Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.
Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.
Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.
Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.
Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.
Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Jam istirahat kembali datang. Sherin dan Alma sudah duduk di kafetaria, menempati meja dekat jendela besar yang menghadap ke taman belakang sekolah. Di meja mereka tersaji dua piring steak daging Mahal yang masih mengepul dan dua kaleng soda dingin. Perpaduan yang aneh memang, hidangan berat dengan minuman bersoda. Tapi keduanya menyukainya. Mereka sudah terbiasa dengan kebiasaan kecil mereka yang tidak biasa.
Di samping Alma, tergeletak sebuah kotak transparan berisi cookies buatan sendiri, masing-masing dibungkus dengan plastik kecil bermotif bunga dan pita warna pastel. Penampilannya menggemaskan, seperti camilan dari toko kue terkenal, bukan buatan rumahan.
"Kau membuat cookies lagi?" tanya Sherin tanpa basa-basi, nada suaranya terdengar lebih seperti pengamatan daripada kekaguman.
Alma mengangguk pelan sambil memotong potongan daging di piringnya. "Iya, tadi pagi sebelum berangkat."
Sherin menaikkan satu alis. "Kau benar-benar rajin, ya." Ucapannya bukan pujian, lebih seperti sindiran halus. "Untuk apa repot-repot? Sekarang banyak toko menjual cookies yang jauh lebih praktis."
Alma hanya tersenyum kecil. "Entah. Membuatnya sendiri terasa lebih menyenangkan."
Lalu ia mengambil kotak cookies itu, membukanya perlahan di depan Sherin. "Mau?" tawarnya sambil tersenyum kecil.
Sherin mendengus, tapi akhirnya tersenyum juga. "Tentu," katanya, walau sebelumnya mencibir. Ia bukan tipe orang yang menolak makanan enak, dan ia tahu pasti cookies buatan Alma memang luar biasa. Rasa manisnya seimbang, teksturnya renyah di luar dan lembut di dalam. Mustahil menolaknya.
Percakapan di antara mereka perlahan berubah menjadi ringan, penuh tawa kecil dan komentar soal guru fisika yang terlalu perfeksionis, atau tentang rumor-rumor siswa yang Sherin kumpulkan. Namun momen itu mendadak terhenti ketika dua siswi muncul di sisi meja mereka. Suasana berubah seketika.
Salah satunya. Luci, berdiri dengan tangan terlipat dan dagu terangkat. Di belakangnya, seorang gadis berambut Almond pucat dengan ekspresi lebih tajam. Violet.
"Kau yang bernama Alma?" tanya Luci. Nada suaranya tidak ramah, seperti seseorang yang sudah menyimpulkan sebelum bertanya.
Alma menoleh dengan tenang. Ia tidak menjawab, hanya menatap mereka sejenak. Diamnya justru membuat suasana lebih tegang.
Violet melirik Luci lalu berkata, "Iya, itu dia. Sama seperti di foto."
Sherin ikut menoleh, memasang ekspresi sinis. "Dan kalian siapa?"
Luci tidak menjawab pertanyaan Sherin. Sebaliknya, dia menyipitkan mata dan berkata dengan nada setengah mengejek, "Kami hanya ingin tahu."
Alma akhirnya bicara, suaranya anggun dan sopan. "Maaf, ada yang bisa aku bantu?"
Violet menyilangkan tangan. "Tidak. Kami hanya ingin melihat wajahmu secara langsung."
"Dan ternyata…" Luci menatap Alma dari ujung rambut hingga ujung sepatu, "…biasa saja."
Tentu saja itu bohong. Alma ini jauh dari sekadar kata 'biasa.' Wajah cantiknya memancarkan kelembutan yang sulit diabaikan. Ekspresi halus yang menghiasi wajahnya membuat siapa pun yang menatapnya merasa terpesona, seolah ada sesuatu yang anggun namun misterius darinya.
Gerak-geriknya tenang, penuh kehati-hatian, seolah setiap langkahnya telah diperhitungkan. Cara dia berbicara. Tenang, lembut, dan penuh wibawa. Tidak mencerminkan anak dari keluarga kaya biasa. Ada kelas dalam dirinya, sesuatu yang tak bisa dibuat-buat.
Sherin menyandarkan punggung ke kursi, menyeringai. "Kalau sudah puas, kalian bisa pergi sekarang. Kecuali ingin minta tanda tangan."
Violet menahan dengusannya. "Kami hanya menjalankan perintah."
Alma mengernyit, masih mempertahankan ketenangannya. "Perintah dari siapa?"
Luci diam sejenak, lalu berkata pelan, "Tidak penting. Kami hanya diminta memastikan sesuatu."
"Mengenai aku?" Alma menaikkan alis.
Violet menjawab dingin, "Ya. Dan kami sudah cukup melihat."
