NovelToon NovelToon
Transmigrasi Permaisuri Yang Tidak Dicintai

Transmigrasi Permaisuri Yang Tidak Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Time Travel
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Afrasya Andila

Dahulu, dia hanyalah seorang wanita biasa yang hidup pas-pasan. Namun, takdir berkata lain. Dia terbangun dalam tubuh seorang permaisuri yang tak dicintai, diabaikan oleh suaminya dan tak dianggap oleh rakyat.

Tapi, bukannya bersedih, dia malah kegirangan! Siapa yang peduli dengan cinta jika dia memiliki kekayaan, kekuasaan, dan kehidupan mewah yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya? Menjadi permaisuri abal-abal yang kaya raya? Tentu saja dia mau!

Dia akan menikmati setiap momen dalam kemewahan ini, biarpun tanpa cinta. Karena baginya, yang penting adalah menjadi permaisuri kaya, bukan permaisuri yang dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrasya Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Gotong Royongindo dan Siasat di Balik Etalase

Keesokan paginya, suasana di ruko persimpangan jalan utama jauh lebih hidup.

Melan tidak membiarkan intimidasi terselubung dari Fek Fe semalam merusak jadwalnya. Dengan gaun katun kasual berwarna krem yang lengannya sudah digulung hingga siku, ia berdiri di tengah ruko sambil berkacak pinggang.

"Lin, Jaka, Kibo! Sini berkumpul sebentar!" seru Melan, memanggil tim intinya.

Lin yang sedang memegang kemoceng bulu ayam dan Jaka yang membawa palu langsung mendekat.

Kibo melompat turun dari salah satu rak kayu di atas dengan lincah. Telinganya bergerak-gerak penuh semangat.

"Hari ini barang-barang pasokan dari delapan saudagar Negeri Binatang sudah sampai di gudang belakang setelah lolos pemeriksaan ketat dari Baron," buka Melan, menatap mereka satu per satu.

"Target kita hari ini adalah menata seluruh barang ke rak. Kita harus kerja cepat karena saya mau toko ini buka tiga hari lagi."

Jaka melihat kertas denah di tangan Melan.

"Yang Mulia, saya masih bingung dengan konsep menaruh barang berdasarkan kelompok ini. Bukankah biasanya toko kelontong di pasar hanya menumpuk semuanya di karung atau kotak di lantai?"

Melan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum sabar.

"Itu cara lama, Jaka. Cara seperti itu membuat pembeli pusing dan malas mencari. Di sini, kita pakai sistem modern. Rak sebelah kanan khusus untuk bahan makanan pokok seperti beras gandum, bumbu dapur, dan minyak. Rak tengah untuk makanan ringan, camilan, dan buah-buahan segar dari Negeri Binatang. Nah, rak sebelah kiri untuk kain rami, sabun herbal, dan kebutuhan rumah tangga lainnya."

“Gue jamin, begitu sistem display ini rapi, orang-orang bakal betah muter-muter di sini. Prinsip retail modern nggak pernah bohong!” Batin Melan penuh keyakinan.

"Lalu bagaimana dengan saya, Yang Mulia?" tanya Kibo, ekor bulunya bergoyang ke sana-kemari.

"Kamu, Kibo, tugasnya paling penting," Melan menepuk pundak anak itu. "Kamu adalah penanggung jawab kualitas. Gunakan indra penciuman dan ketajaman matamu untuk memeriksa setiap buah dan rempah yang dipajang. Kalau ada yang agak layu atau rusak, langsung pisahkan. Toko kita hanya menjual barang dengan kualitas terbaik."

Kibo langsung memberi hormat dengan gaya ksatria yang meniru Baron. "Siap, Yang Mulia Permaisuri! Tugas dilaksanakan!"

Proses penataan pun dimulai. Jaka sibuk memastikan kekuatan paku di setiap sudut rak, sementara Lin membantu Melan mengeluarkan botol-botol minyak esensial dan bumbu rempah dari kotak kayu.

