NovelToon NovelToon
Setelah Dihina: Istri Gemuk Itu Kini Menjadi Dewi Cantik

Setelah Dihina: Istri Gemuk Itu Kini Menjadi Dewi Cantik

Status: tamat
Genre:CEO / Balas Dendam / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Muarofah

Nayra, gadis berbadan gemuk yang selalu merasa rendah diri, terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga — CEO termuda, terkaya, dan paling tampan yang diidamkan semua wanita. Pernikahan itu langsung menjadi bahan gunjingan seluruh kota.

Di mana pun dia melangkah, hinaan selalu menghampiri.
"Mana pantas gadis gemuk sepertimu berdiri di samping Tuan Arga?"
"Dia cuma aib bagi keluarga besar ini!"
"Pasti sebentar lagi diceraikan, kan suaminya malu punya istri jelek begini."

Bahkan di depan suaminya sendiri, dia sering diremehkan orang lain. Rasa sakit hati, malu, dan amarah perlahan menggerogoti hatinya. Nayra menangis malam itu dan bersumpah dalam hati:
"Kalian menghinaku karena aku gemuk? Kalian mengira aku tak berharga? Tunggu saja... aku akan buktikan! Aku akan berubah sampai kalian semua menyesal seumur hidup!"

Sejak hari itu, Nayra bangkit. Dia tinggalkan sifat malasnya. Tiap hari dia bangun subuh, berolahraga keras, menjaga makanan, menahan segala godaan, dan berjuang m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RATU BARU DI ISTANA HATI DAN DUNIA SOSIALITA

Matahari pagi menyelinap masuk lewat celah tirai jendela kamar yang besar dan megah, menerangi ruangan itu dengan cahaya keemasan yang hangat. Di atas tempat tidur besar yang empuk dan mewah itu, Nayra terbangun perlahan. Dia membuka matanya yang indah, dan hal pertama yang dia rasakan adalah kehangatan lengan kekar yang melingkar erat di pinggang rampingnya.

Nayra menoleh perlahan, dan jantungnya berdegup pelan saat melihat wajah Arga yang tertidur damai di sampingnya. Wajah tampan itu terlihat begitu tenang, begitu damai, dan begitu berbeda jauh dari Arga yang dingin dan angkuh yang dia kenal dulu. Rambut hitamnya sedikit berantakan, napasnya teratur, dan bibirnya sedikit tersenyum seolah sedang bermimpi indah.

Nayra tersenyum tipis, senyum yang penuh kebahagiaan dan rasa bangga. Dia mengingat kembali malam kemarin, momen saat dia tampil mempesona, saat semua orang kaget, saat Arga mengakui cintanya, dan saat dia akhirnya menang sepenuhnya. Rasanya seperti mimpi indah yang tak ingin dia bangunkan.

Dia mengangkat tangannya perlahan, menyentuh wajah Arga dengan lembut, menyisir rambut hitam suaminya itu dengan ujung jarinya. Dulu, dia bahkan tak berani mendekat, tak berani menatap, apalagi menyentuh Arga seperti ini. Dulu, Arga adalah raja yang jauh dan dingin baginya. Tapi sekarang... raja itu sudah jatuh tersungkur di kakinya, menjadi pria yang paling lembut, paling perhatian, dan paling mencintainya di dunia.

"Kau benar-benar milikku sekarang, Arga..." bisik Nayra pelan, matanya berbinar bahagia. "Dan aku benar-benar menjadi wanita yang kau puja-puja."

Gerakan kecil itu membuat Arga perlahan membuka matanya. Begitu manik matanya yang tajam itu menangkap sosok Nayra yang sudah terjaga dan menatapnya dengan senyum indah, seketika itu juga wajah Arga berubah menjadi sangat lembut. Dia tersenyum lebar, senyum paling tulus dan paling indah, senyum yang kini hanya dia persembahkan untuk istrinya saja.

"Pagi, Dewiku..." sapa Arga dengan suara serak khas bangun tidur yang terdengar begitu seksi dan lembut. Dia mempererat pelukannya di pinggang Nayra, menarik tubuh istrinya mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Matanya menelusuri setiap inci wajah Nayra, seolah takjub betapa indahnya ciptaan Tuhan yang ada di hadapannya itu. "Apa kau tahu? Ini pagi terindah dalam seumur hidupku. Membangunkan mata dan hal pertama yang kulihat adalah wajah cantikmu."

Pipi Nayra memerah merona cantik mendengar sapaan itu. Dulu, kata-kata manis seperti ini tidak pernah ada di kamus hidup Arga. Dulu, kata-kata yang keluar dari mulutnya hanyalah dingin, ketus, atau acuh tak acuh. Tapi sekarang, setiap kata yang keluar dari mulut Arga seolah terbuat dari gula dan madu, manis dan memabukkan.

