Sangat di sarankan untuk membaca kisah sebelumnya, Wanita Mantan Narapidana Vol 1.
Setelah 20 tahun mendekam di balik jeruji tahanan, Lembayung Senja akhirnya bisa menghirup udara kebebasan di luar penjara.
Tapi, waktu yang berlalu, masa yang telah lama berganti, masih meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hati Ayu.
Hingga dendamnya pun kian membara, tekadnya semakin kuat untuk menghancurkan dua orang yang membuatnya terkurung selama 20 tahun lamanya.
Berhasilkah Lembayung Senja membalaskan sakit hatinya?
Lantas bagaimana hubungannya dengan Biru putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hubungan Darah
#2
“Waalaikumsalam,” jawab Karmila, wanita itu berlari dan menangis haru ketika memeluk sang kakak ipar. “Alhamdulillah, Kakak sudah bebas. Walau terkesan tak tahu malu, tapi aku mohon maafkan Bang Restu, ya, Kak.”
“Buat apa kau minta maaf, sudah sepantasnya dia yang membusuk di penjara!”
Suara itu begitu lantang, sarat akan kemarahan kendati 20 tahun telah berlalu. Tapi luka karena kehilangan anak tersayang, tetap membekas dan tak akan mungkin bisa hilang.
Belum sempat Ayu menyahuti ucapan Karmila, suara Bu Halimah lebih dulu terdengar, seketika semua mata tertuju padanya.
Wanita itu makin menua sejak kali terakhir Ayu melihatnya, namun tatapan matanya pada Ayu tak pernah berubah. Ada rasa tak suka, ada prasangka, bahkan ada amarah yang masih tersimpan rapi kendati kejadian itu, telah 20 tahun berlalu.
“M-Mak,” sapa Ayu sedikit ragu, namun ia tetap ingin menunjukkan rasa hormat.
Bu Halimah mendekat, ia mencengkram kerah pakaian Ayu, “Masih punya muka kau datang ke tempat ini, setelah apa yang kau perbuat pada putraku?!” hardik Bu Halimah dengan suara melengking.
Untuk sesaat lalu, Ayu telah berharap lebih, tapi bilamana melihat dari sikap dan kemarahan Bu Halimah terhadapnya, sepertinya sejak dulu wanita itu memang tak pernah menganggapnya sebagai menantu atau anak.
“Kenapa pula aku harus merasa malu? Sementara aku tak pernah berbuat dosa,” tanya Ayu, suaranya mulai bergetar pelan.
Tapi, kelanjutan kalimatnya sungguh mencengangkan, “Bang Restu yang berbuat hina, berkhianat! Bahkan berzina! Kemudian, disebabkan oleh rasa ingin melindungi selingkuhannya, maka itu ia terbunuh! Jadi dimana letak kesalahanku?!” balas Ayu tanpa berniat meredam marahnya, hingga lengkingan amarah yang sekian lama tertahan di hati kini terlontar dengan sendirinya.
“Dua puluh tahun aku menanggung hukuman, padahal aku tak pernah berbuat dosa, tak diberi hak mengajukan keringanan hukuman. Apa di mata Mamak, itu juga masih kurang?! Memang seberapa berharga seorang Restu Singgih, hingga Mamak begitu mengagungkannya seperti sang maha raja?!”
“Dasar kurang ajar! Tak punya adab pada orang tua!”
Plak!
“Mak!” Karmila menjerit ketika melihat Bu Halimah melayangkan tamparan ke wajah Ayu. Begitu pula Ismail yang langsung memeluk tubuh Bu Halimah.
Ayu mencegah Giana yang ingin menyeretnya menjauh, menghindari amukan Bu Halimah.
“Anggap saja aku tak beradab, tak masalah, toh Mamak sendiri yang mengirimku ke penjara. Memang apa hal baik apa yang Mamak harapkan dari wanita mantan narapidana ini? Sopan santun? Kepatuhan?” Ayu tertawa sumbang,
“Jangan berharap semua itu, Mak. Karena Ayu menantu Anda yang penurut, dan berbakti pada suaminya, sudah mati 20 tahun lalu. Anda dan putra tersayang Anda yang sudah membunuhnya!” sambung Ayu lantang, hingga beberapa tetangga Ismail melongok keluar karena mendengar suara keributan.
“Ayu yang sekarang, akan hidup dengan bangga dan kepala ditegakkan, tak peduli hinaan menghantam dari segala sisi, camkan itu baik-baik, Mak!”
Terbelalak Bu Halimah, karena ucapan serta sikap sang menantu yang kini telah berubah.
Namun, Bu Halimah kembali tersenyum mengejek, “Huh, anak buruh tani miskin sepertimu, walau berjalan dengan kepala tegak, tak akan ada yang bisa kau banggakan.”
“Bila Anda menilai manusia hanya berdasar status sosial, itu sungguh hal yang sia-sia,” sela Giana.
