"Saat pedang musuh hampir mencabut nyawaku, sebuah suara mekanis mengambil alih kendali tubuhku dan mengubahku menjadi mesin pembunuh yang sempurna."
Jacob adalah pangeran kedua kerajaan Helios yang selalu berlindung di balik punggung kakaknya, George. Namun, sebuah pengkhianatan di medan perang membuat George lumpuh dan pasukan mereka terbantai. Di tengah keputusasaan, sebuah Sistem Auto Pilot aktif di dalam kesadaran Jacob. Sistem ini tidak memberikan misi atau hadiah cuma-cuma, melainkan mengambil alih kendali saraf otot Jacob untuk melakukan gerakan bertarung yang mustahil dilakukan manusia biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Tamparan dari Alam Baka
Malam turun menyelimuti lembah Evlenian dengan keheningan yang terasa sangat asing bagi Jacob. Di dalam kamar tamu istana berlapis pualam putih itu, tidak ada suara dentingan pedang yang diasah, tidak ada bau anyir darah, dan tidak ada rintihan dari ruang tahanan seperti yang biasa ia dengar di kamp militernya.
Jacob duduk di tepi ranjang sutra yang empuk, menatap pantulan dirinya di cermin perak berukuran besar. Matanya masih memancarkan kilatan biru tipis, memproses setiap denah istana Evlenian yang sempat ia rekam saat berjalan masuk tadi sore.
"Istana ini sama sekali tidak memiliki jalur evakuasi militer atau jebakan mekanis. Sangat mudah untuk dibantai jika aku menurunkan pasukan Nightmare malam ini juga," gumam Jacob pada dirinya sendiri dengan nada yang sangat dingin.
{Sistem, matikan semua fungsi analisa panca indra. Pertahankan hanya sensor peringatan bahaya tingkat tinggi. Aku butuh tidur.}
[Perintah Diterima. Modul Analisa dinonaktifkan. Memasuki mode siaga rendah.]
Pandangan biru di mata Jacob memudar. Sensasi dingin di kepalanya sedikit mereda, digantikan oleh rasa lelah fisik yang akhirnya menuntut haknya. Pangeran penakluk itu membaringkan tubuhnya, membiarkan kesadarannya tenggelam ke dalam kegelapan malam Evlenian yang damai.
Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama di alam bawah sadarnya.
||||||||||||||
Jacob mendapati dirinya tiba-tiba berdiri di tengah lapangan latihan istana Helios. Langit di atasnya berwarna abu-abu pekat, menurunkan gerimis hujan yang terasa sangat dingin menyengat kulit wajahnya.
Ia menatap ke sekeliling. Pasukan Nightmare berdiri mengelilingi lapangan tersebut. Namun, ada yang sangat berbeda. Mereka tidak terlihat seperti prajurit kuat yang ia ciptakan di dunia nyata.
Di dalam mimpi ini, wujud mereka mencerminkan penderitaan yang mereka alami. Zirah mereka berkarat dan hancur. Wajah-wajah di balik helm besi itu pucat pasi, bola mata mereka memutih kosong, dan otot-otot mereka robek memperlihatkan tulang. Mereka terlihat seperti mayat hidup yang disiksa tanpa henti di dalam neraka.
{Apa yang terjadi? Kenapa wujud mereka seperti ini? Sistem! Lakukan pemindaian lingkungan!}
Jacob berteriak di dalam kepalanya, namun tidak ada antarmuka biru yang muncul. Tidak ada suara mekanis yang merespons. Ia benar-benar sendirian, murni sebagai seorang manusia di dalam pikirannya sendiri tanpa bantuan alat apa pun.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang sangat tegap dan familiar terdengar dari ujung lapangan.
Jacob menoleh dan matanya seketika membelalak. Jantungnya berdegup sangat kencang, sebuah emosi murni yang mengalahkan logika taktis apa pun.
"Kak George...?" bisik Jacob dengan suara bergetar.