"Manis sekali bicaramu pagi-pagi begini, Tuan Suami," jawab Nayra sambil tertawa kecil, suara renyahnya terdengar indah sekali di telinga Arga. Dia membalas tatapan suaminya dengan berani, penuh percaya diri, tidak lagi menunduk atau merasa rendah diri. "Kau baru saja menyadari keindahanku, tapi kau sudah pandai sekali merayuku. Padahal dulu... dulu kau bahkan tidak sudi melirikku sedikit pun."

Mendengar itu, senyum Arga sedikit memudar, digantikan oleh raut penyesalan yang kembali muncul di matanya. Dia menghela napas panjang, lalu mengusap pipi Nayra dengan penuh rasa bersalah.

"Jangan ingatkan aku pada kebodohanku dulu, Sayang..." bisik Arga pelan, lalu mencium kening Nayra dengan lembut dan lama. "Setiap kali aku teringat betapa butanya aku dulu, betapa jahatnya aku membiarkan kau dihina, betapa dinginnya aku padamu... aku ingin sekali memukul diriku sendiri. Aku menyesal, Nayra. Aku sangat menyesal membuang-buang waktu berbulan-bulan lamanya, padahal keindahan dan kebaikan hatimu ada tepat di sampingku. Aku berjanji... sisa hidupku akan kugunakan untuk menebus semua itu. Aku akan membuatmu lupa betapa sakitnya rasa sakit hati itu."

Nayra tersenyum kembali, lalu mengusap dada bidang suaminya itu. "Sudah, Arga. Aku sudah memaafkanmu. Dan aku sudah bahagia sekarang. Itu yang paling penting kan?"

Arga mengangguk kuat-kuat, lalu kembali tersenyum lebar. "Benar. Yang paling penting kau bahagia. Dan mulai hari ini, tugasku satu-satunya adalah menjaga senyum indah itu tetap ada di bibirmu selamanya."

Dia bangkit dari tempat tidur, lalu mengulurkan tangannya ke arah Nayra. "Ayo, Sayang. Hari ini hari istimewa. Hari pertama kau melangkah keluar sebagai Nyonya Pradipta yang baru. Hari di mana seluruh kota akan tahu... siapa wanita yang paling berharga di hatiku."

Nayra menerima uluran tangan itu, bangkit berdiri dengan anggunnya. Tubuhnya yang ramping dan indah itu terlihat makin mempesona hanya dengan mengenakan pakaian tidur sederhana. Arga menatapnya tak berkedip, matanya penuh kekaguman yang tak habis-habisnya.

Saat mereka berdua keluar dari kamar menuju ruang makan, suasana di sepanjang lorong rumah besar itu berubah drastis. Para pelayan yang dulu sering menatap Nayra dengan pandangan meremehkan, jijik, atau sekadar biasa saja... kini semua menundukkan kepala dengan hormat dan takzim. Tatapan mereka penuh kekaguman, penuh rasa takjub, dan penuh rasa segan.

"Selamat pagi, Nyonya Pradipta," sapa mereka serempak dengan nada sopan dan rendah hati, berbeda jauh dari sapaan dingin dan ketus dulu.

Nayra hanya mengangguk lembut sambil tersenyum anggun, berjalan di samping Arga dengan langkah tegak dan penuh wibawa. Dia bukan lagi gadis gemuk yang takut-takut dan sembunyi-sembunyi. Dia adalah Nyonya Besar rumah ini. Dia adalah Ratu yang berkuasa.

Saat masuk ke ruang makan, di sana sudah ada Bibi Ratih yang sedang menyiapkan hidangan. Begitu melihat Nayra dan Arga masuk, Bibi Ratih langsung membungkuk dalam-dalam dengan wajah pucat dan penuh rasa hormat. Dia masih sangat ingat betul kata-kata kasar dan hinaan yang pernah dia ucapkan dulu, dan dia masih sangat takut akan balas dendam Nayra.

"Selamat pagi, Tuan Muda... Selamat pagi, Nyonya Nayra..." sapa Bibi Ratih dengan suara gemetar. Dia menunduk dalam, tak berani menatap wajah Nayra.

Arga duduk di kursi utamanya, lalu menarik kursi di sebelahnya agar Nayra duduk di sana — posisi yang dulu selalu kosong atau Nayra duduk jauh di ujung meja. Sekarang, Nayra duduk tepat di samping Arga, di posisi wanita terpenting.