“Siapa kau? Jangan berani ikut campur!” sahut Bi Halimah sengit.
Giana memposisikan tubuhnya di depan Ayu, seolah-olah bertindak sebagai tameng wanita itu. “Anda sedang membela putra kesayangan Anda, bukan. Bahkan menginjak-injak wanita tak bersalah hanya demi menutupi perasaan tak rela yang selama ini mendiami hati dan perasaan Anda.”
“Tapi Anda lupa satu hal, bahwa wanita ini sudah menjalani hukuman, jadi Anda tak berhak menghakiminya kembali!” Giana mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Bu Halimah, hingga wanita itu makin terbelalak tak percaya. Mengingat selama ini tak pernah ada yang berani berbuat demikian padanya.
Giana menepi sejenak, kemudian merangkul pundak Ayu, “Apa Anda lupa, bahwa wanita yang sedang Anda hina, dan tuding dengan kejam ini, juga putri kesayangan kedua orang tuanya. Bayangkan bagaimana hancur dan sedihnya perasaan mereka bila melihat kemalangan putrinya.”
Bu Halimah terdiam, wanita itu terlalu egois untuk bisa memahami perasaan orang lain. Dalam hidup dan hatinya, hanya dirinya serta orang yang paling disayanginya lah yang penting. Yang lain ia tak peduli.
Merasa suasana makin tak kondusif, Karmila pun berbisik ke telinga Bu Halimah. “Mak, lebih baik Mamak pergi sekarang,” ucap Karmila.
“Kau mengusir Mamak dan lebih membela orang yang sudah menghabisi Abang Kau?!”
“Mila tak bermaksud begitu, Mak, tapi—” Ismail ikut menyela.
“Dasar tak tahu diuntung, tak tahu terima kasih! Padahal Mamak sudah membantu menopang perekonomian kalian, tapi begini balasan kalian?!” murka Bu Halimah, wanita itu mulai mengungkit jasa-jasanya yang tak seberapa.
Karena selama ini bagian Ismail dari mengelola lahan milik Bu Halimah, sangat jauh dari layak, namun, Ismail tak pernah protes, dan ikhlas membantu sang mertua.
Bu Halimah yang kadung meradang segera berbalik pergi, urung menyampaikan maksud kedatangannya pada Ismail dan Karmila perihal panen raya yang akan segera tiba.
Para tetangga yang berkerumun pun kembali masuk ke rumah masing-masing, begitupun Karmila yang segera memapah Ayu agar masuk ke dalam rumah.
Sementara Giana dan Mahar hanya bisa mengikuti mereka dalam diam. Walau sesungguhnya mereka pun ikut geram dengan amarah Bu Halimah yang di rasa salah alamat.
“Kak, maafkan Mamak, ya?” pinta Karmila dengan wajah penuh rasa bersalah.
“Jika bukan kau yang mengucapkannya, sulit bagiku untuk memaafkan Mamak,” isak Ayu. “Tapi karena kau, karena kalian sudah berbaik hati merawat puteraku, aku akan menganggap hal ini tak pernah terjadi.”
Ayu mengusap air matanya, kemudian kembali bertanya seolah tak terjadi apa-apa. “Oh, iya. Dimana Biru dan Firza?”
Pertanyaan Ayu membuat orang-orang saling pandang, hingga Ayu pun merasa heran. “Kenapa? Ada yang salah dengan pertanyaanku?” tanya Ayu bingung.
“Tidak ada yang salah, Biru baik-baik saja, begitu pula Firza, iya, kan? tanya Giana pada Ismail dan Karmila yang selama ini tetap mengawasi kedua putra mereka dari kejauhan.
Karmila dan Ismail mengangguk berbarengan.
“Lalu?”
Giana menarik nafas sesaat, “Mulai dari sini kami akan bercerita tentang masa-masa dimana kau tak ada bersama kami.”
Giana duduk di sebelah kiri Ayu, sementara Karmila di sisi kanan Ayu. “Maafkan aku, Dek. Karena baru sekarang berani berkata jujur,” kata Giana memulai pembicaraan serius.
Ayu menajamkan pendengarannya, merasa seolah ia salah mendengar sesuatu, “Apa maksud Bu Giana? Kenapa memanggilku dengan sebutan -Dek-?”
Belum apa-apa Giana sudah gugup, ia belum bisa membayangkan bagaimana reaksi Ayu, bila nanti mengetahui kenyataan yang sesungguhnya tentang hubungan darah diantara mereka.
“K-karena— Tuan Yassir Huda bapak kau, adalah adik dari Ayahku, Syamsir Huda.”
kayaknya Biru sudah lupa dengan ajaran" bapak Ismail sama mamak Karmila tentang sopan santun dgn yg lebih tua 🥺😤 .., apa mungkin si Biru nurut sikapnya kayak neneknya yang sikapnya kayak Mak lampir 😏
Biru mendekati Miranda dan sekarang magang di firma Gunawan, mungkin sambil menyelidiki Gunawan