NovelToon NovelToon
Trigger Between Us

Trigger Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Luo Aige

Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.

Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.

Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.

Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.

Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Hidup dan Mati

Fokus Soren berpindah cepat terhadap target kedua. Pria itu tampak lebih waspada, ia sudah mengepalkan tangan dan langsung memberikan pukulan hook yang kuat ke arah kepala Soren. Tetapi gerakannya tetap terlambat dari kecepatan Soren yang memang sudah terlatih sebagai assassin.

Soren menghindar setengah langkah, membiarkan tinju itu lewat hanya beberapa milimeter dari wajahnya. Dalam celah waktu itu, tangan kirinya menangkap pergelangan tangan lawan, memelintirnya balik dengan kekuatan penuh.

Krek!

Tulang siku pria itu patah terbalik. Ia memekik kesakitan, suaranya melengking memenuhi gema lorong. Sayangnya jeritan itu langsung tercekik saat siku kiri Soren menghantam keras di batang tulang hidungnya.

Gadis itu memejamkan kedua matanya sesaat, ketika darah segar muncrat deras membasahi seragam dan wajahnya. Lelaki tersebut terhuyung, matanya berkabut. Soren tidak memberinya waktu untuk sadar. Ia menangkap kedua telinga pria itu, lalu membenturkan dahinya sendiri ke wajah lawan dengan sekuat tenaga.

Hantaman headbutt itu mampu membuat lelaki tersebut ambruk. Tetapi bagi Soren itu belum selesai, ia menendang keras dada pria itu yang terbentur langsung dengan heels yang masih dipakai lalu menghantamkan tubuhnya ke dinding.

Kepala membentur beton dan tubuh itu tampak diam dan mustahil untuk bangun.

Kini hanya tersisa satu. Bodyguard itu

....

Soren beralih menatap target ketiga dengan tatapan datar, senyum mengerikan tersungging di bibirnya. Kekacauan dan bau darah tercium jelas,  sementara jari kekar pria itu mulai meraba earpiece yang tersemat di salah satu telinganya. Suaranya berat dan tercekat, namun tetap dingin memberikan perintah di tengah situasi yang tidak memungkinkan.

“Masalah di lantai tiga. Segera kirim bantuan ke mari!”

Itu kalimat terakhir yang sempat ia ucapkan. Sang bodyguard melepaskan jarinya dari alat komunikasi, lalu maju perlahan mendekati Soren. Langkahnya tampak tenang dan terukur.

Soren menatapnya, entah mengapa dia merasakan aura bahaya yang sedang mengintai dirinya. Tatapan Soren terus fokus pada tujuan, yaitu mengamati lawan. Napasnya teratur, wajahnya datar tanpa ekspresi, meski seluruh tubuhnya kini berlumuran merah.

Yang ini … berbeda, pikirnya.

Dalam hitungan detik, serangan datang secara tiba-tiba. Tinju bodyguard itu meluncur, cukup kuat untuk menghancurkan tulang. Soren menahannya dengan kedua lengan yang disilangkan di depan wajah.

Bug!

Benturan keras membuat tubuh Soren terguncang, lengannya bergetar menahan kekuatan brute force itu. Ia terpaksa mundur satu langkah untuk menjaga keseimbangan, nyaris saja pukulan berikutnya mengenai wajahnya jika ia tidak memiringkan kepala dengan cepat. Udara terbelah oleh gerakan tangan besar itu.

Soren tidak membalas langsung, ia mulai membaca dan menganalisis setiap gerakan yang akan dilakukan oleh pihak lawan. Mulai dari pola serangan, celah pertahanan serta tempo lawan.

Bodyguard itu menyerang lagi, kali ini dengan teknik tangkapan. Ia mencoba mengunci pergerakan Soren, jari-jarinya yang kekar hampir saja menggenggam kedua pergelangan tangan Soren, siap mematahkan tulangnya.

Nyaris.

Soren menjatuhkan berat tubuhnya, kemudian memutar tubuh dengan gesit, dan melepaskan diri dari cengkeraman dalam sekejap mata. Seketika itu juga, saat punggung bodyguard itu terbuka. Itu adalah celah kesempatan bagus bagi Soren untuk menyerang.

Tangan kanannya memukul dengan jari-jari yang dikunci keras, tepat mengenai titik buta di belakang siku lawan. Suara patahan kering terdengar, disertai dengan erangan memekakan telinga, pria tersebut terkulai lemas.

Bodyguard itu meraung marah dan kesakitan, mencoba memukul dengan tangan satunya yang masih utuh. Sementara Soren berhasil menghindar, lalu masuk ke dalam jangkauan lawan yang tampak terlalu dekat untuk ditangkis.

