Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.
Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.
Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.
Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yhtp *10
Tiba-tiba terdengar bunyi kunci diputar di lubangnya, disusul suara pintu depan yang terbuka dan tertutup kembali pelan. Klik.
Merlin mengangkat wajah perlahan. Reyno masuk dengan langkah berat, menghela napas panjang yang terdengar lelah sekali. Wajahnya kusut, matanya sayu, sorot pandangnya melayang ke tempat lain. Namun begitu melihat Merlin masih duduk diam di ruang tamu, ekspresinya berubah seketika. Ada kaget, ada rasa bersalah, ada kekhawatiran terselip di sana.
"Kok belum tidur, Mer? Kan udah malam banget," tanya Reyno pelan sambil meletakkan kunci dan tas kerjanya di meja dekat pintu, lalu berjalan mendekat ke sofa.
Merlin menutup laptopnya perlahan, lalu menaruhnya di meja samping. Kemudian, ia menatap suaminya dengan tatapan tenang namun sulit untuk diartikan.
"Nungguin kamu," jawabnya singkat.
Kalimat sederhana itu membuat langkah kaki Reyno sedikit terhenti. Ada rasa nyeri tiba-tiba menyengat dadanya. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu duduk di sisi sofa agak jauh dari Merlin, berusaha tersenyum tipis yang tak sampai ke mata.
"Maaf ya, aku pulang malam lagi. Banyak urusan, ditambah lagi ... kamu tahu kan?"
"Iya," jawab Merlin pendek.
Lagi-lagi jawaban singkat, datar, tak menuntut apa pun. Tapi kali ini Reyno mulai sadar ada yang berubah. Merlin memang tak pernah marah, tak pernah berteriak, tak pernah mengamuk. Tapi perempuan itu juga tak lagi banyak bicara, tak lagi banyak bertanya, tak lagi menceritakan hal-hal kecil yang ia alami seharian seperti dulu. Kehangatan yang dulu selalu terasa ada di udara setiap kali mereka berdua di ruangan yang sama, perlahan memudar, digantikan jarak tak terlihat namun terasa begitu nyata.
Reyno menggeser duduknya, mendekat ke arah istrinya, menatap wajah Merlin lekat-lekat.
"Yara tadi gak mau makan kalau nggak ditemenin. Katanya tenggorokannya tercekat kalau sendirian," jelas Rey, berusaha memberi alasan agar istrinya mengerti. "Terus dia cerita panjang lebar soal Lucas. Katanya masih sering mimpi buruk, bangun-bangun nangis sendiri karena kalau kakaknya sudah tiada."
Merlin hanya mengangguk kecil, wajahnya tetap tenang. "Oh."
"Lucas itu sahabatku yang paling dekat, Mer. Aku nggak tega liat Yara hancur gitu aja."
"Iya. Aku ngerti."
Keheningan kembali menyelimuti mereka, hanya suara napas masing-masing yang terdengar jelas. Reyno menoleh perlahan, menatap profil samping wajah istrinya yang mulai terlihat ada garis lelah meski berusaha disembunyikan.
"Mer..."
"Hm?"
"Kamu kesel ya? Atau marah? Bilang aja kalau kamu nggak suka aku pulang malem-malem gini terus," ucap Reyno pelan, suaranya hati-hati.
Merlin diam sejenak, menunduk menatap jari-jarinya yang saling bertautan di pangkuan. Lalu ia angkat wajah, tersenyum tipis dia perlihatkan. Senyum yang entah kenapa terasa begitu rapuh.
"Enggak. Aku nggak kesel, nggak marah juga."
"Jangan bohong sama aku, Mer. Aku kenal kamu."
"Aku serius, Rey." Merlin menghela napas panjang, melanjutkan bicara dengan nada lembut namun tegas. "Cuma ... akhir-akhir ini kita jarang ngobrol aja. Rasanya kita jadi jarang ada waktu berdua gitu."
Kalimat itu membuat Reyno terdiam sesaat.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, laki-laki itu benar-benar memikirkan hal yang istrinya katakan dengan serius.
Sudah berapa lama mereka tak makan malam bersama dengan tenang, tanpa gangguan telepon atau pesan masuk. Sudah berapa lama ia tak benar-benar mendengarkan cerita Merlin. Sudah berapa lama ia tak sekadar duduk diam berdua, bercanda, atau menonton televisi tanpa terganggu panggilan dari Yara?
