NovelToon NovelToon
The Predator’S Possession

The Predator’S Possession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Callalily

Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2

Terhitung sudah satu minggu sejak Zara keluar dari rumah sakit, dan selama itu pula Benedict seolah ditelan bumi. Atas titah Benedict, Zara tinggal di Mansion miliknya. Ketidak hadiran pria itu sedikit membuatnya merasa bebas dari cengkeraman, sehingga bisa bernapas sedikit lebih dalam.

“Nona Zara, ini sudah waktunya untuk fiting gaun,” Suara Anna memecah lamunan Zara yang tengah menatap kebun mawar dibalik jendela lantai dua.

Zara menghela napas, menutup tirai, dan berjalan gontai menuju ruang tamu mansion yang disulap menjadi ruang fitting.

Disana sudah berdiri seorang desainer, lengkap dengan gaun pengantin yang tampak seperti awan sutra putih.

“Dimana Benedict?,” tanya Zara, meski sebenarnya ia berharap pria itu tidak muncul dengan cepat.

Para asisten saling berpandangan, Anna segera maju untuk menjawab. “Tuan Benedict sedang dalam perjalan bisnis ke luar negeri, Nona.”

Zara menganggukkan kepalanya. Mendengar jawaban Anna membuat bahunya meluruh karena lega. Zara mencoba gaun demi gaun di depan cermin besar.

“Nona, tarik napas sedikit.” Ucap Valerius, sang desainer.

Valerius mundur beberapa langkah, menatapnya sejenak memastikan setiap detail yang ada di hadapannya. Bibirnya kemudian melengkung sempurna, sebelum ia berkata pelan,

“Kau sangat sempurna, Nona” ujar Valerius, sorot matanya mengagumi keindahan Zara.

Valerius memegang pundak Zara, perlahan mengarahkannya untuk menatap cermin. Zara mengangkat pandang, menatap pantulan dirinya sendiri, terbungkus gaun brokat Prancis dengan siluet yang anggun.

“Kau membuat gaun ini sempurna, Nona” Ucap Valerius, tidak henti-hentinya melempari pujian untuk Zara.

Ada rona tipis di pipi Zara, ia kembali menatap pantulan dirinya di cermin “Apa aku benar terlihat seperti itu?”

Valerius mengangguk pelan, diiringi senyum lembut, matanya tetap tertuju pada pantulan Zara di cermin.

Selang beberapa menit, suara derap kaki yang familier menggema dari arah pintu depan. Jantung Zara berpacu, masa tenangnya sudah berakhir. Pintu terbuka lebar, dan di sana pria itu berdiri.

“Valerius,” sapa Benedict pada pria paruh baya itu. Valerius membungkuk hormat. “Senang melihatmu kembali.”

Valerius tersenyum canggung, “Mr. Franklin, sebuah kehormatan bagiku. Anda kembali di waktu yang tepat untuk melihat hasil kerja keras kami.”

Benedict memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Zara bak seorang penilai.

“Ah ya, seperti biasa, seleramu tidak mengecewakanku.”

Valerius yang biasanya sangat percaya diri dengan karya-karyanya, kini tampak lebih berhati-hati.

“Pastikan semuanya siap untuk lusa,” lanjut Bendict.

“Tentu, Tuan. Segalanya akan sempurna,” jawab Valerius sigap.

Benedict tidak memberikan tanggapan lebih lanjut. Ia hanya mengangguk tipis sebagai isyarat bahwa percakapan telah usai, lalu berbalik pergi begitu saja.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Lonceng berdenting berat, menggetarkan udara musim dingin. Zara berdiri di depan pintu katedral bergaya gotik yang menjulang tinggi. Cahaya matahari yang pucat menembus kaca patri, menciptakan pendaran warna-warna yang jatuh diatas lantai marmer hitam.

Ribuan bunga white Calla Lily menghiasi lorong panjang katedral. Zara menarik napasnya dalam, perlahan ia melangkahkan kakinya.

Suasana begitu sunyi, hanya derap langkahnya dan suara gemerisik gaun yang menyapu lantai. Ia bisa merasakan semua mata tertuju pada dirinya.

Di sana, di depan altar, Benedict berdiri membelakangi pintu. Sosoknya yang jangkung tampak sangat kaku dan berwibawa dalam balutan tuksedo hitam. Saat Zara sampai di sampingnya, Benedict akhirnya menoleh, menatap Zara sejenak.

“Kita berkumpul disini, di hadapan Tuhan, untuk mempersatukan dua insan dalam ikatan suci yang tak terpisahkan,” ucap pendeta dengan dengan nada yang sangat berwibawa.

Pendeta menoleh pada Benendict. “Benedict Franklin, apakah engkau bersedia menerima Zara Clarance Harrison sebagai istrimu yang sah? Berjanji untuk setia padanya, menghormatinya, dan menjaganya dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan, sampai maut memisahkan kalian?.”

Hening sejenak. Lalu, suara Benedict memecah kesunyian.

“Saya bersedia,” jawabnya dengan suara yang rendah dan sangat tenang. Terlalu tenang. Tidak ada emosi di dalamnya.