Tangan kirinya mencengkeram rahang bodyguard itu, mencekiknya secara brutal. Namun tubuhnya yang sudah terlatih menjadi bodyguard, membuat Soren sedikit kewalahan. Akhirnya gadis itu membuka sedikit roknya dan merogoh sesuatu di bawahnya. Tangan kanannya mengambil sebilah belati.

Srett!

Tangannya bergerak hingga ujung belati menggores kulit leher lawan. Kedua tangan kekar itu mati-matian mencoba meraba lehernya, matanya terbuka lebar, darah mengucur deras hingga tubuh kekarnya tak lagi bisa menopang beban dirinya. Bodyguard itu tumbang.

Soren menyentuh wajahnya dengan satu colekan. Darah itu cukup mengganggu, bau anyir seketika memenuhi setiap lorong. Ia menyeka rambutnya ke belakang, perasaannya campur aduk menjadi satu antara kepuasan ataupun hasrat ingin membunuh. Matanya berkedip sesaat, namun semuanya seakan berubah saat ia menyadari dengan akal sehat apa yang baru saja ia lakukan. Soren mundur beberapa langkah seolah terkejut dengan ulahnya.

Kedua matanya tampak memanas, ia memegangi kepalanya. ‘Ber–hentilah menjadi pem–bunuh, S–Soren.’

Bayangan adik angkatnya membuat Soren menggelengkan kepala, ia merasakan nyeri hebat, tetapi ia memaksakan diri untuk terus berjalan. Rasa sesak memenuhi dadanya, mengingat insiden yang baru saja terjadi beberapa minggu lalu. Adik angkatnya ditemukan bersimbah darah di rumahnya, itu adalah kelemahannya. Sebelum Ellian pergi, pria itu ternyata mengetahui pekerjaannya selama ini.

Air matanya jatuh membasahi pipi.

‘Maafkan aku ....’ Napasnya keluar pelan dan tertahan di tenggorokan.

‘Ini adalah terakhir kalinya.’

‘Aku berjanji ... Ellian.’

Soren menyeka air matanya, ia kembali melangkah dengan normal. Kali ini, gadis itu mengeluarkan sebuah pistol dan memasukan sejumlah peluru di dalamnya. Bersiap untuk pertempuran selanjutnya. Tap, tap, tap. Langkahnya kembali stabil seperti sedia kala. Meninggalkan ruangan itu dan tenggelam dalam kegelapan lorong Club.

Beberapa menit setelahnya, pintu kamar terbuka dengan cukup kasar. Markus ke luar, tetapi yang ia lihat hanyalah keheningan dengan tiga mayat yang sudah bersimbah darah. Pemandangan itu cukup mengganggu penglihatannya.

~oo0oo~

Soren melangkah turun dengan cepat di tangga darurat, napasnya masih teratur meksipun wajah dan pakaiannya bersimbah darah yang mulai mengering. Bunyi alarm mulai terdengar di atas sehingga menciptakan suasana ricuh perkelahian.

Tumit tinggi yang ia pakai sejak tadi terasa menghambat gerakannya. Begitu kakinya mencapai dua anak tangga terakhir, Soren berhenti sepersekian detik, lalu tanpa ragu melepaskan kedua high heels itu. Ia membiarkannya terjatuh begitu saja di lantai, lalu berlari tanpa alas, telapak kakinya menghantam lantai dingin dengan ritme cepat.

Begitu pintu keluar darurat didorog beberapa pria berpakaian hitam sudah bersiaga di area bawah. Entah bagaimana mereka bergerak lebih cepat dari perkiraan. Kepala mereka langsung menoleh serempak saat melihat sosok perempuan berlumuran darah berdiri di ambang pintu.

“Dia di sini!”

Tidak ada waktu untuk berpikir dua kali. Soren sudah lebih dulu mengangkat pistolnya.

Dor!

Peluru pertama menembus bahu pria paling depan, membuatnya terhuyung mundur sambil memegangi luka. Jeritan langsung menyusul, memicu kepanikan yang menjalar seperti api.

Soren menembak lagi tanpa ragu. Gerakannya cepat dan terlatih, tanpa membuang satu butir peluru secara sia-sia. Tetapi jumlah mereka terlalu banyak. Dari sisi kanan, dua orang mencoba mengepung. Dari kiri, seseorang sudah mengangkat senjata.

Peluru melesat melewati sisi wajahnya.

