Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.
Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 SWMU
Kesadaran Nadia Clarissa kembali secara perlahan, seperti seseorang yang ditarik paksa dari dasar kolam yang dalam dan gelap. Hal pertama yang ia rasakan adalah keheningan yang luar biasa. Tidak ada lagi suara deru hujan yang menghantam atap mobil, tidak ada lagi suara isak tangis para pelayat. Yang ada hanyalah kesunyian yang terasa berat, seolah udara di sekitarnya membeku.
Nadia membuka matanya yang masih terasa perih dan bengkak. Pandangannya kabur sesaat sebelum ia menyadari bahwa ia tidak lagi berada di dalam mobil. Ia berbaring di atas tempat tidur yang sangat luas dengan seprai sutra yang terasa dingin namun lembut di kulitnya.
Ia segera terduduk, jantungnya berdegup kencang. Ia menatap ke sekeliling ruangan yang asing itu. Kamar itu sangat luas, mungkin tiga kali lipat ukuran kamar tidurnya yang lama. Langit-langitnya tinggi dengan ukiran klasik yang rumit, dan perabotan kayu gelap yang tampak sangat mahal berjejer rapi. Di sudut ruangan, sebuah jendela besar menjulang dari lantai hingga langit-langit, namun di baliknya tidak ada pemandangan kota. Hanya ada kabut putih yang tebal, menyelimuti pepohonan pinus yang tampak seperti bayangan hantu.
"Sudah bangun?"
Nadia tersentak hingga hampir jatuh dari tempat tidur. Di sudut ruangan yang agak gelap, duduk seorang pria di sebuah kursi lengan kulit yang besar. Pria itu adalah Bramantya Mahendra. Ia masih mengenakan kemeja hitamnya, namun jasnya sudah dilepas dan dua kancing teratas kemejanya terbuka, memberikan kesan yang lebih santai namun tetap mengintimidasi.
"Di... di mana aku?" suara Nadia serak, hampir menyerupai bisikan.
"Di rumahku. Mansion Mahendra," jawab Bramantya tenang. Ia bangkit berdiri dan berjalan perlahan menuju arah Nadia. Setiap langkahnya di atas lantai kayu terdengar mantap, seolah setiap jengkal tanah di bawahnya adalah miliknya sepenuhnya.
Bramantya berhenti tepat di samping tempat tidur. Ia membawa sebuah gelas berisi air putih dan menyodorkannya pada Nadia. "Minum. Kau menangis begitu banyak sampai tubuhmu dehidrasi."
Nadia menatap gelas itu dengan ragu. Ingatannya kembali pada momen di dalam mobil, ketika Bramantya menyuruhnya tidur. Berapa lama ia tidak sadarkan diri? Mengapa ia tidak ingat kapan ia dipindahkan ke kamar ini?
"Terima kasih," gumam Nadia, mengambil gelas itu. Tangannya masih sedikit gemetar. Air dingin itu terasa melegakan di tenggorokannya yang kering, namun rasa cemas di hatinya tidak kunjung hilang.
Bramantya memperhatikan Nadia tanpa berkedip. Matanya yang hitam pekat mengunci wajah Nadia, seolah sedang memetakan setiap lekuk dan emosi yang terpancar di sana. Tatapan itu membuat Nadia merasa telanjang, seolah tidak ada satu pun rahasia yang bisa ia sembunyikan dari pria ini.
"Kau terlihat sangat mirip dengan ibumu," ucap Bramantya tiba-tiba. Suaranya sedikit melunak, namun ada nada kepahitan yang terselip di sana.
Nadia menurunkan gelasnya. "Paman mengenal ibuku dengan baik?"
Bramantya terdiam sejenak. Ia membelakangi Nadia dan berjalan menuju jendela besar, menatap kabut yang menyelimuti mansionnya. "Lebih baik dari yang kau bayangkan. Tapi itu cerita untuk lain waktu. Sekarang, yang perlu kau tahu adalah kau aman di sini. Segala kebutuhanmu akan dipenuhi."
"Tapi Paman, aku tidak bisa tinggal di sini selamanya tanpa melakukan apa-apa," protes Nadia pelan. "Aku harus mengurus sisa peninggalan orang tuaku. Aku harus bekerja, aku harus—"
"Tidak ada yang tersisa untuk kau urus, Nadia," potong Bramantya tanpa menoleh. "Aku sudah mengatakan padamu, rumah keluargamu sudah disita. Ayahmu berutang pada orang-orang yang berbahaya. Jika kau tetap tinggal di luar sana sendirian, mereka akan mencarimu. Mereka akan menagih utang ayahmu lewat dirimu."