Setelah itu, tanpa memberi penjelasan lebih lanjut, keduanya berbalik dan pergi begitu saja. Begitu cepat seperti mereka datang.
Sherin menatap kepergian mereka lalu bergumam, "Itu… aneh."
Alma tidak langsung menanggapi. Ia hanya memandangi potongan steak di piringnya, lalu berkata pelan, "Mereka menyebut 'perintah'… tapi tidak menyebut dari siapa."
"Kau mengenal mereka?" tanya Sherin.
Alma menggeleng. "Tidak. Sama sekali tidak."
Sherin berpikir sejenak. "Mungkin seseorang sedang memperhatikanmu atau..... Mengincarmu?"
Alma menoleh ke jendela, menatap langit cerah yang tampak terlalu tenang. "Mungkin."
🥀🥀🥀
"Bagaimana?"
Suara Grace memecah keheningan ruangan OSIS yang sunyi. Ia baru saja berbalik dari jendela tempatnya berdiri sambil menatap taman sekolah yang teduh. Langkah kaki yang baru saja masuk membuatnya menoleh, ekspresi wajahnya tampak waspada namun berusaha tetap tenang.
Violet yang baru masuk melepas tas kecil dari bahunya dan meletakkannya di meja. Ia bersandar santai ke dinding, menyilangkan tangan di depan dada, lalu menjawab tanpa basa-basi, "Kalau kau mau jawaban jujur... dia sangat cantik. Jauh lebih cantik daripada yang terlihat di foto."
Nada suaranya terdengar datar, tapi kata-katanya menusuk. Diam-diam, sorot matanya memerhatikan perubahan ekspresi Grace.
"Violet..." Luci buru-buru menyela. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana rahang Grace mengeras, matanya yang semula tenang kini mulai menggelap. "Apa kau tidak bisa sedikit lebih peka?" bisik Luci setengah berdesis, lalu menoleh ke Grace dengan senyum tipis. "Tapi kurasa, dia hanya siswa Arcturus biasa. Bukan siapa-siapa. Bukankah dia cuma putri dari pengusaha tekstil?"
Grace mendengus tajam, bibirnya tertarik membentuk senyum sinis. "Ya, dan anak pengusaha tekstil itu entah bagaimana berhasil menarik perhatian Calvin dan Leon. Seolah dia satu-satunya gadis yang bisa membuat dua pangeran sekolah ini mendongak."
Nada suaranya mengandung racun. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Tatapan matanya tak bisa menyembunyikan kemarahan dan rasa terancam yang membakar diam-diam.
"Memang aneh," Violet menimpali, sama sekali tak sadar bahwa komentarnya bisa memperkeruh suasana. "Apalagi Leon. Dia hampir tidak pernah tertarik pada siapa pun, apalagi pada seorang gadis. Bahkan kau, yang sudah mengenalnya sejak kecil dan keluarga kalian dekat sekalipun... dia tak pernah benar-benar melihatmu."
Luci langsung menepuk dahinya, nyaris frustrasi. "Violet! Bisa kau berhenti bicara seperti itu?" bisiknya panik. Tapi sudah terlambat.
Wajah Grace kini berubah drastis. Api kemarahan terpancar jelas di matanya. Bahunya menegang, napasnya terdengar lebih berat dari sebelumnya.
"Bagus," gumam Grace, lebih pada dirinya sendiri. “Kalau begitu, kita harus mencabut parasit itu sebelum akarnya tumbuh terlalu dalam... dan menghancurkan seluruh taman.”
Luci menatapnya, wajahnya berubah serius. "Maksudmu... kau ingin menyingkirkan gadis itu dari sekolah ini?"
Grace mengangguk lambat, penuh perhitungan. "Dengan cara yang sama seperti mereka yang tidak tahu tempat dan lupa siapa diri mereka di sekolah ini."
Senyum tipis terbentuk di wajah Violet. Kali ini dia mengerti arah pembicaraan. "Ah... hukuman sosial untuk kaum rendah," gumamnya pelan. "Jarang memang siswa Arcturus diberi perlakuan khusus seperti ini... tapi bukannya tidak bisa"
Luci masih tampak ragu, tapi ia tak bisa menyangkal bahwa sistem di sekolah ini memang tidak ramah bagi mereka yang tak memiliki nama besar. Sekali seseorang dianggap menyalahi aturan tak tertulis, maka seluruh kekuatan sosial akan bergerak untuk menyingkirkannya secara halus atau kasar.
Ketiganya saling pandang. Sekejap kemudian, senyum sinis merekah di wajah mereka, seperti sudah menemukan permainan baru yang siap mereka mainkan. Dan target mereka... hanyalah satu gadis yang salah melangkah ingin ke tempat yang lebih tinggi.
🥀🥀🥀
Langkah Alma dan Sherin memasuki kelas terasa janggal. Suasana yang biasanya penuh suara kursi diseret, obrolan kosong, dan keluhan soal tugas, kini sunyi. Terlalu sunyi. Suasana itu bukan ketenangan, melainkan ketegangan yang samar, nyaris seperti sebelum badai datang.
