Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.
Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.
SALAM DARI AUTHOR 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 1 : MALAM JAHANAM DI RUMAH WIJAYA
Malam telah larut membungkus kota Jakarta. Jarum jam dinding di lorong lantai dua rumah megah milik keluarga Wijaya sudah bertengger tepat di angka sebelas malam. Suasana begitu sunyi, seolah-olah seluruh penghuni rumah sudah terlelap ke dalam mimpi mereka masing-masing. Lampu-lampu koridor utama telah diredupkan, menyisakan keremangan yang dingin dan mencekam.
Di dalam kamarnya, Kalea Azzahra Putri Wijaya sudah tertidur pulas. Gadis berusia 24 tahun yang sehari-hari bekerja keras sebagai General Manager di Hotel Grand Luminance itu benar-benar kelelahan. Tekanan pekerjaan di hotel bintang lima tempatnya memimpin ratusan staf membuatnya langsung jatuh terlelap begitu menyentuh kasur. Malam itu, Kalea tidur tanpa mengenakan jilbab hitam yang biasa membungkus kepalanya di luar rumah. Ia mengenakan baju tidur satin tipis berwarna putih tulang tanpa lengan. Rambut hitamnya yang panjang, tebal, dan bergelombang terurai bebas di atas bantal, membingkai wajahnya yang cantik alami. Kulit leher dan lengannya yang putih bersih tampak kontras di bawah siraman cahaya bulan yang menerobos masuk dari sela-sela gorden jendela.
Tepat ketika jam dinding berdentang halus menunjukkan pukul dua belas malam, sebuah pintu kamar di sebelah kamar Kalea terbuka dengan sangat perlahan.
Seorang pria bertubuh jangkung keluar dari sana. Pria itu adalah Fandi Achmad Mahendra, suami dari kakak tertua Kalea. Fandi, yang berusia 31 tahun dan bekerja sebagai seorang Manajer Keuangan di sebuah perusahaan pialang saham, mengendap-endap di kegelapan koridor. Langkah kakinya sangat pelan, nyaris tak terdengar. Matanya bergerak liar, memastikan situasi rumah benar-benar aman.
Fandi sudah lama mengincar Kalea. Di matanya, adik iparnya yang bermata biru itu memiliki daya tarik yang jauh lebih memikat dibandingkan istrinya sendiri. Sifat Kalea yang tegas dan sulit didekati justru membuat hasrat bejat Fandi semakin menggebu-gebu.
Fandi berhenti di depan pintu kamar Kalea. Tangan kanannya merogoh saku celana, mengeluarkan sebuah kunci duplikat yang sudah lama ia siapkan secara diam-diam. Klik. Suara kunci berputar terdengar sangat tipis. Fandi mendorong pintu itu, lalu menyelinap masuk ke dalam kamar Kalea, tidak lupa menguncinya kembali dari dalam.
Langkah kaki Fandi mendekati ranjang berukuran king size tempat Kalea terbaru. Begitu sampai di sisi tempat tidur, napas Fandi seketika memburu. Di bawah temaram lampu tidur, ia disuguhi pemandangan yang membuat darahnya berdesir hebat. Ia menatap leher putih Kalea yang jenjang, lekuk tubuh adik iparnya yang tercetak di balik baju tidur satin, serta hamparan rambut panjangnya yang indah. Fandi menelan ludahnya dengan kasar. Tatapannya berubah menjadi sangat mesum dan penuh nafsu, seakan-akan ia siap menerkam singa betina yang sedang tertidur itu sekarang juga.
Tanpa membuang waktu lagi, Fandi merangkak naik ke atas ranjang. Dengan perlahan namun pasti, ia memosisikan tubuhnya di atas tubuh Kalea, menindih wanita itu yang masih terlelap. Fandi mendekatkan wajahnya ke leher Kalea, menghirup aroma tubuh Kalea yang wangi, lalu berbisik dengan suara serak di telinga Kalea, "Kalea... Kamu cantik sekali malam ini..."
Namun, di balik kegelapan di luar kamar, sebuah sepasang mata tengah mengawasi pergerakan Fandi sejak awal.
Gadis itu adalah Shinta Kirana Wijaya, adik bungsu Kalea yang berusia 23 tahun. Shinta bekerja sebagai seorang Content Creator dan Influencer kecantikan yang sangat terobsesi dengan citra kemewahan. Shinta berdiri di balik celah pintu kamar Kalea yang ternyata sengaja ia biarkan sedikit merenggang sebelum Fandi masuk.
