Ameera, sangat terpukul saat mengetahui suaminya Caleb selingkuh di depan matanya sendiri. senua pengorbanannya selama ini terasa sia-sia.
Ameera tidak bisa merima kenyataan itu dan memilih pergi meninggalkan rumah. meninggalkan Ibu mertua yang sakit. yang menganggapnya tidak lebih dari seorang pembantu.
Saatnya membangun harapan baru, mengejar impian yang selama ini dia hancurkan.
Berhasilkah Ameera meraih mimpi dan cintanya. Apakah Caleb berhasil menemukan istrinya yang minggat dari rumah.
Mohon dukungannya atas cerita ini. Dari awal hingga akhir. Bukan hanya sekedar mampir atau jadi pembaca hantu, tiba-tiba muncul dan tiba menghilang. Tinggalkan jejaknya sebagai tanda cinta buat Emak. Love you untuk kalian semua. Horas!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Minggat
"Pak! Ayo cepat, Pak!" ucap Ameera panik saat melihat mobil Caleb semakin mendekat. Sopir grab tancap gas, menuruti perintah penumpangnya. Ameera menarik napas lega karena Caleb tidak mengejar taxi yang ditumpanginya.
Sementara, Caleb merasa heran saat melihat ada taxi grab parkir di depan rumahnya. Dia sempat melihat seseorang masuk kedalam taxi tapi karena efek matanya yang masih perih, penglihatannya kurang jelas.
Caleb berniat mengejar taxi itu karena curiga. Namun, emosinya untuk memberi pelajaran pada istrinya karena telah mempermalukannya di cafe lebih dominan menguasainya.
Caleb membunyikan beberapa kali klakson mobilnya agar pintu gerbang dibukakan oleh istrinya, karena mengira ada di rumah. Kemana lagi dia akan pulang kalau bukan ke rumah ini, monolog Caleb kesal karena belum ada tanda-tanda pintu gerbang akan dibukakan.
Istrinya tidak punya siapa-siapa di kota ini. Katanya dia dibesarkan di sebuah panti asuhan hingga dia dewasa.
Emosi Caleb semakin memuncak! Akhirnya dia keluar dari mobil dan membuka pintu gerbang rumahnya. Setelah memarkir mobil di halaman, dengan langkah panjang Caleb masuk rumah.
Alangkah kagetnya Caleb saat melihat ibunya yang kepayahan berusaha naik ke kursi roda. Dimana Ameera? Kenapa dia membiarkan ibunya terjatuh dari kursi roda.
"Ibu kenapa?" Caleb membantu ibunya duduk di kursi roda. Tanpa menunggu jawaban dari ibunya Caleb berlari ke arah dapur.
"Ame, Ameera ...!" teriaknya lantang memanggil istrinya. Tidak ada sahutan. Bergegas Caleb menuju kamar dan membuka pintu kamar dengan kasar. Kosong! Ameera tidak dijumpai juga dalam kamar.
"Bu! Ame kemana? Apa dia belum pulang ke rumah?" ucap Caleb yang belum menyadari kalau istrinya sudah minggat.
"Ame, barusan pergi. Ibu sudah mencoba menahannya tapi dia tidak peduli. Bahkan Ibu sampai terjatuh dari kursi roda dia tetap nekat pergi." isak Bu Rina. Membuat mata Caleb melotot tak percaya.
"Hah! Ame pergi, Bu? Pergi kemana, dia tidak punya siapa-siapa di kota ini. Itu tidak mungkin!" seru Caleb sambil berkacak pinggang.
"Dia pasti kembali, Bu. Tidak sampai sore Ame pasti pulang. Ibu tidak usah khawatir," nada ucapan Caleb begitu angkuh. Caleb tidak yakin istrinya minggat tanpa ada uang sebagai pegangannya. Ulahnya itu hanya sebagai gertak sambal karena telah memergokinya di cafe bersama Zita.
"Ame sudah pergi! Dia pergi membawa koper. Bahkan dia berpesan kamu jangan mencarinya dan menyuruhmu menceraikannya. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Ibu belum pernah melihat Ame semarah itu." Bu Rina kesal dengan reaksi putranya yang tidak mempercayai ucapannya.
"Ame pergi membawa koper, Bu?" Caleb terlonjak kaget dan segera berlari ke kamar. Memeriksa lemari pakaian istri dan anaknya. Benar saja. Pakaian istrinya yang tersisa hanya daster lusuh. Begitu juga lemari putrinya Celia. Semua pakaiannya tidak ada lagi.
Tiba-tiba Caleb merasakan lututnya lemas. Kedua kakinya tidak mampu menyangga bobot tubuhnya. Istrinya benar-benar minggat. Istrinya yang selama ini diam dan patuh menunjukkan sisi lain dari dirinya.