Pertanyaan itu berputar cepat di kepalanya, dan perlahan rasa bersalah tumbuh besar di dadanya. Ternyata ia sudah meninggalkan istrinya sendiri begitu lama. Ternyata ia sudah melupakan kewajibannya sebagai suami begitu lama.
Reyno langsung meraih kedua tangan Merlin yang dingin itu, menggenggamnya erat di antara telapak tangannya yang besar dan hangat. "Maaf ya ... maafin aku, Mer. Aku nggak sadar sampai kamu bilang gitu."
Merlin menatap tangan mereka yang bertautan. Hangat. Masih sama persis seperti dulu. Tapi entah kenapa, kehangatan itu kali ini tak lagi sampai ke hatinya seutuh dulu. Ada sekat yang mengganjal, ada jarak yang sulit dijangkau.
"Aku ngerti kok, Rey," ucap Merlin pelan, hampir berbisik. "Lucas sahabat kamu. Kamu merasa punya tanggung jawab sama Yara. Aku paham banget."
Reyno mengangguk kecil, wajahnya berubah berat dan muram. "Dia nyelametin aku, Mer. Waktu kecelakaan itu ... kalau hari itu dia nggak narik aku keluar dari posisi duduk pengemudi, mungkin yang mati harusnya aku. Bukan dia."
Suaranya bergetar hebat. "Jadi rasa bersalah itu ada terus di sini." Reyno menunjuk dadanya sendiri. "Setiap kali aku liat Yara nangis, rasanya aku mau ngebales kebaikan Lucas dengan cara jagain dia sekuat tenaga aku."
Mendengar itu, Merlin langsung membalas genggaman tangan suaminya lebih erat. Ia tahu betul betapa berat beban itu dipikul Reyno. Ia tahu rasa bersalah itu nyata dan menyakitkan. Dan justru karena itulah, ia terus memilih mengalah. Terus memilih mengerti. Terus memilih diam dan menunggu.
"Aku gak nyuruh kamu ninggalin Yara atau berhenti jagain dia, Rey," kata Merlin lembut, menatap lekat manik mata suaminya. "Cuma ...."
Reyno menatapnya balik, menunggu kelanjutan kalimat itu dengan hati berdebar.
"Aku juga masih di sini." Kalimat itu keluar begitu sederhana, begitu pelan, bahkan tak terdengar seperti tuntutan atau kemarahan. Hanya sebuah pengingat jujur.
Namun anehnya, kalimat pendek itu terasa begitu tajam menusuk hingga ke ulu hati Reyno. Dadanya terasa tertusuk, sakit, dan diremas kuat-kuat.
Karena Reyno sadar sepenuhnya. Akhir-akhir ini ia memang terlalu sibuk menjaga seseorang yang sedang jatuh, terlalu sibuk menopang seseorang yang sedang rapuh, sampai lupa bahwa ada orang lain, yang tak lain adalah istrinya sendiri, yang juga menunggunya pulang setiap malam. Ada orang lain yang juga butuh dijaga, butuh diperhatikan, butuh didengarkan.
Tanpa kata lain, pria itu langsung menarik tubuh Merlin ke dalam pelukannya. Ia memeluk istrinya erat sekali, seolah takut wanita itu akan hilang atau menjauh jika ia melepaskannya sedikit saja.
"Maaf," bisiknya lagi dan lagi di telinga Merlin. "Kamu pasti capek ya? Capek nungguin aku, capek ngertiin aku, capek sendirian di rumah terus."
Merlin memejamkan mata perlahan, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan itu. Ia menghirup aroma tubuh suaminya, aroma yang begitu ia kenal, aroma yang selama ini selalu menjadi tempat ternyamannya dari segala kelelahan dunia.
Dan untuk sesaat itu, ia ingin sekali percaya bahwa semuanya masih bisa kembali seperti dulu. Bahwa kebahagiaan yang dulu mereka miliki belum hilang sepenuhnya. Bahwa mereka masih punya kesempatan memperbaiki segalanya. Namun tepat saat itu,
ponsel Reyno yang tergeletak di meja kopi kembali berbunyi nyaring. Nada dering yang sama, nada yang sudah terlalu sering terdengar belakangan ini.
🥹🥹