"Yang Mulia, kertas-kertas kecil dengan angka ini untuk apa?" tanya Lin sambil memegang selembar kertas perkamen kecil yang ditulis dengan tinta hitam.

"Itu label harga, Lin. Tolong tempelkan tepat di bawah barangnya pada bibir rak kayu," instruksi Melan. "Misalnya, botol madu hutan ini harganya dua koin perak. Jadi pembeli bisa langsung lihat harganya tanpa perlu bertanya lagi kepada kita."

Lin tampak terheran-heran. "Tetapi… bagaimana jika ada bangsawan atau pembeli yang ingin menawar? Di pasar, semua orang selalu menawar harga sampai setengahnya, Yang Mulia."

Melan tertawa kecil, menyeka keringat di dahinya dengan sapu tangan. "Di toko saya, tidak ada sistem tawar-menawar, Lin. Harganya sudah pasti dan jujur. Bangsawan ataupun rakyat jelata, harganya tetap sama. Ini namanya keadilan berbelanja."

“Kalau boleh jujur, gue paling males denger drama emak-emak nawar barang di pasar dunia lama begini. Bikin pusing kepala. Mending harganya pas, yang mau beli tinggal ambil, yang nggak punya duit tinggal liatin aja,” omel Melan dalam batinnya sendiri.

Jaka yang sedang memukul paku mendadak berhenti. "Yang Mulia, konsep ini sangat aneh, tetapi jika saya pikir-pikir lagi… ini sangat menghemat waktu. Penjual tidak perlu berdebat dengan pembeli sepanjang hari."

"Nah, Anda pintar, Jaka! Itulah gunanya efisiensi kerja," puji Melan, membuat Jaka tersenyum bangga.

Di tengah kesibukan mereka, Baron masuk ke dalam ruko dengan langkah kaki yang berat. Zirah peraknya berdentang pelan. Ia membawa sebuah peti kayu kecil yang langsung diletakkan di atas meja konter depan.

"Permaisuri, ini adalah koin-koin modal tambahan yang dikirimkan oleh Bendahara Istana atas perintah Yang Mulia Raja," ujar Baron dengan nada formal.

Melan membuka peti itu dan melihat kilauan koin perak dan beberapa koin emas di dalamnya. Matanya langsung berbinar riang.

"Wah, Nolan beneran transfer modal lagi? Ternyata si Kulkas Dua Pintu itu bisa diandalkan juga kalau urusan dana investasi."

Baron sedikit mual mendengar sebutan 'Kulkas Dua Pintu' yang diucapkan Melan untuk rajanya, namun ia memilih untuk pura-pura tidak mendengar.

"Raja juga berpesan, Yang Mulia. Beliau meminta Anda untuk tidak pulang terlalu larut hari ini. Kondisi keamanan di luar istana sedang agak menghangat karena desas-desus tentang toko ini."

"Menghangat bagaimana, Baron? Apa para pemilik toko bangsawan itu mulai bergerak?" tanya Melan. Nadanya berubah serius.

Baron mengangguk pelan. Pandangannya melirik ke luar jendela ruko.

"Beberapa mata-mata dari kediaman para tetua dewan terlihat mengawasi ruko ini sejak pagi. Saya sudah menyiagakan beberapa pengawal rahasia di sekitar persimpangan untuk mengantisipasi jika ada tindakan sabotase susulan seperti kemarin sore."

Melan menarik napas panjang, mencoba tetap tenang. "Biarkan saja mereka mengawasi, Baron. Selama mereka tidak merusak fisik bangunan atau melukai pekerja saya, saya tidak peduli. Kita tetap fokus pada persiapan pembukaan."

Sore harinya, saat ruko sudah terlihat rapi sekitar delapan puluh persen, sebuah kereta kuda hitam tanpa lambang resmi kerajaan berhenti tepat di depan pintu masuk. Pintu kereta terbuka, dan sosok pria bertubuh tinggi tegap dengan jubah hitam polos melangkah turun.

Nolan.

Semua orang di dalam ruko langsung menghentikan aktivitasnya.