Soren menunduk, berguling ke samping, lalu bangkit lagi tanpa kehilangan momentum. Ia menembak sambil melangkah mundur, memaksa mereka menjaga jarak.

Keributan mulai merembet keluar.

Pengunjung club yang tadinya tidak tahu apa-apa mulai berteriak histeris, beberapa berlari keluar, beberapa lainnya justru membeku di tempat. Lampu-lampu berkedip, suara musik yang tadinya berdentum kini terasa absurd di tengah kekacauan.

Sial!

Ini bukan lagi misi diam-diam, melainkan pelarian. Sebab, setiap anggota mafia yang menjalankan misi yang dianggap gagal, mereka akan mendapatkan hukuman setelah ini. Soren menggerakkan gigi, dalam sepersekian detik ia sadar tentang apa yang ia lakukan seolah mudah terdeteksi. Sepertinya ini memang sudah direncanakan.

Tetapi flashdisk itu sudah ada di tangannya. Dia sama sekali tidak boleh berhenti sekarang.

Kepala gadis itu menoleh dan berlari keluar menuju jalanan malam Vienna yang dingin. Udara luar langsung menghantam paru-parunya, kontras dengan panas dan bau anyir di dalam club. Suara langkah kaki dan teriakan masih terdengar dari belakang.

Mereka masih mengejarnya. Lampu jalan memantul di aspal basah. Nafasnya mulai berat, tapi langkahnya tetap stabil. Soren menyusuri gang sempit, berbelok tanpa ragu, mengandalkan insting dan ingatan rute yang sudah ia hafal.

Lalu ... sebuah mobil hitam tiba-tiba berhenti tepat di depannya. Remnya berdecit pelan, pintu samping terbuka.

“Masuk!” Suaranya terderam hampir tidak jelas. Matanya melirik sekilas pada plat mobil yang sudah dijanjikan sebelumnya ketika ia akan menjalankan misi. Sama.

Tanpa keraguan sedikitpun Soren langsung masuk, menarik pintu dengan cepat sebelum tubuhnya benar-benar berhenti bergerak. Mobil langsung melesat begitu pintu itu tertutup. Deru mesin meraung, meninggalkan suara kejaran yang semakin menjauh di belakang. Tubuh Soren sedikit terhuyung ke samping karena akselerasi mendadak, tangannya refleks menahan diri di kursi. Ia melirik sekilas ke depan.

Pengemudi itu tertutup rapat—jaket dengan hoodie yang menutupi kepala, topi di bawahnya, serta topeng yang menyembunyikan wajah. Tidak ada satu pun bagian yang bisa dikenali.

Soren menyipitkan mata.

“Vera?”

Orang tersebut tidak menjawabnya. Hanya ada suara mesin yang masih bertahan. Sementara mobil berbelok tajam ke jalan kecil, lalu masuk ke gang sempit yang hampir tidak terlihat. Jalannya berliku, seperti benar-benar sudah hafal setiap celah kota ini. Mereka selalu menemukan jalan pintas. Soren bersandar sejenak, mencoba menenangkan detak jantungnya. Tetapi sesuatu sepertinya terasa … sedikit janggal.

Matanya melirik ke arah samping, ia melihat sebuah laptop hitam yang tertutup. Biasanya, sebelum memberikan barang terhadap ketua mereka, anggota yang berhasil menjalankan misi diharuskan memastikan sekali lagi jika isinya benar-benar akurat.

Soren terdiam beberapa detik. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia menarik laptop itu ke pangkuannya. Tangannya bergerak cepat, memasukkan flashdisk yang tadi ia dapatkan.

Klik.

File terbuka. Gadis itu kembali menekan folder yang sama yaitu inisial terakhir kali yang ia baca V. T, dimana data-data di dalamnya mencangkup nama Vera. Soren ingin memastikan sekali lagi jika itu adalah Vera yang sama atau bukan.

Alisnya sedikit berkerut, tangannya berhenti saat menemukan hal lain di file tersebut yang mungkin sempat ia lewatkan. Ia membeku seketika, tatapannya mengeras saat melihat tempat yang cukup familiar baginya. Bukan hanya cukup, melainkan sangat mengenalnya.

“I–ini .…”

Jantungnya berdetak lebih cepat, seakan sesuatu mengejutkan berhasil membuatnya merasakan takut. Tangannya sedikit gemetar.

Tidak mungkin.

Tangannya bergerak cepat, membuka file lain, memastikan hal tersebut dengan benar, sebelum pikirannya selesai merangkai semuanya ... sebuah benda dingin menempel di pelipisnya.

