Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pindah ke apartemen
Malam harinya, sebuah mobil sedan hitam premium berukuran besar terparkir anggun di depan gang sempit kontrakan Nayla.
Kehadiran mobil mewah berkilau itu sontak menjadi tontonan gratis bagi ibu-ibu yang sedang membeli jamu gendong di sudut jalan, serta anak-anak kecil yang asyik mengejar capung malam.
Nayla Putri keluar dari pagar rumah kontrakannya dengan bersusah payah. Kedua tangannya memeluk sebuah kardus mi instan bekas berisi penanak nasi, beberapa pasang sepatu, dan setumpuk dokumen desain penting. Di bahunya, tas ransel kanvas andalannya tampak menggembung maksimal, ditambah satu koper jinjing berwarna merah marun yang rodanya sudah agak seret saat ditarik.
"Rasanya berat banget pindah dari tempat senyaman ini, tapi kalau gue nggak pindah orang tua Gibran pasti curiga,lagian pindah dari sini nggak rugi rugi amat ,nggak mikirin biaya kontrakan tiap bulan." Gumam Nayla setelah keluar dari pintu kamarnya.
Nayla memandang pintu kontrakannya,tempat yang penuh cerita,tempat yang paling bersejarah dan cerita sejak ia pertama kalinya menjejakkan kaki di ibu kota .
"Kalau tidak ada masalah kemarin,dan aku tidak terlibat dengan Gibran aku tidak akan terseret masalah serumit ini ."Ada rasa kesal di hati Nayla,namun ia juga sadar kalau semua yang terjadi mungkin sudah takdir hidupnya .
Seorang pria paruh baya mengenakan seragam safari rapi bertuliskan logo (Mahardika Group) segera turun dari pintu kemudi. Dengan sikap sangat sopan, pria itu membungkuk sedikit ke arah Nayla.
"Malam, Bu Nayla. Saya Pak Jono, sopir pribadi yang diutus oleh Den Gibran untuk menjemput Ibu," sapa pria itu ramah, lalu dengan cekatan mengambil alih kardus dan koper dari tangan Nayla untuk dimasukkan ke dalam bagasi mobil yang luas.
Nayla mengerjap-erjap canggung mendengar panggilan baru itu. "Eh ... iya, Pak Jono. Panggil Nayla saja, tidak usah pakai Bu. Saya belum se-ibu-ibu itu kok," jawab Nayla dengan senyum yang dipaksakan, merasa perutnya agak mulas karena gugup membayangkan hari pertamanya pindah ke apartemen Gibran.
"Waduh, tidak berani saya, Bu. Den Gibran sudah berpesan kalau saya harus melayani Ibu dengan standar terbaik," kata Pak Jono sambil menutup pintu bagasi dengan bunyi "bep" elektrik yang sangat halus.
Pria itu membukakan pintu penumpang belakang untuk Nayla. "Silakan masuk, Bu. Den Gibran sudah menunggu di unit apartemen."
Nayla menghela napas panjang, menatap rumah kontrakan mungilnya yang kini lampunya sudah dimatikan. Hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, hidupnya benar-benar dijungkirbalikkan oleh takdir.
Dia melangkah masuk ke dalam mobil mewah yang aromanya seperti ruangan hotel berbintang, lalu bersandar pasrah pada jok kulit yang sangat empuk.
Perjalanan menuju kawasan Sudirman memakan waktu sekitar tiga puluh menit.
Mobil kemudian memasuki area basemen khusus penghuni sebuah kompleks kondominium super mewah bergaya modern-kontemporer. Pak Jono mengantar Nayla hingga ke depan pintu lift pribadi yang langsung terhubung ke unit apartemen di lantai tiga puluh dua.
Begitu pintu lift terbuka, Nayla langsung disuguhi pemandangan sebuah griya tawang (penthouse) berkonsep ruang terbuka (open space) yang sangat luas. Dinding-dindingnya menggunakan kaca tebal dari lantai hingga langit-langit, menyajikan lanskap lampu-lampu megah kota Jakarta di malam hari. Lantainya menggunakan marmer putih Italia yang sangat mengilap, sampai-sampai Nayla bisa melihat bayangan wajahnya sendiri yang tampak kuyu di atasnya.
