NovelToon NovelToon
Dijodohkan Dengan Pewaris Berbahaya

Dijodohkan Dengan Pewaris Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / CEO
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Pernikahan Yang Rumit, Cinta yang Rumit dan Hati yang juga ikut Rumit!!!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Penthouse pribadi milik Alvaro Regantara Maheswara menempati dua lantai teratas dari menara apartemen paling eksklusif di jantung ibu kota. Begitu pintu lift privat terbuka, Alyssa disambut oleh desain interior bernuansa minimalis-maskulin yang didominasi oleh warna abu-abu gelap, marmer hitam Italia, dan kaca-kaca besar yang menjulang dari lantai hingga ke langit-langit.

Tempat itu sangat luas, mewah, namun terasa mati. Tidak ada satu pun dekorasi yang memancarkan kehangatan sebuah rumah, tempat ini tak lebih dari sekadar perpanjangan dari kubus es kantor Alvaro.

Rendra mengantar Alyssa hingga ke ruang tengah sebelum akhirnya pamit undur diri dengan sikap formal yang kaku. Alyssa meletakkan tas selempangnya di atas sofa kulit hitam, lalu berjalan mendekati jendela besar untuk menatap lanskap kota di bawahnya. Namun, ketenangannya yang baru seumur jagung langsung terkoyak saat mendengar suara langkah kaki yang berat dan konstan dari arah koridor pribadi.

Alvaro melangkah masuk. Pria berumur 28 tahun itu sudah melepaskan jas abu-abu gelapnya, menyisakan kemeja hitam yang lengannya telah digulung hingga ke siku, menampilkan urat-urat tangan yang tegas dan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Aura dominannya seketika memenuhi ruangan, mempersempit pasokan udara di sekitar Alyssa.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun sebagai sapaan, Alvaro melempar sebuah map kulit berwarna hitam tipis ke atas meja kaca di hadapan Alyssa. Hantaman map itu menimbulkan suara ketukan yang tajam di dalam ruangan yang sunyi.

"Buka dan pelajari," perintah Alvaro, suaranya bariton, datar, dan sarat akan otoritas mutlak yang tidak menerima bantahan.

Alyssa membalikkan badan, menatap map itu dengan kening berkerut. Sifat beraninya membuat ia melangkah mendekat tanpa keraguan, lalu membuka map tersebut. Di lembar pertama, tertulis sebuah judul yang membuat darahnya seketika berdesir panas: DAFTAR ATURAN DOMESTIK & PERSONAL (ALVARO R. MAHESWARA).

Itu bukan lagi bahasa hukum notaris yang rumit, melainkan titah langsung dari sang pemilik wilayah. Sepasang mata jeli Alyssa memindai poin-poin yang tertera di sana satu per satu:

1. Dilarang keras ikut campur dalam urusan bisnis Maheswara Group, baik secara langsung maupun tidak langsung.

2. Dilarang mencampuri kehidupan pribadi, jadwal, ataupun privasi Alvaro Regantara Maheswara.

3. Jangan pernah berharap mendapatkan cinta, afeksi, atau pengakuan emosional dalam bentuk apa pun.

4. Jangan pernah berharap mendapatkan perhatian atau perlakuan khusus layaknya seorang istri di dalam rumah ini.

Mata Alyssa melebar demi membaca deretan kalimat congkah tersebut. Setiap poin di atas kertas itu ditulis dengan sangat lugas, dingin, dan menguliti seluruh harga dirinya sebagai seorang wanita. Alvaro benar-benar memperlakukannya seperti sebuah objek pajangan yang dibeli dengan harga mahal, lalu dikunci di dalam sangkar agar tidak mengganggu jalannya.

Tangan Alyssa yang memegang kertas itu mulai gemetar hebat karena amarah yang bergolak di dalam dadanya. Sifatnya yang cerdas dan enggan ditindas membuat jemarinya mencengkeram pinggiran kertas hingga sedikit merobek sudut dokumen itu saat itu juga. Ia ingin sekali merobek kertas memuakkan ini menjadi serpihan dan melemparnya tepat ke wajah sombong pria di hadapannya.