George berjalan mendekat menembus rintik hujan. Kakaknya itu tidak terbaring lumpuh di atas ranjang medis, tidak pula dipenuhi luka bakar akibat ledakan. George mengenakan zirah perak kebanggaannya yang berkilau terang, lambang singa emas Helios bersinar di dadanya. Wajahnya utuh, tampan, dan penuh wibawa seperti sedia kala sebelum pengkhianatan itu terjadi.
"Kak George! Kau hidup!" teriak Jacob sambil berlari mendekat dengan senyum lebar yang sudah berbulan-bulan hilang dari wajahnya.
Jacob berhenti tepat di depan kakaknya, matanya berbinar penuh kebanggaan.
"Kak, lihatlah! Aku berhasil membalaskan dendammu! Aku menaklukkan Scolar! Aku membunuh Bernard dan Cerick! Helios sekarang adalah kerajaan terkuat, dan aku telah menciptakan pasukan yang tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh siapa pun!" ucap Jacob dengan antusias, menunggu pujian yang selalu diberikan George saat ia berhasil melakukan sesuatu di masa lalu.
Namun, wajah George sedingin es. Tidak ada senyum, tidak ada kebanggaan di mata kakaknya. Yang ada hanyalah kesedihan yang sangat dalam dan kekecewaan yang tak terlukiskan.
"Apa yang telah kau lakukan, Jacob?" tanya George dengan suara yang berat dan bergema di seluruh lapangan.
Senyum Jacob perlahan memudar. "Apa maksudmu, Kak? Aku melindungi kerajaan kita! Aku menggunakan setiap cara agar kita tidak lagi diinjak-injak!"
"Melindungi?" George menunjuk ke arah barisan pasukan Nightmare yang mengerikan di sekeliling mereka. "Dengan mengubah kebanggaan Helios menjadi monster tanpa jiwa? Kau pikir ini yang kuinginkan saat aku mengorbankan tubuhku untukmu?"
Jacob mengepalkan tangannya, mencoba membela keputusannya. "Itu adalah harga mutlak untuk sebuah kekuatan, Kak! Aku menggunakan sistem untuk memecah batas fisik mereka. Mereka sekarang tidak merasakan sakit, mereka tidak akan pernah kalah di medan perang!"
"Mereka adalah pasukan elit Black Knight kita, Jacob!" bentak George dengan suara yang menggelegar layaknya petir. "Mereka adalah pria-pria yang dulu makan, tertawa, dan berlatih bersama kita! Dan kau... kau menyiksa mereka hingga kehilangan kemanusiaannya hanya demi ambisimu sendiri!"
"Aku melakukan ini agar tidak ada lagi yang berani melukai keluarga kita!" teriak Jacob menolak disalahkan. "Jika aku lemah, dunia akan menghancurkan kita! Aku harus menjadi kejam agar rakyat kita aman!"
George melangkah maju, menatap tajam menembus arogansi adiknya.
"Kau tidak melindungi rakyat kita, kau hanya menebar teror. Kau bukan raja yang bijaksana, Jacob. Kau telah membiarkan ketakutanmu akan kelemahan mengubahmu menjadi seorang tiran yang jauh lebih menjijikkan daripada Cerick atau Bernard!"
"Tidak! Aku menggunakan sistem ini untuk membawa kejayaan!" bantah Jacob.
"Sistem di kepalamu itu hanyalah alat, Jacob! Ia tidak memiliki perasaan, tapi kau memilikinya! Kau yang memberikan perintah! Kau yang memilih untuk mematikan hatimu sendiri!" seru George dengan mata yang dipenuhi oleh air mata kekecewaan.
George mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.
"Helios yang kucintai telah mati di tangan rajanya sendiri. Aku sangat kecewa padamu, adikku."
PLAK!
Sebuah tamparan yang sangat keras dan bertenaga menghantam pipi kiri Jacob.
Rasa sakitnya meledak dengan luar biasa, lebih nyata dari tebasan pedang mana pun yang pernah Jacob terima. Tamparan itu menghancurkan seluruh dinding kesombongan dan logika dingin yang selama ini menutupi hatinya.