Jaka, Lin, dan para pekerja segera berlutut dengan khidmat, sementara Kibo refleks bersembunyi di balik punggung Jaka karena masih agak takut dengan aura Nolan.

Melan hanya berdiri di dekat meja konter utama, memegang kuas tinta.

"Yang Mulia Raja? Ada angin apa Anda datang ke toko kecil saya yang berdebu ini?" tanya Melan, mencoba bersikap formal di depan para pekerja, meskipun dalam hati ia merasa agak terkejut.

Nolan melangkah masuk. Matanya yang tajam langsung menyapu seluruh isi ruangan.

Ia memperhatikan susunan rak kayu yang rapi, pengelompokan barang dagangan yang tidak biasa, hingga kertas-kertas label harga yang menempel di setiap sudut.

"Berdirilah semuanya. Lanjutkan pekerjaan kalian," perintah Nolan kepada para pekerja dengan suara beratnya yang berwibawa.

Ia kemudian berjalan mendekati Melan yang sedang berpura-pura sibuk merapikan catatan inventaris.

"Saya datang untuk melihat ke mana perginya koin-koin emas yang diminta oleh permaisuri saya. Dan… ternyata tempat ini tidak seburuk yang saya bayangkan."

Melan menaikkan sebelah alisnya. "Tentu saja tidak buruk. Ini menggunakan konsep tata ruang modern, Nolan. Semuanya diatur agar pembeli merasa nyaman saat berbelanja. Bagaimana menurut Anda? Apa tata letaknya sudah pas?"

Nolan menyentuh salah satu rak kayu, merasakan kehalusan permukaannya yang sudah diamplas oleh Jaka.

"Sistem harga pasti ini… apakah Anda yakin rakyat dan bangsawan akan menerimanya tanpa protes?"

"Saya sangat yakin," jawab Melan penuh percaya diri.

"Awalnya mungkin mereka akan bingung, tetapi lama-kelamaan mereka akan sadar bahwa metode ini jauh lebih adil dan hemat energi. Tidak ada manipulasi harga berdasarkan kasta sosial."

Nolan menatap Melan dengan pandangan yang dalam. Ada sedikit rasa kagum yang tersirat di matanya yang biasanya sedingin es.

"Anda selalu memiliki pemikiran yang melompat jauh ke depan, Melan. Sesuatu yang terkadang membuat saya merasa bahwa Anda bukan berasal dari dunia ini."

Deg. Jantung Melan melewatkan satu detakan.

“Aduh, mampus gue! Ini si Nolan mulai curiga atau gimana ya? Logika orang modern emang susah disembunyiin kalau udah urusan bisnis begini,” batin Melan, mendadak merasa gugup di bawah tatapan Nolan.

Melan berdehem kecil, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Ah… itu… saya hanya banyak membaca dan mengamati perilaku pasar saja, Yang Mulia. Oh ya, terima kasih atas modal tambahannya. Peti koin dari Anda sangat membantu untuk membayar sisa upah para pekerja Jaka."

"Itu bukan modal gratis, Permaisuri," sahut Nolan, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat samar.

"Saya mengharapkan laporan bagi hasil yang jelas setiap bulannya di meja kerja saya. Sebagai mitra bisnis Anda, saya berhak atas keuntungan tersebut."

Melan mendengus pelan. Rasa gugupnya langsung hilang, digantikan oleh rasa sebal.

"Dasar perhitungan. Ternyata jiwa kapitalis Anda lebih kuat daripada saya, ya. Baiklah, nanti saya buatkan pembukuan khusus untuk bagian saham Anda."

Nolan kemudian memberi isyarat kepada Baron untuk menjaga jarak, memberikan sedikit ruang pribadi antara dirinya dan Melan di sudut konter.

"Fek Fe sedang mencoba menggalang dukungan dari tiga tetua dewan yang memiliki jaringan pasar kelontong terbesar di Valerius," bisik Nolan. Suaranya sangat rendah dan serius.