Namun, Alyssa menarik napas dalam-dalam, memaksa logika taktisnya untuk mengambil kendali atas emosinya. Ia mencengkeram ujung blazernya kuat-kuat, meredam dorongan untuk meledak. Ia tahu, jika ia mengamuk sekarang, Alvaro akan menggunakan hal itu sebagai alasan untuk menunda pencairan dana talangan bagi keluarganya.

Alyssa menegakkan punggungnya, mengangkat dagunya sedikit, lalu menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Alvaro yang dingin tanpa binar kehidupan. Sebuah senyuman sinis yang sarat akan ketegasan terukir di bibir cantiknya.

"Daftar aturan yang sangat mengesankan, Tuan Alvaro," ucap Alyssa, nadanya tenang namun setajam belati yang baru diasah. "Tapi Anda tenang saja. Anda tidak perlu repot-repot menuliskan poin ketiga dan keempat. Karena demi Tuhan, saya juga tidak sudi mengharapkan cinta atau perhatian dari pria berhati batu yang tidak punya perasaan seperti Anda."

Alvaro menaikkan sebelah alisnya, mata elangnya menyipit tajam menatap perlawanan sengit di hadapannya. Jarang sekali ada orang yang berani membalas intimidasinya dengan kepala tegak seperti yang dilakukan Alyssa.

"Bagus kalau kamu paham," desis Alvaro, melangkah maju satu kali hingga jarak di antara mereka mengikis, menguar pekat aura predator yang mencekik. "Karena di rumah ini, kata-kataku adalah hukum. Patuhi, dan keluargamu akan aman. Langgar, dan aku sendiri yang akan mengembalikan mereka ke lubang kehancuran."

Alyssa tidak mundur satu senti pun dari posisi berdirinya. Ia membalas tatapan mengintimidasi itu dengan kilat mata yang memancarkan kebencian mutlak yang sama besarnya.

Di tengah keheningan griya tawang yang mewah dan dingin itu, batasan telah ditarik dengan tegas. Tidak ada ruang untuk kompromi, tidak ada celah untuk ketulusan. Perang dingin di antara sang Pewaris Berbahaya dan wanita bermental baja itu telah resmi dimulai di bawah satu atap yang sama, dan keduanya siap untuk saling menghancurkan ego satu sama lain dalam neraka jangka panjang ini.

...****************...

Alvaro menatap sudut kertas yang sempat berkerut dan sedikit robek akibat cengkeraman jemari Alyssa beberapa detik lalu. Kilat amarah yang coba disembunyikan Alyssa tidak luput dari pengamatannya yang jeli. Bagi Alvaro, melihat wanita di hadapannya harus menekan ego dan harga dirinya sedalam itu memberikan sebuah kepuasan taktis tersendiri. Itu membuktikan bahwa kendali mutlak atas permainan ini masih berada di tangannya.

"Kamarmu ada di ujung koridor sayap kanan," ucap Alvaro datar sembari memutar tubuhnya, membelakangi Alyssa untuk berjalan menuju meja konsol tempat sebuah botol kristal berisi wiski berada. "Rendra sudah memindahkan koper milikmu ke sana. Jangan menyentuh atau memasuki area kerjaku di sayap kiri, kecuali jika kamu memang berniat memicu masalah besar."

Alyssa menatap punggung tegap kemeja hitam itu dengan pandangan yang sarat akan kebencian. "Saya mengerti, Tuan Alvaro. Ruang privasi Anda adalah hal terakhir yang ingin saya kunjungi di dunia ini."

Tanpa menunggu respons lebih lanjut dari pria sombong itu, Alyssa menyambar tas selempangnya di atas sofa, berbalik, dan melangkah lebar menuju koridor sayap kanan yang ditunjukkan Alvaro. Ketukan tumit sepatu hak tingginya terdengar tegas di atas lantai marmer hitam, memutus keheningan griya tawang dengan nada perlawanan yang kentara.

