Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.
Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.
Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.
Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.
Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HUJAN YANG TIDAK PERNAH BERHENTI
Hujan turun lagi malam itu.
Arka berdiri di balkon, menghisap rokok terakhirnya. Di bawah, lampu-lampu Jakarta memantul kabur di aspal basah—merah, kuning, putih, mengalir seperti cat air yang belum kering. Asap rokok naik perlahan, bercampur uap napasnya sendiri, lalu hilang ditelan gerimis yang dingin menusuk pori-pori wajahnya.
Di dapur, kalender masih menunjukkan tanggal yang sama seperti kemarin. 14 Maret.
Dia tidak perlu melihatnya untuk tahu. Tubuhnya sudah tahu sejak subuh—dada yang mengencang tanpa sebab, rahang yang mengeras setiap kali dia tidak sadar sedang mengepalkan gigi, dan kebiasaan ini: berdiri di balkon, membiarkan hujan membasahi separuh wajahnya, seolah air dari langit bisa menyamarkan air yang mencoba keluar dari matanya sendiri.
Dia melempar puntung rokok ke ember kecil yang sudah penuh abu—suaranya mendesis pelan, seperti napas terakhir—dan masuk.
Apartemennya kecil. Satu kamar, satu ruang tamu yang menyatu dengan dapur, satu kamar mandi yang pintunya selalu sedikit lengket karena cat yang tidak pernah benar-benar kering. Dinding-dindingnya penuh foto—gunung, pantai, jalanan kota di tengah malam, semuanya diambil dengan komposisi yang rapi, dingin, dan kosong. Tidak ada satu pun wajah manusia di antaranya.
Ponselnya berkedip di meja, menyalakan ruangan dengan cahaya biru sesaat.
"Arka, kamu di mana? Aku nungguin di kafe dari jam 7. Sekarang jam 9."
Dia menatap pesan itu. Hari jadi mereka. Ingatan itu datang—tapi terlambat, seperti biasa, seperti penumpang yang selalu sampai setelah kereta berangkat.
"Maaf, Nad. Aku lupa waktu. Aku di rumah. Besok kita ketemu?"
Balasan datang setelah cukup lama untuk membuatnya merasa setiap detik itu adalah jarak.
"Ini bukan soal lupa, Arka. Aku tau hari ini berat buatmu. Tapi kamu nggak pernah bener-bener ada, bahkan kalau kamu duduk di depanku."
Arka membaca kalimat itu dua kali. Lalu mengetik, "Maaf. Besok kita ngomong. Aku sayang kamu," dan meletakkan ponselnya menghadap ke bawah—seperti menyembunyikan wajah seseorang yang dia tidak sanggup tatap.
Dia berbaring tanpa mematikan lampu. Hujan mengetuk jendela dalam ritme yang tidak pernah berubah—tik, tik, tik—seperti jam yang berdetak terlalu pelan untuk dunia yang terus bergerak.
Pikirannya kembali. Seperti setiap tahun.
Ruang tamu rumah lama mereka. Karpet biru tua yang sudah berbulu di bagian tengah karena terlalu sering diinjak. Rak buku ibunya, penuh novel-novel terjemahan dengan sampul yang warnanya memudar. Bau kopi yang baru diseduh, bercampur dengan wangi sabun cuci yang menempel di baju ibunya.
Ibunya berdiri di depan pintu, kunci mobil berkilat sebentar di tangannya, wajah lelah tapi mencoba tersenyum—senyum yang Arka, di usia delapan tahun, terlalu sibuk marah untuk benar-benar melihat.
"Arka, Mama jemput Tante Rina dulu, baru kita ke rumah Bayu. Sabar ya, sayang."
"Tapi Mama bilang kita bisa pergi sekarang! Mama bohong!"
"Arka, sayang—"
"Aku benci Mama! Mama selalu bohong!"
Suara pintu kamarnya sendiri yang dibanting. Suara itu masih ada di telinganya, bahkan setelah enam belas tahun—lebih keras dari suara apa pun yang dia dengar setelahnya.
Yang tidak pernah dia dengar—yang baru dia tahu bertahun-tahun kemudian, dari ayahnya, dengan suara yang sudah dikalahkan separuh botol—adalah ibunya berdiri di depan pintu itu selama beberapa detik. Diam. Lalu berkata, pelan, ke kayu pintu yang tertutup, seolah kata-kata itu bisa menembus:
"Mama sayang kamu, Arka."
Arka tidak pernah mendengarnya. Dia hanya mewarisinya—seperti mewarisi gema dari ruangan yang sudah lama dia tinggalkan, ruangan yang pintunya tidak akan pernah dia buka lagi.
Air mata mulai turun, membasahi bantal yang sama, di malam yang sama, untuk keenam belas kalinya.
"Maaf, Ma," bisiknya. "Maaf kata-kata terakhir aku ke Mama itu... itu yang itu."
Tangisnya pecah—bukan isak pelan, tapi sesuatu yang lebih dalam, seperti pintu tua yang akhirnya didobrak setelah bertahun-tahun dikunci dari dalam.
"Aku pengen banget bisa balik waktu, Ma. Aku pengen Mama tau aku nggak bermaksud—"
Kalimatnya terputus di tengah, seperti kabel yang tiba-tiba dicabut.
Awalnya hanya getaran kecil. Seperti bass dari apartemen tetangga, terlalu pelan untuk didengar tapi cukup untuk dirasakan di tulang rahang.
Lalu getaran itu merambat—ke gigi, ke bola mata, ke ujung jari yang mencengkeram selimut.