Gibran Mahardika sedang duduk di sofa ruang tengah, mengenakan kaus oblong hitam santai dan celana pendek abu-abu. Rambutnya tidak lagi klimis seperti tadi siang di kantor, melainkan jatuh berantakan di dahinya, membuatnya terlihat beberapa tahun lebih muda. Di atas meja kopi di depannya, berserakan beberapa lembar kertas legal berkepala surat tampaknya itu adalah draf surat perjanjian rahasia mereka.
"Oh, sudah sampai?" Gibran berdiri, menyambut Nayla dengan pandangan mata yang sedikit canggung. Dia memberi kode pada Pak Jono untuk meletakkan barang-barang Nayla di dekat koridor kamar.
"Makasih, Pak Jono. Bapak bisa langsung pulang dan istirahat."
"Baik, Den. Permisi, Bu Nayla," pamit Pak Jono sebelum kembali memasuki lift.
Setelah pintu lift tertutup rapat, menyisakan keheningan di ruangan luas itu, Nayla langsung melepaskan ranselnya dan menjatuhkan diri ke atas sofa kulit terdekat tanpa permisi.
Tubuhnya benar-benar lelah setelah seharian menghadapi revisi desain jamu herbal yang tiada habisnya di kantor, ditambah drama kepindahan ini.
"Capek banget, gila," keluh Nayla spontan, melupakan sejenak gengsinya di depan pria kaya di depannya.
Gibran mengambil sebotol air mineral dingin dari kulkas mini di sudut ruangan, lalu meletakkannya di depan Nayla. "Nih, minum dulu. Jangan pingsan di sini, nanti gantian gue yang repot digerebek satpam apartemen."
Nayla mendengus mendengar sindiran itu, namun tetap menyambar botol air tersebut dan meminumnya dengan rakus. "Gue enggak bakal pingsan kalau bukan karena ulah lu dan bapak-bapak ronda semalam ya, Mas!" ketus Nayla setelah menyeka bibirnya dengan punggung tangan. "Jadi, mana kamar gue? Gue mau tidur. Otak gue sudah korsleting."
Gibran menunjuk ke arah koridor sebelah kiri dengan jempolnya. "Kamar lu yang di sebelah sana. Kamar utama dengan kamar mandi di dalam. Gue pakai kamar tidur yang sebelah kanan. Barang-barang lu sudah ditaruh di depan pintu kamarmu."
Nayla menaikkan sebelah alisnya, agak terkejut. "Lu memberikan kamar utama buat gue? Baik banget? Ada udang di balik batu ya?
Gibran memutar bola matanya dengan jengkel. "Bukan karena gue baik, Nayla Putri yang terhormat. Tapi karena bokap gue itu perfeksionis. Kalau orang suruhannya datang memeriksa dan melihat kamar utama diisi barang-barang cewek sementara gue tidur di kamar tamu, dia langsung tahu kita pisah ranjang. Jadi, demi keamanan kontrak tiga bulan kita, lu pakai kamar utama."
"Oh, masuk akal," gumam Nayla manggut-manggut. Dia baru saja hendak berdiri untuk menyeret kopernya ke kamar, ketika tiba-tiba terdengar suara alarm bel pintu apartemen berbunyi dengan nada yang sangat berisik dan berulang-ulang.
Ting-tong! Ting-tong! Ting-tong!
Nayla dan Gibran tersentak serempak. Mereka saling berpandangan dengan raut wajah yang mendadak tegang.
"Siapa? Lu pesan makanan daring?" tanya Nayla berbisik.
"Enggak," Gibran menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dia berjalan menuju interkom dinding yang memiliki layar kamera kecil untuk melihat siapa tamu yang ada di depan pintu unitnya.
Begitu matanya menatap layar digital tersebut, Gibran langsung membelalak panik. Jantungnya berdegup kencang seolah-olah baru saja melihat hantu di tengah malam.
"Mampus ... tamat riwayat kita," bisik Gibran dengan suara bergetar, berbalik menatap Nayla dengan pandangan horor yang sangat kentara.