Melihat kakak iparnya sedang menindih Kalea yang tertidur sangat pulas, sebuah senyuman sinis dan licik mengembang di bibir Shinta. Ini adalah kesempatan emas yang sudah ia tunggu-tunggu sejak lama. Shinta selalu membenci Kalea. Ia benci karena Kalea memiliki mata biru yang indah, ia benci karena Kalea bisa sukses menjadi General Manager hotel di usia muda, ia benci Kalea lebih cantik daripada dirinya dan ia benci karena Kalea selalu bersikap tegar seolah tidak punya kelemahan.
Shinta segera berbalik. Dengan langkah cepat namun senyap, ia menuju ke kamar kakaknya, Fitri Amelia Wijaya, yang berusia 29 tahun dan bekerja sebagai Dokter Spesialis Jantung yang angkuh. Tidak hanya membangunkan Fitri, Shinta juga berlari ke lantai bawah untuk membangunkan kedua orang tua mereka, Hermawan Wijaya dan Sarah Wijaya.
"Mbak Fitri! Ma! Pa! Bangun! Cepat ikut Shinta sekarang ke kamar Kalea!" bisik Shinta setengah berteriak dengan nada panik yang dibuat-buat saat mereka semua sudah berkumpul di koridor.
"Ada apa sih, Shinta? Malam-malam begini bikin ribut!" gerutu Sarah, sang ibu, sambil mengucek matanya.
"Ini darurat, Ma! Ini soal Mas Fandi dan Kalea! Cepat!" seru Shinta memprovokasi.
Mendengar nama suaminya disebut bersamaan dengan nama Kalea, raut wajah Fitri langsung berubah tegang. Mereka berempat bergegas menuju kamar Kalea.
Di dalam kamar, Fandi baru saja memiringkan wajahnya, berniat untuk mencium bibir Kalea yang masih setengah sadar karena merasa tubuhnya mendadak terasa sangat berat.
BRAAAKKK!
Pintu kamar didobrak dengan sangat keras oleh Hermawan Wijaya. Pintu itu terbuka lebar, menampakkan sosok Hermawan yang murka, Sarah yang terkejut, Fitri yang langsung pucat pasi, dan Shinta yang berdiri di paling belakang dengan tatapan penuh kemenangan.
Pemandangan di atas ranjang itu seketika meledakkan amarah di dalam kamar. Fandi langsung terlonjak kaget dan menjauh dari tubuh Kalea, sementara Kalea yang baru saja terbangun karena suara gebrakan pintu langsung terdengar linglung.
"MAS FANDI!!! APA YANG KAMU LAKUKAN?!" teriak Fitri histeris. Suaranya melengking memecah keheningan malam.
Fitri berlari kesetanan ke arah ranjang. Tanpa ampun, ia langsung menjambak rambut suaminya sendiri, menariknya hingga Fandi jatuh tersungkur ke lantai.
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Fandi. "Kamu keterlaluan, Mas Fandi! Kamu tega mengkhianati aku dengan perempuan murahan ini?!" jerit Fitri sambil menangis histeris.
Kalea yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya, duduk di atas kasur sambil memegangi kepalanya yang pening. Matanya yang biru berkedip beberapa kali, menatap kekacauan di depannya dengan bingung. "Ada apa ini? Mbak Fitri, kenapa teriak-teriak di kamarku?" tanya Kalea dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Mendengar pertanyaan Kalea, Sarah Anita Wijaya langsung melangkah maju dengan wajah memerah menahan amarah yang meluap-luap. Sebelum Kalea sempat membela diri atau turun dari ranjang, Sarah sudah mencengkeram jilbab yang ada di atas nakas lalu melemparnya, kemudian tangannya beralih menjambak rambut panjang Kalea dengan sangat kasar.
PLAK!
Tamparan yang jauh lebih keras dari yang diterima Fandi bersarang di pipi mulus Kalea.
"Dasar anak haram tidak tahu diri!" makian Sarah menggelegar. "Kamu menggoda kakak iparmu sendiri di dalam rumah ini?! Hah?! Memang benar-benar darah kotor yang mengalir di tubuhmu itu tidak pernah bisa bohong! Kamu wanita murahan, Kalea!"
"Aw! Sakit, Ma! Apa-apaan ini?!" Kalea meringis kesakitan. Ia mencoba melepaskan cengkeraman tangan ibunya dari rambutnya, namun Sarah justru semakin beringas. Dengan penuh kebencian, Sarah mendorong kepala Kalea dengan sangat kuat ke arah samping.
DUG!
Kepala Kalea membentur dinding beton di samping ranjangnya dengan keras. Kalea memekik kesakitan, matanya terpejam erat saat rasa pening yang luar biasa menghantam kesadarannya. Detik berikutnya, cairan merah kental yang hangat mulai mengalir dari dahinya, menetes melewati pelipis dan membasahi pipinya. Dahinya robek dan mengeluarkan darah.
