakai matiin HP segala lagi. Semua orang sudah nunggu di ruang OSIS!"

​"Lu cerewet, Gil. Kan ada Dean yang bisa handle dulu," sahut Vyan santai.

​"Tetap saja!" Agil melirik Yasmin dengan tatapan menyelidik, lalu segera menarik lengan Vyan. "Ayo pergi sekarang!"

​"Sampai nanti, Cantik!" Vyan melambaikan tangan, meninggalkan Yasmin yang masih berdiri bengong seperti patung.

​Begitu menjauh, Agil langsung berbisik dengan nada mendesak. "Ngapain lu berduaan di tempat sepi kayak gitu sama cewek itu?"

​"Kebetulan saja. Memang kenapa?"

​"Lu nggak tahu ya? Dia itu Yasmin! Lu nggak boleh dekat-dekat sama dia, Vyan. Lu itu ketua OSIS!"

​Vyan mengernyit. "Apa hubungannya?"

​"Lu nggak dengar kabarnya? Dia itu 'Yasmin si Bodoh'."

​"Dia 'Si Cantik'...," koreksi Vyan tenang.

​"Ya, tapi bodoh!"

​"Tapi cantik..."

​Agil mendengus frustrasi. "Ya ampun, Vyan! Lu pasti pernah dengar kalau orang-orang menjauhi dia. Dia itu dituduh suka merebut pacar orang. Karena itu semua cewek di sekolah ini memusuhinya. Cowok yang mendekati dia bakal jadi musuh publik!"

​"Ya, gue pernah dengar rumornya. Jadi dia orangnya?" Vyan menoleh sekilas ke belakang, melihat sosok kecil Yasmin yang mulai menjauh. "Gue mengerti kenapa banyak cowok naksir dia, tapi dia nggak kelihatan seperti tipe tukang rebut pacar orang. Dia terlalu... polos."

​"Sudah! Pokoknya jangan terlibat. Lu harus jaga reputasi!"

​"Lu lebih cerewet dari Bunda gue, Gil," gumam Vyan sambil berjalan menuju ruang OSIS, namun pikirannya masih tertinggal pada guci miring di gudang dan gadis yang menyangka dirinya hantu.

 

Hallo! Selamat datang di karya baruku.

Tapi sebenarnya bukan karya baru. Ini udah lama jadi draft di komputer. Karya lama yang kuperbaharui.

Kalau rasanya beda, harap maklum. Dan lagi, kalau karya ini terasa jadul dan agak berantakan, mohon maaf.

1
Cimol krispy
kamu mah selalu nggak tau Yas 🤭
Cimol krispy
Kesannya kayak Yasmin lagi ngejek. padahal dia beneran ngira mereka sakit🤣🤣🤣
Cimol krispy
dan kalian baru sadar dia sepolos itu
Cimol krispy
para bibir biru ikan lohan🤣
Cimol krispy
ya kalo lomba pakaian daerah mah nggak usah di sebutin lagi Reka. kan memang wajib dan diadakan penilaian langsung
Cimol krispy
mereka nggak tau aja ada satu mata Dajjal yang lagi ngawasin para penguasa kelas itu🤭
Xlyzy
naik itu kuping ray karna di puji yasmin🤣
Xlyzy
si ray yang tadi nya cemberut langsung berubah
Aquarius97 🕊️
astaga vyan... lu juga benar2 dah ahh😆
Aquarius97 🕊️
hahahahaha ngakak banget ray... pas sebut setan vyan 🤣🤣🤣
Miu.Nuha
semua pada baik ke yasmin takut dimarahi pak ketos lagi 😅😅😅
Miu.Nuha
masih heran kenapa vyan yg harus bertindak... sungguh ironis ya sampe guru gk ad yg peduli...
Three Flowers
Dhini dan Tegar habis di'cuci' sama Ketos sadis🤣
-Thiea-
ya dia lah yang ngejebak kalian. siapa lagi yang punya akses lengkap di sekolah kalian..😅
-Thiea-
pak yoga sepertinya tahu banyak tentang keluarga Vyan.
-Thiea-
kerjaan si vyan ini pasti. 😆😆
ᰔᩚ⊹܀⃟ᴸ⃞ᵒᵛᵉˡʸ𝐂𝐡𝐞𝐨𝐧𝐦𝐚❦ೄྀ❧
kok bisa nyangkut😭😭😭
Filan: nyangkutlah. Pas masuk ga pegang apa-apa, pas keluarin pegang tupai
total 1 replies
PrettyDuck
terbukti ya kalo cowok gak peduli cewek bego atau enggak, yang penting cakep 🙃
Filan: bagaimana pun juga dari mata turun ke hati.
tapi Vyan itu cuma jadiin Yasmin pion sih, lalu lucu-lucuan aja kayak ke adik, lalu ga suka dg adanya pembullyan jadi belain, lalu jadiin alat lagi... lama-lama tahu sifatnya baru suka.
total 1 replies
ᰔᩚ⊹܀⃟ᴸ⃞ᵒᵛᵉˡʸ𝐂𝐡𝐞𝐨𝐧𝐦𝐚❦ೄྀ❧
hewan tuh pasti🤣
PrettyDuck
serem juga vyan ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!