NovelToon NovelToon
Gara-gara One Night Stand

Gara-gara One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: dina Auliya

Satu malam yang seharusnya terlupakan justru mengubah segalanya. Nayra, mahasiswi yang hidupnya sederhana, terbangun dengan kenyataan pahit—dia hamil dari pria asing yang bahkan tidak ia kenal namanya. Di tengah ketakutan dan tekanan, Nayra memilih mempertahankan janin itu, meski harus menanggung semuanya seorang diri.


Sementara itu, Arsen—seorang CEO dingin yang tak pernah memikirkan cinta—mulai dihantui bayangan malam yang sama. Hanya berbekal satu nama, ia mencari gadis yang tanpa sengaja telah mengubah hidupnya. Namun saat akhirnya mereka bertemu kembali, kenyataan jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.


Ketika tanggung jawab berubah menjadi perasaan, dan jarak usia menjadi tembok yang sulit ditembus… akankah Nayra membuka hatinya, atau justru memilih menjauh dari pria yang dulu hanya ia anggap kesalahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dina Auliya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gua Garis Yang Merubah Segalanya

Sebulan telah berlalu begitu cepat. Dan pagi ini semua terasa berjalan seperti biasa bagi semua orang.

Tapi tidak untuk Nayra.

Ia duduk di bangku paling belakang kelas, tubuhnya tegak tapi pikirannya seperti tidak benar-benar ada di sana. Buku catatannya terbuka, pulpen di tangannya bergerak pelan, menyalin tulisan di papan tulis tanpa benar-benar dipahami.

Suara dosen terdengar jelas, menjelaskan panjang lebar tentang materi kuliah, tapi semuanya seperti lewat begitu saja di telinga Nayra.

Perutnya terasa tidak nyaman sejak tadi. Bukan sakit. Lebih seperti… mual yang datang dan pergi. Ia mengerutkan kening, mencoba fokus.

“Na…” Suara pelan di sampingnya membuat Nayra menoleh.

Sinta, sahabatnya, menatapnya dengan ekspresi curiga.

“Kamu kenapa sih? Dari tadi aku liatin, muka kamu pucat banget.”

Nayra langsung tersenyum tipis, meski terasa dipaksakan. “Enggak apa-apa kok,” jawabnya cepat. “Cuma kurang tidur aja.”

Sinta menyipitkan mata. “Kurang tidur doang? Tapi kamu kayak mau pingsan gitu.”

“Lebay,” Nayra mencoba bercanda, meski suaranya sedikit lemah.

“Serius, Na,” lanjut Sinta, nadanya lebih lembut. “Kalau sakit, mending izin aja.”

Nayra menggeleng pelan. “Enggak usah. Nanti juga hilang sendiri.”

Belum selesai ia bicara, rasa mual itu datang lagi. Lebih kuat. Nayra langsung menutup mulutnya.

Sinta langsung panik. “Eh, kamu kenapa?!”

“Aku ke toilet bentar,” ucap Nayra cepat, sudah berdiri.

“Aku temenin—”

“Enggak usah!”

Jawaban Nayra terlalu cepat, terlalu tegas.

Keduanya sama-sama terdiam sejenak.

Nayra menurunkan nada suaranya. “Maksud ku… aku bisa sendiri. Bentar aja.”

Sinta masih terlihat ragu, tapi akhirnya mengangguk. “Ya udah… tapi cepet balik, ya.”

Nayra hanya mengangguk cepat sebelum buru-buru keluar kelas yang sebelumnya sudah izin ke dosen pembimbing sebelum keluar.

Koridor kampus terasa panjang.

Langkah Nayra cepat, satu tangannya menutup mulut, yang lain memegangi tasnya erat.bBegitu sampai di toilet, ia langsung masuk ke dalam.

Dan tak lama kemudian—

Suara muntah terdengar pelan.

Tubuh Nayra membungkuk, tangannya berpegangan pada dinding.

Napasnya tersengal. Setelah beberapa saat, ia berhenti. Ia berdiri perlahan, lalu berjalan ke wastafel. Air mengalir. Ia membasuh wajahnya.

Dingin.

Tapi tidak cukup menenangkan.

Nayra menatap dirinya di cermin. Wajahnya pucat. Matanya lelah.

“Kenapa sih…” gumamnya pelan.

Ia menggenggam pinggiran wastafel.

Pikirannya mulai berputar.

Telat.

Ia telat.

Sudah hampir satu bulan.

“Enggak mungkin…” bisiknya.

Ia menggeleng cepat.

“Cuma kecapekan… iya, cuma kecapekan.”

Namun suara itu terasa kosong.

Seolah bahkan dirinya sendiri tidak percaya.

Tiba-tiba pintu toilet terbuka.

Sinta masuk dengan wajah cemas.

“Na!”

Nayra langsung menoleh, sedikit terkejut. “ kamu ngapain ke sini?”

“Ya aku khawatir lah!” Sinta mendekat. “kamu muntah, kan?”

Nayra terdiam sebentar. “Cuma… mual biasa.”