Warna di kamarnya mulai memudar dari tepi, seperti foto lama yang dibakar dari pinggir ke tengah, meninggalkan jejak cokelat sebelum berubah jadi abu. Suara hujan berubah—dari ketukan menjadi dengung satu nada panjang, seperti radio yang kehilangan sinyal di tengah lagu, meninggalkan static yang menelan semuanya.
Arka mencoba bangun. Tubuhnya berat, ditarik oleh sesuatu dari bawah kasur—sesuatu yang tidak punya bentuk, tapi punya arah.
Cahaya putih mulai menelan kamar. Dinding. Lampu. Suara hujan. Sampai tidak ada apa pun selain putih—putih yang terlalu terang untuk disebut cahaya, lebih seperti ketiadaan yang bersinar.
Lalu gelap.
Hal pertama yang Arka sadari, sebelum membuka mata, adalah baunya.
Detergen manis, bercampur kayu lembap—bau yang sudah enam belas tahun tidak pernah dia cium lagi, tapi yang langsung dikenali tubuhnya, seperti rumah yang sebenarnya tidak pernah benar-benar dia tinggalkan, hanya dia kunci dan tutup matanya.
Dia membuka mata.
Dinding kuning pudar. Stiker kartun yang separuh terkelupas di pojok lemari—dia ingat mengelupasnya sendiri, sedikit demi sedikit, selama bertahun-tahun bosan. Rak buku kecil penuh buku bergambar. Meja belajar kayu dengan kursi yang terlalu besar, kursi yang dulu dia pakai untuk berdiri agar bisa menjangkau rak paling atas.
Kamarnya. Kamar lamanya. Rumah yang dijual ayahnya bertahun-tahun setelah—
Arka melihat tangannya sendiri.
Kecil. Jari-jari pendek. Kuku yang dipotong rapi—terlalu rapi untuk anak laki-laki, potongan yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang menyayanginya.
Dia berlari ke cermin di dekat lemari. Napasnya berhenti.
Wajah di cermin bukan wajahnya—bukan wajah pria 24 tahun dengan rahang tegas dan kantung mata yang berat karena terlalu sering tidur jam tiga pagi. Ini wajah anak laki-laki delapan tahun. Pipi masih bulat. Tapi matanya—matanya salah. Terlalu lelah untuk wajah seumur itu. Terlalu sadar, seperti orang dewasa yang dipenjara di tubuh yang terlalu kecil untuknya.
"Ini nggak mungkin," gumamnya—dan suaranya sendiri membuatnya mundur selangkah. Suara anak kecil, melafalkan kalimat yang dipikirkan oleh kepala orang dewasa.
Langkah kaki di luar kamar. Ringan. Familiar. Langkah yang dulu selalu dia kenali dari balik pintu, tanpa perlu melihat.
"Arka? Sayang, kamu udah bangun?"
Tubuhnya membeku total.
Suara itu. Suara yang selama ini hanya hidup di rekaman lama dan mimpi-mimpi yang dia benci karena selalu berakhir dengan dia terbangun sendirian.
Pintu terbuka.
Dan di sana—dengan senyum yang Arka ingat sampai ke detail terkecil: lekukan tipis di sudut bibir kiri, cara kepalanya sedikit miring saat tersenyum—berdiri ibunya.
Hidup. Bernapas. Nyata. Cukup nyata untuk Arka mencium aroma sabun di kulitnya dari jarak tiga meter.
"Pagi, sayang. Kok udah bangun? Biasanya susah dibangunin," kata ibunya, melangkah masuk, tangannya terangkat untuk mengusap rambut Arka—gestur yang sudah dia lakukan ribuan kali, gestur yang selama enam belas tahun hanya ada dalam ingatan, dan sekarang, tiba-tiba, ada lagi.
Arka tidak bisa bicara. Tenggorokannya seperti dicekik oleh tangan yang tidak terlihat.
"Eh? Kamu kenapa?" Senyum ibunya berubah jadi khawatir. Dia berlutut, memegang kedua bahu Arka—bahu kecil, bahu anak-anak, tapi dipegang dengan kekhawatiran yang sama seperti yang akan dia berikan pada siapa pun yang dia sayangi. "Kamu nangis? Mimpi buruk?"
Arka menatap wajah itu—wajah yang masih muda, belum punya garis-garis kelelahan yang seharusnya muncul di tahun-tahun berikutnya, tahun-tahun yang tidak akan pernah dia jalani—dan sesuatu di dalam dadanya runtuh, seperti bangunan tua yang akhirnya kalah dari gravitasi.
Dia memeluk ibunya. Erat. Seperti memeluk sesuatu yang bisa menghilang kapan saja jika dia melonggarkan pelukannya bahkan sedikit.
"Aku sayang Mama," bisiknya, suaranya pecah di tengah kalimat. "Aku sayang banget. Maaf kalau aku pernah—maaf kalau aku pernah ngomong yang jahat."
Ibunya membalas pelukan itu, mengusap punggung Arka pelan, meski jelas bingung dengan reaksi anaknya yang tidak biasa ini.
"Mama juga sayang kamu, sayang. Sayang banget." Dia tertawa kecil—tawa yang ringan, tidak menyadari apa pun. "Kamu nggak pernah jahat, kok. Ada apa sih, hm?"
Arka melepaskan pelukan sedikit. Matanya jatuh ke kalender kecil bergambar kucing di dinding—kalender yang dia ingat pernah dia coret-coret dengan krayon hijau waktu masih balita, coretan yang masih ada di sudut kanan bawah.
Tanggal yang dilingkari merah: 13 Maret.
Besok, 14 Maret.
Besok adalah hari ibunya akan pergi—dan untuk pertama kalinya dalam enam belas tahun, Arka punya satu hari penuh untuk mengubahnya.