Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Penginapan Tong Hitam
Kota Perbatasan Batu Darah tidak pernah tidur, namun saat senja turun, aura kekejaman kota ini semakin pekat. Lentera-lentera berbahan bakar minyak lemak binatang spiritual menyala dengan warna kehijauan yang suram, menerangi jalan-jalan berlumpur yang kini dipenuhi oleh pria dan wanita bersenjata lengkap. Mata mereka liar, saling memindai setiap wajah baru yang melintas, terobsesi dengan ilusi kekayaan dari surat buronan Tanah Suci.
Lin Chen memimpin rombongan menyusuri gang-gang sempit yang lembap dan berbau pesing. Mereka sengaja menghindari jalan utama. Setengah jam berjalan, mereka tiba di sebuah penginapan bertingkat dua yang nyaris rubuh, bernama "Tong Hitam". Tempat ini berbau arak asam dan muntahan, menjadikannya pilihan terakhir bagi kultivator pengembara yang bangkrut. Tempat yang sempurna untuk bersembunyi.
Pemilik penginapan, seorang kakek tua bongkok dengan mata kanan yang buta, sedang menghisap pipa tembakaunya di balik meja konter kayu yang lapuk.
"Satu kamar kecil di lantai atas, yang tidak ada jendelanya," ucap Lin Chen sambil meletakkan tiga keping Batu Spiritual tingkat rendah.
Kakek itu melirik kepingan batu itu, lalu menatap Lin Chen, Lin Xue yang menunduk, dan Lin Tian yang mengenakan topeng kayu abu-abu serta lengan kanannya yang diperban.
"Tempat ini bebas bertanya, bebas membunuh. Jangan mati di kamarku, atau aku akan menyita semua barang kalian," gumam kakek itu kasar, menyapu batu spiritual ke dalam laci dan melempar sebuah kunci berkarat.
Kamar mereka hanyalah ruangan sempit berukuran tiga kali tiga meter dengan dua ranjang jerami tipis dan satu meja reyot. Udaranya pengap, namun setidaknya dindingnya cukup tebal untuk meredam suara.
Lin Tian melepaskan caping bambunya dan duduk di kursi kayu yang berderit. Ia tidak melepaskan topengnya.
"Chen, malam ini kau bertugas menjaga Xue-er. Kunci pintunya dari dalam. Jangan keluar meskipun ada suara orang digorok di depan pintu kalian," instruksi Lin Tian dengan suara rendah dan serak.
"Kak Tian akan pergi sekarang? Ke Asosiasi Tentara Bayaran?" Lin Chen bertanya cemas. "Mereka semua sedang mabuk darah karena imbalan itu."
"Itu sebabnya ini waktu yang tepat," sahut Lin Tian. Ia berdiri dan mengencangkan balutan perban di lengan kanannya. Di balik perban kain kasar itu, kulit perunggunya kini telah menyatu sepenuhnya dengan Tulang Pedang Sejati. Lengan itu sekarang bukan hanya sekeras baja, tetapi memiliki kepadatan yang mampu menyalurkan ledakan tekanan udara setara sihir.
"Tunggu aku sampai fajar. Aku akan kembali membawa cukup modal untuk membeli pil inti dingin untuk menekan hawa dingin Xue-er."
Tanpa basa-basi lagi, Lin Tian melesat keluar kamar layaknya hantu malam, tanpa memunculkan suara decit lantai kayu sedikit pun.
Asosiasi Tentara Bayaran terletak di jantung kota, di sebuah bangunan melingkar mirip arena gladiator yang terbuat dari susunan tengkorak binatang buas dan batu hitam.
Suasana di dalam aula utama bak panci mendidih. Ratusan tentara bayaran, pemburu hadiah, dan pembunuh bayaran bergerombol di depan papan misi raksasa. Tentu saja, perkamen buronan "Iblis Tanpa Dantian" mendominasi pembicaraan.
"Kalian dengar? Ada rumor iblis itu lari ke Hutan Belantara Barat!" teriak seorang pria bertubuh kekar bersenjatakan kapak ganda.
"Kau bodoh! Aku dapat informasi dari Murid Sekte Awan Hijau yang membelot, iblis itu mengambil rute Hutan Selatan! Dia pasti mengarah ke kota perbatasan ini!" bantah seorang kultivator wanita berwajah dingin dengan pakaian ketat hitam.
Di tengah hiruk-pikuk dan bau bir busuk, sesosok pemuda berjubah kumal dengan topeng kayu abu-abu berjalan tenang membelah kerumunan. Tidak ada yang memperhatikannya secara khusus, karena orang aneh yang menyembunyikan identitas adalah pemandangan biasa di sini.
