NovelToon NovelToon
THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:685
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: UJIAN AKHIR SEMESTER

Bab 10: Ujian Akhir Semester

Aroma kertas ujian yang baru dicetak dan ketegangan yang pekat memenuhi setiap sudut koridor SMA Pelita Bangsa pagi itu. Pekan Ujian Akhir Semester (UAS) resmi dimulai. Bagi sebagian besar siswa, ini adalah minggu paling krusial untuk memperbaiki nilai rapot. Namun bagi Revan, deretan angka di atas kertas itu tidak lebih dari sekadar rutinitas formalitas yang menjemukan. Ia berjalan menyusuri koridor lantai dua menuju ruang ujiannya dengan langkah malas, kedua tangannya tenggelam di saku celana abu-abunya yang agak longgar.

"Van! Tunggu, Van!"

Miko berlari kecil dari arah belakang, napasnya agak terengah-engah sambil membawa buku catatan saku rangkuman rumus kimia. "Lo udah liat pembagian kursi di mading depan? Kelas XI MIPA dipisah acak, tapi tebak siapa yang dapet ruang ujian khusus di lantai satu?"

Revan tidak menoleh, ia tetap berjalan lurus. "Gak tahu. Gak peduli juga."

"Kak Arka, Van," bisik Miko, menyamakan langkah kakinya. "Gue denger dari anak-anak kelas dua belas, abang lo dapet dispensasi khusus dari pihak sekolah. Dia gak ujian di ruang kelas atas kayak anak-anak lain. Dia ditaruh di ruang komite yang ber-AC, sendirian. Katanya sih biar fokusnya gak keganggu. Gila ya, emang bener-bener anak emas kesayangan kepala sekolah."

Langkah kaki Revan mendadak melambat. Sendi-sendi di rahangnya mengencang, menciptakan garis tegas yang menyiratkan rasa jengkel yang teramat sangat. Sebuah tawa hambar yang sinis lolos dari sudut bibirnya.

Dispensasi lagi. Hak istimewa lagi, batin Revan, hatinya langsung terbakar oleh rasa tidak adil. Di saat seluruh siswa harus bersusah payah duduk di kursi kayu yang keras, berdesakan di ruang kelas yang pengap demi lulus ujian, Arka justru diberikan ruangan mewah bersofa dengan fasilitas nomor satu.

"Hebat banget ya dia," desis Revan tajam, melanjutkan langkahnya dengan aura yang kian dingin. "Semua aturan sekolah kayaknya bisa bengkok cuma buat nurutin kemauan si jenius itu."

Revan tidak pernah tahu—dan seluruh warga sekolah pun tidak ada yang menyadari—bahwa dispensasi itu diberikan bukan karena Arka adalah anak emas yang ingin dimanjakan. Ruang komite di lantai satu dipilih karena Arka sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk menaiki anak tangga menuju lantai atas. Kamar mandi di dalam ruangan itu juga sengaja disiapkan agar Arka tidak perlu berjalan jauh ketika rasa mual yang hebat akibat penumpukan racun di tubuhnya tiba-tiba menyerang di tengah-tengah waktu ujian.

Saat bel masuk berbunyi nyaring, Revan masuk ke ruang ujiannya sendiri di kelas XI MIPA 3. Lembar soal dan jawaban dibagikan oleh pengawas. Revan menatap deretan soal matematika di hadapannya dengan pandangan kosong. Pikirannya melayang pada sosok Arka.

Tepat di jam istirahat pertama, saat seluruh siswa berhamburan keluar untuk sekadar melepas penat, Revan berjalan menuju arah kantin melalui koridor tengah yang melewati ruang komite. Langkahnya terhenti ketika melihat pintu ruang komite terbuka sedikit.

Dari celah pintu yang terbuka, Revan bisa melihat Arka sedang duduk di kursi sofa empuk. Di hadapannya, Bu Ratna, wali kelas Revan, sedang berdiri sembari menyodorkan sebotol air hangat dan sebutir obat. Wajah Arka terlihat sangat mengerikan di bawah sorotan lampu neon. Kulitnya pucat pasi, nyaris transparan, dengan lingkaran hitam yang sangat tebal di bawah matanya. Tubuhnya yang terbalut seragam putih abu-abu terlihat sangat longgar, seolah-olah pakaian itu sedang digantung di atas sebuah manekin kayu yang kurus kering.