Begitu melangkah masuk ke dalam kamar yang dimaksud, Alyssa langsung mengunci pintunya rapat-rapat. Ia menyandarkan punggungnya di balik daun pintu, membiarkan napasnya yang sejak tadi tertahan berembus keluar dengan sangat berat.

Kamarnya sangat luas, dilengkapi dengan tempat tidur berukuran besar bernuansa abu-abu dan perak, serta dinding kaca besar yang langsung menghadap ke deretan gedung pencakar langit Jakarta. Namun, keindahan dan kemewahan tempat itu sama sekali tidak bisa mengurangi rasa sesak yang menghimpit dada Alyssa.

Ia berjalan mendekati ranjang, menjatuhkan tasnya, lalu duduk di tepi kasur yang empuk namun terasa sedingin es. Tangannya bergerak taktis meraba saku blazernya untuk mengeluarkan ponsel pintar miliknya. Ia perlu mengalihkan amarah yang membakar benaknya ke dalam sebuah tindakan yang produktif.

Jemari Alyssa bergerak cepat membuka aplikasi pesan terenkripsi khusus, mengetik pesan untuk Clarissa.

Aku sudah berada di dalam penthouse Alvaro. Aturan di sini sangat ketat. Mulai malam ini, ruang gerakku akan diawasi. Clarissa, aku butuh kamu mempercepat pencarian data mengenai siapa saja orang dalam Maheswara Group yang memiliki akses langsung ke bursa saham domestik dalam dua minggu terakhir. Aku curiga Arsen tidak bergerak sendirian dalam menekan likuiditas Pradipta.

Hanya butuh waktu satu menit sampai balasan dari Clarissa masuk.

Dipahami, Lys. Tetap tenang dan jangan buat pergerakan yang mencurigakan di dalam sana. Penthouse Alvaro kabarnya dilengkapi dengan sistem keamanan tingkat tinggi, pastikan kamu tidak menggunakan jaringan Wi-Fi umum apartemen untuk mengirim data rahasia kita. Gunakan jalur enkripsi yang sudah kubuat.

Alyssa menatap layar ponselnya, lalu menghapus seluruh riwayat percakapan tersebut tanpa menyisakan jejak digital sedikit pun. Sifatnya yang cerdas dan penuh perhitungan membuatnya langsung bersiap menghadapi skenario terburuk.

Alvaro mengira telah berhasil menguncinya di dalam sangkar emas ini sebagai komoditas yang patuh. Pria itu berpikir daftar aturan konyolnya bisa membatasi ruang gerak Alyssa. Namun, yang tidak disadari oleh sang Pewaris Berbahaya adalah, dengan membawanya masuk ke dalam lingkaran teritorinya, Alvaro justru telah memberikan Alyssa akses terdekat untuk menguliti semua konspirasi yang terjadi di dalam Maheswara Group.

Alyssa melirik jam dinding digital di kamarnya. Waktu terus berjalan menuju malam hari, saat di mana dia harus berdiri di samping Alvaro sebagai "istri yang patuh" di hadapan publik dan media.

Sembari bangkit berdiri untuk mempersiapkan diri dan membuka kopernya, Alyssa menatap tajam ke arah pantulan dirinya di cermin besar kamar. Perang dingin ini memang baru saja dimulai, tetapi Alyssa bersumpah, dia tidak akan menjadi pihak yang hancur terlebih dahulu di dalam sangkar emas ini.

...****************...

Suara ketukan halus pada pintu kamar memecah keheningan yang sempat merayap selama beberapa jam. Alyssa yang baru saja selesai merapikan beberapa pakaian fungsionalnya ke dalam lemari berjalan mendekat, lalu membuka pintu dengan waspada.

Seorang pelayan wanita paruh baya dengan seragam rapi berdiri menunduk hormat. Di tangannya, terdapat sebuah kotak besar berbahan beludru hitam dengan logo perancang busana internasional ternama di atas penutupnya.

