NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN KONTRAK IDOLA

PERNIKAHAN KONTRAK IDOLA

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:704
Nilai: 5
Nama Author: Zhao Eunbi

Zee Chou, atau yang dikenal dengan nama panggung Choi Heesung, adalah idola K-Pop paling populer dan dicintai jutaan penggemar. Di atas panggung, ia bersinar sempurna, tampan, dan memiliki citra bersih yang dijaga sangat ketat. Namun di balik kemegahan itu, ia menyembunyikan satu kenyataan pahit: warisan perusahaan keluarga yang terancam bangkrut. Demi menyelamatkan segalanya, Zee terpaksa menyetujui pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan—menikahi Park Hye-ri, gadis biasa dan sederhana, putri sahabat orang tuanya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia hiburan.

Pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan di atas kertas, rahasia yang harus dijaga mati-matian dari publik dan penggemar. Tidak ada cinta, tidak ada perasaan, hanya kewajiban dan aturan ketat. Bagi Zee, Hye-ri hanyalah kewajiban yang mengganggu karir cemerlangnya. Bagi Hye-ri, Zee hanyalah idola dingin, angkuh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Eunbi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman Baru

Matahari mulai terbenam, menyisakan cahaya kemerahan di ufuk barat, namun suasana hati Heesung dan Hyeri terasa jauh lebih terang dari sebelumnya. Pertemuan dengan Sooah tadi telah menjadi titik balik—bukan hanya karena mereka berhasil menepis ancaman itu, tapi karena di sanalah keduanya akhirnya mengakui perasaan yang selama ini tersembunyi di balik perjanjian kertas.

Dalam perjalanan pulang, Heesung tidak lagi menyembunyikan rasa sayangnya. Ia menyetir dengan satu tangan, sementara tangan kirinya erat menggenggam tangan Hyeri yang bertengger di atas paha. Sentuhan itu hangat, nyata, dan penuh kepastian. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi jarak di antara mereka.

"Kau tahu," ucap Heesung sambil melirik Hyeri dengan senyum lembut, "Dulu aku pikir menikahimu adalah keputusan terberat dalam hidupku. Tapi ternyata, itu adalah keputusan terbaik yang pernah kuambil."

Hyeri tersenyum malu-malu, meremas balik tangan Heesung. "Kau baru menyadarinya sekarang? Padahal aku sudah bersabar menunggumu membuka mata sejak awal."

Heesung tertawa renyah, suara tawa yang sudah lama tak terdengar. "Maafkan aku. Aku butuh waktu lama untuk melepaskan masa lalu, tapi kau... kau datang perlahan, masuk ke hatiku, dan mengisi setiap ruang yang kosong sampai tak ada lagi tempat untuk orang lain."

Namun, kebahagiaan itu terasa samar oleh rasa waspada yang masih tertinggal. Heesung tahu betul watak Jung Sooah. Wanita itu tidak akan menyerah hanya dengan penolakan kata-kata. Di matanya saat berlari keluar kafe tadi, Heesung melihat bukan rasa sedih, melainkan amarah yang dingin dan dendam yang membara. Sooah adalah tipe wanita yang jika tidak bisa memiliki, maka ia akan berusaha menghancurkan agar tidak ada orang lain yang bisa menikmatinya.

"Kau pikir dia akan berhenti sekarang?" tanya Hyeri pelan, seolah membaca pikiran Heesung. Wajahnya kembali serius.

Heesung menggeleng perlahan, pandangannya tajam menatap jalanan di depannya. "Tidak. Justru aku khawatir dia akan bertindak lebih nekat. Dokumen itu hanyalah senjata pertamanya. Sekarang senjata itu tidak lagi ampuh, dia pasti akan mencari cara lain yang lebih ekstrem. Kita harus tetap waspada, Hyeri. Jangan pergi ke mana pun sendirian untuk sementara waktu."

Hyeri mengangguk mengerti. Ia juga merasakan hal yang sama. Pertarungan melawan ancaman kertas mungkin sudah usai, tapi perang untuk mempertahankan kebahagiaan mereka baru saja masuk ke babak yang lebih berbahaya.