Sinta menyilangkan tangan. “Biasa apaan? Dari tadi kamu aneh.”

“Aku bilang juga apa…” Nayra menghindari tatapan.

Sinta menatapnya lekat. “Na… lo sakit atau… ada apa?” Nada suaranya berubah. Lebih serius.

Nayra langsung gelisah.

“Enggak ada apa-apa,” jawabnya cepat.

“Jangan bohong.”

Dua kata itu membuat Nayra terdiam.

Ia menelan ludah.

“Serius, Sin. aku cuma… capek.”

Sinta menghela napas panjang. “Ya udah. Tapi nanti kita ke klinik, ya?”.

“Enggak usah.”

“Kenapa sih kamu selalu nolak?!”

“Karena aku tahu tubuh ku sendiri!” Nayra menjawab sedikit lebih keras.

Suasana langsung hening.

Nayra terlihat kaget dengan ucapannya sendiri.

Sinta menatapnya, sedikit tersinggung.

“Aku cuma khawatir,” ucap Sinta pelan.

Nayra langsung menunduk. “Maaf…”

Sinta menghela napas. “Ya udah. Tapi kalau kenapa-kenapa, lo harus bilang.”

“Iya…”

Meski jawabannya lirih.

Dan tidak sepenuhnya jujur.

Sore hari, setelah selesai di pampus. Nayra berdiri di depan minimarket.

Ia menatap pintu kaca cukup lama.

Tangannya menggenggam tali tas erat.

“Cuma buat memastikan,” bisiknya pelan.

Ia menarik napas, lalu masuk.

AC dingin langsung menyambut.

Nayra berjalan pelan, matanya mencari sesuatu.

Sampai akhirnya berhenti di satu rak.

Test pack. Tangannya sedikit gemetar.

“Ambil… atau enggak?” gumamnya.

Seorang ibu lewat di sampingnya, membuat Nayra langsung pura-pura melihat barang lain. Beberapa detik kemudian, ia kembali menatap benda itu.

“Kalau negatif… aku bisa tenang.” Akhirnya, ia meraih satu. Lalu ragu.Ia mengambil satu lagi.

“Biar yakin.”

Di kasir, ia berdiri canggung.

Kasir memindai barang tanpa ekspresi.

“Totalnya dua puluh ribu.”

Nayra mengangguk, menyerahkan uang.

Kasir melirik sekilas, lalu memberikan kantong plastik.

“Terima kasih.”.

“Iya…” Nayra langsung pergi. Langkahnya cepat. Jantungnya berdegup kencang.

Kamar kos Nayra terasa sunyi.

Ia masuk, lalu langsung mengunci pintu.

Bersandar di belakangnya.

Tangannya masih memegang kantong plastik.

Ia berjalan pelan ke arah ranjang, lalu duduk.

Kantong itu ia letakkan di pangkuannya. Beberapa detik ia hanya diam.

“Kalau negatif…” gumamnya.

“Tolong negatif…”Ia menutup mata sebentar.

Lalu berdiri.

Masuk ke kamar mandi. Lampu dinyalakan. Ia membuka plastik itu dan mengeluarkan test pack.

Tangannya gemetar.

“Tenang… tenang…” bisiknya.

Ia membaca petunjuk, meski pikirannya tidak fokus.

Beberapa menit kemudian—

Ia berdiri di depan wastafel.

Menatap benda kecil di tangannya. Menunggu.

“Negatif… negatif…” Ia terus mengulang. Detik terasa lambat. Sangat lambat.

Satu garis muncul. Nayra menahan napas.

“Ya…”

Namun— Garis kedua perlahan terlihat.

Tipis.Tapi jelas.

Nayra membeku.

“…”

Tangannya gemetar.

“Enggak… enggak mungkin…” Ia menggeleng.

Air matanya mulai jatuh.

“Ini salah… ini pasti salah…”

Ia mengambil test pack kedua.

Dengan tangan gemetar, ia mengulang.

Beberapa menit lagi.

Ia menatap tanpa berkedip.

“Cuma kebetulan… yang pertama rusak…”

Garis itu muncul lagi. Dua garis. Jelas.

Tidak bisa dibantah.

Test pack itu jatuh dari tangannya. Nayra mundur satu langkah. Lalu duduk di lantai.

“Kenapa…” suaranya pecah.

“Kenapa harus Aku…” Air matanya jatuh semakin deras. Tangannya menutup wajah. Tubuhnya gemetar.

“Aku… aku harus gimana…”

Ruangan kecil itu terasa semakin sempit.

Napasnya berat. Pikirannya kosong tapi penuh di saat yang sama.

Satu malam itu. Yang berusaha ia lupakan.

Kini…

Meninggalkan sesuatu yang tidak bisa ia hapus. Nayra menatap dua garis itu dengan mata basah. Dan untuk pertama kalinya—

Ia benar-benar sadar.

“Gue… hamil…”

Suaranya hampir tidak terdengar.

Tapi cukup untuk menghancurkan seluruh dunia kecil yang selama ini ia jaga.

To be continued 🙂🙂

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!