Yitno... Ya namanya adalah Suyitno, seorang laki-laki berusia 36 tahun yang tak kunjung menikah. Ia adalah pemuda baik, tetapi hidupnya sangat miskin dan serba kekurangan.
Baik itu kekurangan ekonomi, pendidikan, wajah dan masih banyak hal lainnya yang membuatnya merasa sedikit putus asa dan berkecil hati. Ia tinggal bersama ibunya yang seorang janda.
Ia pemuda yang rajin dan tak malu bekerja apapun. Iman dan mentalnya berubah semenjak ia menghitung usianya, dan melihat teman-teman sekampungnya yang semuanya sudah berkeluarga. Ia malu, ia pun ingin menikah tetapi tak ada seorang gadis pun yang mau dengannya.
Semua gadis seperti menghindarinya, entah karena Ia miskin, atau karena ia tak rupawan, atau mungkin karena keduanya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang kakek yang akan merubah hidupnya.
apakah yang akan dilakukannya? ikuti terus kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celoteh Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syarat
Sesampainya di rumah Yitno duduk di cincin sumur dengan handuk lusuh terselampir di pundak dekilnya. ia masih kesal lantaran hasil pancingannya di rebut paksa oleh kakek aneh yang ia temui di rawa tadi.
"Nimba air Yit! Di penuhin sekalian bak kamar mandinya, biar mamak kalau mau mandi itu gak ndandak nimba lagi" ucap ibunya sembari menyapu halaman belakang rumah
"Iya, bentar ngabisin rokok dulu Mak"
"Kamu pulang mancing gak dapet ikan, Yit? Tau gitu mending kamu bersihin halaman, dari pada manceng ngabisin waktu, dapet ikan juga nggak!"
"Dapet Mak, dapet banyak malahan. Harusnya malem ini kita bisa makan enak punya lauk ikan, malah di minta sama Mbah edan itu. apes apes.." keluh Yitno
"Mbah? Kamu ketemu dia? Kamu manceng di rawa angker itu, Yit? Ngawor kamu, untung aja kamu gak di apa apain, anaknya Pak RT lho mancing disitu di kejer pake arit sama Mbah itu, gak waras dia. Hati-hati kamu, jangan mancing disitu lagi, cari perkara kamu." Ucap ibunya menasehatinya.
"Huufftt, padahal aku dapet ikannya banyak, gede gede lagi, Mak."
"Udah ikhlasin aja,"
"Iya Mak, Oh iya memang siapa Mak, Mbah itu? Orang mana dan tinggalnya dimana?" Tanya Yitno
"Dulu dia orang kampung seberang, di usir lalu tinggal di dalam hutan, 2 tahun terakhir ini dia malah buat gubuk di seberang rawa yang kamu pancingin itu."
"Di usir? Kenapa dia di usir?"
"Katanya sih, mamak juga gak tau pasti. Gosipnya sih dia itu dukun yang buka praktik pesugihan gitu. Ya jelas di tentang warga, ya gitulah akhirnya dia di usir. Karna dia gak punya siapa siapa jadi dia tinggal dalam hutan. Sekarang di rawa itu. Kalo musim panen dia keliling kampung mintain gabah warga bawa ember gede gitu. Sebenernya kasian ngeliatnya, tapi orang orang udah terlanjur takut, mau gimana lagi."
***
Selepas Maghrib, di temani segelas kopi Yitno duduk termenung di bawah pohon nangka yang berada di halaman depan rumahnya. Ia memainkan ponselnya, sembari sesekali menegur warga yang lewat berlalu lalang. Terlintas dipikirannya tentang ucapan si kakek tadi.
"'Apa ya maksud ucapan Mbah tadi? Aku disuruh ke rumahnya kalau pengen hidupku berubah. Jadi dia itu dukun? Dia cuma minta gula, kopi sama tembakau tadi kalau gak salah."
Sejenak Yitno termenung menimbang serta berfikir. Ia lalu bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam rumah mengambil sebuah senter dan beberapa lembar uang. Ya! Ia hendak menemui kakek tadi, ia merasa kasihan pada si kakek yang terusir itu. Mungkin ia ingin minum kopi dan ngerokok. Itulah fikirannya saat itu.
Tanpa pikir panjang Yitno pergi ke warung membeli gula, kopi dan tembakau untuk si kakek. Setelah mendapatkan apa yang ia perlu, Yitno pun bergegas pergi menemui sang kakek di rawa Angker itu.
Berbekal penerangan berupa senter, ia berjalan penuh kehati hatian di gelap malam. Langkah demi langkah ia lalui, ia mulai ragu melihat keadaan yang semakin gelap gulita tak ada kehidupan. Hanya suara burung hantu dan jangkrik saja yang menemaninya.
Rawa itu memang cukup jauh, setelah menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 40 menit barulah ia sampai. Gubuk itu ada di seberang rawa. Terpaksa Yitno berjalan memutar mengikuti bibir rawa itu untuk sampai, akhirnya ia pun sampai dan mendapati sebuah bangunan sederhana.
Tampak sebuah gubuk reyot tak layak huni berukuran sebesar dapur rumahnya. Gubuk yang berdiri ala kadarnya itu memancarkan Seberkas cahaya kuning temaram menyeruak dari sela-sela geribik anyaman bambu dinding gubuk itu. mungkin itu penerangan dari dalam rumah
Tok...tok...."Kulonuwon... Mbah...." Ucap Yitno berusaha memanggil dan mengetuk pintu gubuk itu...
