Aku terbangun di tubuh anak perempuan yang beusia 5 tahun, merupakan anak kandung Lucas Alexandro yang mengalami hidup yang teragis sebagai anak yang tidak di inginkan. Sang ayah memilih anak angkat untuk di jadikan putri dan aku malah di bunuh dengan tangan ayah ku sendiri karena hasutan sang pembantu anak angkatnya.
Bagaimana kelanjutan cerita ku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertahan Hidup
Pia nampak panik dan buru-buru mencoba mematikan layar monitor itu, "Ish... bagaimana bisa aku melakukan dengan tidak sengaja... apa otak ku konslet sedikit tadi," geramnya dalam hati.
"PIA! apa maksud kamu ini sebenarnya? kamu menganggap kuliah lelucon kalau begini terus saya tidak segan-segan memberikan kamu E?" Ibu Lana makin geram lihat tingkah Pia yang kelabakan.
"B-bukan begitu bu, saya akan coba perbaiki... saya tidak tau kenapa file nya bisa salah," ujar Pia masih mengotak-atik laptop itu.
"Saya tidak mau..."
Ucapan Lana terpotong melihat Pia mencengkram dadanya dengan kuat, keringat dingin mulai bercucuran dari keningnya. Seperti manahan sesuatu yang sangat membuatnya tidak nyaman.
"Kenapa kamu Pia? kamu berpura-pura sakit agar saya iba, saya tidak perduli, saya sering menemukan mahasiswa bandel seperti kamu,"
Pia tidak menjawab apapun, malah mencengkram sisi meja yang berisi proyektor dan laptop itu. Suasana mulai tegang, menoleh ke arah Pia.
Pia tidak tau mengapa dadanya begitu sesak seolah di tusuk-tusuk sesuatu dengan punggung yang terasa dingin menusuk. Pia merasa pandangan di depan memburam dengan wajah-wajah panik yang mulai menghampirinya.
Namun, entah siapa itu, temannya yang menasehati nya, dosennya yang killer itu, atau temannya yang mengutuknya tadi. Tapi, yang dirasakan Pia saat ini hanya sakit.
*
"Bangun kamu bocah tengik! berani kamu tidur sedangkan aku stress!"
Teriak seseorang yang menganggu tidur Pia, rasa suara itu seperti monster yang jahat siap menerkam nya kapan saja.
Pia mengerjapkan mata singkat, rasanya ruangan itu tidak sama dengan ruangan kelasnya bukan kah dia tadi pingsan di kelas. begitupun dengan klinik kampus juga tak sama persis. Tempat nya sekarang seperti gudang barang bekas.
"Bangun kamu... ctar..."
Teriak wanita itu lagi memberikan sabetan kemoceng tepat di punggung nya membuat Pia terbangun dengan paksa dan merayap ke ujung ranjang kotor itu tanpa aba-aba.
"Hahaha... bangun juga kamu sekarang," ujarnya dengan hidung kembang kempis dan mata merah menyala seperti banteng matador yang siap menyerang nya.
"Ampun... ampun, jangan sakiti aku," rintih sembari mengangkat kedua tangannya untuk menutup wajahnya.
Pia nampak keheranan dengan apa yang dilakukan oleh dirinya saat ini padahal dia sudah berusia dua puluh tahun dan, 'sangat tidak estetik menurut nya,'
"Bangun juga kamu akhirnya," seringainya dengan menaiki ranjang dan mencengkram dagu Pia dengan kasar.
"Ctar..." wanita mengayunkan lagi kemoceng itu ke arah Pia, "Kamu tau, aku gagal lagi dalam berjudi, dan anak ku gagal diterima jadi abdi negara, ini semua karena kamu dan ayah mu yang kotor itu," ujarnya makin mencengkram dagu Pia dengan kasar, serta tatapan nyalang nya.
"Maka, terima lah ini!" pekiknya memberikan sentuhan yang menyakitkan di tubuh Pia hingga wanita itu puas dan meninggalkan kamar itu.
Pia merasakan tubuhnya mati rasa, lemah tak berdaya hingga terlelap kembali dalam gelap yang tak dapat dideskripsikan.
Beberapa jam kemudian dia terbangun dengan tubuh yang masih sakit, Pia kemudian melihat di sekitar nya yang terlihat berbeda dari bagian mana pun hidupnya dulu.