Kalea memegangi dahinya yang terluka, menatap telapak tangannya yang kini berlumuran darah. Ia masih berusaha mencerna situasi gila ini. Mengapa semua orang menuduhnya? Mengapa ia yang diserang?
Fitri yang masih menangis sesenggukan kini mengalihkan pandangan penuh kebenciannya kepada Kalea. "Kalea! Kurang ajar kamu ya! Aku ini kakakmu! Kenapa kamu tega merayu suamiku?! Kamu sengaja mau merusak rumah tanggaku karena kamu iri denganku?!" teriak Fitri dengan suara parau, menunjuk-nunjuk wajah Kalea.
Kalea, meskipun kepalanya pening dan berdarah, sifat tegas dan tangguhnya tidak lantas hilang begitu saja. Ia menatap kakaknya dengan pandangan menantang, matanya yang biru berkilat tajam di balik tetesan darah.
"Jaga bicaramu, Mbak Fitri!" balas Kalea dengan nada tinggi dan lantang, sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. "Jangan menuduhku sembarangan! Aku baru saja tidur dan kalian tiba-tiba masuk ke kamarku lalu memukuliku! Aku tidak pernah menggoda suamimu! Untuk apa aku menggoda laki-laki tidak berguna seperti dia?!"
Mendengar ucapan Kalea, Fandi yang ketakutan melihat amarah Hermawan langsung mengambil kesempatan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Ia berpura-pura lemas di lantai, memegangi pipinya yang merah akibat tamparan Fitri, lalu menatap Hermawan dan Sarah dengan wajah memelas.
"Papa, Mama, demi Allah... Fandi tidak bersalah," bohong Fandi dengan suara bergetar, berpura-pura menjadi korban. "Fandi tadi cuma mau mengambil minum di bawah, tapi tiba-tiba Kalea memanggil Fandi dari dalam kamarnya. Dia bilang pintunya rusak. Begitu Fandi masuk, dia langsung menarik Fandi ke atas kasur dan menggoda Fandi. Fandi sudah menolak, Pa, tapi Kalea terus memaksa..."
"KAU BOHONG, BAJINGAN!" teriak Kalea murka. Ia hendak melompat dari ranjang untuk mencakar wajah Fandi, namun Shinta langsung maju menyela dengan suara yang sengaja dikeraskan untuk memprovokasi suasana.
"Tuh, kan! Apa Shinta bilang, Pa, Ma! Kalea itu memang kegatelan!" sahut Shinta dengan senyum sinis yang tersembunyi di balik wajah pura-pura prihatinnya. "Dari dulu dia kan memang suka cari perhatian. Mentang-mentang punya jabatan di hotel, dia pikir dia bisa merebut suami Mbak Fitri? Dasar tidak tahu malu! Ingat ya Kalea, kamu itu cuma anak haram di rumah ini! Statusmu itu sampah, jangan berlagak suci!"
"Diam kamu, Shinta! Kamu tidak tahu apa-apa jadi jangan asal bicara!" bentak Kalea, matanya menatap Shinta dengan kilatan amarah yang membara.
"Cukup!!!" suara bariton Hermawan Wijaya menggelegar, membungkam seluruh ruangan.
Hermawan melangkah maju dengan napas memburu. Wajah pria paruh baya itu dipenuhi guratan amarah yang mendalam. Tanpa memberikan kesempatan bagi Kalea untuk menjelaskan, Hermawan melayangkan tangannya.
PLAK!
Tamparan kedua mendarat di pipi Kalea yang lain, membuat luka di dahinya kembali berdenyut menyakitkan.
"Kau benar-benar anak sialan, Kalea!" desis Hermawan dengan suara dingin yang penuh kebencian. "Kehadiranmu di keluarga ini hanya membawa aib! Sejak lahir sampai sekarang, kau tidak pernah berhenti membuatku malu!" Hermawan kemudian menoleh ke arah anak bungsunya. "Shinta! Pergi ke kamar Papa, ambil ikat pinggang kulit Papa di dalam lemari! Cepat!"
Shinta tersenyum puas. "Baik, Pa. Shinta ambilkan sekarang," jawabnya dengan nada riang yang sengaja disembunyikan, lalu segera berlari keluar kamar.
Kalea menatap ayahnya—pria yang seharusnya melindunginya, namun justru menjadi orang pertama yang selalu menyiksanya. Air mata Kalea menggenang, bukan karena ia lemah, melainkan karena rasa perih yang teramat sangat atas ketidakadilan yang ia terima. Sejak kecil, ia sudah kenyang dengan pukulan, cacian, dan makian dari keluarga ini. Status "anak haram" yang selalu mereka sematkan padanya telah menjadi cambuk yang menyakitkan sepanjang hidupnya.