Lin Tian berjalan menuju konter pendaftaran yang dijaga oleh seorang wanita paruh baya berpakaian provokatif dengan riasan tebal.
"Aku ingin mendaftar," ucap Lin Tian datar, suaranya serak buatan. Ia sengaja memancarkan sedikit tekanan udara dari otot lehernya untuk menutupi fakta bahwa ia tidak memiliki fluktuasi Qi.
Wanita itu melirik Lin Tian dengan malas, matanya meremehkan perban kotor di lengan kanan Lin Tian. "Nama? Bakat? Senjata?"
"Mo," jawab Lin Tian. Ia mengangkat tangan kirinya dan meletakkan sepotong kecil bijih besi biasa di atas meja konter.
Di depan mata wanita itu, Lin Tian hanya menggunakan jari telunjuk dan ibu jari kirinya untuk menjepit bijih besi sekeras batu itu.
KRETAK.
Dengan sedikit tekanan, bijih besi murni itu hancur menjadi bubuk besi halus di antara jari-jarinya.
Mata wanita itu membelalak seketika. Menghancurkan besi murni menggunakan Qi adalah hal biasa bagi kultivator. Tetapi menghancurkan besi menjadi bubuk murni hanya menggunakan jari tangan tanpa sepercik cahaya spiritual pun? Itu membutuhkan kendali otot dan kekuatan tulang setara binatang buas purba!
Sikap wanita itu berubah 180 derajat. Senyum menggoda muncul di bibirnya.
"P-Pendaftaran diterima, Tuan Mo," ucapnya cepat, menyerahkan sebuah plat besi hitam kosong dengan angka '998'. "Itu nomor identifikasi Anda. Anda ingin mengambil misi pengawalan, pembunuhan, atau..."
"Aku bukan di sini untuk mencari misi dari kertas-kertas sampah itu," potong Lin Tian dengan nada dingin, mengetukkan jari kirinya di meja konter. "Kudengar asosiasi ini memiliki Arena Pertarungan Darah di bawah tanah. Pertarungan tanpa hukum, yang menang mengambil semua harta yang kalah, dan penonton bertaruh di sana. Aku ingin mendaftar."
Wanita itu menelan ludah. Arena Pertarungan Darah adalah tempat pembuangan mayat. Tempat para kultivator psikopat membantai satu sama lain demi kepuasan dan Batu Spiritual dalam jumlah besar.
"A-Anda yakin, Tuan Mo? Aturan di sana adalah pertandingan kematian. Dan dengan kondisi lengan kanan Anda yang... maaf, tampak cedera..."
"Masukkan namaku ke daftar pertarungan terdekat," titah Lin Tian mutlak. "Aku ingin bertaruh untuk diriku sendiri."
Lin Tian mengeluarkan seluruh sisa kekayaannya yang tadi ia ambil dari para murid Gagak Hitam—sekitar 300 Batu Spiritual tingkat rendah—dan meletakkannya di meja. Jika ia menang, uang itu akan berlipat ganda. Jika ia bisa memprovokasi lawan yang kuat dan kaya di arena, ia juga berhak mengambil seluruh kantong penyimpanan mayat lawannya.
Bagi sang Teratai Pedang, ini bukan arena bunuh diri. Ini adalah tempat panen ladang pembantaian yang paling efisien.
Tiga puluh menit kemudian, sorak-sorai buas yang memekakkan telinga bergema di arena bawah tanah yang remang-remang. Bau darah segar, kotoran, dan uang taruhan bercampur aduk menyesakkan dada. Di tribun, ratusan pejudi dan pemburu bayaran berteriak liar mengacungkan tiket taruhan mereka.
Di tengah-tengah arena pasir yang dibatasi oleh formasi pelindung besi, berdiri seorang raksasa setinggi dua setengah meter, ototnya menonjol bak batu karang, memegang gada berduri raksasa. Ia adalah "Si Jagal Beruang," ahli fisik murni tahap Pembangunan Pondasi Awal yang telah memenangkan lima belas pertandingan kematian berturut-turut.
"Dan malam ini, sang juara bertahan kita, Si Jagal, akan menghadapi penantang baru!" teriak wasit dari atas balkon pelindung. "Seorang pengembara buta ketenaran, dengan cacat lengan, yang mendaftar dengan nama MO!"
Sorakan mengejek menggema.
"Babi cacat! Kau pikir ini tempat penitipan orang jompo?!"
"Jagal, hancurkan kepalanya di detik pertama!"