"Maaf mengganggu waktunya, Nyonya," ucap pelayan itu dengan suara rendah dan sopan. "Tuan Muda Alvaro meminta saya untuk mengantarkan ini. Beliau berpesan agar Anda mengenakannya untuk acara jamuan bisnis malam nanti. Penata rias yang dikirim oleh Tuan Muda juga sudah menunggu di ruang depan."

Alyssa menatap kotak mewah itu dengan perasaan campur aduk. "Letakkan saja di atas meja rias. Terima kasih."

Setelah pelayan itu undur diri, Alyssa membawa kotak beludru tersebut ke dalam kamar dan membukanya. Di dalam sana terbaring sebuah gaun malam sutra bermodel berwarna hitam pekat yang sangat elegan namun berpotongan tegas, lengkap dengan sebuah kotak perhiasan kecil berisi kalung berlian minimalis yang berkilau di bawah lampu kamar.

Warna hitam. Alyssa menipiskan bibirnya, langsung menangkap maksud terselubung Alvaro. Pria itu sengaja memilihkan warna hitam agar penampilan mereka terlihat serasi di depan publik, menciptakan ilusi visual tentang pasangan yang harmonis dan solid. Itu adalah bagian dari strategi korporasi yang dingin. Alvaro tidak sedang mendandaninya sebagai seorang istri, melainkan sedang mempersiapkan properti pameran terbaiknya.

"Kamu ingin aku bermain peran, Tuan Alvaro? Maka akan kumainkan peran ini dengan sangat baik," gumam Alyssa lirih, sepasang matanya berkilat penuh tekad.

Proses transformasi itu memakan waktu dua jam. Tim penata rias yang dikirim Alvaro bekerja dengan efisien tanpa banyak bicara, seolah tahu bahwa ketenangan di dalam griya tawang ini tidak boleh diusik. Mereka memoles wajah Alyssa dengan riasan yang berfokus pada ketegasan struktur wajah dan riasan mata yang tajam, sementara rambut panjangnya disanggul modern dengan menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cantiknya secara membingkai sempurna.

Tepat pukul enam lewat empat puluh lima menit malam, Alyssa melangkah keluar dari kamarnya. Gaun hitam itu melekat sempurna di tubuhnya yang ramping, menjuntai indah hingga menyapu lantai marmer setiap kali ia melangkah.

Di ruang tengah, Alvaro sudah menunggu. Pria berumur 28 tahun itu tampil memukau dengan setelan tuksedo hitam tiga potong buatan penjahit terbaik Savile Row. Kemeja putihnya yang kaku kontras dengan dasi kupu-kupu hitam yang terpasang tanpa cela. Ia sedang berdiri membelakangi koridor sembari memeriksa beberapa laporan saham di tablet digitalnya ketika mendengar suara ketukan sepatu hak tinggi Alyssa.

Alvaro menurunkan tabletnya perlahan, lalu membalikkan badan.

Sepasang mata elang sang Pewaris Berbahaya menyipit tajam saat pandangannya mengunci sosok Alyssa yang berjalan mendekat. Untuk sepersekian detik, ada riak keterpukauan yang sangat tipis melintas di manik mata dinginnya melihat bagaimana gaun pilihan itu justru membuat aura berani dan anggun Alyssa terpancar dua kali lipat lebih pekat. Gadis itu tidak terlihat seperti domba yang pasrah, melainkan seperti seorang ratu yang siap melangkah ke medan tempur.

Namun, Alvaro segera menghapus ekspresi itu, menggantinya kembali dengan wajah sedingin es yang biasa.

"Riasan dan pakaianmu tidak mengecewakan," ucap Alvaro, suaranya bariton merendah, terdengar seperti penilaian seorang kurator seni terhadap barang pajangan baru. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulinnya yang mahal kembali mengintimidasi indra penciuman Alyssa. "Ingat pesanku semalam. Begitu pintu mobil terbuka di tempat acara, pasang wajah terbaikmu. Di depan kamera dan para pemegang saham, kamu adalah istri yang mencintaiku dan tunduk pada setiap kataku."