"Kenapa Papa tidak pernah mau mendengarkan penjelasanku?!" teriak Kalea dengan suara serak, menahan rasa sakit di kepalanya. "Setiap ada masalah di rumah ini, selalu aku yang disalahkan! Selalu aku yang dianggap kotor! Aku tidak melakukan apa yang dituduhkan si brengsek Fandi itu, Pa! Dia yang masuk ke kamarku memakai kunci cadangan! Kenapa Papa lebih percaya pada menantu asing ini daripada anak Papa sendiri?!"
"Anak?" Sarah menyela dengan tawa mengejek yang hambar. "Kamu bukan anak kami, Kalea! Kamu itu cuma anak haram yang terpaksa kami tampung agar keluarga ini tidak menanggung malu di luar sana! Jangan pernah sebut dirimu anak di rumah ini!"
Shinta kembali ke dalam kamar sambil membawa ikat pinggang kulit hitam milik Hermawan yang tebal. Ia menyerahkannya kepada sang ayah dengan pandangan mata yang mengejek ke arah Kalea.
"Ini, Pa," ujar Shinta memprovokasi lagi. "Pukul saja dia, Pa. Biar dia kapok dan tidak merusak rumah tangga Mbak Fitri lagi."
Hermawan menerima ikat pinggang itu, melipatnya menjadi dua, lalu mengayunkannya dengan kuat ke arah Kalea.
TAAAKKK!
Sabetan ikat pinggang kulit itu mengenai lengan Kalea yang terbuka. Rasa panas dan perih seketika menjalar di kulitnya, meninggalkan bekas kemerahan yang tebal. Kalea memekik, namun ia segera menggigit bibir bawahnya erat-erat. Ia menolak untuk menangis meraung-raung di depan mereka. Ia tidak akan membiarkan orang-orang kejam ini melihatnya hancur.
"Pukul saja terus, Pa! Pukul!" teriak Kalea dengan berani, matanya yang biru menatap lurus ke dalam netra ayahnya yang penuh amarah. "Siksa aku sesuka hati kalian! Tapi sampai kapan pun, kebenaran tidak akan berubah! Suami Mbak Fitri yang brengsek, dan kalian semua adalah orang-orang buta yang memelihara ular di dalam rumah ini!"
"Kau masih berani menjawab?!" Hermawan kembali mengangkat ikat pinggangnya, siap melayangkan sabetan berikutnya.
Keributan yang luar biasa besar dan suara teriakan histeris itu akhirnya membuat para pembantu yang tinggal di paviliun belakang rumah terbangun. Beberapa asisten rumah tangga dan penjaga malam mengintip dari balik pintu koridor yang terbuka dengan wajah penuh ketakutan. Mereka melihat bagaimana Kalea yang berdarah-darah di atas kasur sedang dihujani kemarahan oleh seluruh anggota keluarga Wijaya. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang berani melangkah maju untuk melerai. Mereka tahu betul bagaimana kejamnya perlakuan keluarga itu kepada Kalea selama bertahun-tahun.
Fitri menarik tangan Fandi dengan kasar untuk berdiri. "Awas kamu ya, Fandi! Urusan kita belum selesai di kamar!" bentak Fitri, lalu menyeret suaminya keluar dari kamar Kalea tanpa memedulikan adiknya yang terluka.
Hermawan menurunkan ikat pinggangnya setelah napasnya mulai terengah-engah. Ia menatap Kalea dengan pandangan jijik seolah-olah sedang melihat tumpukan sampah. "Mulai besok, bersihkan kekacauan yang kamu buat! Kalau sampai masalah ini terdengar oleh kolega bisnis Papa, Papa tidak akan segan-segan mengusirmu dari rumah ini, anak haram!" ancam Hermawan dengan suara rendah yang penuh penekanan.
Sarah memberikan tatapan sinis terakhirnya, lalu berbalik pergi mengikuti suaminya. Shinta, yang berdiri paling akhir di ambang pintu, menatap Kalea yang terduduk lemas di atas kasur dengan senyuman kemenangan yang sangat lebar.
"Selamat menikmati malammu, Kakak haram," bisik Shinta tanpa suara, lalu menutup pintu kamar Kalea dengan keras.
BAM!
Suasana kamar seketika kembali sunyi, menyisakan kegelapan dan aroma darah yang menusuk hidung.
Kalea perlahan menurunkan tangannya dari dahinya. Tubuhnya bergetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena menahan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga, membasahi pipinya yang kemerahan akibat tamparan. Ia menangis dalam diam, meratapi nasibnya yang selalu terbelenggu oleh takdir yang kejam. Di dalam kamar yang dingin itu, Kalea bersumpah dalam hati bahwa ia akan membalas semua rasa sakit ini suatu hari nanti.