Soren tidak bergerak. Matanya melirik sedikit begitu dia menyadari dan menduga benda yang berusaha mengancamnya.

Sebuah pistol.

Matanya melirik ke arah spion tengah, pandangannya langsung menangkap seorang wanita berambut pirang pendek yang tersenyum di belakang dengan pistol yang masih mengarah ke kepalanya. Sementara pengemudi itu masih terus menggerakkan mobilnya tanpa bereaksi apapun.

“Kau cepat sekali menyadarinya.”

Jari Soren mengeras di atas laptop ketika suara yang begitu ia kenal bergetar di samping telinganya.

“Vera ....” Kedua netranya tampak bergetar seolah menahan perih saat menyaksikan kebenaran tidak terduga. Sahabat seperjuangannya yang begitu ia percayai, ternyata diam-diam merencanakan hal gila di belakangnya.

“Sayangnya,” lanjut Vera pelan. “Kau seharusnya tidak membuka file itu.” Suasana berubah sepi dan menegangkan, sementara mobil yang mereka tumpangi semakin memasuki kota yang mulai sepi.

Soren tertawa pelan dengan tatapan berkaca-kaca. Tawa serak yang hampir seperti bisikan. “Jadi selama ini ....” Napasnya tertahan untuk sesaat. Ia terlalu bodoh untuk menyisakan sedikit belas kasihannya kepada orang lain, nyatanya orang itu berbalik menggigitnya.

“Kau memanfaatkanku?”

Vera tidak langsung menjawab.

Ujung pistolnya justru menekan sedikit lebih kuat ke kepala Soren. “Aku hanya memastikan misi berjalan efisien.”

“Efisien?” Soren mengulang, tenggorokannya seakan diplintir membuatnya seolah siap melepaskan kenyataan menyakitkan apapun yang terjebak di dalamnya.

“Kau membunuh Ellian ... benarkan?”

Kalimat itu menggantung di udara. Vera sama sekali tidak menyangkal ataupun membela dirinya, sebab itu sudah cukup untuk memastikan jawabannya. Jemari Soren perlahan mengepal, tubuhnya seketika terasa dingin.

“Ternyata, orang yang paling dekat ...,” bisiknya lirih. “Memang yang paling mudah menusuk dari belakang.” Senyum tipis muncul di bibir Vera, nyaris tidak terlihat. “Dan kau baru menyadarinya sekarang.”

Mobil terus melaju, menembus keheningan malam. Vera tidak mengalihkan pistolnya sedikitpun, matanya tetap tenang menatap lurus ke depan sementara mobil terus melaju menembus jalanan gelap. “Kau tidak akan bisa mengalahkanku,” ucapnya pelan, suaranya dingin dan mantap.

“Ini perintah langsung dari ketua dan kau bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Ia tersenyum tipis, seolah mengejek. “Keluarga para anggota itu? Tidak pernah benar-benar aman. Itu hanya janji supaya kita tetap patuh. Selama kita merasa punya sesuatu untuk dilindungi, ketua akan terus mengawasinya. Tapi pada akhirnya … satu per satu akan segera disingkirkan.” Napas Soren tertahan, telapak tangannya mengepal kuat

“Termasuk Ellian?” Soren bertanya sekali lagi, hingga mendapatkan jawaban dari Vera. “Dia terlalu cepat untuk tahu segalanya.” Hening jatuh sekejap, lalu Soren terkekeh lirih dan pahit. “Jadi selama ini aku hanyalah alat.”

Vera menyeringai tipis. “Kita semua alat, kau saja yang terlalu lama percaya.”

Gerakan Soren datang tiba-tiba, cepat dan kasar, laptop di tangannya dihantamkan ke pergelangan Vera hingga arah tembakan terangkat dan peluru meleset ke atas, membuat mobil oleng sesaat. Tanpa memberi ruang, Soren langsung mendorong Vera ke pintu dengan tenaga tersisa. “Kau membunuhnya!” desisnya tajam. Vera membalas dengan lutut yang menghantam keras ke perutnya.

“Itu tugas!” balasnya dingin, namun Soren tidak berhenti, ia membenturkan dahinya ke wajah Vera hingga bibirnya pecah dan darah langsung mengalir. Vera mendesis kasar, kepalanya tersentak ke belakang.

“Brengsek!” umpatnya tajam, matanya langsung berubah liar. Di saat yang sama pengemudi di depan sudah mengangkat pistol dan menembak ke arah belakang. Peluru menembus sisi perut Soren, tubuhnya menegang, napasnya langsung terputus, rasa panas menjalar sebelum berubah menjadi nyeri yang menghantam tanpa ampun. Tangannya refleks menekan luka yang langsung membasahi jemarinya dengan darah hangat, namun matanya belum padam, masih menatap Vera dengan kebencian yang hidup.