Arga menatap tajam ke arah Bibi Ratih yang masih gemetar ketakutan. "Bibi Ratih," panggilnya dengan suara berat dan dingin, membuat wanita tua itu makin menunduk ketakutan. "Ingatlah baik-baik pesanku ini, dan sampaikan pada semua orang yang bekerja di rumah ini. Mulai hari ini, Nayra adalah Nyonya Besar. Apa pun yang dia katakan adalah perintah. Apa pun yang dia inginkan harus dipenuhi. Siapa pun yang berani menatapnya sebelah mata, berani berkata kasar, atau berani membuat hatinya sedikit pun terluka... akan kuhalau dari sini dengan tangan sendiri. Mengerti?"

"Mengerti, Tuan Muda! Hamba mengerti sekali!" jawab Bibi Ratih tergesa-gesa, kepalanya makin menunduk dalam. "Hamba berjanji akan melayani Nyonya Nayra dengan sebaik-baiknya, dengan sepenuh hati. Hamba menyesal atas kesalahan hamba dulu, hamba mohon ampun Nyonya..."

Nayra tersenyum lembut, lalu berkata dengan suara tenang dan berwibawa. "Bangunlah, Bibi. Aku tidak menyimpan dendam. Selama Bibi bekerja dengan jujur dan sopan mulai sekarang, kita akan baik-baik saja. Aku tidak pernah melarang orang berubah, sama seperti aku berubah sekarang."

Mendengar itu, Bibi Ratih menangis haru sambil mengangguk-angguk penuh rasa terima kasih. Hatinya yang tadinya penuh rasa takut, kini digantikan oleh rasa hormat yang sangat besar. Dia sadar, wanita cantik di hadapannya ini tidak hanya indah fisiknya, tapi juga hatinya begitu luas dan mulia.

Sarapan pagi itu berlangsung begitu manis dan hangat. Arga sama sekali tidak menyentuh makanannya sendiri. Dia sibuk menyuapi Nayra, sibuk memastikan istrinya makan dengan enak, sibuk memuji keindahan wajah Nayra setiap kali wanita itu mengunyah. Perhatiannya begitu besar, begitu tulus, membuat Nayra merasa seperti putri raja yang paling dimanjakan.

"Sayang," ucap Arga tiba-tiba di tengah makan, matanya berbinar penuh ide. "Hari ini ada acara penggalangan dana sosial yang dihadiri oleh seluruh kalangan atas, pejabat, pengusaha, dan semua sosialita ibu kota. Biasanya aku malas datang, tapi hari ini... aku ingin kau menemaniku. Aku ingin mempersembahkanmu pada seluruh dunia. Aku ingin semua orang tahu... wanita tercantik, paling anggun, dan paling berharga di ibu kota ini... adalah istriku."

Mata Nayra membelalak kaget sekaligus senang. Dia tahu acara itu sangat bergengsi. Acara di mana semua wanita paling cantik, paling kaya, dan paling terkenal akan berkumpul, bersaing memamerkan keindahan dan kemewahan mereka. Dulu, saat dia masih berisi, dia tidak pernah diajak, bahkan dilarang keras datang karena Arga malu. Tapi sekarang... Arga sendiri yang mengajaknya, bahkan bangga mempersembahkannya.

"Tapi Arga..." ucap Nayra ragu sedikit, "Di sana nanti akan ada banyak wanita cantik, banyak wanita terkenal, banyak wanita yang dulu kau kenal. Kau yakin mau membawaku ke sana? Dulu... dulu mereka semua yang paling keras menghinaku."

Arga tertawa kecil, lalu menggenggam tangan Nayra erat di atas meja. Matanya menatap tajam dan penuh percaya diri.

"Justru itulah alasannya, Sayang," jawab Arga tegas. "Aku ingin kau ada di sana. Aku ingin kau berdiri di sampingku dengan anggun dan cantikmu. Aku ingin melihat wajah-wajah mereka yang dulu menghinamu itu saat melihatmu sekarang. Aku ingin mereka sadar... wanita yang mereka remehkan, kini menjadi ratu yang jauh di atas mereka semua. Dan aku ingin mereka sadar... bahwa akulah pria paling beruntung yang memilikimu."

Nayra tersenyum lebar, semangatnya kembali berkobar. "Baiklah kalau begitu. Aku akan datang. Dan aku pastikan... saat aku masuk ke ruangan itu, aku akan menjadi satu-satunya wanita yang mereka lihat."

Siang harinya, persiapan besar-besaran dilakukan. Arga memanggil penata rias dan penata busana terbaik dan paling mahal dari ibu kota datang khusus ke kediaman mereka. Nayra dimanjakan berjam-jam lamanya, mulai dari perawatan wajah, rambut, kuku, sampai pemilihan gaun yang paling indah dan berkelas.