Nadia merasakan darahnya berdesir dingin. Ia tahu ayahnya memang sedang kesulitan dalam bisnis, tapi ia tidak menyangka situasinya seburuk ini. "Jadi... aku tidak punya pilihan?"
Bramantya berbalik. Di balik kabut yang mulai sedikit menipis karena sinar rembulan yang pucat, sosoknya tampak seperti bayangan yang megah namun kelam. "Pilihanmu hanya satu: tetap di bawah perlindunganku, atau hancur di tangan musuh-musuh ayahmu. Mana yang kau pilih?"
Nadia menundukkan kepalanya. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. Kehilangan orang tua, kehilangan rumah, dan kini ia dipaksa bergantung pada seorang pria yang belum pernah ia temui sebelumnya. "Aku... aku akan tinggal di sini."
"Keputusan yang bijak," ujar Bramantya. Ia mendekati Nadia lagi. Kali ini, ia mengulurkan tangan dan dengan sangat lembut, ia menyelipkan seuntai rambut Nadia ke belakang telinganya. Sentuhan jarinya yang hangat di kulit Nadia membuat gadis itu sedikit bergidik. "Jangan takut padaku, Nadia. Aku mungkin keras, tapi aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu."
Nadia menatap mata Bramantya. Untuk sesaat, ia melihat kilatan emosi yang tidak ia mengerti. Itu bukan sekadar rasa kasihan seorang paman pada keponakannya. Ada sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap, dan lebih posesif.
"Kenapa Paman melakukan ini?" tanya Nadia dengan keberanian yang tersisa. "Kita tidak pernah bertemu selama bertahun-tahun. Kenapa Paman begitu peduli padaku sekarang?"
Bramantya menarik tangannya kembali. Ia memberikan senyum tipis yang tidak mencapai matanya. "Karena kau adalah satu-satunya Mahendra yang tersisa yang berharga di mataku. Dan karena aku selalu mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku."
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada yang sangat rendah, hampir seperti sebuah janji pada dirinya sendiri. Nadia ingin bertanya lebih lanjut, namun Bramantya sudah berbalik menuju pintu.
"Istirahatlah lagi. Besok pagi, kepala pelayan akan membawakan pakaian baru untukmu. Semua barang-barang lamamu yang bisa diselamatkan sudah ada di lemari," kata Bramantya sambil memegang gagang pintu. "Dan satu hal lagi, Nadia... jangan pernah mencoba keluar dari mansion ini tanpa izin dariku. Kabut di luar sana sangat menyesatkan. Kau bisa hilang selamanya."
Klik.
Pintu tertutup dan terkunci dari luar. Nadia tertegun. Ia segera bangkit dari tempat tidur dan berlari menuju pintu, mencoba memutar gagangnya. Benar saja, pintu itu terkunci rapat.
"Paman! Buka pintunya!" seru Nadia sambil menggedor pintu kayu yang tebal itu.
Tidak ada jawaban. Yang terdengar hanyalah langkah kaki Bramantya yang menjauh dengan ritme yang tenang, seolah gedoran Nadia hanyalah gangguan kecil yang tidak berarti.
Nadia menyandarkan punggungnya di pintu, perlahan merosot hingga terduduk di lantai. Ia menatap kamar yang megah itu lagi. Kemewahan ini tidak lagi terasa nyaman. Sekarang, ia sadar bahwa kamar ini bukanlah sebuah kamar. Ini adalah penjara. Sebuah penjara yang dilapisi sutra dan emas, dijaga oleh seorang pria yang ia panggil "Paman", namun terasa seperti orang asing yang sangat berbahaya.
Nadia memeluk lututnya sendiri, menangis dalam sunyi di bawah cahaya lampu kristal yang redup. Di luar jendela, kabut semakin tebal, menelan seluruh dunia dan menyisakan Nadia dalam genggaman Bramantya Mahendra. Ia merasa seperti karakter dalam dongeng lama yang diculik ke dalam kastil raksasa. Namun di dunia nyata, tidak ada pangeran yang datang menyelamatkannya. Karena pangeran itu—sang penyelamat itu—adalah orang yang menguncinya di sini.
Malam itu, Nadia Clarissa belajar bahwa keamanan memiliki harga yang sangat mahal. Dan ia baru saja membayar harga itu dengan kebebasannya.