Jacob terhuyung dan jatuh berlutut di atas tanah berlumpur. Visinya berputar. Bayangan George perlahan mulai memudar bersamaan dengan lapangan yang diguyur hujan tersebut.
"Bangunlah dari kegelapanmu, Jacob. Kendalikan alat itu, jangan biarkan alat itu yang mendikte batas kemanusiaanmu..." bisik suara George yang perlahan menghilang tertiup angin.
||||||||||||||
Jacob terbangun dengan napas yang tersengal-sengal, tubuhnya terlonjak dari atas ranjang sutra Evlenian.
Keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya. Tangannya gemetar hebat saat ia menyentuh pipi kirinya. Pipinya terasa sangat panas dan kebas, seolah tamparan George benar-benar terjadi di dunia nyata.
[Peringatan: Detak jantung pengguna meningkat seratus dua puluh persen dari batas istirahat normal. Terdeteksi pernapasan tidak teratur. Apakah pengguna membutuhkan pemindaian medis?]
Antarmuka biru sistem langsung muncul di pandangannya, merespons perubahan fisik Jacob secara otomatis seperti sebuah alat ukur yang setia.
"Matikan pemindaian..." bisik Jacob dengan suara parau.
Sistem langsung menurut tanpa bantahan, memudarkan layarnya.
Di dalam keremangan malam istana Evlenian, Jacob mengangkat kedua tangannya yang bergetar. Tidak ada darah di sana, namun pikiran Jacob dipenuhi oleh kengerian yang baru saja ia sadari.
{Sistem ini tidak pernah menyuruhku menyiksa pasukanku. Sistem ini tidak pernah menyuruhku menjadi kejam. Ia hanya memberikan rasio pemulihan otot, ia hanya memberikan titik lemah musuh... Akulah yang memutuskan untuk menggunakannya demi menciptakan pasukan tanpa jiwa.}
Air mata yang tidak pernah jatuh sejak hari kematian George, kini menetes perlahan membasahi selimut di pangkuannya.
Ia mengingat kembali tatapan kosong pasukan Nightmare di lapangan istana, kengerian rakyat saat melihat mereka, dan arogansinya yang merasa berhak menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Jacob menyadari bahwa ia telah berlindung di balik efisiensi sistem untuk lari dari rasa sakit kehilangan George.
"Kak George benar... Aku telah menggunakan alat ini untuk mengubah diriku sendiri menjadi monster yang selama ini sangat kubenci," isak Jacob pelan, menundukkan kepalanya dalam-dalam di ruang tamu yang sunyi itu.
Penyesalan memukul telak dada sang raja muda. Ia tidak bisa mengembalikan waktu, dan ia tidak bisa membatalkan apa yang telah ia lakukan pada pasukan Nightmare. Namun tamparan George di alam mimpinya telah membangkitkan sesuatu yang selama ini ia kubur hidup-hidup: hati nuraninya.
Jacob mengusap air matanya dan perlahan bangkit berdiri. Ia berjalan menuju jendela, menatap pemandangan utopia Evlenian di bawah cahaya bulan yang terang.
{Aku tidak akan membuang sistem ini. Kekuatan ini terlalu berharga untuk kelangsungan hidup Helios. Tapi mulai malam ini, aku yang akan memegang kendali atas kemanusiaanku. Aku akan menjadi pedang sekaligus pelindung, bukan sekadar algojo.}
Mata biru Jacob menatap ke arah garis cakrawala yang memisahkan lembah Evlenian dengan benua luar yang masih misterius. Perjalanannya untuk mengungkap rahasia dunia yang lebih besar tidak akan ia lakukan dengan membabi buta.
Jika ada kekaisaran raksasa di luar sana yang mengancam kerajaannya, Jacob akan menghadapi mereka. Bukan sebagai tiran yang gila darah, melainkan sebagai Raja Helios yang sejati.