Arga sendiri yang memilihkan gaun untuk istrinya. Dia memilih sebuah gaun panjang berwarna merah marun yang elegan, berpotongan sederhana tapi mempertontonkan lekuk tubuh Nayra yang indah dan ramping dengan sangat sempurna. Kainnya berkilauan halus seperti beludru mahal, jatuhnya sangat anggun menyapu lantai. Ditambah dengan perhiasan kalung berlian yang berkilauan, anting mutiara yang indah, dan sepatu hak tinggi yang elegan.

Saat Nayra selesai berdandan dan keluar dari kamar ganti, Arga yang sedang menunggu di ruang tengah sampai terpaku berdiri. Napasnya tertahan, matanya membelalak takjub, dan mulutnya sedikit terbuka. Dia seolah melihat bidadari yang baru saja turun dari langit ke bumi.

Nayra berdiri di sana, rambut panjangnya ditata bergelombang indah menjuntai di punggung, wajahnya dirias sempurna namun tetap terlihat alami dan manis. Gaun merah marun itu memeluk tubuhnya dengan begitu indah, menonjolkan pinggangnya yang kecil, dadanya yang indah, dan kulitnya yang putih bersih berkilauan. Aura kecantikannya begitu kuat, begitu mempesona, begitu berkelas sampai-sampai Arga merasa kakinya lemas karena terpesona.

"Ya Tuhan..." bisik Arga parau, berjalan perlahan mendekati Nayra. Dia memegang kedua bahu istrinya, menatapnya lekat-lekat. "Kau... kau benar-benar sempurna, Nayra. Kau bukan manusia... kau adalah dewi yang dikirim Tuhan untukku. Aku takut... aku takut kalau aku membawamu ke sana, nanti semua pria di kota ini akan iri padaku dan ingin merebutmu."

Nayra tertawa kecil, memukul pelan dada suaminya. "Jangan berlebihan, Suamiku. Aku milikmu. Selamanya hanya milikmu."

Malam itu, mobil mewah hitam Arga melaju menuju gedung acara. Begitu sampai di lokasi, sudah banyak orang berdiri di depan pintu masuk, berfoto, dan berbincang-bincang. Saat Arga turun dari mobil, semua mata langsung tertuju padanya. Arga Pradipta... pria paling kaya dan paling berpengaruh, selalu menjadi pusat perhatian ke mana pun dia pergi.

Namun saat Arga berjalan memutar ke sisi lain mobil, membuka pintu penumpang, dan mengulurkan tangannya... semua percakapan mendadak terhenti. Semua kamera langsung diarahkan ke sana. Semua mata membelalak tak percaya.

Karena yang keluar dari mobil itu bukanlah wanita lain, melainkan Nayra. Wanita yang dulu dikenal sebagai istri gemuk Arga yang diremehkan semua orang.

Tapi Nayra yang sekarang... jauh berbeda.

Dia melangkah keluar dengan anggunnya, menggenggam tangan Arga, berdiri tegak di samping suaminya. Gaun merahnya berkilauan indah, wajahnya bersinar terang, senyumnya mempesona, tubuhnya ramping dan indah. Dia berdiri di sana bukan lagi sebagai istri yang disembunyikan, melainkan sebagai pasangan setara, cantik luar biasa, dan penuh wibawa.

"Siapa itu?" bisik banyak orang kaget.

"Itu... itu istri Arga? Nayra? Tidak mungkin kan?"

"Ya ampun... cantik sekali! Tubuhnya indah sekali! Dia benar-benar Nayra yang dulu gemuk itu? Ajaib!"

"Arga beruntung sekali! Dia benar-benar mendapatkan permata terindah!"

Suara kekaguman terdengar di mana-mana. Di sudut pintu masuk, terlihat sekelompok wanita sosialita yang terkenal cantik dan sombong. Di antara mereka ada Karin, ada wanita-wanita yang dulu sering menghina Nayra. Saat melihat Nayra masuk dengan keindahan yang luar biasa itu, wajah mereka seketika berubah pucat, senyum mereka hilang, dan hati mereka terbakar rasa iri yang membabi buta.

Karin menggenggam tas tangannya erat-erat sampai tangannya memutih. Dia menatap Nayra yang berjalan anggun di samping Arga, berjalan melewati mereka seolah mereka tidak ada apa-apanya. Dia melihat bagaimana semua mata tertuju pada Nayra. Dia melihat bagaimana semua pria menatap Nayra

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!