"Aku tidak pernah merasa tinggal di tempat ini sebelumnya, rumah Sri, Dewi, Desi, Nadia, Laras juga tidak seperti ini," gumam Pia mencoba mengingat teman-teman dekat nya di kampus.
"Aish..." ucapnya menggeram pelan selepas merasakan rasa nyeri akibat dari wanita yang dia tidak kenali itu.
Pia mencoba merangkak turun dari ranjangnya, dan merasakan jaraknya dari lantai sedikit jauh. Tidak seperti biasanya, sebab dia orang dewasa, tapi kenapa dia bagaikan anak kecil yang baru tumbuh.
Pia tetap berusaha menjadi orang yang positif, kemudian berjalan mencari kamar mandi. Meskipun sedari tadi dia cukup aneh sebab lantai yang dia pijaki terasa dekat.
"Ya ampun, Tuan Lucas ternyata akan mengadopsi seorang anak,"
Suara itu membuat Pia terhenti dan bersembunyi untuk memastikan percakapan para pelayan yang memakai kemeja dengan celemek di pinggang nya itu.
"Ya, anak itu pasti tidak akan di perdulikan,"
"Tapi, setidaknya kita masih mendapatkan gaji,"
"Heh.. gaji kata mu, wanita tua itu sering membuat kita telat dapat gaji. Mending kita pindah saja, atau kita menjilat saja pada anak angkat Tuan, agar bisa mendapatkan tempat yang layak, tidak disini dengan keadaan kumuh,"
"Hahaha... benar juga, dari pada membuat dosa dengan menghardik anak itu terus, lebih baik kita melayani orang yang benar-benar dia anggap anak oleh Tuan," tawa pelayan itu memenuhi ruangan dan terdengar jelas oleh Pia.
Pia nampak memegangi dagunya dan masih mendengar perbincangan mereka yang sedang menggosipkan atasan mereka dan mengutuk anak Tuan mereka sendiri.
"Oh jadi aku ini kemungkinan anak Lucas..." ujar Pia terhenti.
"Hah! Anak Lucas Alexandro! yang benar saja," bisik Pia dengan cukup lantang, namun tidak terdengar jelas oleh para pelayan.
"Siapa itu?" panggil salah satu pelayan penasaran dengan suara siapa yang didengarnya.
"Paling juga tikus, kan sebentar lagi villa ini akan rubuh... hahaha," sahut temannya itu.
"Iya, kamu mungkin ada benar juga... hahaha," jawab nya kemudian tertawa dan menggandeng temannya itu mereka pun berjalan meninggalkan lorong itu.
Pia masih tercengang dengan percakapan yang baru saja dia dengar, jika benar perkataan dari kedua pelayan itu. kemungkinan besar dia adalah anak dari Lucas Alexandro yang membuang anak kandung nya.
"Aku tidak mau mati," ujar Pia menatap wajah kecil yang ada di dalam cermin di atas wastafel.
"Apa ya kira-kira yang harus aku lakukan untuk melewati nya sampai aku dewasa, menjilat pada Lucas?" gumam Pia sembari menyentuh pipinya yang tembem itu.
"Tidak, tidak aku akan mati konyol, bagaimana kalau dia langsung membunuh aku ketika berlagak manja di dekat nya,"
"Kalau aku bertahan disini, mungkin aku akan mati juga dengan wanita itu, atau aku coba dekati... " Pia menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak aku tidak akan selamat dari apapun,"
"Kruuuk..."
Pia menyentuh perutnya yang saat ini terasa sakit, mungkin dia belum makan apapun karena matahari sudah semakin meninggi dan sejak tadi Pia hanya tertidur.
Pia menuruni tangga wastafel itu kemudian memberanikan diri keluar dari villa itu untuk mencari makanan yang mungkin bisa didapat dari komplek rumah besar itu.
Tiba-tiba Pia berhenti ketika seseorang sedang bersantai di sebuah taman dengan kolam teratai yang indah di hadapannya. Dengan cepat Pia menghampiri berharap orang itu akan memberikan sedikit kue yang ada di atas sana.
"Halo, Tuan Muda, apakah kamu ingin memberikan sedikit kue yang ada di atas sana," ujar Pia dengan gugup.
Pria yang sedang duduk bersandar di sofanya itu, lalu menatap balik ke arah Pia dengan tatapan dingin dan mengintimidasi seperti orang yang kejam. Mata elang nampak menelusuri Pia dari atas ke bawah.