Alyssa membalas tatapan intens itu tanpa mengedipkan mata sedikit pun. Ia menahan gejolak muak di dadanya, lalu mengangkat dagunya dengan angkuh. "Saya tahu cara berakting, Tuan Alvaro. Pastikan saja Anda sendiri tidak merusak pertunjukan malam ini dengan sikap kaku Anda yang seperti robot."

Mendengar sindiran tajam itu, rahang Alvaro mengeras seketika. Sifat dominannya terusik oleh kelancangan Alyssa yang tiada habisnya, namun ia menahan diri untuk tidak membalas.

Pria itu menekuk lengan kirinya sedikit, menyodorkannya ke hadapan Alyssa dengan isyarat mutlak. "Gandeng lenganku. Sandiwara kita dimulai dari detik ini."

Alyssa menatap lengan kokoh itu selama satu detik, menarik napas panjang untuk memantapkan hatinya, lalu perlahan menyandarkan jemarinya yang dingin di atas lengan tuksedo Alvaro. Sentuhan fisik pertama di antara mereka terasa seperti percikan api yang menyengat, dingin namun sarat akan ketegangan yang membakar.

Dengan langkah yang selaras namun hati yang saling berseberangan penuh kebencian, sepasang suami istri kontrak itu melangkah menuju lift privat. Malam telah jatuh, dan di luar sana, sorotan lampu kilat media serta intrik keluarga Maheswara sudah bersiap menyambut kemunculan perdana mereka di atas panggung sandiwara yang mematikan.

1
THE GIRL COOL😑
peransaran gue sama foto nya
THE GIRL COOL😑
wkwkwk! pas di meja makan gue sampe mau ketawa untuk ke tahan😭
THE GIRL COOL😑
gue baca nya ngakak banget!!! bagus thor kau berbakat👍👍👍😍
reyanzarayyanfahlevy_: hehehhe bisa aja😍, masih pemula kakak😭😍
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
🤣🤣🤣
THE GIRL COOL😑
gue kadang heran... Alvaro sama cewek nya Alyssa sama "AL" depan nya😍
reyanzarayyanfahlevy_: iyaaaapppp🤭
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
brak² aja🤣 sabar²👍
reyanzarayyanfahlevy_: wkwkwk🤣🤣
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
gue baca peraturannya kesel cok
THE GIRL COOL😑
Berarti si Al Siapa namanya Si ceweknya itu nggak usah membuat makanan buat dia nggak boleh nyiapin apalah Pokoknya nggak boleh gituan dilarang sekalian gitu biar Alvaro nya tuh gua kesel
THE GIRL COOL😑
wow sok kali ini alvaro🤣🤣🤣
THE GIRL COOL😑
seangkuh itukah seangkuh itukah Alvaro
reyanzarayyanfahlevy_
Aku Bangga dengan Karya Ku...........
THE GIRL COOL😑
gue yg baca aja sakit cok🤣
THE GIRL COOL😑: yg alvaro bilang kalau apa gitu ada lah😭😭🤣🤣🤣
total 2 replies
THE GIRL COOL😑
kejambah woiii😭😭😭
reyanzarayyanfahlevy_: wekduyyy
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
jjangan di kasihani al!!!
reyanzarayyanfahlevy_: 😭🤭🤭 wkwkwkwk🤣🤣
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
jijik
THE GIRL COOL😑
terharu wehhh😭
THE GIRL COOL😑
di jodohi emang gak enak, bukti nya kk aku
THE GIRL COOL😑: serius!!!
total 2 replies
THE GIRL COOL😑
isss sombong
THE GIRL COOL😑
bagusss menunjukan ke dewasaan yg kuat💪💪
THE GIRL COOL😑: hehehe🤭
total 9 replies
THE GIRL COOL😑
aduhhhh alvaro
reyanzarayyanfahlevy_: wkwk😭😭😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!