Kini giliran pendeta itu menatap Zara. “Zara Clarance Harrison, apakah engkau bersedia menerima Benedict Franklin sebagai suamimu yang sah? Berjanji untuk setia padanya, mengabdi padanya, dan mendampinginya dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan, sampai maut memisahkan kalian?.”

Zara merasa lidahnya kelu. “Saya bersedia,” jawabnya, suaranya nyaris hilang ditelan luasnya katedral.

Benedict meraih tangan Zara. Jemarinya yang besar dan dingin menggenggam tangan Zara yang gemetar. Ia mengambil sebuah cincin berlian yang berkilau tajam di bawah cahaya lampu kristal, lalu menyematkan ke jari manis Zara dengan gerakan yang sangat pelan dan penuh penekanan.

“Apa yang dipersatukan oleh Tuhan, tidak boleh diceraikan manusia. Dengan ini, saya nyatakan kalian berdua sebagai suami dan istri,” pungkas pendeta sambil mengangkat tangannya.

Benedict perlahan berbalik menghadap Zara, ia mengulurkan tangannya, ujung harinya mengangkat dagu Zara agar menatapnya. Lalu, ia menunduk.

Cup.

Sebuah kecupan singkat mendarat di kening Zara. Bibir Benedict yang dingin terasa kontras dengan kulit Zara yang panas karena gugup.

Pendeta mengangkat tangannya ke atas kepala mereka berdua untuk memberikan berkat terakhir.

“Semoga Tuhan menyertai perjalanan hidup baru kalian.”

Benendict meraih lengan Zara, menuntunnya berbalik untuk menghadapi ratusan pasang mata yang menatap mereka dari bangku-bangku kayu ek.

Begitu mereka melangkah, suara pipe organ yang megah menggelegar. Para tamu menghujani Benedict dan Zara dengan guyuran kelopak mawar putih.

Di luar katedral, sebuah limosin hitam sudah menunggu. Benendict membukakan pintu untuk Zara. Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan, Benedict sibuk dengan ponselnya, sementara Zara menatap keluar jendela, melihat pemandangan kota yang mulai menjauh, digantikan oleh aroma garam laut yanh mulai tercium.

Meraka sampai di sebuah pelabuhan. The Sovereign of Eternity. Zara dibuat tercengang dengan pemandangan di depannya. Kapal pesiar itu bak istana yang mengapung di tengah laut.

“Zara,” panggil Benedict.

Zara tersentak. Benedict menarik tangan Zara agar berdiri tepat disampingnya.

“Ingat,” bisik Benedict dingin, “apa pun yang mereka katakan atau tanyakan, cukup tersenyum.”

Zara mengangguk kaku, “Baik, Tuan.”

Zara tidak mengenal satu orang pun di acara pernikannya sendiri. Baginya semua ini terlalu asing. Ia tidak bisa menerka apa lagi yang akan terjadi padanya.

Sementara itu, Benendict mulai menyapa para tamu. Ia memperkenalkan Zara sebagai istrinya. Tangannya melingkar di pinggang Zara, jemarinya menekan ringan seolah menegaskan kepemilikan.

“Senang bertemu denganmu, Nona…..ah, maksudku Mrs. Franklin” ucap seorang pria gempal berambut tipis sembari menyalami tangan Zara.

Zara hanya bisa mengangguk kecil, memaksakan sudut bibirnya terangkat.

“Terima kasih,” jawab Zara singkat.

Benendict akhirnya melepaskan pinggang Zara, ia tenggelam dalam percakapan bersama beberapa koleganya.

Zara mundur selangkah, lalu dua, hingga punggungnya bersandar pada dinding kaca.

“Gaun yang indah. Tapi terlalu berat untuk sekedar jamuan di atas kapal, bukan?”

Zara menoleh. Seorang pria dengan jas tailored berwarna biru berhenti di depannya.

“Maaf, anda siapa?,” tanya Zara, menjaga jarak tetap aman.

“Julian Alfonso,” jawab pria itu.

“Selamat atas pernikahanmu, Nona Harrison” lanjut Julian.

Zara terkejut dengan panggilan itu, pasalnya disini tidak ada yang mengenal siapa dirinya sebenarnya, namun ia segera tersenyum “Ah ya, terima kasih Mr. Alfonso.”

Pria itu menyesap sampanye nya, menatap tajam ke arah Benendict yang masih larut dalam percakapan.

“Kau tahu, suamimu punya selera yang unik” ucap Julian.

Alis Zara terangkat, menunggu kelanjutan kalimat Julian.

“Benedict sangat menyukai bunga……”

Mendengar itu Zara teringat hamparan mawar di belakang Mansion Benendict.

Julian mencondongkan tubuhnya, membisikkan lanjutannya dengan nada yang membuat buku kuduk Zara meremang.

“……dia menyukainya hanya untuk melihat berapa lama mereka mampu bertahan sebelum akhirnya layu di tangannya.”

Zara menelan ludah, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya.

1
rurry Irianty
novel dark romance favorit kuuu
Bude Yanti
aku suka lajut kan
Nanda
novel ini bagus, cocok dibaca sama orang yang suka genre dark romance
Nanda
KAK SEMANGAT UP NYAAA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!