Sementara itu, di sisi lain kota, di sebuah apartemen mewah yang gelap, Jung Sooah duduk di lantai, membiarkan berkas-berkas dokumen yang dulu ia anggap senjata mutlak itu berserakan di sekelilingnya. Tangisannya sudah kering, digantikan oleh tatapan mata yang kosong namun berkilat penuh kebencian.

Di tangannya, ponselnya masih menampilkan pesan dari orang yang ia hubungi sebelumnya—seorang wartawan media gosip yang tidak bermoral, yang selalu haus berita sensasional apa pun caranya.

"Nona Jung, jika dokumen itu tidak cukup kuat, aku punya cara lain. Ada hal yang lebih kotor, lebih menjatuhkan, dan lebih sulit dibersihkan namanya. Kau mau kita gunakan jalur ini?"

Sooah membaca pesan itu berulang kali, lalu senyum miring yang menyeramkan terukir di bibirnya. Ia mengetik balasan dengan jari gemetar karena emosi yang meluap.

"Lakukan apa saja. Hancurkan citranya, hancurkan reputasinya, dan buat semua orang membencinya. Aku ingin melihat dia jatuh sehina-hinanya, sampai Hyeri pun tidak tahan lagi berada di sisinya. Aku ingin Heesung datang kepadaku dalam keadaan hancur, memohon bantuan, dan menyadari bahwa hanya aku satu-satunya yang ada untuknya."

Setelah pesan terkirim, Sooah melempar ponselnya ke sofa. Ia bangkit berdiri, berjalan ke arah jendela besar yang menghadap ke kota Seoul yang berkilauan.

"Heesung... kau pikir cinta wanita itu cukup untuk menopangmu saat seluruh dunia memusuhimu? Kau salah besar. Saat semua orang meninggalkanmu, saat karirmu yang kau bangun susah payah itu hancur lebur... saat itulah kau akan sadar, bahwa hanya aku yang tulus mencintaimu, apa pun kondisimu. Dan saat itu tiba... kau akan kembali padaku, berlutut, dan menyesali setiap kata yang kau ucapkan hari ini."

Malam itu berlalu dengan perasaan yang berbeda di setiap sisi. Di kediaman Heesung dan Hyeri, suasana hangat dan damai. Mereka menghabiskan malam dengan berbicara panjang lebar, membicarakan masa depan, dan menyusun rencana untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Kontrak pernikahan itu akhirnya disepakati untuk dirobek secara resmi—karena ikatan hati mereka kini jauh lebih kuat dan sah daripada sekadar tanda tangan di atas kertas.

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.

Keesokan paginya, saat matahari baru saja terbit dan keduanya sedang sarapan bersama, ponsel Heesung di atas meja berdering tak henti-henti. Pesan masuk, panggilan telepon, notifikasi media sosial semuanya datang bersamaan seolah ada bencana besar yang baru saja terjadi.

Wajah Heesung berubah pucat saat ia membuka salah satu berita yang masuk. Judul besar dan menohok langsung terpampang di layar:

"BENARKAH IDOLA HEESUNG MENGGUNAKAN KEKAYAAN DAN KONEKSI UNTUK MENEKAN ORANG? KESAKSIAN MANTAN STAF AGENSI MENGUNGKAP KEBENARAN!"

Heesung menggeser layar dengan tangan gemetar, membaca isinya dengan cepat. Isi berita itu sangat buruk. Seorang yang mengaku mantan karyawan agensi—tak lain adalah Park Jiwon, wanita yang menyusup itu—memberikan wawancara panjang lebar yang penuh rekayasa dan tuduhan berat.

Ia mengatakan bahwa Heesung adalah orang yang sombong, kejam, dan sewenang-wenang. Bahwa pernikahannya dengan Hyeri bukan sekadar kontrak, melainkan transaksi gelap di mana keluarga Hyeri memberikan dukungan finansial besar-besaran kepada agensi dengan syarat Hyeri dijadikan istri Heesung secara paksa. Berita itu juga menyebutkan bahwa Heesung sering menekan staf, melanggar aturan, dan memakai cara kotor untuk menekan pesaingnya.

Inti dari semua berita buruk ini adalah: Heesung digambarkan sebagai idola bermuka dua yang penuh dosa, dan Hyeri digambarkan sebagai wanita egois yang membeli suami dengan uang kekayaannya.