Kreek ngieekk...bunyi derik pintu terbuka.
Sang kakek tersenyum berdiri di ambang pintu dan mempersilahkan Yitno untuk masuk. Yitno pun segera masuk dan duduk di alas tikar yang sudah usang bersama sang kakek.
"Ini buat Mbah "ucap Yitno sembari memberikan plastik hitam berisi gula, kopi dan tembakau
"Iya terimakasih" ucap sang kakek meraih plastik itu lalu beranjak berdiri kebelakang membuat kopi
"Ini kopinya, ayo kita ngopi. Udah lama embah gak ngopi." tutur sang kakek.
"Eghmm..anu Mbah, maksud omongan Mbah sore tadi apa ya? soal saya biar cepet dapet jodoh itu.." ujar Yitno tanpa basa basi.
"Oh itu, kamu udah pengen cepet nikah kan?"
"Iya Mbah, umurku udah 36 tahun dua bulan lagi udah 37 kalu sampe 40 udah males aku, putus asa Mbah " jawab Yitno jujur.
"Ya gimana mau dapet jodoh kalau harta saja kamu tidak punya, lebih lebih kamu tidak punya pekerjaan yang mapan yang bisa di andalkan menurut para perempuan..."
Jleeppp... Sakit jantung Yitno mendengar ucapan julit sang kakek. Rasanya seperti di senyumin mantan yang naik mobil sedan saat kita sedang dagang gorengan.
"Ya aku harus gimana lagi lho mbah, ya emang aku orang gak punya mbah. Tapi kan aku bukan pemalas, kalau ada kerjaan ya aku itu kerja lho mbah" jawab Yitno membela diri
"Perempuan mana tau soal itu, yang mereka perlu tau kamu punya penghasilan tetap, tidak kadang kerja kadang nganggur! Mereka juga takut menikah denganmu jika seperti itu keadaanmu."
Yitno hanya bisa tertunduk lesu...
Malam semakin larut, Yitno masih berada di dalam gubuk itu, di temani segelas kopi dan temaramnya penerangan dari lampu ublik sejenis sentir. Mereka berdua berbincang beralaskan tikar anyaman yang sudah usang dan terkoyak.
"Kamu pengen kaya nggak? Dengan kata lain, kamu bisa dapetin semua yang kamu inginkan termasuk seorang istri. Bukankah seperti itu, keinginanmu ?" Ujar sang Kakek
"Ma..maksud mbah gimana?" Tanya Yitno pura-pura tak mengerti
"Kalau kamu mau pengen cepet kaya raya dengan jalan pintas, mbah bisa bantu."
"Ya maulah Mbah, siapa yang gak mau cepet kaya raya"
"Hmm, baiklah mbah bisa bantu, tinggal kamu sanggup apa tidak? Berani atau tidak?"
"Memangnya gimana caranya mbah?"
"Pesugihan!"
"Hah! Pe-pesugihan?"
"Kamu gak usah khawatir, pesugihan ini tak membutuhkan tumbal, hanya saja membutuhkan mental" jelas sang kakek
"Pesugihan apa itu Mbah? Maksudku..aku harus gimana?"
"Kamu cukup curi kain kafan dari gadis per*w*n yang meninggal, kamu hanya butuh itu"
"Ka-kain kafan? Maksudnya, aku harus nyuri dari mayat per*w*n gitu ya Mbah?"
"Benar sekali"
"Cuma itu aja Mbah?"
"Tentu tidak, bukan sembarang kain kafan ada persyaratan yang harus kamu penuhi, kain kafan itu harus dari gadis yang meninggal di hari selasa Kliwon atau Jum'at Kliwon" ujar sang kakek
"Eehh? Ya susah kalau gitu mbah, gadis yang meninggal aja jarang, apalagi meninggalnya harus Selasa atau Jum'at Kliwon" ucap Yitno pesimis
"Ya memang susah, tapi ya pasti ada."
"Jarang tapi Mbah, hmm.. selain itu ada yang lain gak Mbah?"
"Ya ada, tapi kan pake tumbal, mau kamu!"
"Eehh..Ng-nggak Mbah, jadi kalau kain kafan itu gak pake tumbal ya Mbah?"
"Nggak, cuma ya tetep ada resikonya. Tetapi kalau orangnya berani ya gak ngaruh sih"
"Apa Mbah resikonya?"
"Ya di hantui, bagi yang takut hantu ya itu sebuah resiko kan?"
"I-iya juga"
"Lah kamu takut hantu gak?" Tanya si kakek
"Nggak sih Mbah, kalau takut gak berani aku kesini"
"Ya berarti yang cocok ya itu, kain kafan itu aja buat kamu"
"Emang di buat untuk apa kainnya nanti Mbah? Gimana aku cepet kaya dengan kain itu?"
"Nanti kamu tau sendiri, gak usah banyak tanya. Kalau ada gadis yang meninggal di waktu yang Mbah sebutin tadi, kamu harus ambil di malam pertama dia meninggal dan kamu harus meny*tub*hi jasadnya. Kamu lap darah per*w*n pake kain kafannya..
Setelah itu bawa kain kafannya kemari dengan tujuh lembar daun pisang raja dan kembang tujuh rupa yang kamu petik menjelang Maghrib. Sudah itu saja syaratnya." Tutur sang kakek itu.
Yitno pun tercengang mendengar penuturan si kakek...