Pintu gerbang besi yang berkarat terbuka pelan. Lin Tian, masih dengan jubah abu-abu kusam, topeng kayu polos, dan lengan kanannya yang diperban, melangkah masuk ke atas pasir merah arena. Ia berjalan santai, seolah sedang bersantai di halaman belakang rumahnya.
Si Jagal Beruang memukul dadanya sendiri hingga bergema keras, lalu menunjuk Lin Tian dengan gada berdurinya.
"Bocah kurus! Aku akan mematahkan semua tulangmu dan menjadikan tengkorakmu sebagai mangkok arakku!" raungnya, melepaskan aura Qi kuning yang mengerikan, menunjukkan bahwa ia bukan hanya mengandalkan fisik, tapi juga dukungan sihir tingkat rendah.
Wasit mengangkat tangannya.
"Bunuh!"
Gong perunggu dibunyikan!
Si Jagal Beruang menghentakkan kakinya, menciptakan kawah kecil di pasir, dan melesat maju bak badak mengamuk. Gada berdurinya yang berbobot seribu kati diayunkan lurus ke arah dada Lin Tian. Jika terkena, tubuh Lin Tian dipastikan akan meledak menjadi kabut darah.
Para penonton menahan napas, beberapa sudah mulai menghitung koin taruhan mereka yang menang, yakin bahwa si "Mo" ini akan tamat dalam satu serangan.
Lin Tian tidak menghindar. Ia berdiri terpaku di tempat.
Ketika gada raksasa itu berjarak setengah jengkal dari dadanya...
Lin Tian mengangkat lengan kirinya dengan santai, telapak tangannya terbuka.
BOOM!
Suara hantaman yang luar biasa keras mengguncang formasi arena.
Namun, bukan tubuh Lin Tian yang meledak.
Arena tiba-tiba sunyi senyap, sesunyi kuburan. Mata seluruh penonton, wasit, dan Si Jagal Beruang terbelalak lebar seakan melihat hantu.
Di tengah arena, Lin Tian masih berdiri tegak, tidak bergeser satu milimeter pun ke belakang. Tangan kirinya—tangan yang terlihat kurus dan fana—menahan kepala gada berduri yang sangat masif itu dengan sangat tenang.
Gada seberat seribu kati yang didorong oleh momentum raksasa itu... ditahan hanya dengan satu telapak tangan. Tanpa fluktuasi sihir. Tanpa cahaya Qi.
"Kau..." Si Jagal Beruang tergagap, otot-otot di wajahnya berkedut ngeri. Ia mencoba menarik gadanya, tapi benda itu terasa menancap di gunung besi.
Dari balik topeng abu-abu polosnya, suara Lin Tian terdengar datar dan dingin, menggema di arena yang sunyi.
"Aunanmu terlalu lambat. Dan ini..."
Lin Tian mengalirkan sebagian tenaga dari Seni Pedang Sembilan Kematian ke telapak kirinya, meremas duri-duri besi pada gada tersebut.
KRAK! PRANG!
Gada baja spiritual itu meledak hancur menjadi serpihan logam tajam akibat tekanan kompresi fisik murni!
"...bukan senjata, tapi mainan anak-anak."
Sebelum Si Jagal Beruang bisa memproses kehancuran senjatanya, Lin Tian melangkah setengah langkah ke depan. Tangan kirinya yang tadinya menahan gada, kini mengepal dan menghantamkan tinju lurus ke perut raksasa tersebut.
DDUUMMM!
Sebuah gelombang kejut udara tembus pandang meledak dari punggung Si Jagal Beruang, membelah udara di belakangnya.
Mata si raksasa memutih seketika. Ia tidak memuntahkan darah, karena kekuatan hantaman itu langsung menghancurkan jantung dan seluruh organ internalnya dalam satu tarikan napas.
Tubuh raksasa seberat ratusan kilogram itu terlempar ke belakang, meluncur di atas pasir, dan menabrak dinding formasi hingga pingsan, mati tanpa sempat mengeluarkan suara erangan.
Hanya satu serangan. Dari orang yang lengannya diperban.
"P-Pemenangnya... MO!" wasit berteriak histeris, memecahkan keheningan absolut yang menyelimuti tribun.
Beberapa saat kemudian, bukannya sorakan marah karena kalah taruhan, arena justru meledak dalam kegilaan sorak-sorai haus darah. Mereka menyukai monster baru ini!
Lin Tian tidak mempedulikan teriakan mereka. Ia melangkah tenang menuju mayat Si Jagal Beruang, mengambil paksa kantong penyimpanannya, dan berbalik menatap wasit di balkon.
"Kirimkan penantang selanjutnya," ucap Lin Tian dingin. "Sepuluh orang sekaligus. Aku sedang buru-buru."