"Ini gila!" seru Heesung marah, menggebrak meja hingga cangkir bergetar. "Semua ini bohong! Sepotong pun tidak ada yang benar! Dia mengarang semua ini, memutarbalikkan fakta!"

Hyeri segera mengambil ponselnya sendiri dan membaca berita-berita serupa yang sudah menyebar ke mana-mana. Komentar-komentar negatif mulai berdatangan, ada penggemar yang bingung, ada yang mulai ragu, dan banyak pihak luar yang langsung menghakimi tanpa mau tahu kebenaran. Isu ini jauh lebih berbahaya daripada sekadar berita pernikahan kontrak. Ini adalah serangan langsung terhadap karakter dan moral mereka berdua.

"Dia benar-benar melakukan apa yang dia ancamkan," ucap Hyeri pelan, wajahnya pucat namun matanya tetap tegar. "Hanya saja... dia tidak menyebarkan dokumen itu, melainkan membuat berita bohong yang jauh lebih buruk."

"Dia ingin membuat orang-orang membencimu, Heesung. Dia ingin mengisolasi kita. Dia berpikir jika seluruh dunia membencimu, jika kariermu hancur... aku akan pergi meninggalkanmu karena tidak tahan dicemooh bersamamu," sambung Hyeri, kini mulai mengerti rencana licik Sooah.

Heesung berdiri dari kursinya, berjalan mondar-mandir dengan cemas dan marah. "Dia ingin memojokkanku sampai aku merasa tidak punya tempat lain untuk berlari kecuali kembali ke pelukannya. Dia pikir aku akan menyerah dan memohon padanya untuk memperbaiki semua ini."

Heesung berhenti berjalan, menatap Hyeri dengan pandangan yang tajam dan penuh tekad. "Tapi dia salah satu hal paling penting, Hyeri."

"Apa itu?" tanya Hyeri.

"Dia salah menilai siapa kamu," jawab Heesung tegas. "Dia pikir kamu akan pergi saat aku jatuh. Dia pikir kamu hanya ada di sini saat aku punya nama dan kekayaan. Dia tidak tahu... bahwa kamu adalah satu-satunya orang yang justru akan semakin kuat berdiri di sisiku saat semua orang lain berbalik pergi."

Hyeri tersenyum haru, berdiri dan berjalan mendekat ke arah Heesung, menggenggam kedua tangan pria itu.

"Dan dia juga salah menilai siapa dirimu, Heesung. Dia pikir harga dirimu akan membuatmu menyerah. Dia lupa bahwa kamu adalah pria yang berjuang dari nol sampai ke puncak. Kamu tidak akan runtuh hanya karena fitnah wanita yang sakit hati."

Pintu depan rumah mereka tiba-tiba berdentang keras, disusul suara teriakan dan keributan dari luar jendela. Saat mereka melongok keluar, halaman rumah sudah mulai dipenuhi oleh wartawan yang datang berbondong-bondong, berusaha mendapatkan pernyataan, serta sekelompok orang yang terpengaruh berita itu datang untuk memprotes.

Dunia di luar sana seolah berubah menjadi tempat yang dingin dan bermusuhan dalam semalam. Kabut hitam fitnah yang ditebarkan Jung Sooah telah menutupi sinar matahari kebahagiaan mereka.

Namun, di dalam rumah itu, di antara hiruk-pikuk dan ancaman di luar, Heesung dan Hyeri berdiri berdampingan, saling berpegangan tangan erat.

"Badai ini baru saja dimulai, Hyeri," bisik Heesung, matanya menatap tajam ke arah kerumunan di luar. "Tapi kita akan melewatinya. Bersama-sama. Dan setelah ini selesai... aku akan pastikan dia tidak pernah bisa mengganggu hidup kita lagi."

Di kejauhan, di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan, Jung Sooah mengamati pemandangan itu dengan senyum puas. Ia melihat wajah-wajah marah di depan pagar rumah Heesung, melihat keributan yang ia ciptakan.

"Nikmati saja hari-hari terakhirmu sebagai idola, Heesung. Sebentar lagi, kamu akan jatuh ke dasar jurang. Dan saat kamu jatuh... aku akan menjadi satu-satunya tangan yang siap menarikmu naik kembali."

1
HAN EUNBI
🤭 menarik banget💪 tingkatkan
VOYAGE LEUER: 🤭terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!