"Mereka berencana mengajukan petisi pada sidang pleno dewan minggu depan untuk mencabut izin ruko ini dengan alasan keamanan ras dan stabilitas ekonomi."

Melan tidak terkejut. Ia sudah memperkirakan gerakan Fek Fe setelah konfrontasi sapu tangan merah muda semalam.

"Lalu, apa yang akan Anda lakukan sebagai Raja, Nolan? Apakah Anda akan tunduk pada petisi para tetua itu jika mereka menekan Anda?"

Nolan memajukan tubuhnya sedikit, membuat aroma cendananya kembali menguar tajam di sekitar Melan.

"Keputusan dewan tidak bisa mengabaikan hak veto Raja Melan. Namun, saya butuh alasan yang kuat untuk menolak petisi mereka tanpa menimbulkan pemberontakan internal. Saya butuh toko ini membuktikan kesuksesannya dalam waktu tiga hari setelah pembukaan."

Melan tersenyum tenang; sorot matanya berkilat penuh tekad yang tidak bisa digoyahkan.

"Tiga hari? Terlalu lama, Yang Mulia. Beri saya waktu satu hari setelah pembukaan. Saya akan membuktikan kepada Anda dan seluruh tetua dewan yang kolot itu bahwa toko ini akan menghasilkan perputaran koin emas yang lebih besar daripada gabungan seluruh toko kelontong milik mereka di pasar pusat."

Nolan menatap wajah tegas Melan sejenak, lalu ia meletakkan tangannya di atas konter kayu, sangat dekat dengan jemari Melan.

"Baiklah. Saya pegang kata-kata Anda, Permaisuri. Jika Anda berhasil, saya sendiri yang akan menandatangani dekrit perlindungan absolut untuk seluruh jaringan usaha Mall Nusantara Anda di masa depan."

"Kesepakatan tercapai, Mitra Bisnis," sahut Melan dengan kekehan ringan, merasa bahwa bumbu konflik politik ini justru membuat adrenalin bisnisnya semakin terpacu.

“Liat aja lo, Fek Fe. Silakan kumpulin semua tetua dewan yang lo punya. Pas toko gue buka dan koin emas mengalir deras, petisi lo bakal berubah jadi kertas bungkus kacang!" Batin Melan penuh kemenangan sambil menatap persiapan rukonya yang kini sudah semakin matang.

1
Nunung Elasari
up nya jarang2 ya kak,? padahal seru ceritanya 😍😍😍
Murni Dewita
beri lah cincin ruang utuk menyimpan cuan boleh lebih aman
Murni Dewita
kasih lah permaisuri ruang dimensi thor
Murni Dewita
👣
Dede Mila
mampir
Wak Ngat
fek fe ,fek fe aduh buat permainan kok ya meninggal kan bekas
Wak Ngat
cuan cuan cuan dan cuan😄
merpati: hidup cuann 🤭
total 1 replies
Wak Ngat
si bedak rontok ada az memang melan
ilaa
lanjut up thorr, penasaran sama si fek fe
merpati: ga nyangka 🤭
total 1 replies
Ma Em
Melan emang unik sdh diculik tapi msh saja memikirkan bagaimana caranya bisnis untuk mengumpulkan pundi pundi uang masuk ke kantongnya .
merpati: soalnya di kehidupan sebelumnya melan jadi pekerja, di kehidupan kedua dia mau jadi bosnya
total 1 replies
Ma Em
Semoga apa yg akan Melan lakukan segera terlaksana dan benar2 sukses dgn yg Melan bangun agar Raja dan orang2 yg ada di kerajaan Nolan tdk meremehkan Melan lagi .
merpati: melan mah nggak peduli di remehin yg penting kaya dulu 🤭🙏
total 1 replies
Andini Cantik
lanjuttttt up
Firniawati
bagus tidak menye² tapi pemilihan katanya yg campur aduk
merpati: makasih kakaa, nanti aku revisi
total 1 replies
Firniawati
ayo kak kapan updatenya?
Sesarni Andiva
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!