Mobil melaju liar beberapa saat sebelum akhirnya berhenti mendadak di tepi jurang. Pintu dibuka kasar dan Soren diseret keluar, kakinya yang telanjang menyentuh aspal dingin, tubuhnya goyah, darah terus menetes dari perutnya. Angin malam menyapu wajahnya yang pucat dan kotor oleh darah. Vera turun menyusul, napasnya sedikit berat, lengan dan bibirnya masih berdarah. “Aku sebenarnya ingin membawamu hidup-hidup,” katanya pelan, suaranya kembali dingin. “Ketua akan menanganimu sendiri.” Soren berdiri dengan susah payah, satu tangannya mulai terasa lembab akibat darah yang terus keluar sehingga membuat napasnya tidak stabil.

“Dan setelah itu aku harus mendapat hukuman karena kegagalan ini?” Ia tersenyum tipis, pahit. “Tidak akan terjadi.” Partner Vera tidak menunggu, ia langsung maju, mencoba mengunci tubuh Soren, tetapi gadis itu masih sempat memutar tubuh setengah langkah dan menarik belati dari bawah roknya, lalu mengayunkannya cepat hingga menggores lengan Vera. Darah segar kembali mengalir. Vera langsung mengumpat, wajahnya menegang menahan sakit. “Bajingan keparat!” desisnya tajam sambil menekan lukanya, lalu membalas dengan tendangan keras tepat ke luka tembak Soren.

Tubuh Soren langsung tertekuk, napasnya hilang seketika, dunia di sekitarnya seperti menggelap sesaat, dan dalam kondisi itu pengemudi kembali menembak dari jarak dekat. Peluru kedua menghantam sisi tubuhnya, membuatnya jatuh berlutut, belati terlepas dari tangannya dan jatuh ke tanah berbatu. Darah mengalir semakin deras, menghangatkan jari-jarinya dan permukaan aspal di bawahnya.

Napasnya kacau, setiap tarikan terasa seperti menggesek sesuatu yang tajam di dalam tubuhnya. Vera berjalan mendekat perlahan, mencengkeram kerah bajunya dan memaksanya berdiri meski tubuhnya nyaris tidak sanggup menopang diri, lalu menyeretnya hingga ke bibir jurang. Angin dari bawah terasa lebih dingin dan gelap, seolah tidak memiliki dasar. “Ketua hanya ingin kita tidak punya kelemahan,” bisik Vera tepat di telinganya. “Tidak ada rasa takut ataupun keraguan.” Soren mengangkat wajahnya perlahan, darah mengalir dari sudut bibirnya, tetapi sorot matanya tetap tajam, tidak goyah. “Kalau begitu … aku tidak akan memberinya apa-apa lagi.”

Vera mengeratkan rahangnya, mencoba menariknya menjauh dari tepi. “Jangan bodoh. Kau masih bisa hidup kalau ikut denganku.” Soren tertawa serak, lemah, napasnya bergetar. “Hidup dalam kriminalitas seperti kalian?” Ia menggeleng pelan.

“Tidak.”

Dalam sisa tenaga yang hampir habis, ia tiba-tiba mendorong tubuh Vera hingga pegangan itu terlepas sepersekian detik. Vera tersentak, kembali mengumpat pelan karena lukanya tertarik. “Sialan!” Ia berusaha meraih lagi, tetapi sudah terlambat.

Soren mundur satu langkah, kakinya kehilangan pijakan di tepi batuan curam. Untuk sepersekian detik ia masih berdiri di ambang, angin menghantam wajahnya, rambutnya terangkat oleh hembusan dingin. Ia menatap Vera untuk terakhir kalinya, senyum tipis terbentuk di bibirnya yang berdarah. “Katakan pada ketua bahwa aku lebih memilih mati daripada harus terjebak selamanya ke dalam lingkaran hitam!” Lalu tubuhnya jatuh ke dalam jurang, tenggelam dalam gelap tanpa suara, meninggalkan Vera yang berdiri diam di tepi kegelapan dengan napas berat dan darah yang masih menetes dari lengannya.

.

.

.

Bersambung

Vera Troell 👇

1
Norris Yuniarty
seru2 cerita y😍😍😍
Norris Yuniarty
seru cerita y😍😍😍
Saelyn: Mksh😺
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjut.......
Dede Dedeh
aku suka karakter cewek yg kuat....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!