Ameera yang begitu sabar selama ini ternyata bisa nekad juga. Setelah lima tahun pernikahan mereka. Membawa putri semata wayang mereka yang belum genap berumur satu tahun. Tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kejadian di cafe.
Apakah istrinya memang sudah curiga selama ini kalau hatinya mendua? Sejak kapan, dan sejauh mana dia mengetahui hubungannya dengan Zita? Padahal dia selalu berhati-hati. Apa hanya karena kejadian di cafe itu dia langsung menafsirkan kalau dia selingkuh?
"Kamu sudah percaya kalau Ame sudah pergi dari rumah ini? Apa benar yang dia katakan akan ada pengganti dirinya di rumah ini. Itu sebabnya dia pergi dan tidak ingin menghalangi kebahagiaanmu." Caleb menoleh ke arah ibunya yang memasuki kamarnya.
"Kenapa kamu sebodoh itu, Cal. Siapa perempuan yang dimaksud, Ame? Apa benar kamu selingkuh?" ucap Bu Rina melucuti hati Caleb dengan pandangannya.
"Tidak, Bu. Ame hanya salah paham. Dia adalah klien kantor kami. Kami tengah makan siang dan Ame memergoki kami di cafe itu." sangkal Caleb.
"Ame tidak sebodoh itu, Caleb. Pasti karena sikapmu yang tidak wajar membuatnya curiga. Kamu itu terlalu buta." maki Bu Rina kesal.
"Tapi Bu, bagaimana Ame sampai tau aku berada di cafe itu. Apa dia mengikutiku selama ini?" ucap Caleb tampak bodoh, karena masih bingung dengan kehadiran istrinya yang tiba-tiba di cafe itu.
"Mana Ibu tau, kamunya saja yang tolol selingkuh di muka umum!" hardik Bu Rina gemas melihat sikap putranya, "tadi Ame minta izin keluar rumah mau bertemu temannya. Itu saja. Gak taunya saat dia pulang kayak orang kesurupan dan pergi. Itu wajah dan kemeja kamu kenapa?" selidik Bu Rina sinis.
"Ame menyiramkan kuah lauk ke wajahku." sahut Caleb datar.
"Hah! Sampai segitunya kemarahan Ame. Berarti tingkahmu sudah keterlaluan membuatnya nekat pergi dari rumah ini." Caleb meremas rambutnya mendengar ucapannya ibunya.
"Siapa yang akan merawat Ibu, Caleb, setelah Ame pergi. Apa selingkuhanmu itu mau merawat Ibu nanti?" keluh Bu Rina kesal.
"Ibu, kenapa nyalahin Caleb terus. Ibu juga turut andil dengan perginya Ame dari rumah ini." ungkap Caleb tak kalah kesal.
"Maksud kamu apa bicara seperti itu sama, Ibu. Kamu yang selingkuh kok nyalahin Ibu."
"Apa Ibu benar-benar tidak merasa bersalah. Gara-gara kemauan Ibu yang menguasai gaji Caleb sepenuhnya dan menjatah istri saya. Ibu yang kendalikan rumah tangga saya selama ini."
"Selama ini semua baik-baik saja. Ame tidak pernah protes. Malah kamu yang bertingkah, sok-sok an selingkuh." Bu Rina sewot karena disalahkan Andre.
"Itu masalahnya, Bu. Ibu selalu menjatah istri saya. Coba, Ibu jujur berapa yang Ibu kasih setiap hari untuk Ame. Aku bosan dan suntuk setiap kali melihat dia mengenakan daster lusuh ini setiap hari!" Caleb meraih tumpukan daster istrinya dari dalam lemari dan mencampakkannya ke lantai kamar.
Daster-daster lusuh itu berserakan di lantai. Daster yang tidak turut dibawa Ameera karena sudah ada yang bolong. Bu Rina seolah tersedot, saat melihat rak lemari menantunya yang lebih banyak kosong. Beda dengan lemarinya yang isinya penuh sesak berisi pakaiannya.
"Ibu paham maksud, Caleb 'kan." Caleb lantas pergi keluar kamar.
Bu Rina tercenung mendengar ucapan Caleb. Dengan jatah uang lima puluh ribu setiap hari, untuk belanja dapur buat makan mereka bertiga apa memang masih ada yang tersisa?
Awalnya Ameera memang protes karena jatah belanja dapur terlalu sedikit. Tapi dirinya kekeuh tidak mau menambah. Akhirnya Ameera diam dan tidak pernah protes lagi. Jatah itu dicukupkannya dan menyediakan makanan seadanya di atas meja.
Akibatnya Caleb jarang sarapan dan makan di rumah. Bahkan dirinya juga lebih sering memesan makanan dan diam-diam menikmatinya di dalam kamar. ***