Mata-mata yang tadinya acuh kini memandang mereka. Tapi lebih tepatnya, memaku pada Alma.
Sherin melambat. Wajahnya menyiratkan kebingungan yang tak bisa ditutupi. Ia bersandar pelan ke arah Alma dan berbisik,
"Mereka kenapa? Apa ada sisa makanan di wajahku?"
Ia buru-buru mengusap kedua pipinya, khawatir ada saus atau remah yang tertinggal setelah makan siang. Tapi tidak. Ini bukan tentang wajah Sherin. Belum juga ia sadar bahwa keheningan ini lebih dari sekadar kecanggungan biasa.
Alma menggeleng pelan. Tatapannya menyapu ruangan. "Aku juga tidak tahu," gumamnya nyaris tak terdengar. Ketika mereka meninggalkan kelas tadi, semuanya terasa normal, seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada yang tampak berubah. Tidak ada isyarat apa pun.
Namun jawaban atas keanehan itu menunggu mereka... tepat di meja.
Langkah Alma terhenti. Matanya membelalak sejenak, dan Sherin yang mengikuti di belakang, langsung menutup mulutnya sambil terengah syok.
“Astaga…”
Meja Alma. Kini tak lagi bisa disebut meja. Permukaannya dipenuhi coretan penuh amarah. Kata-kata kotor, hinaan, tuduhan tak senonoh, dan... lambang itu. Di tengah-tengah permukaan meja, tergambar jelas simbol kepala tengkorak dengan mahkota berdarah di atasnya.
Sherin memucat. Napasnya tercekat. Dia tahu artinya.
Itu bukan sekadar gambar. Itu adalah tanda.
Sebuah cap tak kasat mata yang artinya, Alma telah menjadi target Polaris.
Tubuh Alma menegang. Pandangannya menatap lambang itu seolah waktu berhenti. Sesuatu dalam dirinya retak. Kilasan masa lalu melintas dengan tajam. Ingatan dari kehidupan pertamanya, masa-masa kelam yang nyaris menghapus akal sehatnya. Dia pernah melihat lambang itu sebelumnya, dulu. Dan saat itu... hidupnya di sekolah berubah menjadi mimpi buruk yang tak berkesudahan.
Dulu, ia tidak berani melawan. Tapi sekarang?
Pucat di wajahnya bertahan hanya beberapa detik, sebelum ditelan oleh ekspresi datar yang dingin. Tak ada air mata. Tak ada ketakutan. Hanya keheningan dan tatapan kosong yang menyimpan bara.
Alma menarik kursinya perlahan dan duduk, meski meja itu seolah mengusirnya dengan hinaan yang tertulis di atasnya. Sherin duduk di samping, geram tapi lebih gelisah daripada marah.
Bisikan-bisikan mulai terdengar dari berbagai penjuru kelas.
"Aku dengar dia menyinggung anak Polaris."
"Pasti dia cari masalah."
"Jangan terlalu dekat dengannya. Bisa-bisa kita ikut terseret.'
"Setidaknya kita punya hiburan baru."
"Ya. Kapan lagi ada drama di kelas ini?"
Tak satu pun dari mereka menunjukkan empati. Tidak ada rasa kasihan. Yang ada hanya rasa penasaran dan kegembiraan yang disamarkan sebagai keprihatinan. Bagi mereka, penderitaan Alma adalah episode menarik dari pertunjukan tanpa akhir.
Sherin menoleh. Tatapannya tajam, menusuk ke arah sekelompok siswa yang tengah membisikkan komentar seperti tak berotak. Tapi tak satu pun dari mereka merasa bersalah. Mereka hanya membalas dengan senyum mengejek atau pura-pura tidak melihat.
Sherin lalu memandang Alma dengan sorot khawatir. "Apa ini ada hubungannya dengan dua siswi tadi?"
Wajah Alma masih menunduk. Tangannya mengusap permukaan meja yang sudah ternoda. Setiap huruf, setiap coretan... menyakitkan, tapi familiar.
"Aku tidak tahu," jawabnya pelan, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri. Suaranya berat, campuran getir dan pengendalian diri yang luar biasa.
Masih sama. Ulangannya terlalu akurat. Luka itu datang lagi, hanya di waktu yang berbeda. Dan yang paling mengganggu, Jasmine bahkan belum muncul. Tapi semuanya telah dimulai. Polanya kembali, entah dari siapa.
Pandangan mata Alma menggelap. Tatapannya berubah tajam, seperti sedang menahan sesuatu yang selama ini terkubur. Senyum lembut muncul di wajahnya, memancarkan rasa bahaya.
"Haruskah aku bermain dalam permainan mereka kali ini?"
atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?