"Arka, kalau kamu sudah tidak kuat, kamu bisa lanjut ujian susulan di rumah sakit saja, Nak. Jangan dipaksakan," ucap Bu Ratna dengan nada suara yang teramat lembut dan dipenuhi rasa khawatir, terdengar jelas sampai ke telinga Revan yang berdiri di luar.

Arka menggelengkan kepalanya pelan, menyunggingkan senyum tipis yang tampak sangat dipaksakan. "Gak apa-apa, Bu. Arka masih bisa lanjut. Arka gak mau ngerepotin pihak sekolah lagi buat bikin soal susulan."

Melihat pemandangan itu, rasa muak di dada Revan justru semakin memuncak. Sudut pandang remajanya yang telah diracuni oleh dendam bertahun-tahun mengaburkan seluruh insting kemanusiaannya. Di mata Revan, ekspresi lemas dan wajah pucat Arka adalah bagian dari "akting" yang sempurna untuk terus mendapatkan simpati dari para guru.

Lo sengaja pasang muka sakral begitu kan, Bang? Biar guru-guru makin kasihan, biar nilai lo tetep dikasih bagus meskipun lo gak belajar maksimal, kutuk Revan di dalam hati dengan sangat kejam. Manipulatif banget hidup lo. Pantesan aja lo selalu dapet peringkat satu, orang satu sekolah ini aja tunduk sama drama sakit lo.

Revan sengaja berdeham keras di depan pintu, membuat Bu Ratna dan Arka menoleh serentak. Begitu mata Arka menangkap sosok adiknya yang sedang menatapnya dengan pandangan penuh kebencian, sorot mata Arka yang sayu mendadak bergetar. Ada rasa bersalah yang teramat besar terpancar dari sana.

"Revan...?" panggil Arka lirih, mencoba menegakkan posisi duduknya yang semula agak membungkuk menahan nyeri di perut kanannya.

Bu Ratna yang melihat kedatangan Revan langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi ketus. "Revan! Sedang apa kamu berdiri di depan ruangan ini? Jangan mengganggu Abangmu yang sedang ujian! Masuk ke kelas kamu sekarang!"

Revan tidak bergeming. Ia menatap Arka lurus-lurus, mengabaikan bentakan Bu Ratna sepenuhnya. "Enak ya, Bang, dapet ruangan khusus. Gak usah cape-cape mikir keras, guru-guru udah pada antre buat ngasih perhatian. Sukses ya drama sakitnya, semoga dapet nilai seratus lagi kayak biasanya," sindir Revan dengan nada suara yang tenang namun sarat akan racun penghinaan.

"REVANZA! Jaga bicara kamu! Kamu benar-benar anak yang tidak tahu sopan santun!" bentak Bu Ratna, wajahnya memerah karena marah melihat kelakuan siswanya yang dianggap keterlaluan pada kakak kandungnya sendiri.

Arka dengan cepat memegang lengan Bu Ratna, menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Udah, Bu... Gak apa-apa. Revan cuma bercanda..." ucap Arka terbata-bata, napasnya mulai terasa sesak. Di balik meja sofa, tangan kanan Arka meremas erat ujung seragamnya, menahan gelombang rasa sakit luar biasa yang kembali mengamuk di bagian pinggang belakangnya. Organ ginjalnya yang sudah hampir mati total kini sedang memprotes keras keputusannya untuk masuk sekolah hari ini.

"Gue gak bercanda, Bang. Gue cuma ngomong fakta," sahut Revan dingin.

Tanpa menunggu balasan lagi, Revan berbalik badan dan melangkah pergi dengan langkah lebar, meninggalkan ruang komite dengan hati yang kian membatu. Di kepala Revan, dan di kepala pembaca yang ikut terhanyut dalam narasinya, Arkael Dirgantara adalah sosok anak emas mementingkan diri sendiri yang menggunakan kelemahan fisiknya sebagai hak istimewa mutlak di sekolah. Sebuah kesalahpahaman berlapis yang kian mempertebal dinding pembatas di antara mereka, mengunci rapat kenyataan mengerikan tentang sisa waktu hidup Arka yang kian menipis di dunia ini.

Bersambung.....

.

.

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
tri Harianti
tetep ibunya yang salah
tri Harianti
salah orang tuanya sih ini
tri Harianti
yang salah orang tuanya sih
tri Harianti
kasian
tri Harianti
kasian
awesome moment
arahnya. arka dan ayahnya sm2 meninggoy dan...revan nyesel bin nyesek. smua klo udh lewat batas kemampuan dijamin tumbang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!